Bulan lalu simbah ngobrol santai dengan salah seorang teman yang menjadi pegawai di perusahaan tempat simbah bekerja. Beliau menceritakan ihwal ujian skripsinya yang kala itu meneliti tentang bahaya rokok. Penelitiannya menggunakan tikus percobaan, dengan model penelitian dilakukan di lab.
Ketika ujian, seorang penguji mengajukan pertanyaan:
"Fakta di lapangan, perokok pasif itu memiliki resiko terkena penyakit lebih besar daripada perokok aktif. Kalo begitu bagaimana menurut anda? Menjadi perokok aktif ternyata lebih sehat..."
Teman simbah bercerita, saat itu dia berpikir keras. Dan jawaban yang harus disampaikan harus jitu. Percuma saja meneliti bahaya rokok jika ternyata dengan merokok lebih sehat dibandingkan dengan orang di sekitarnya.
"Saya tidak setuju dengan pernyataan bapak," kata teman simbah.
"Kenapa tidak setuju?" tanya penguji.
"Begini pak. Seorang perokok aktif, itu tidak mungkin hanya perokok aktif saja. Karena asap yang dia hisap lalu dikeluarkan itu dihisap lagi. Kan dia masih berada di tempat dia merokok. Kecuali dia merokok lalu asapnya dimasukkan kaleng lalu ditutup, maka dia hanya perokok aktif. Kalau tidak, maka dia perokok aktif sekaligus perokok pasif. Maka resiko terkena penyakitnya lebih besar." terang kawan simbah tersebut.
"Betul juga kamu ya...." sang penguji puas dengan jawaban tersebut. Dan teman simbah lulus tanpa perbaikan dengan nilai memuaskan.
Dalam kehidupan sehari-hari, tidak ada yang namanya perokok aktif murni. Perokok aktif biasanya juga sekaligus perokok pasif.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar