Dalam sebuah sesi tanya jawab, seorang pakar intelek ditanya seputar adanya aksi segolongan orang yang dianggap intoleran, yang sering dianggap membuat onar.
Penanya : "Bagaimana menurut anda, aksi-aksi sekelompok orang yang suka memaksakan kehendak itu?"
Intelek : "Mereka ini golongan intoleran. Tidak mau menerima perbedaan. Saya gagal paham dengan kelompok ini.."
Penanya : "Maksudnya gimana?"
Intelek : "Ya, sebagai satu masyarakat yang majemuk, hendaknya kita mau saling toleransi dan saling memahami pendapat satu dengan yang lainnya. Sehingga tercipta kerukunan."
Penanya : "Jadi harus saling memahami ya?"
Intelek : "Benar sekali."
Penanya : "Tapi mengapa anda tadi bilang bahwa anda gagal paham dengan kelompok ini?"
Intelek : "eh... maksudnya begini.. anu.. jadi saya gagal memahami aksi mereka yang tak mau bertoleransi dengan perbedaan pendapat. Apa-apa ditanggapi dengan kekerasan. Ini bahaya. Paham seperti ini harus diberantas dan tidak bisa ditolerir.
Penanya : "Maksudnya tidak bisa ditolerir bagaimana?"
Intelek : "Yah, anda tahu lah maksudnya. Mosok harus dijelaskan lagi."
Penanya : "Apakah maksudnya tidak bisa ditolerir itu berarti paham mereka sama sekali tak bisa diterima?"
Intelek : "Tentu saja. Apanya yang mau ditolerir?"
Penanya : "Lalu siapa yang intoleran disini? Anda atau mereka? Dan siapa yang harus memulai saling memahami? Katanya anda gagal paham dengan kelompok lain itu?"
Intelek : .................................. (Telan kolomenjing)
Kata-kata intoleran, saling memahami, kemajemukan, dan segudang kata-kata kosong tak bermakna sering dipakai sebagai retorika gombal. Jangan sampai anda mau diglembuk.

pitutur yang lama mohon diposting ulang mbah :D
BalasHapus