Jumat, 07 Maret 2014

SIMPLICITY IS GENIUS

Di depan audience para petani cengkeh, kang Dalno Marem yang sarjana pertanian bertitel doktorandus, menjelaskan bagaimana petani cengkeh itu seharusnya merawat tanaman mereka.

"Bapak dan ibu sekalian, sebagaimana kita ketahui bahwa Eugenia aromaticum merupakan tanaman rempah yang sangat penting dalam percaturan trading internasional. Semua yang hadir disini merupakan komponen penting yang secara integral memiliki andil konkret dalam menentukan arah globalisasi internastional market. Untuk itu sampeyan semua harus menyadari bahwa, intensifikasi tanaman ini membutuhkan konsentrasi yang serius, mengingat pengembangan Eugenia aromaticum ini mulai memasuki era teknologi yang sophisticated," Drs. Dalno Marem dengan berapi-api setengah muncrat memberikan arahan dengan menggunakan bahasa rodok ra ngambah lemah.

Mbah Karyo Kliwon yang jebolan SD cuma plonga-plongo setengah ngowoh mendengar penjelasan Drs. Dalno Marem yang gegap gempita itu. Demikian juga mbah Pawiro Sableng yang pernah njebol SD, hanya lolhak-lolhok ngempet ngelu sambil mbatin, "Iki jane ngomyang opo tho?"

Ada kesenjangan bahasa yang terjadi di antara kang dalno Marem dengan audience. Entah apa alasannya, penggunaan bahasa 'alien' ala kang Dalno Marem ini justru tidak efektif guna menjelaskan sesuatu ke audience yang tingkat pendidikannya hanya jebolan SD atau njebol SD. Kang Dalno Marem mungkin lupa bahwa yang dihadapi adalah orang awam. Atau memang dia memiliki niat hendak menunjukkan kepintarannya di hadapan petani asuhannya. Mungkin dia masih dendam, dimana saat kuliah suka diejek orang-orang sekitarnya : "Oalah mas, gur arep macul wae sekolah duwur-duwur" (Cuma mau macul saja sekolahnya tinggi amat).... "Mung arep tani wae kok ndandak titel dokterambles" kata yang lain.
Sehingga untuk ajang pembuktian bahwa dia bukan orang bodoh membutuhkan ekspresi. Dan ekspresi yang dia tunjukkan adalah dengan menggunakan bahasa yang lebih memusingkan dari kode semaphore.

Einstein justru memberikan penjelasan yang lain. "Simplicity is genius" katanya. Kesederhanaan itu genius. Jika sampeyan bisa menjelaskan hal rumit ke anak umur 6 tahun, maka sampeyan genius. Menjelaskan perkara kepada anak kecil membutuhkan bahasa yang simpel. Menyimpelkan keterangan merupakan kegeniusan.

Dokter yang cerdas bukanlah dokter yang bisa ngoceh dengan bahasa latin kepada pasiennya, kecuali pasien orang latin sono. Dokter yang cerdas adalah dokter yang mampu mengkomunikasikan deskripsi penyakit yang rumit menjadi bahasa yang mudah dicerna oleh pasien awam.

Demikian juga dengan pejabat dan pemegang keputusan pemerintahan. Pemerintah yang genius adalah pemerintah dengan pejabat yang mampu membahasakan programnya dengan bahasa sederhana dan BIROKRASI YANG SEDERHANA. Jika tidak, maka pemerintahan ala Dalno Marem ini hanya berkualitas bisa "ngedalno asal marem".... sebelas duabelas dengan ngising.

Allah subhanahu wa ta'ala Yang Maha Pandai dan Maha Tahu, dengan Pengetahuan Tak Bertepi-Nya, berkomunikasi dengan bahasa sederhana yang terekam dalam Al Qur'an. Penciptaan semesta yang rumit, diterangkan dengan sangat sederhana tapi dahsyat makna. Dan manusia yang sangat kompleks sifat dan karakternya, diberi aturan yang sangat simpel.

"Allah menghendaki kemudahan untuk kalian, dan tidaklah Dia menghendaki kesukaran untuk kalian.." (Al Baqarah ayat 185).

Namun dasar manusianya type Dalno Marem, maka diberi kemudahan malah menghendaki kesukaran. Aturan Allah yang simpel diubah menjadi Kitab Undang-Undang yang ruwet dan njlimet. Hidup yang sederhana dibuat rumit. Al Qur'an yang memudahkan justru dituduh mempersulit. Dasar manusia berpenyakit....

Gambar diculik dari sini: http://www.thecoachkexperience.com/genius-is-found-in-simplicity/

3 komentar: