Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Januari 2020

Bertuhan Tapi Tak Beragama


Trend yang sekarang marak berhembus di kalangan jahiliyah mutakhir adalah adanya paham yang mempercayai Tuhan, tapi tak percaya pada agama-Nya. Hmmm… mumet juga nggagas paham koplo bin koclok ini. Memang itu hak masing-masing sampeyan untuk berpaham kayak gitu. Dan hak simbah juga untuk mengatakan itu paham koplo bin koclok.

Jika penyakit paham ini mulai menyerang sampeyan, dan sampeyan mungkin sreg, cobalah sampeyan pikir, jangan sambil mengerutkan dengkul, karena otak sampeyan bukan disitu. Miturut simbah, orang yang percaya pada tuhan, tapi tak percaya pada agama-Nya, berarti ada 2 kemungkinan :

1. Kemungkinan Pertama

Orang itu salah memilih tuhan sebagai sesembahannya. Karena orang itu gagal diyakinkan -bahkan oleh tuhannya sendiri- bahwa agama-Nya itu benar dan bisa dipercaya. Boleh jadi karena ajaran agama yang dianutnya kacau balau, banyak dogma yang tak masuk akal, lantas dengan segala tumpang tindih kekacauan yang ada pada ajaran agama yang dianutnya itu, dia dipaksa oleh keadaan untuk menganutnya. Sebenarnya ada pilihan agama lain, namun egonya, kemaluannya, dan perutnya tak cukup mengijinkan dia untuk menjangkaunya.

Saran simbah, carilah tuhan dengan ajaran agama yang kebenarannya bisa diuji dengan apapun. Karena kebenaran dari Al Haq pasti tahan uji. Jika satu hal yang dianggap benar gagal mempertahankan nilai kebenarannya, maka pastilah itu bukan kebenaran, dan pasti bukan dari tuhan.

2. Kemungkinan Kedua

Tuhan dengan ajaran agama-Nya sebenarnya sudah benar, sudah pas dan proporsional sesuai dengan Maha Adil-Nya Sang Pencipta. Namun hawa nafsu manusia yang memang tak mau diatur dan tak mau menyesuaikan diri dengan aturan-Nya melakukan penyangkalan. Sehingga meskipun si manusia mengaku bertuhan, namun agama yang diturunkan-Nya ke muka bumi yang berisi aturan ini-itu, menghalangi dia memuaskan hawa napsunya. Dia tak percaya pada agama karena agama mrintah ini dan itu, melarang ini dan itu, yang miturut otaknya yang sudah mlotrok ke kemaluan bahkan sampai ke dengkul itu, bertentangan dengan nilai-nilai yang dianggapnya lebih tinggi, daripada nilai yang ditawarkan oleh agama tuhan.

Maka orang ini, ketika dia berkata bahwa dia percaya pada tuhan namun tak percaya pada agamanya, sebenarnya Tuhan yang dia percayai itu adalah hawa nafsunya atau dirinya sendiri. Ini adalah ego terbesar manusia, yang dengan lantang diteriakkan dengan vulgar penuh tantangan oleh Fir’aun ribuan tahun yang lalu, dengan teriakan yang diabadikan dalam Al Qur’an, “Akulah tuhan kalian yang maha tinggi.” Namun di abad ini, teriakan itu kembali dikumandangkan dengan volume agak kecil, tapi frekwensinya kenceng.

Sebenarnya kedua golongan di atas, mereka ini intinya kecewa dengan ajaran agama. Bisa jadi karena ajaran agamanya yang memang tak bisa meyakinkan pemeluknya, tapi bisa jadi karena ajaran agama tersebut tak bersesuaian dengan hawa nafsunya. Tapi yang jelas, konsekwensi bertuhan dan percaya pada tuhan, sudah pasti menuntut untuk percaya pada agama yang diturunkan-Nya. Wallahu a’lam.


Maaf Dan Penyesalan


Hari ini adalah hari yang melegakan buat simbah. Ada satu kasus berat yang simbah tuntasken. Seminggu sebelumnya simbah cukup dibikin pusing tujuh puluh keliling dengan kasus ini. Yakni adanya satu sales yang mbalelo dan mbikin kaco proses dol tinuku yang simbah jalanken.
Adalah tadinya simbah memiliki 3 sales yang menjalankan tugas lapangan menjajakan dagangan simbah ke toko dan warung di blusukan metropolitan ini. Ada seorang sales yang mengundurkan diri karena merasa tidak mampu menjalankan tugas. Simbah ijinken, dan sesuai surat kontrak kerja, dia wajib menyerahkan warung-warung yang selama ini dia kelola di lapangan kepada sales penggantinya. Jumlahnya ada lebih dari dua ratus limapuluh warung dan toko.

Setelah menyerahkan sekitar 200 warung, dia gak masup tanpa keterangan. Bilangnya sakit boyok. Simbah kirim obat ke rumahnya. Ha kok setelah ditunggu seminggu belum masup-masup juga. Herannya saat sales penggantinya nagih di warung yang dia serahkan, ternyata sudah ada oknum Mr. Rius yang duluan nagih. Sehingga sales baru tersebut ngaplo gak dapet duit tagihan. Malah dipisuhi sama pemilik warung, karena merasa ditagih 2 kali.. wah .. sakne tenan.

Selidik punya selidik ternyata, oknum Mr. Rius itu si sales simbah yang sudah undur diri tadi. Diem-diem njarah dan nagih ke warung-warung yang seharusnya bukan haknya lagi. Simbah datangi rumahnya, simbah ultimatum jika dalam 2 x 24 jam gak diberesi akan simbah bawa aparat polisi. Hwarakadah, bapak simboknya ngewel ketakutan. Si oknum juga ketakutan dan sekaligus malu. Akhirnya simbah tunggu di rumah kedatangan si oknum agar menyelesaikan masalah.

Hari pertama gak datang. Malamnya simbah kontak konco pulisi agar siap-siap nggrupyuk rumahnya. Alhamdulillah paginya si oknum datang. Wajahnya masih ketakutan, tapi sisi baiknya, dia minta maap dan mengakui semua kesalahannya.

Tadinya, sebelum si oknum dateng, simbah sudah getem-getem campur kemropok pingin ngamplengi gundhulnya si oknum ini. Namun begitu keluar kata maap dan nada penyesalan, simbah gak tega. Di detik-detik ini ada kesempatan niru sifat Allah. Mengampuni dan memaafkan.

Ada yang beda dari ucapan maap dan penyesalan si oknum. Yakni dia sebut kesalahan dan juga detil kesalahannya dan juga mengakui kesalahannya tersebut. Simbah berulangkali menerima ucapan permintaan maap lahir batin dari banyak teman, terutama kemaren saat awal memasuki bulan puasa. Namun ucapan maap dan penyesalan si oknum ini beda dengan ratusan ucapan maap lahir batin yang dikirimkan konco-konco simbah baik melalui SMS maupun komen yang ada disini. Yakni adanya detil kesalahan yang disesali dan dimintakan maap.

Ucapan maap lahir batin yang biasa diucapkan menjelang Romadhon maupun entar saat lebaran, tidak merinci apa yang menjadi kesalahan yang pantas dimintakan maap dan yang disesali. Sangat terasa basa basinya. Sehingga akan terasa sambil lalu. Maap, ini miturut hati simbah lho… mungkin sampeyan beda. Padahal inti dari permintaan maap adalah penyesalan dan keniatan tak mengulang apa yang menjadi kesalahannya tersebut.

Lha kalo yang dimintakan maapnya gak diperinci, lantas kita yang dimintai maap mau ngampuni dan memaapkan kesalahan yang mana kan bingung. Beda kasusnya dengan ucapan maap berikut ini :
“Mbah, mohon maap atas kesalahan saya kemaren. Saya kemaren nyolong mbako semprulnya simbah sak genggem buat mbikin tingwe. Tolong dimaapkan kesalahan saya ini ya mbah….”

Di ucapan maap ini jelas apa yang dimintakan maap, yakni kesalahan nyolong mbako semprul. Bandingkan ucapan maap yang hanya meminta maap, tapi tak disebut kesalahan yang mana yang ingin dimintakan maapnya itu. Padahal sisi paling berat dari meminta maap adalah sisi KEMAUAN DAN KEBERANIAN MENGAKUI KESALAHAN. Lha kalo tidak disebut kesalahan yang mana, maka ini belum ada “Pengakuan Bersalah”nya.


Makanya sehabis salam-salaman pas lebaran, bermaap-maapan trus saling memberi selamat, masih saja ada ganjelan di hati antara satu dengan yang lain. Lha maapnya digebyah uyah gak jelas babar blas. Bermaapan yang sekedar seremonial, mengejar kepantasan, agar enak dipandang mata umum.
Tiap tahun pejabat ngadain open house di rumah dinesnya, ngadain acara maap-maapan. Tapi gak jelas apa yang dimintakan maap pada rakyat. Lha dibalik itu korupsinya jalan terus. Rakyat juga bingung, pejabat dan pimpinannya ini minta maap dari kesalahan yang mana, wong bolak-balik masih mbejat terus.

Selama minta maap masih merupakan acara seremonial untuk mengejar kepantasan, maka tak ada penyesalan atas segala kesalahan yang dilakukan manusia. Selama tak ada penyesalan, maka tak ada pertobatan disitu, tak ada perbaikan dan stagnan dalam kebejatan yang lampau.
Dengan tulus, maapkan kata-kata simbah di atas kalo tak pantas…