Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Januari 2020

Halal Batas Haram


Yang namanya halal dan haram itu sebenarnya sudah jelas. Tapi hananging wal hanamun, di dunia kasunyatan definisi kedua hal tersebut bisa tumpang tindih, tumpang suk dan gaprukan sesuai kehendak napsu dan setan. Termasuk istilah haram batas halal ini. Sebetulnya mumetke, tapi dipake di segenap penjuru negeri, terutama bagi kalangan koruptor. Baik kelas kakap maupun kelas ceremende.
Apa tho Mangsudnya haram batas halal itu? Bagi sampeyan yang belum kesentuh istilah laknat ini memang mbikin kening berkerut. Tapi bagi yang sudah kenyang dengan harta kelas beginian, sampeyan yang belum tahu malah akan dicap sok suci dan tinggal nunggu tanggal mainnya ikut ngunthal harta macem ginian. Cuma masalah waktu saja, katanya.

Jika ada kacung disuruh potokopi oleh bos eselon satu, potokopinya senilai tigabelas rebu mangatus ripis, lalu kwitansinya senilai itu juga, maka itu kelas HALAL murni. Jika kwitansinya senilai tigapuluh rebu ripis, maka ini sepakat haram, setan pun sepakat. Tapi jika nilai kwitansinya limabelas rebu ripis, inilah yang disebut haram batas halal. Karena cuma sewumangatus ripis, itu batas kebolehan buat ngambil yang haram, sesuai kesepakatan nepsu, akal dan setan alas kobar. 

Kang Darmo Dimpil bilang, “Wajar lah ngambil segitu, kan gak gedhe-gedhe amat. Etung-etung buat jerih payah nyebrang jalan raya.”

Dan kebanyakan dari kita mengamini cobrotannya kang Darmo Dimpil tersebut.

Maka ketika pak bupati dapet proyek perbaikan jalan di wilayah yang dikangkanginya, sang kontraktor jangan harap dapet dana 100% buat mbikin jalan tersebut. Jikalau sang Bupati ngambil 15% saja, maka itu dianggap batas halal dari yang haram. Kalo ngambil 30% akan dianggap masih dalam haram batas halal, tapi dengan resiko nyiprati moncong di kiri kanan biar gak berkicau nyaring bak emprit dipakani kroto. Paling gak 10% nya diciprat-cipratke buat pagar pengaman. Kalo bupatinya ngambil 50%, ini dianggap  keterlaluan. Apalagi gak ada nyiprat-nyipratnya babar blas. Koruptor satelit disisi sang bupatipun sepakat, ini haram.

Herannya, tetep saja ada oknum manungso model begituan. Proyek jalan bernilai puluhan M, baru diliwati andong sudah semplak aspalnya. Karena mutu aspalnya bener-bener ASPAL. Lha diemplok 50%, melewati ambang batas haram yang dibolehkan. Bayangkan jika sang Bupati ngambil 25% saja, jika nilai kontraknya 50 M maka bisa dibayangkan yang masuk kantong sang Bupati. Dan perlu diketahui, 25% itu masih di ambang haram batas halal. Ediyan tenan. Njaluk dislomot neroko jahanam tenan.

Makanya dimusim Pilkadal saat ini, banyak kadal yang mulai berhitung. Tarohlah buat menang butuh biaya dan biayakan 50 M, itu nilai yang kecil, dibandingkan dengan yang akan diperolehnya dalam jangka 5 tahun ke depan. Ada bupati yang pada tahun pertamanya sudah BEP. Tahun kedua mbangun 5 SPBU, tahun ketiga ekspansi bisnis, tahun keempat dan kelima persiapan kampanye. Bupati mana itu? Mang goleki dewe, paling-paling bupati Kadipaten Karang Tumaritis.

Lha yang nglangut tetep rakyat kecil. Mau makan nasi, harga beras naik. Mau nggoreng lawuh, minyak gorengnya ikutan naik. Mau minum, tarif PDAM naik juga. Hidup macem lomba panjat pinang. Cuma buat ngraih satu tujuan, kudu ngidak-ngidak konco, menjatuhkan yang lain, itupun pakek mlorot-mlorot dan dilorot. Kalo sudah dapet isine ra mbejaji. Sedangkan yang diraih, makin menjauh dan keliatan naik saja.

Mulailah dari diri kita. Sampeyan semua dan simbah juga. Berapapun yang bukan hak milik kita, haram hukumnya. Gak ada batas halalnya buat barang yang haram.


Bertuhan Tapi Tak Beragama


Trend yang sekarang marak berhembus di kalangan jahiliyah mutakhir adalah adanya paham yang mempercayai Tuhan, tapi tak percaya pada agama-Nya. Hmmm… mumet juga nggagas paham koplo bin koclok ini. Memang itu hak masing-masing sampeyan untuk berpaham kayak gitu. Dan hak simbah juga untuk mengatakan itu paham koplo bin koclok.

Jika penyakit paham ini mulai menyerang sampeyan, dan sampeyan mungkin sreg, cobalah sampeyan pikir, jangan sambil mengerutkan dengkul, karena otak sampeyan bukan disitu. Miturut simbah, orang yang percaya pada tuhan, tapi tak percaya pada agama-Nya, berarti ada 2 kemungkinan :

1. Kemungkinan Pertama

Orang itu salah memilih tuhan sebagai sesembahannya. Karena orang itu gagal diyakinkan -bahkan oleh tuhannya sendiri- bahwa agama-Nya itu benar dan bisa dipercaya. Boleh jadi karena ajaran agama yang dianutnya kacau balau, banyak dogma yang tak masuk akal, lantas dengan segala tumpang tindih kekacauan yang ada pada ajaran agama yang dianutnya itu, dia dipaksa oleh keadaan untuk menganutnya. Sebenarnya ada pilihan agama lain, namun egonya, kemaluannya, dan perutnya tak cukup mengijinkan dia untuk menjangkaunya.

Saran simbah, carilah tuhan dengan ajaran agama yang kebenarannya bisa diuji dengan apapun. Karena kebenaran dari Al Haq pasti tahan uji. Jika satu hal yang dianggap benar gagal mempertahankan nilai kebenarannya, maka pastilah itu bukan kebenaran, dan pasti bukan dari tuhan.

2. Kemungkinan Kedua

Tuhan dengan ajaran agama-Nya sebenarnya sudah benar, sudah pas dan proporsional sesuai dengan Maha Adil-Nya Sang Pencipta. Namun hawa nafsu manusia yang memang tak mau diatur dan tak mau menyesuaikan diri dengan aturan-Nya melakukan penyangkalan. Sehingga meskipun si manusia mengaku bertuhan, namun agama yang diturunkan-Nya ke muka bumi yang berisi aturan ini-itu, menghalangi dia memuaskan hawa napsunya. Dia tak percaya pada agama karena agama mrintah ini dan itu, melarang ini dan itu, yang miturut otaknya yang sudah mlotrok ke kemaluan bahkan sampai ke dengkul itu, bertentangan dengan nilai-nilai yang dianggapnya lebih tinggi, daripada nilai yang ditawarkan oleh agama tuhan.

Maka orang ini, ketika dia berkata bahwa dia percaya pada tuhan namun tak percaya pada agamanya, sebenarnya Tuhan yang dia percayai itu adalah hawa nafsunya atau dirinya sendiri. Ini adalah ego terbesar manusia, yang dengan lantang diteriakkan dengan vulgar penuh tantangan oleh Fir’aun ribuan tahun yang lalu, dengan teriakan yang diabadikan dalam Al Qur’an, “Akulah tuhan kalian yang maha tinggi.” Namun di abad ini, teriakan itu kembali dikumandangkan dengan volume agak kecil, tapi frekwensinya kenceng.

Sebenarnya kedua golongan di atas, mereka ini intinya kecewa dengan ajaran agama. Bisa jadi karena ajaran agamanya yang memang tak bisa meyakinkan pemeluknya, tapi bisa jadi karena ajaran agama tersebut tak bersesuaian dengan hawa nafsunya. Tapi yang jelas, konsekwensi bertuhan dan percaya pada tuhan, sudah pasti menuntut untuk percaya pada agama yang diturunkan-Nya. Wallahu a’lam.


Benar-Benar Ada


Beberapa hari yang lalu simbah ngajak anak-anak jalan-jalan sambil jajan makanan kecil buat si thole dan si gendhuk. Saat itu anak-anak minta dibelikan es krim. Dan kalau melihat betapa lahapnya anak-anak simbah makan es krim, simbah jadi teringat masa kecil simbah, dimana untuk bisa menikmati yang namanya es krim itu dibutuhkan satu mujahadah kelas wahid.

Sewaktu kecil simbah mempunyai seorang teman yang namanya Gudel. Terlahir dari satu keluarga yang kisah hidupnya cukup memilukan. Bapaknya adalah kawan dekat dari orang tua simbah. Rajin sholat ke mesjid, tapi matinya bunuh diri dengan menggantung diri setelah tamat meminjam dan membaca buku yang berjudul “Hidup Sesudah Mati” karya Bey Arifin (kalau gak salah) dari orang tua simbah. Aneh memang, padahal buku itu isinya bagus. Tapi kok bisa-bisanya menginspirasi bapaknya Gudel buat gantung diri. Atau mungkin beliaunya mau membuktikan isi buku itu. Tapi apapun alasannya, yang jelas si Gudel jadi anak yatim.

Kehidupan si Gudel jadi tidak mudah. Di kalangan anak-anak kecil seusia simbah dia dijuluki “tukang gresek”. Gresek, dengan hurup ‘e’ dibaca seperti kata ‘pesek’, adalah satu perilaku yang dianggap ngisin-isini bin memalukan. Kata itu mengandung maksud memungut sesuatu yang sudah dibuang orang, kalau sekarang mungkin termasyhur dengan kata “Pemulung”.

Satu ketika, simbah dan Gudel menyaksikan beberapa anak sedang makan es mambo. Karena sama-sama gak gableg duit, cukuplah kita berdua menyaksikan acara makan es itu dengan seksama. Simbah lihat si Gudel sudah mulai terbit air liurnya, mlongo menyaksikan pesta es itu dengan terngowoh-ngowoh. Begitu selesai makan es mambo, anak-anak itu segera membuang bungkus es tersebut. Karena melihat si Gudel, anak-anak itu menginjak-injak bungkus es itu dengan kasarnya, sambil berkata :

“eh, ayo diinjak-injak sampai ancur. Entar digresek sama Gudel lho,” ajakan itu disambut dengan antusias. Herannya, setelah bungkus es itu dinjak-injak sampai kotor dan ditinggal oleh pemiliknya, si Gudel tetap saja mendatangi plastik es yang sudah gak mbejaji wujudnya itu dan mulai menyortir. Setelah dijumpainya ada beberapa bungkus masih agak wangun buat dikonsumsi, mulailah aksi penggresekan dilakukan.

“Weh, enak kang es yang ini. Sedep tenan……” katanya dengan mata berbinar-binar sambil nyesep-nyesep plastik es mambo itu dengan penuh daya eksplorasi. Hwarakadah…melihat wajahnya yang menyiratkan ekspresi kenikmatan kayak begitu, terus terang simbah agak terangsang juga pingin mencicipi hidangan gresek ala si Gudel itu. Tapi begitu teringat bahwa es itu sudah dinjak-injak sama kaki si Koplo yang kakinya korengan itu, atau si Kenyung yang sering nginjak telek lencung, hilanglah selera simbah.

Pernah suatu ketika, si Gudel ini melihat satu potongan roti yang masih lumayan utuh. Kebetulan dia berjalan bersama rekan sejawat sesama penggresek. Karena rekan sejawatnya gak lihat, dia injek dulu roti itu, lalu dia berdiri tak bergerak. Rekan sejawatnya heran, kok si Gudel tiba-tiba diem mematung. Karena jengkel ditinggallah si gudel. Begitu rekan sejawatnya nggeblas ngilang, diambilnya lah roti itu dari bawah tapak kakinya sambil cengar-cengir penuh kemenangan. “Belum lima menit..” begitu mungkin pikirnya sambil menyantap roti itu dengan mantabhnya.

Yah, itulah gambaran sepotong keceriaan getir ala kere bin dhuafa. Salah seorang teman simbah pernah melihat di stasiun Jogjakarta, seorang ibu beserta anak perempuannya yang masih berumur sekitar 10 tahun, asyik ngemis dari gerbong ke gerbong. Kebetulan saat itu sang ibu ketiban rejeki nomplok yang tak terduga, yakni nemu sepotong tegesan bin puntung rokok yang mingsih lumayan panjang. Yah setara dengan sepuluh sledupan wal sedotan lah. Diisepnyalah tegesan itu dengan penuh citarasa. Yang mbikin hati agak miris adalah manakala sang ibu berbagi puntung tegesan itu dengan anak perempuannya yang masih kecil itu. Secara bergantian si ibu dan si anak sledap-sledup ngisep rokok tegesan itu dengan penuh keceriaan dan canda tawa.

Di masa kuliah dulu, simbah sering wira-wiri lewat di satu kontrakan masal yang dinamai Pondok Boro. Penghuninya kebanyakan keluarga kere, kaum mlarat dan juga beberapa waria. Saat itu simbah melihat langsung ada seorang bapak bertubuh gothot, sedang menggendong anaknya yang masih berumur setahun lebih. Dilihat dari perawakannya, propesi si bapak ini pantasnya pekerja keras. Kalau nggak kuli angkut, tukang becak, atau minimal tukang kepruk. Herannya si bapak ini mau momong anaknya yang saat itu nangis rewel mencari ibunya. Mungkin ibunya sedang kerja di pabrik, atau sedang ada kesibukan darurat lainnya, yang memaksa si bapak bertubuh gothot ini mau momong anaknya.

Yang mbikin simbah tersenyum kecut adalah, saat si anak gak mau diem dan nangis terus mencari ibunya, si bapak mulai jengkel. Dengan tinju terkepal, diancamlah anaknya yang masih kecil itu dengan kepalan tinjunya sambil berkata…

“Hayo, nangis lagi.. ayo cepet nangis lagi… jotos sisan kamu..!!” hati ini jadi mak tratap. Ancaman si bapak itu diulang-ulang dan herannya bapak-bapak yang lain disitu malah ketawa ngakak melihat ulah si bapak. Si anak jadi ciut juga, lalu tangisnya ditelen sampai membik-membik mau tersedak.
Keluarga-keluarga kere wal mlarat yang simbah ceritakan ini benar-benar ada. Bukan kisah cerita di sinetron. Kejadian itu telah ada bertahun-tahun yang lalu, jauh sebelum bengsin menjadi enam ribuan ripis seperti sekarang. Entah bagaimana kabarnya sekarang. Si gudel seingat simbah sudah mati muda. Simbah lupa kejadian kematiannya. Anak perempuan yang berbagi tegesan itu sekarang kalau masih hidup, pastilah sudah dewasa. dan anak bayi yang diancam jotos oleh bapaknya itu, simbah yakin sudah seusia Sherina, dengan nasib yang tentu saja tak seberuntung artis muda itu.

Dengan kondisi perekonomian yang seperti sekarang ini, simbah yakin keluarga ala Gudel itu masih banyak. Walaupun ada juga yang bilang, dengan bengsin seharga sekarang ini, jumlah rakyat miskin jadi berkurang. Entah statistik dari mana yang mengatakan ini. Asumsi ini masuk akal, jika yang dimaksud kemiskinan berkurang itu adalah dikarenakan rakyat miskin wal mlarat itu pada modiyar semua karena gak kuat melanjutkan hidup.

Kita terbiasa hidup di komunitas yang berkecukupan. Tetangga kiri kanan semuanya keluarga mampu. Teman kantor, teman kerja, semuanya warga borju. Sehingga dianggapnya, yang namanya kemiskinan itu cuma rekayasa, tidak benar-benar ada. Kalaupun ada itu masa lalu.

Ada sebagian dari kita yang tahu, bahwa kemiskinan itu ada. Tapi sayangnya kemiskinan itu lantas hanya dijadikan komoditi. Kemiskinan adalah modal buat menarik simpati untuk mencari suara. Masing-masing bendera menyuarakan ingin membela rakyat kecil. Biasalah, gabrulan lima tahunan. Dibela setahun, diinjek empat tahun. Rakyat miskin makin terinferior. Makin kere, tidak hanya lahiriah tapi juga mental. Makin nggedhibal pitulikur.

Simbah hanya bisa berdoa dan berusaha semampu simbah, agar tidak ikut tenggelam di kapal yang dibocori rame-rame ini. Sambil berharap, ada yang mau menambal kebocoran itu dan menyadarkan para pembocor kapal itu akan kebodohan tindakannya.


Beban Harta


Sampeyan pernah naik sepur kelas ekonomi sambil mbawa duik limapuluh juta ripis? Kira-kira rasanya pigimanah? Kira-kira sampeyan bisa tidur gak dengan kondisi seperti itu? Dengan kondisi keamanan sepur kelas ekonomi yang seperti sekarang, mbawa duik tigapuluh juta ripis di dalamnya adalah satu aktifitas yang menyiksa. Akan lebih menyiksa manakala duik itu adalah duiknya bos kantor dimana dia bekerja, yang harus diantar ke tujuan dengan selamat, dan kalo terjadi apa-apa harus ngganti… Mak nyuuut..

Bahkan jikalau bepergian di dalam fasilitas transportasi yang aman sekalipun, orang pingin bepergian dengan praktis dan aman. Gak mau direpotkan membawa-bawa barang yang malah membebani perjalanan. Maka menungso yang pikirannya begitu itulah yang setelah melalui ribuan tahun sejarah kemanusiaan, akhirnya menemukan yang namanya ATM dengan kartunya. Kartu kecil, gampang dibawa dan disimpan, yang manfaatnya lebih besar daripada mbawa  tumpukan koper berisi tetek bengek bekal perjalanan.

Adalah konsep hidup model begitulah yang dianut salah seorang sohib simbah, yang tinggal di tlatah Javanese sono. Sebut saja namanya Abdul Ghani (bukan nama sebenarnya temtunya). Seorang yang sederhana, rumahnya kecil, anak banyak dengan segudang aktifitas yang menyibukkan dirinya sehingga hanya menyisakan sedikit waktu dia untuk nyari nafkah buat keluarganya.

Dengan waktu sehari yang cuma sekian jam untuk nyari duik itu, akhirnya membuat penghasilannya gak pernah banyak secara kuantitas. Maka tak terbersit sama sekali dalam hati Kang Abdul Ghani ini untuk bercita-cita jadi sugeh mblegedhu. Dia tahu diri, memang rejekinya hanya selevel koret-koret dasar kuali, alias rejeki kelas recehan. 

“Yah, mau apalagi tho mbah hidup ini. Wong ya cuma mampir sekian puluh tahun, habis itu nggeblas lagi ke alam berikut. Mau sugeh ya akhirnya matek, mau miskin ya akhirnya matek. Lha wektu nyari duik cuma sebentar, ya memper lah kalo cuma dikasih segini. Yang penting cukup,” katanya pada suatu hari.

Kata yang terakhir itulah yang menjadi misteri buat simbah. “Yang penting cukup”. Dan memang begitulah adanya. Dengan anak yang pating drindil, yang saat ini kalo gak salah sudah lima anak, pigimanah mengandalkan rejeki kelas koretan dan lantas  dengan klecam-klecem bisa ngomong dengan santai “Yang penting cukup”? Herannya memang bener-bener cukup. Anaknya bisa sekolah semua, makan sehari-hari cukup, bisa mbayar rekening tagihan bulanan, dan mantabhnya dia sangat mandiri.

Salah seorang rekan ngaji simbah menyebut rejekinya sebagai rejeki kelas “tuhia”. Yakni rejeki yang kalau pas “butuh” lalu sudah “tersedia”. Simbah melihatnya seperti orang yang bepergian gak bawa bawaan macem-macem, tapi ATM nya berisi duik dengan nominal puluhan digit. Klecam-klecem, cengar-cengir, gak repot, nyantai, gak terbebani dengan bawaan, tapi tiap kali butuh tinggal pencet-pencet tombol PIN dan duik dateng.

Bandingkan dengan Kang Panjul yang baru pertama kali blayangan ke Jakarta dari desanya di Gunung Kidul sana. Ha wong ke Jakarta kok mbawa baju lima koper karena takut gak sempat umbah-umbah, mbawa klapa 10 butir yang katanya buat mbikin es degan di Jakarta, mbawa pitik babon lima ekor, plus pete limang renteng buat lalap. Penumpang model beginilah yang mbikin penumpang kendaraan angkutan umum lainnya jadi tersiksa.

Cuma masalahnya, punya rejeki tuhia itu gak gampang. Harus punya mental dan keyakinan mantabh pada Sang Pemberi dan Pengatur Rejeki. Ditambah lagi, harus punya PIN yang cocok, yakni doa yang makbul. Bayangkan, anak sakit, anak sekolah, anak kuliah, anak isteri butuh makan, dan kebutuhan lainnya tinggal sambat ke  langit dengan penuh yakin, besoknya rejeki datang dengan beribu sebab dan jalan menghampiri rumahnya. Tentu saja dengan diiringi sikap harap-harap cemas, khauf dan roja. Dan ini sikap orang yang bertaqwa.

Banyak orang yang gak siap dengan gaya hidup seperti ini. Orang lebih memilih menjalani perjalanan hidupnya ala kang Panjul dari Gunung Kidul. Apa-apa punya atau dengan kata lain wajib kaya. Duik buat “kalo-kalo” anak sakit harus sudah ada, duik “kalo-kalo” ntar anak kuliah harus tersedia, duik “kalo-kalo” terjadi apa-apa sudah tersedia juga. Barulah jika segala “kalo-kalo” yang ditakutkan manusia itu terkafer semua, maka dia baru bisa tidur nyenyak, tidur pules, gak khawatir, gak cemas dan gak dihantui “hantu-hantu” kebutuhan pokoknya.

Kenyataannya tidak begitu. Ketika manusia jumpalitan mengusir rasa ketakutannya akan “kalo-kalo” yang hendak terjadi dengan menyiapkan harta sebanyak-banyaknya, disini dia dihantui dengan ketakutan yang lain.  Yakni ketakutan akan kehilangan semuanya. Dia dituntut harus mempertahankan hartanya agar tidak hilang, habis serta gak dicolongi, dan itu adalah satu bentuk kesibukan tersendiri yang gak kalah menyiksanya. Hal yang gak pernah dialami kang Abdul Ghani atau penumpang yang gak bawa apa-apa selain selembar ATM bermuatan puluhan digit tadi.

“Waman yatawakal ‘alallahi fahuwa hasbuhu”
Barangsiapa tawakal pada Allah, maka itu cukup baginya…. :)



The Power of Risau


Dulu sewaktu simbah masih dapat jatah jaga di ICU, seringkali simbah menyaksikan para penunggu pasien menunggu di luar ruang dengan begitu cemasnya. Ada yang nggelar tikar sambil sesekali sledap-sledup ngudud dan srupat-sruput minum kopi, ada juga yang duduk merenung. Namun yang jelas semua jadi kuat melek.

Ibu-ibu yang tadinya ngantukan, jam sepuluh malem sudah mlungker selimutan, tiba-tiba menjadi bisa kuat melekan. Semalam tidur dua jam sudah cukup manakala menunggu anak kesayangannya dirawat di ruang batas hidup dan mati itu. Kang Pawiro Cobrot yang biasanya sebelum Dunia Dalam Berita sudah ngowoh, tiba-tiba jadi tukang melek selama berhari-hari karena nunggu isterinya yang kritis setelah cesar.

Itulah kekuatan asli manusia. Dalam keadaan normal, kekuatan manusia terasa terbatas. Orang sekuat apapun bisa kalah oleh capek dan letih. Kalo sudah kelelahan, oknum segothot apapun akan nglumpruk lemes karena dikalahkan oleh lelah.

Namun sebenarnya masih ada yang bisa mengalahkan rasa lelah. Apa itu? Lelah, letih ataupun capek, bisa dikalahkan oleh mabok. Kang Paidul yang badannya gering dan tampak ringkih itu, kalo sudah nenggak ciu limolas sloki, tiba-tiba bisa ngibing semalam suntuk tanpa capek. Demikian juga konco-konconya yang mblangsak gak karuan itu. Kalo sudah nenggak wiski sebotol plus pil koplo, mau diajak jogedan ala kipas angin yang gedak-gedek kira-kanan itu ya oke saja…  Gak ada capeknya.

Tapi mabok masih ada yang mengalahkan. Yang bisa mengalahkan mabok adalah kantuk. Kalo kantuk sudah datang, semabok apapun seseorang pasti klipuk juga. Ngorok senggrak-senggrok kayak suara gergaji sedang melakukan aksi illegal logging. Sesekali diselingi batuk karena tersedak iler.

Nah … rasa kantuk itu  masih ada yang bisa mengalahkan, yakni RISAU. Macem penunggu pasien di emperan ICU rumah sakit itu. Risau karena menunggu dan mencemaskan sesuatu yang menyebabkan kantukpun dianggap angin. Melek semalaman no problem. Ada kekuatan ekstra yang muncul dengan tiba-tiba manakala risau itu datang. Dan tubuh pun merespon serta beradaptasi dengannya.

Dengan ini pula maka kita bisa paham, mengapa Nabi saw bisa sholat malam semalaman suntuk sampai kakinya bengkak. Dakwah tanpa lelah sampai babak belur dan tetap bertenaga terus. Juga riwayat orang-orang yang kuat ngibadah sampai sedemikian hebatnya. Mereka bisa begitu karena menyertakan risau pada amalannya.

Sayangnya kekuatan risau ini lebih banyak diletakkan pada sesuatu yang sebenarnya tak perlu dirisaukan. Orang lebih banyak risau tentang bagaimana mencari sesuap nasi. Satu hal yang sudah dijamin pasti adanya selama hayat masih dikandung badan. Tapi tak pernah risau bagaimana nasibnya nanti di akherat. Apakah selamat ataukah cilaka mencit…??

Sebagian merasa tenang karena salah dalam memahami Maha Pengampunnya Allah. Setiap kali habis mblangsak, mabok, zina, korupsi dan maksiat, yang tertanam dalam dirinya adalah keyakinan bahwa dirinya sudah diampuni. Sampai-sampai ada yang berkeyakinan bahwa semuanya nanti pasti masup sorga, karena Tuhan Maha Kasih Sayang, gak mungkin menyiksa hamba-Nya. Mungkin orang ini belum pernah dibacok anaknya sama garong, belum pernah diperkosa isterinya sama bromocorah dan belum pernah disunduki dan disetrum kemaluannya sama interogator yang memaksa mengakui perbuatan yang gak pernah dilakukannya.

Mulai sekarang, sertakan risau dalam semua urusan kita, agar kekuatan ekstra yang tak kenal lelah membantu kita mengerjakan amalan-amalan kita… ;)


Perjodohan


“Gimana sih mbah caranya, supaya saya bisa mendapat jodoh yang baik?” begitu pertanyaan ini sering berulang ditanyakan ke diri simbah. Pertanyaan ini biasa simbah jawab dengan beragam jawaban, tergantung apakah si penanya ini type pemburu ataukah type yang suka diburu. Untuk type pemburu, simbah suka menasehatkan :

“Lha sampeyan mau mburu apa? Kalo mau mburu kijang, ya jangan blusukan turut waduk! Ntar dapetnya wader sama mujair. Lha kalo mau mburu ikan, ya jangan byayakan masup ke padang pasir. Ntar ketemunya ikan dendeng doang…!”


Biasanya kalo si penanya lepel otaknya hanya lulusan SD, atau lulusan S1 tapi nyogok lanjut bertanya…

“Maksudnya apa itu mbah?”

“Gini lho Dul… Kalau kamu memang mau nyari jodoh yang baik, ya carilah ke tempat-tempat yang baik. Orang-orang baik hanya akan betah tinggal di lingkungan yang sehabitat dengan dirinya, yakni lingkungan yang baik. Cuma masalahnya, kata “baik” itu beda-beda miturut isi jidat masing-masing.”


“Maksudnya apa itu mbah?”

“Lha kalo itu orang dengan latar belakang ilmu agamanya mantabh, yang namanya jodoh yang baik itu ya yang penting sholeh, ngibadahnya tekun, menahan pandangan, gak plerak-plerok kayak kadal ijo, trus patuh tunduk sama rambu-rambu syareat. Tapi kalo orang itu latar belakangnya pemuas syahwat, jodoh yang baek itu ya pokoke yang nyakdhut, moleq monthoq (dibaca dengan qolqolah), mulus, murah senyum, nyah-nyoh, dan cemekel. Masalah ngibadah nomer sewidak rolas. Dan masing-masingnya pasti mendapat sesuai kriterianya.”


“Kok bisa gitu, maksudnya apa itu mbah?”

“Lhaiyo, lha kalo sampeyan macak jadi macan, tentu saja ngiler dan ngeces kalo weruh dan lihat daging. Dikasih rumput mukok-mukok wal muntah. Tapi kalo sampeyan macak jadi wedhus bin gembel, lihat krokot dan rumput semrinthil ndekati…. Jadi mesti klop dengan cocokannya…”

Itu type Pemburu. Nah ada juga yang type diburu. Inipun wejangannya lain lagi…

“Maksudnya apa itu mbah?”

“Wooo… sontoloyo.. bola-bali kok pertanyaannya gitu…!”


“Maap mbah, saya memang sontoloyo.. ha wong propesi saya angon bebek je…”

“Gini lho Sont… Untuk type yang diburu, ya tinggal milih didatengi siapa… Kalo macak jadi daging, ya yang ndatengi dan nyaplok pasti macan dan sebangsanya. Tapi kalo macak jadi suket, ya jangan salahkan siapa-siapa kalo yang nyaplok itu wedhus dan wadyabalanya.”


Dan rupanya itupun terjadi di dunia perbloggeran. Jika sampeyan punya blog, sebenarnya blog itu ibarat piringnya. kalo sampeyan isi gereh petek sama iwak cethul, ya jangan heran kalo yang mampir kesitu adalah kucing. Atau sampeyan isi bekatul, ya mesti saja dirubung dan dithotholi pitik. Karena hanya orang-orang yang sreg dan sejodoh dengan isi blog itulah yang bertahan menanti dan membaca hidangan yang sesuai dengan seleranya.

Akhirnya, memang sebuah blog dengan tulisannya. tidak akan bisa memuaskan semua pihak. Yang sejodoh akan mendukung, dan yang tak sejodoh akan mengingkari. Sebagaimana satu quote yang pernah dilontarkan Bill Cosby :

“Saya tidak tahu apa itu kunci kesuksesan. Namun saya tahu kunci kegagalan, yakni jika anda berusaha memuaskan semua orang.”


Satu cerita pernah dibawakan oleh kalangan tabiin, bahwa mereka terheran-heran dengan adanya seekor burung merak yang runtang-runtung rukun dengan seekor burung gagak. Sebagaimana diketahui, burung merak adalah lambang keindahan, sedangkan burung gagak adalah lambang keburukan dan kengerian… tapi kok bisa rukun. Apa yang mbikin mereka bisa sejodoh? 
Rupanya setelah diamati, kedua burung itu sama-sama pincang. Mereka diikat oleh kesamaan nasib… pincang.

Yang namanya kebaikan hanya akan disukai dan dicintai oleh orang-orang baik. Dan orang-orang baik hanya akan berkumpul dan berjodoh dalam pertemanan hanya dengan orang baik yang lain. Imam Syafii menasehati kita…

“Nilailah saudaramu, dengan cara melihat dengan siapa mereka berteman dan bergaul…!”
Kanjeng Nabi saw bersabda, “Ruh itu saling berjodoh. Yang sejalan dan cocok akan saling mengenali dan berkumpul, sedangkan yang tak sejalan dan bertentangan akan saling mengingkari…..”

Simbah gak tahu, sampeyan orang yang gimana. Tapi simbah hanya berharap, semoga hanya orang-orang baiklah yang menyukai blog simbah…. ;)


Kapal Bocor


Beberapa waktu lalu simbah mendapat kabar bahwa beberapa perusahaan leasing mobil di Jakarta ini terancam kukut. Penyebab yang langsung dituding adalah krisis keuangan global. Karena sampai saat ini kata-kata “krisis keuangan global” adalah kata-kata ampuh untuk dijadikan biang kerok segala macam kejadian yang gak mbejaji. Tersiar pula kabar bahwa beberapa perusahaan tekstil dan industri lain mulai memanggil karyawan-karyawannya untuk ditawari memilih satu diantara 2 opsi. Yakni pilih mundur teratur atau mundur kabur. Jika mundur teratur akan disangoni walau gak mitayani. Tapi kalau mau bertahan, diramalkan di awal tahun 2009 perusahaan akan kolaps dan karyawan jangan harap dapat pesangon apapun, karena pemilik perusahaannya gak bakalan mampu dan justru memilih kabur dari tanggung jawab.

Kang Waluyo Pithut, salah seorang pemilik showroom mobil di bilangan Jatinegara mulai menggerutu, “Sebetulnya krisis ini apa tho penyebabnya? Katanya semua ini gara-gara Amerika Koplo. Gara-gara kelakuan mbejat segelintir jidat saja kok mbikin dunia jungkir balik,” keluhnya.
Simbah sendiri gak begitu paham perihal teori-teori ekonomi yang dipakai oleh ahli-ahli ekonomi dunia itu. Tapi yang jelas segala bentuk teori ekonomi yang sekarang ini dipakai, ternyata berujung pada krisis keuangan global seperti sekarang ini. Hampir semua ahli ekonomi menyusun kebijakan ekonominya untuk menyejahterakan rakyatnya. Semua negara menerapkan kebijakan ekonominya berdasarkan saran ahli-ahli ekonominya. Namun melihat krisis keuangan yang sekarang ini sedang melanda, timbul rasa skeptis pada diri para ahli ekonomi itu. Jangan-jangan segala macam bentuk teori ekonomi yang sekarang ini dijalani dan diubal-ubal ajarannya itu sebenarnya semuanya hanyalah sekumpulan “Bull” yang ketemu “Shit” alias omdo. Maka tak heran jika lantas para ekonom mulai mengevaluasi segala macam teori ekonomi yang sebelumnya dipegang menjadi setengah agama itu, baik teori ekonomi kapitalis, sosialis, komunis maupun yang cuma pringas-pringis.

Menurut kang Waluyo Pithut yang memang tak pernah mengenyam sekolah sampai tamat dan tak pernah belajar teori ekonomi yang ndakik-ndakik, segala bencana ekonomi dunia saat ini sebenarnya diawali oleh perangnya si Bush lawan Saddam Husein yang melibatkan rakyatnya. Perang yang akhirnya membahayakan ekonomi Amerika Koplo, didukung oleh meroketnya harga minyak dunia dan perilaku korup yahudi amerika dengan sistem ribanya, menjadi ramuan manjur buat membangkrutkan dan memberantakkan tatanan ekonomi dunia.

Kelakuan Amerika Koplo yang dengan tak sopan mengangkangi negara-negara kecil tak bersenjata demi minyak, hampir tiap hari ditayangkan di tipi. Kelakuan mbejat Amerika koplo dengan segala kelicikannya hampir setiap hari dipertontonkan di hadapan kang Waluyo Pithut sang pemilik showroom, pada Pak Min si penjual sego kucing, pada Lik Gemblong seorang pengusaha odhong-odhong, atau pada pejabat semi penjahat yang memegang keputusan dan kebijakan. Semuanya tak sadar, bahwa tontonan yang dipertunjukkan Amerika Koplo di tipi itulah yang akhirnya mengukut showroomnya Kang waluyo Pithut, mengancam harga bandeng di segonya Pak Min, menggerogoti kempolnya Lik Gemblong yang mengayuh odhong-odhong tanpa penumpang dan membuat jidat pejabat terembat lantaran puyeng mikir tuntutan rakyat yang sekarat.

Kanjeng Nabi menggambarkan perilaku Amerika Koplo itu ibarat serombongan idiot yang sedang melobangi dasar perahu karena hendak mengambil air di bawahnya, lantaran jikalau harus turun naik ngambil air terlalu jauh jaraknya. Sedangkan kita semua ini adalah penumpang di perahu tersebut, namun hanya bengong ngowoh melihat keidiotan sang pembocor perahu tanpa ada yang mengingatkan atau menegur. Di antara penumpang perahu itu ada yang sedang sholat, ada yang sedang doa hewes-hewes, ada yang sedang ndikir, ada yang sedang mbaca kitabullah, namun tak satupun yang menegur perilaku sang idiot yang sedang melobangi perahu. Manakala perahu mulai karam, semua panik. Pertunjukan koplo sang idiot rupanya membahayakan banyak jiwa dengan karamnya kapal. Sang ahli sholat heran, ha wong dirinya rajin sholat kok ikut karam. Sang tukang doa juga heran, ha wong tiap hari mendoa sapu jagad kok juga ikut mau karam. Sang ahli ndikir dan baca kitabullah juga kaget, ha wong selama ini selalu basah lidahnya mengingat Allah kok mau karam juga. Semuanya lupa, karamnya mereka itu lantaran tak ada satupun yang menghentikan upaya idiot sang pembocor kapal.

Salah seorang pasien simbah pernah bertanya, “Mbah, ha wong gara-gara segelintir orang kok semua harus nanggung. Kok bisa begitu itu gimana nalarnya?”

Simbah jawab, “Sampeyan tahu kan, komplek kita ini dulunya tak ada yang namanya polisi tidur. Semua pemakai jalan bisa berjalan dengan mulus tanpa harus ngerem-ngerem menghindari gajlugan polisi tidur. Lalu tiba-tiba ada seorang idiot bergaya Palentino Rosi lewat hampir nyerempet seorang anak kecil yang sedang main di jalan. Dari situlah orang berpikir untuk memasang polisi tidur walau sebenarnya bisa ditempuh dulu dengan menasehati pemakai jalan itu. Namun karena tak ada yang amar makrup nahi mungkar dipasanglah polisi tidur, bahkan sampai ada yang masang polisi nungging karena saking tingginya. Saya tanya sampeyan, jika sudah dipasangi polisi nungging itu, yang kena gajlugan apakah cuma si begajul ngebut ala Palentino Rosi tadi atau semua pemakai jalan termasuk yang ati-ati? Bahkan mbah Wiryo Setliko yang ngonthel dengan kecepatan siput pincang pun terpaksa kena gajlugannya si polisi tidur itu.”

“Masuk akal juga.” Kata pasien simbah tersebut.

Memang harus ada upaya amar makruf nahi munkar kepada para penguasa dunia, bahwa yang mereka upayakan saat ini adalah upaya idiot membocori kapal yang bisa menimbulkan bencana karam global. Amar makruf nahi munkar lah yang menyelamatkan kapal dunia dari bencana karam global. Memang masih ada ratusan juta bahkan milyaran bibir yang berdoa, berdikir, menengadahkan tangan minta keselamatan pada Penguasa Alam Semesta. Namun Sang Pencipta sudah memberi isyarat pada kita semua, 

“Kalian sendiri bisa menyelamatkan nasib kalian. Ada upaya yang bisa kalian tempuh, mengapa tidak kalian tempuh? Mengapa kalian suruh Aku menyelesaikan masalah kalian, sementara jalan penyelesaian sudah Aku tunjukkan pada kalian?”

Kesabaran


Malam itu begitu dinginnya. Namun bagi Si Kiwik, spesialis pencuri ayam kelas kamso tidaklah begitu dirasakan. Padahal bagi kulit orang normal, dinginnya malam yang sedikit diselimuti gerimis itu lumayan bisa bikin sering kepuyuh-puyuh beser wal anyang-anyangen. Dengan tenangnya si Kiwik mengincar pitik babon yang sudah mambu wajan, tak lupa juga si jago lurik yang kluruknya bisa mbangunin si empunya ayam.

Setelah berbasah-basah lumayan lama, akhirnya kira-kira pukul dua malam, beraksilah si Kiwik mbedhog pitiknya tetangga simbah. Namun apa daya, ibarat untung dapat ditolak dan malang dapat diraih, dumadakan si pitik kaing-kaing dengan kenceng saat dibedhog. Temtu saja si Kiwik kaget. Lha biasanya dengan ilmu sirep pitiknya yang ampuh itu, si ayam dengan lulutnya manut dibedhog sampai ke rumahnya. Ha kok ayam yang ini malah berontak.

Walhasil seisi rumah tetangga itu pada bangun. Si Kiwik diuber dan dikejar-kejar orang sekampung. Karena dikepung, si Kiwik akhirnya babak bundhas dibandemi massa, sebelum akhirnya diserahkan kepada pihak berwajib. Itu adalah kejadian sekitar duapuluh tahun yang lalu.

Yang simbah herani adalah kesabaran si maling menunggu dan mengincar mangsanya di malam hari itu. Padahal hujan, dingin, ngantuk, dan tentu saja seram karena jam operasinya selalu di atas jam satu malem. Bahkan ada juga yang mengincar satu rumah dengan lebih sabar dari itu. 
Diperhatikannya rumah itu berbulan-bulan, diincer, dan diamati jadwal keluar masuknya si empunya rumah. Bahkan agar lebih mudah akses masupnya, dipacarinya si pembantu rumah tersebut. Padahal si babu rumah itu janda setengah tuwek yang mulai rajin nginang, berwajah ala Limbuk, yang kalo diajak ngobrol berulangkali ngludah dubang (idu abang = ludah merah hasil nginang). Tapi semua tekanan lahir batin itu dijalaninya dengan penuh kesabaran.

Begitu dirasa tepat waktunya, maka mulailah dilaksanakan aksinya ngrampok dan ngukut isi rumah tersebut. Semua diangkut, kecuali Babu STW hasil cinlok yang lantas ditinggalkannya dalam keadaan terikat dan disumpeli kinang sak kepel.

Rupanya untuk jadi penjahat sadis pun membutuhkan kesabaran. Semakin mau bersabar menjalani profesinya, maka semakin profesionallah si penjahat tersebut. Maka berkacalah pada bandit tengik berhati kejem itu. Mereka mau bersabar-sabar menanggung derita lahir batin untuk menghasilkan kejahatan yang rapi dan jali. Semua aksi kriminil yang sukses dan spektakuler membutuhkan kesabaran ekstra dan kecerdasan lebih untuk menjalaninya.

Maka yang simbah ulas tadi adalah jalan yang ditempuh oleh kalangan dunia hitam. Rupanya kunci sukses mereka pun ternyata satu : kesabaran. Lantas bagaimana pula bagi kalangan yang ingin meraih sukses dalam hal kebaikan?? Herannya kebanyakan orang pinginnya instan, ingin cepet-cepet melihat hasil, kemrungsung wal kesusu. Gimana bisa jadi sukses??

Di dalam meniti sukses mentaati aturan Sang Pencipta pun gak bisa instan. Tapi kebanyakan orang gak mau tahu. Pinginnya mereka itu paham agama secara karbitan. Ada yang gemar bokep, blayangan blusukan diskotik, istiqomah mlototin pilem holi maupun boliwud, gak pernah nyentuh Kitabullah dan kitab hadits, tapi kalo mbantah ulama mulutnya nyrocos lancar wal lanyah macem propesor lagi ngomelin mahasiswa hampir DO yang gak bisa njawab pertanyaan matematika kelas pipo londo.

So…. mau jadi bandit tengik saja butuh kesabaran, mengapa untuk menjadi orang yang tunduk manut Gusti Allah pada gak mau sabar??


Jujur Gak Bakal Hancur


Sekitar dua tahun yang, di saat simbah asyik metangkring di satu cakruk sambil mengamati mobil simbah yang sedang dicat, duduklah bersama simbah seorang sahabat simbah beserta seorang mantan tukang kepruk lokalisasi Kramat Tunggak yang luntang-lantung nyari kerja, sebut saja namanya si Gopar.

Waktu itu simbah dan sahabat simbah sedang ngetuprus membicarakan perihal kejujuran. Sambil nyantai simbah mituturi si tukang cat mobil itu, sesekali ditambahi pitutur dari sahabat simbah. Sebutlah si tukang cat mobil itu si Osrat, jagoan cat yang sudah kawentar hasil catnya mesti kinclong..

“Srat, pokoke kerja yang tekun, ulet dan yang terpenting jujur. Jangan nipu. Kalo nipu, bagaimanapun caranya, hidup gak bakalan sukses.” kata sahabat simbah pada si Osrat.
“Lha itu, koruptor-koruptor itu pada sugeh mblegedhu dari hasil nipu… nyatanya hidup enak mbah..,” sergah Osrat pada simbah.

“Halah, enak apanya? Wong hidup dihantui kebohongan kok enak.. Lagian emangnya kesuksesan hidup itu kayak mereka..?? Wah jauh Srat.. Mereka itu sedang menggali lobang neraka di dunia. Kalo di akherat, nggak usah digali, nerakanya sudah tersedia dan dalem. Jikalau ada bayi dicemplungin ke situ, sampe ke dasar neraka sudah jenggoten saking dalemnya…, mau hidup kayak gitu..!!??” jawab simbah.

Dua tahun telah berlalu……….

Pada satu malam, kira-kira dua minggu lalu, sahabat simbah itu dipanggil seseorang di satu cakruk.
“Pak-pak, mampir dulu pak. Bapak masih inget saya?” tanya orang itu.

“Wah, siapa ya?? Lupa-lupa inget…,” jawab sahabat simbah.

“Saya si Gopar yang waktu itu ikut ndengerin bapak dan mbah dokter ngobrol di cakruk dulu itu… Boleh minta waktunya pak. Saya mau ngobrol sebentar…” pinta si Gopar.

Setelah tersedia teh anget, ngobrollah si Gopar dengan semangat yang menggebu-gebu.

“Waduh pak, saya berterimakasih sekali lho atas nasehatnya pada waktu itu. Itu lho waktu ngobrol sama mbah dokter dulu itu. Saya itu heran ha wong obrolan kok lain-daripada yang lain…” kata Gopar.

“Lain gimana Par?”
tanya sahabat simbah.


“Saya itu sudah gaul sama haji-haji, kemana-mana kumpul. Kenal juga sama ustadz-ustadz, yah saya kan pingin mertobat, ha wong bertahun-tahun jadi tukang kepruk mbodiguard di Kramtung. Tapi meskipun haji, ustadz atau apapun namanya, kalo kumpul sama mereka itu yang diomongin mblangsak semua. Menasehati orang boleh jago di mimbar, tapi kelakuannya moorsaaal… Jadi kalo mereka ngobrol, meskipun isinya nasehat.. ya lewat saja. Ha wong kita tahu kemana blusukannya dan gimana kelakuannya..”

“Lha terus…?”


“Lha ini yang ngobrol bukan kyai, haji juga nggak, malah dokter… eee.. ngomongin kejujuran. Tadinya saya sudah putus asa lho pak pada kejujuran. Ha wong orang jujur hidupnya pada ancur semua. Lha dulu itu mbah dokter sama bapak malah bilang, dengan kejujuran hidup malah sukses. Makanya saya pingin membuktikan omongan itu…”

“Trus gimana… terbukti nggak?”

Maka berceritalah si Gopar, bagaimana dia ketemu seorang yang rusak motornya dan mogok di jalan. Orang itu adalah orang batak, marga Gurning. Anehnya dia muslim. Pak Gurning ini minta tolong Gopar buat memperbaiki motornya. Maka diopreklah hingga sehat lagi motor itu. Pak Gurning senangnya alang kepalang. Dikasihlah si Gopar seratus rebu ripis. Tapi oleh Gopar tak semua diterima.

“Maap pak, cukup duapuluh rebu saja. Ini Kebanyakan, terimakasih. Wong modal barang sama tenaganya gak lebih dari segitu…” kata Gopar waktu itu.

Maka heranlah pak Gurning ini, ada orang sejujur itu. Lalu diundanglah si Gopar untuk main ke rumahnya. Karena si Gopar itu pengangguran luntang-lantung, maka dimintalah dia mberesi dan mbersihkan rumah pak Gurning untuk kemudian diupah. Si Gopar jalani dengan agak bertanya-tanya. Masalahnya saat dia ngepel lantai, nyapu kamar dan mberesi ruangan-ruangan rumah, berceceranlah barang-barang berharga gemletak di mana-mana. HP, uang limapuluh rebuan, bahkan seratus rebuan, jam tangan mahal, semuanya tergeletak sembarangan. Kalo ditilep satu saja, nggak ada yang lihat. Tapi si Gopar merasakan, mungkin itu adalah ujian kejujurannya. Maka didiemkan saja barang-barang itu.

Selesai mengerjakan tugas itu dia menerima upah yang luar biasa banyak. Beberapa hari berjalan seperti itu, sampai akhirnya pak Gurning menyuruh dia untuk cari sebidang tanah di kampungnya buat nyawah. Diutuslah Gopar dan dipasrahi duit 50 juta ripis cash. Si Gopar sampai gemeteran megang duitnya. Seumur-umur belum pernah dia megang duit sebanyak itu. Dan dengan 50 juta di tangan, dia berhasil membeli tanah yang lumayan luas. Ha wong tanah di desa itu paling semeter dihargai limarebu ripis.

Oleh pak Gurning dia disuruh nyawah dengan hasil fifty-fifty. Setahun lewat, pembagian hasil berubah, 70% buat Gopar, 30% buat pak Gurning atas keputusan pak Gurning sendiri.

“Sekarang saya sudah bisa beli tanah dan motor atas bantuan pak Gurning juga pak. Saya merasakan bener bagaimana hidup jujur itu ternyata mbikin kita bener-bener sukses pak, karena saya selama itu selalu menjaga omongan dan tindakan saya agar selalu tepat. Apalagi pak Gurning itu orangnya juga menghargai kejujuran. Bahkan kalo sudah janji, saya telat semenit saja langsung saya gak diajak ngomong seharian oleh beliau….” kata Gopar pada sahabat simbah.

“Yah begitulah hidup Par.. kejujuran itu bagaimanapun lebih dihargai oleh manusia daripada kebohongan. bahkan tukang bohong pun menghargai kejujuran..”

“Saya malah kasian sama si Osrat pak… katanya dia nyolong uang bapak ya…?? Sekarang dia hidupnya kesrakat. Kemaren barusan saya kasih uang.. lha ngliatnya saya gak tega… Orang kok milih hidup jalan pintas…” kata Gopar.

Ya, begitulah. Si Osrat yang justru simbah dan sahabat simbah pituturi, akhirnya nilep uang sahabat simbah saat dipekerjakan di bengkelnya. Totalnya mencapai 2 jutaan ripis. Gak banyak. Tapi cukup untuk menjatuhkan vonis bahwa orang itu gak jujur. Berita tersebar, orang akhirnya gak percaya lagi sama si Osrat. Gak mau pakai tenaganya lagi. Hidupnya malah makin kesrakat. Terakhir simbah lihat si Osrat lagi mbantu jadi kenek bengkel dengan upah yang gak mitayani. Sementara si tukang Kepruk lokalisasi Kramtung yang cuma nebeng denger pitutur, malah jadi berubah menjadi orang yang sukses dengan bekal kejujurannya.

Sebelum menutup pembicaraan, sahabat simbah berkata : “Satu hal lagi Par.. kamu kan sudah merasakan buah kejujuran kamu, sekarang ada satu nasehat lagi yang kalo kamu jalani bisa mbikin hidup kamu tambah hebat lagi…”

“Apa itu pak?” tanya Gopar.


“Kerjakan sholat 5 waktu…..!”

“Wah.. iya pak.. saya sudah mulai latihan kalo yang itu…” kata Gopar sambil cengar-cengir.
Yang simbah ceritakan di atas adalah kisah nyata. Simbah saja sampai kaget ndengernya dari sahabat simbah. Ha kok ada lho yang akhirnya berubah hanya dengan nebeng denger orang ngobrol. Maka dari itu, ngomonglah, nulislah, mikirlah dan bertindaklah yang baik-baik, maka orang-orang yang ada di sekitar kita akan bisa menuai kebaikan itu, dan kebaikan itu akan kita tuai juga hasilnya… ;)


Jumat, 18 Agustus 2017

Proposal Hidup

Setelah kurang lebih 17 tahun menikah, simbah dikaruniai 9 orang anak dan insya Allah sebentar lagi 10. Bagi sebagian orang, jumlah anak 9 adalah jumlah yang fantastis untuk ukuran keluarga abad 21 ini. Anggapan tersebut tentu saja hasil pengkondisian, dimana ditanamkan di benak semua manusia bahwa jumlah anak haruslah sedikit jika mau menghasilkan generasi yang nyakdhut.

Penanaman pemahaman tersebut masih terus berlanjut walaupun sudah berpuluh bahkan beratus kasus terkuak, dimana seorang ibu dibacok anak semata wayangnya karena tak dibelikan motor, atau si bapak yang diancam bunuh karena tak segera menulis surat warisan buat anaknya yang ragil (no.2), atau sang ibu yang terpaksa siang malam banting tulang menghidupi 2 anak SMA nya yang aktif ngePUNK mencukur gundul rambutnya, mengantingi hidung dan lambenya yang persis lambe sumur itu tanpa menghiraukan gaji simboknya yang dibawah UMR guna menghidupi gaya hidup ngepunknya.

Sebagian besar orang ketakutan dengan jumlah anak bukan karena khawatir anaknya kurang terurus, tapi lebih banyak yang khawatir jika anaknya banyak, kelangenan dirinya menjadi terganggu. Sebagian orang tua yang kelangenannya berkarir di luar rumah merasa terganggu jika harus tersita waktunya ngurus anak. Mereka lupa bahwa mengurus anak di rumah pun merupakan karir yang dapat mencemerlangkan hidupnya.

Ada satu pasien simbah yang anaknya baru satu. Dua ortunya sibuk berkarir. Mereka bukan orang miskin, bahkan bisa dibilang kaya raya. Tapi setiap simbah tanya perihal kondisi penyakit anaknya, si ibu menjawab,
“Wah nggak tahu ya dok, soalnya ini tadi yang momong simbahnya. Katanya sih agak mencret.”
Ha wong berobat kok gak weruh pigimanah penyakit anaknya dan hanya mengandalkan kata embahnya yang tak dihadirkan saat pemeriksaan. Kedua ortu ini sudah berangkat sejak bakda shubuh, dan pulang selepas Isya’… Demi anak yang kalau sakit, orang tuanya tak tahu sakit apa dan bagaimana sakitnya.

Orang tua sebagimana yang simbah ceritakan di atas pasti akan tak habis pikir bagaimana orang semodel simbah kok mau-maunya punya anak sembilan. Ha wong satu saja sudah merusak kenyamanan mereka dalam berkarir, apalagi lipat sembilan.
Sebagian beranggapan, simbah berani punya anak enam dikarenakan simbah adalah dokter yang duitnya pasti sak jagad abuh. Sehingga tak lagi dipusingkan dengan urusan financial buat ngopeni anak. Ini juga rembug ngoyoworo. Biasanya yang ngomong begini adalah orang yang kebetulan belum pernah ketemu simbah langsung.

Ah, sudahlah….. Tulisan ini tak berkehendak membahas hal-hal tersebut di atas. Hanya saja kebetulan memang simbah dikaruniai anak banyak. Satu-satunya hal yang membuat simbah tetap optimis bahwa hidup simbah ada yang membantu hanyalah proposal hidup simbah. Bukan kekayaan, bukan kelonggaran dan bukan masalah financial.

Sampeyan tahu, jika sampeyan memiliki proposal bisnis yang sangat menguntungkan dan masuk akal, ketika kita presentasikan proposal tersebut, pastilah si pemilik modal akan dengan senang hati merogoh koceknya untuk menyokong usulan bisnis kita tersebut. Bahkan jika bisnis tersebut sangat prospekktif dan menguntungkan, pemilik modal akan dengan gembira mau menggelontorkan duit banyak walaupun hanya dibagehi 10% dari keuntungan.
Tapi jika proposal bisnisnya beresiko, sampeyan harus mati-matian meyakinkan investor untuk mau menyerahkan modalnya. Itupun sang investor pasti menghendaki porsi besar karena bisnisnya beresiko.

Pertanyaan besarnya, APA PROPOSAL HIDUP ANDA? Apa tujuan hidup anda yang nantinya Allah akan sukacita membantu dan menyokong segala aspek kehidupan anda dengan sepenuhnya. Jika proposal hidup anda hanya sekedar menggapai hidup nyaman, maka proposal hidup anda tak lebih dan bahkan sama dengan si Pleki kiriknya lik Pailul itu. Percuma Allah mengaruniai sampeyan kemampuan bicara, kemampuan menalar, kemampuan berpikir dan segala kemampuan milik manusia yang tak dimiliki hewan, jika cita-cita hidup sampeyan hanya selevel hewan. Betapa rendahnya proposal hidup sampeyan.



Namun jika sampeyan mempersembahkan hidup ini benar-benar dalam rangka beribadah, membantu agama Allah (walau Allah sebenarnya tak butuh bantuan), mempersembahkan apa yang sampeyan miliki dalam rangka menyempurnakan peribadatan kepada-Nya, maka Allah Maha Kaya untuk mencukupi segala kebutuhan hidup sampeyan. Proposal hidup yang begitulah yang Allah kehendaki, yang pasti hidup sampeyan tak akan sia-sia.

Maka anak satu atau dua, jika proposalnya benar, itu merupakan kebaikan. Anak sembilan bahkan sepuluh, jika proposalnya benar, bisa jadi jumlah sembilan atau sepuluh kurang. Semakin banyak anak semakin banyak kebaikan terbikin, jikalau proposal hidupnya betul.

Dengan anak makin banyak, simbah hanya dituntut untuk memperbaiki isi proposal hidup simbah. Jika masih dalam rangka ngibadah, insya Allah tak ada kekhawatiran dalam diri simbah akan kekurangan rejeki. Karena simbah yakin, Allah yang telah memakmurkan mereka yang durhaka, tentulah Maha Kaya dari menelantarkan hamba-Nya yang telah berniat mempersembahkan hidupnya demi mengabdi pada-Nya.

Ada ayat INTAN yang nilainya melebihi intan jika dipahami:

“Intanshurullaaha yanshurkum. Wa yutsabbit aqdaamakum..”
Jika kalian menolong Allah, maka Allah akan menolong kalian.
Dan mengokohkan tumit-tumit kalian…

Rabu, 26 Agustus 2015

Apa Atawa Bagaimana..?

Belum lama ini simbah menyaksiken satu acara di tipi tentang seni menyantap sushi. Makanan ala Jepang dan nJepangi banget ini ditayangkan dengan penuh seni. Simbah sebut nJepangi karena sesuai dengan karakter orang Jepang yang serba kemrungsung, sampai-sampai yang namanya makan gak nunggu dimasak. Pokoke langsung santlap. Mak nyuk…

Yang makan pun keliatan mantabh. Padahal yang namanya ikan laut, jangankan mentah, yang sudah mateng saja kadang amisnya masih nempel di tenggorokan. Maka simbah berusaha mendalami, bagaimana orang-orang Jepun itu bisa menyantap daging ikan yang amis itu dengan penuh kenikmatan

Lain sushi lain lagi dengan jengkol. Makanan tradisional yang aromanya berpotensi memancing keusuhan ini termasuk makanan yang masih susah simbah mengerti mengapa disebut lezat oleh penggemarnya. Bahkan bibi simbah sendiri dan sebagian anggota keluarga simbah menjadikan jengkol ini sebagai cemilan wal snack di saat senggang. Tapi simbah yakin, jika mau belajar menikmati pasti akan ketemu juga titik kelezatannya.

Sebagaimana saat simbah masih kecil dulu, tersebutlah makanan berbahan organik yang kluget-kluget di dasar akar pohon Turi berjuluk “Gendhon”. Gendhon adalah makhluk ra mbejaji berwujud seperti ulat gemuk, penuh lemak dan protein, serta konon menurut Kadi bisu -seorang konco angon simbah- merupakan sumber gizi yang ngedhab-edhabi. Sehingga kalo nemu makhluk berjuluk Gendhon ini, tiba-tiba konco-konco dolan simbah langsung menggelar acara kuliner ekstrim berbahan baku ulet berprotein tinggi itu. Maap aja, walaupun agak mlarat simbah tetep gak doyan makan Gendhon goreng itu. Meskipun konco-konco simbah ngiming-imingi dengan penuh demonstratip makan temblang-tembleng di depan simbah.

Kedoyanan dan ketidakdoyanan pada makanan-makanan tersebut oleh orang banyak disebut selera. Agak susah dimengerti memang dengan kata yang namanya “selera”. Karena secara anatomis, yang namanya lidah manusia itu sama saja. Letak syaraf-syaraf pengecapnya tak berbeda. Letak titik gurih, asem, manis, asin, pahit, cemplang, dan lain-lain, semuanya sama. Namun tiba-tiba satu makanan yang sama menghasilkan rasa yang berbeda pada individu yang berbeda.

Lantas jika ada yang muntah di tempat gara-gara bau duren, apakah pasti karena durennya? Padahal ada juga yang sledap-sledup dengan mantab menyedot aroma duren ini dengan sentausa dan malah ketagihan. Malahan kalo habis nyantap duren sebiji, kulitnya ditaruh dibawah amben tempat tidur karena ingin kamarnya beraroma duren.

Kesimpulannya: kenikmatan segala sesuatu terletak bukan pada “apa”nya yang dinikmati, tapi justru kenikmatan itu tergantung pada yang menikmati. Karena tergantung pada yang menikmati, maka kenikmatan itu terletak pada “bagaimana” menikmatinya. Pada subyek dan bukan pada obyek.

Pertanyaannya, bisakah kita belajar menikmati? Jawabannya : karena kenikmatan itu tergantung pada “bagaimana” cara menikmatinya, maka tentu saja bisa dipelajari. Tergantung kita mau apa tidak. Kalau mau, pasti ada jalan.

Dari sini seharusnya kita bisa menggladrahkan pikiran kita ke apa saja yang bisa dinikmati. Misalnya kekayaan. Kalau tak tahu bagaimana menikmatinya, maka kekayaan akan mendatangkan musibah. Kekayaan bisa terasa nikmat manakala orang paham bagaimana menikmatinya. Namun yang terjadi adalah banyak orang menyangka kekayaan itu nikmat bukan pada “bagaimana” nya. Banyak orang yakin kekayaan itu nikmat karena terletak pada “apa”nya. Sehingga yang tertanam pada diri kebanyakan orang, kekayaan itu nikmat karena kayanya itu.

Dari sini juga muncul pemahaman bahwa kemiskinan tak bisa dinikmati. Kalau kenikmatan itu tergantung pada “bagaimana” cara menikmatinya, maka pada semua kejadian seharusnya bisa dinikmati, termasuk kemiskinan. Tapi kita sudah lama dicekoki bahwa kenikmatan terletak pada “apa” yang dinikmati. Pada obyeknya. Jika jidat sampeyan konsekwen dengan pemahaman ini, maka seharusnya duren dan jengkol itu pasti nikmat bagi seluruh lidah spesies yang bernama manusia karena secara anatomis sama. Nyatanya tidak. Lalu muncullah kosa kata “selera” yang sebenarnya mendukung fakta bahwa sampeyan meyakini kenikmatan itu terletak pada “bagaimana”, pada subyek dan bukan pada “apa” yang dinikmati.

Kanjeng Nabi saw pernah bersabda, “Sungguh menakjubkan keadaan orang beriman. Seluruh keadaannya, baginya semuanya baik. Jika menerima kenikmatan lalu bersyukur, maka baik baginya. Jika menerima musibah lalu sabar, maka baik baginya. Dan tidak akan begini, kecuali mereka yang beriman saja.”

Maka kebaikan tidak terletak pada “apa”, tapi terletak pada “bagaimana” menyikapi. Karena sifat hipokrit kita, maka kita meletakkan kebaikan, kenikmatan, dan kebahagiaan pada “apa”, dan bukan pada “bagaimana”. Maka muncullah anggapan bahwa bahagia itu kekayaan, sukses itu pangkat, kenikmatan itu rumah mewah, keberhasilan itu karir mantabh, cemerlang itu gaji sembilan digit, dlsb.

Orang tak bisa memahami bahwa pada kemiskinan ada kebaikan, pada kekurangan ada kebaikan, pada musibah ada kenikmatan, pada bencana ada keberhasilan. Padahal semua tergantung pada “bagaimana” nya, dan tak bergantung pada “apa”nya. Namun kita menganggap tak ada kosa kata selera disini. Seakan semuanya absolut. Ketahuilah, sampeyan diglembuki sama setan kalo begitu.

Perjalanan Hidup

Pagi ini simbah menemui roti yang disimpen di lemari mulai berjamur. Masih sedikit memang, tapi alamat roti itu harus segera dihabiskan. Simbah inget wejangan salah seorang ulama tentang cerita sepotong roti. Sepotong roti yang siap kita santap itu sebenarnya telah mengalami perjalanan panjang sebelum menjadi roti. Bahkan sekian ribu tangan terlibat di dalam pembuatannya.

Sebagaimana diketahui, komponen bahan roti setidaknya adalah gandum, mentega/margarine, telor dan pengembang. Cerita tentang gandum saja sudah melibatkan ribuan tangan. Petaninya, penjualnya, distributornya sampai industri pengolahannya. Belum cerita tentang telor, pasti akan melibatkan petaninya, industri pakan ayam, pembibitan ayam, distribusi telornya, hingga penjualan ecerannya. Intinya sepotong roti yang kita makan itu telah melibatkan banyak tangan sampai akhirnya menjadi roti yang siap santap di depan kita.

Itulah gambaran individu manusia. Kita hidup dibentuk oleh perjalanan hidup kita. Manusia memandang hidup sesuai dengan apa yang sebelumnya dia baca, dia lihat, dia alami, dan dia rasakan. Dari sinilah nantinya ilmu kejiwaan dapat membaca profil dan karakter seseorang.

Ketika seseorang ngeciwis dan ngomyang ngalor ngidul bahwa yang namanya perkawinan itu tidak perlu, karena cinta tidak perlu dilembagakan, maka itu tercetus dari apa yang dia alami, dia baca dan dia rasakan. Bisa saja dikarenakan bacaan-bacaan yang dia lahap adalah bacaan model gituan. Atau dia pernah mengalami perkawinan yang menyeramkan, dimana suaminya kejem dan suka njotosi isterinya, atau isterinya matre nggrogoti duitnya. Atau dia pernah kawin cerai sepuluh kali, dimana di awal perkawinan si suami atau isteri bilang ai lop yu, tapi begitu cerai yang muncul kata bajinguk dan pelacur. Atau mungkin memang si oknum ini suka free ***, ngecer-ngecer lendir sak nggon-nggon, atau wanita yang suka ngobral dalan bayek, sehingga perkawinan itu gak perlu. Yang jelas golongan orang ini jarang atau memang gak pernah diberi kesempatan melihat keluarga bahagia yang diikat dengan tali perkawinan yang syah.

Simbah pernah denger omongan yang menyatakan bahwa, “Di jaman ini gak mungkin hidup tanpa riba. Kita butuh riba dan harus mau menjalankan riba, barulah ekonomi bisa berjalan.” Orang yang ngomong ini kebetulan segala segi hidupnya ditopang oleh kredit berbunga. Rumahnya, motornya, mobilnya, bahkan segala perabot rumah tangganya, dibiayai dengan kredit berbunga dengan jangka waktu tertentu. Dia gak bisa membayangkan orang bisa mencukupi kebutuhan hidupnya tanpa kredit berbunga. Gak masuk nalar dia, karena itulah yang dia alami, dia lihat dan dia rasakan berpuluh-puluh tahun, sehingga hampir menjadi satu ideologi. Dia terhalang dari kenyataan hidup bahwa beribu-ribu bahkan berjuta manusia, bisa punya motor, rumah, mobil ataupun perabotan rumah tanpa kredit. Bukan orang kaya, bukan konglomerat, bahkan mlarat ngempet, tapi hidup jauh dari kredit berbunga alias riba.

Itu jugalah yang mendasari seseorang bilang bahwa nikah tanpa pacaran dahulu adalah imposible, polygami bisa bahagia adalah dusta, Al Qur’an mengatur negara adalah mimpi, ustadz bisa hidup tanpa menerima amplop adalah nonsens, dan setumpuk omongan lainnya, macem lokalisasi adalah perlu karena pelacuran gak bisa diberantas, dan perjudian gak bisa dihilangkan.

Sayangnya, apa yang dialami, dibaca, dlihat dan dirasa oleh individu-individu di negeri ini cenderung menuju ke arah yang bertentangan dengan aturan Sang Pencipta. Maka satu generasi ke depan ini nanti, akan semakin banyak omongan-omongan yang ngalor ngidul, semakin bengkok dan sak karepe dewe.

Satu sabda Nabi menunjukkan bahwa Allah mengikuti persangkaan hamba-Nya. Jika seseorang memandang dan yakin bahwa cari makan yang haram saja susah apalagi yang halal…. maka seumur hidupnya akan dipersulit sama Yang Maha Pemberi Rejeki untuk mendapat barang halal. Jalan rejekinya selalu dikasih dari jalan haram.

Jika seseorang yakin bahwa kita hidup tak bisa terlepas dari riba alias kredit berbunga, maka seumur hidupnya akan dibikin begitu sama yang Ngecat Tomat. Jika seseorang yakin perjudian gak akan bisa diberantas, maka selamanya dia tidak akan mendukung diberantasnya perjudian. Bahkan ketika dikatakan padanya bahwa judi sudah berhasil diberantas, tetep saja tidak akan percaya. Malah akan dia bikin lokalisasi judi yang isinya dia sendiri.

Bagi kebanyakan orang, pandangan, keyakinan, dan pendapatnya turut dibentuk oleh perjalanan hidupnya. Dari apa yang dilihat, dirasa, dibaca, dan dialami. Hanya seseorang yang memiliki keyakinan yang kokohlah yang memiliki pendapat, keyakinan dan pandangan hidup yang tidak terpengaruh oleh perjalanan hidup. Justru perjalanan hidupnya akan dibentuk dan dialami sesuai dengan pemahaman dan pandangan yang dia yakini.

Husnuzhon

Beberapa kali simbah ikut Jum’atan akhir-akhir ini, sang khatib hampir selalu membahas yang namanya bencana alam yang sedang menimpa beberapa daerah di tanah air. Gaya dan karakter materinya hampir sama, yakni memvonis korban. Hampir semua penceramah, tidak hanya di khutbah, membahas bencana yang terjadi sebagai adzab yang dikirim Allah. Yang sekaligus tersirat makna bahwa korban bencana alam adalah pihak yang pantas dihukum. Apalagi ada kyai mengaitkan jam terjadinya yakni pukul 17.16 dengan nomer surat dan ayat dalam Al Qur’an, yakni surat 17 (Al Isra) ayat 16. Wah.. ini mah gaya gathuk enthuk. Setali tiga duit sama dukun klenik.

Simbah kadang mencoba memposisikan diri seandainya simbah korbannya, pasti sangat sakit jika di saat kehilangan harta benda, sanak family, lalu tiba-tiba divonis dengan perkataan, “Emang pantes diadzab elo pade.” Dan ngomongnya di depan mimbar, didengar ratusan bahkan ribuan orang.

Satu contoh kasus saja, sewaktu di jalan raya mendadak ada pemuda sok jagoan bergaya bromocorah, naik motor dengan ugal-ugalan bak orang buta warna, karena lampu merah diterjang seenak udel. Dasar lagi apes atau memang hukum sebab akibat berlaku, tiba-tiba ban depannya nggiles muntahan orang gila dan keplesetlah si jagoan bromocorah tadi dengan mantabhnya. Sudah wajahnya nyungsep di parit, motornya babak bundhas lagi. Dalam kondisi seperti itu saja yang paling bijaksana adalah memberikan pertolongan dengan segera. Karena kalo tidak, sang korban bisa-bisa mati ngenggon (di tempat). Masalah akhirnya si pemuda itu nantinya dinasehati, itu entar ajalah. Tapi tentu saja nasehat diperlukan, biar nantinya tidak ugal-ugalan.

Padahal sebenarnya bencana yang menimpa ini merupakan ujian BAGI SEMUA. Bagi yang kena musibah Allah ingin menguji seberapa sabar hamba-Nya menanggung ketentuan yang Dia tetapkan. Mengeluh apa tidak dengan jatah yang diberikan-Nya, kufur apa tidak dengan adanya nikmat yang masih Allah berikan di tengah bencana tersebut, dan sederet pertanyaan ujian yang ingin dilihat Allah jawabannya dari orang yang diuji-Nya.

Sedangkan bagi kita yang tidak kena musibah, kita diuji bagaimana respon kita kalau saudaranya kena musibah, mau mbantu apa kagak, mau menenangkan apa menyalahkan, mau meringankan apa malah memberatkan? Ujian Allah itu ditunggu jawabannya dari kita yang masih terhindar dari bencana. Kalau gagal ujian, tidak menutup kemungkinan justru berikutnya kita tidak diuji dengan “selamat dari bencana”, bahkan mungkin kitalah yang akan diuji dengan “ditimpa bencana”.

Cobalah berhusnuzhon dengan berbaik sangka pada saudara kita yang terkena bencana. Caranya bisa bermacam-macam, asal jangan langsung memvonis kalo bencana yang menimpa merupakan kiriman adzab. Ini menyebabkan yang mau nyumbang jadi males. Lah gimana mau simpati mau mbantu kalo korbannya dicap sebagai orang yang pantas dihukum?

Saat ini simbah hanya bisa berhusnuzhon bahwa ini adalah jalan yang diberikan Allah untuk memberikan derajat syahid bagi saudara-saudara muslim yang kematiannya menurut hadits shahih bisa masuk kategori syahid, yakni mati tertimpa. Tentu saja yang mati lagi nyabu di diskotek trus ketimpa sound system sampai duut van modiyar nggak termasuk kriteria ini. Yang jelas mari kita bantu saudara kita yang tertimpa bencana sebagai jawaban ujian Allah bagi kita. Biar saudara kita yang tertimpa bencana bisa menjawab ujian Allah dengan kesabaran mereka dengan support bantuan dari kita.

Sebab Kebahagiaan

Syahdan, tersebutlah kang Dulkamid yang hidupnya terkenal kesrakat secara dhohir. Adalah kekayaannya berupa rumah reyot hampir rubuh, sepeda onthel yang rantainya rajin lepas, baju berjumlah tujuh -nanti dulu…- maksudnya tujuh tambalannya, sebuah tempat tidur Spring Bed tanpa “S” (baca: Pring Bed) alias lincak dari bambu yang lebih terkenal dengan sebutan tempat tidur ‘kelas tinggi’ karena banyak “tinggi”nya (tinggi=kutu busuk bin bangsat) dan sejumlah lima juta ripis – nanti dulu…- maksudnya berupa utang. Tak seorangpun ibu dan tak juga sampeyan yang sedang menggendong anaknya menginginkan anaknya menjadi semisal si Dulkamid. Keunggulan satu-satunya yang dimiliki adalah kejujurannya. Tapi banyak orang mencibir, kejujuran tak membuat dia kaya.

Syahdan, dumadakan si Dulkamid didatangi seorang konglomerat yang menginginkan si Dulkamid menjadi asisten pribadinya. Tidak tanggung-tanggung, dia DIJANJIKAN gaji 30 juta ripis per bulan oleh si konglomerat. Konglomerat itu bilang, dia boleh langsung bekerja sebulan kemudian, dan langsung menerima gaji di muka 30 juta ripis.

Sampai di sini simbah mau bertanya, miturut sampeyan semua, kira-kira bagaimana keadaan hati si Dulkamid selama menunggu selama sebulan itu? Gembirakah atau sedihkah? Tentu saja dia gembira luar biasa.

Pertanyaan selanjutnya. Apakah dengan janji akan bekerja dan digaji di muka 30 juta ripis itu keadaan dhohirnya sudah berubah? Apakah dengan janji itu Pring Bed “kelas tinggi”nya itu menjadi sungguh-sungguh Spring Bed dengan “S”? Apakah dengan janji itu bajunya langsung rontok tambalannya seketika? Apakah dengan janji itu sepeda onthelnya tiba-tiba berubah menjadi Ducati 500 cc? Tidak!! Dengan janji itu kondisi dhohirnya tetep!! Tapi suasana hatinya berbeda. Si Dulkamid bisa tidur lebih nyenyak dengan mimpi indah. Tak masalah bajunya bertambal, utangnya masih tetep lima juta ripis dan masih miskin. Ada yang berubah pada dirinya yang tak terlihat secara dhohir.

Syahdan, di lain pihak tersebutlah si Dulkenyung, pengusaha sugeh mblegedhu berkantong tebal. Rumah real estate, mobilnya mewah, harta melimpah, orang memanggilnya bos eksekutif, tokoh papan atas … halah mirip lagu ‘Bento’ pokoknya. Simpanannya banyak, baik berupa uang maupun istri.

Syahdan, baru saja datang surat dari KPK yang meminta dirinya datang bulan depan, untuk ditanyai perihal semua bisnisnya yang ternyata bermasalah. Hingga disinyalir bisnisnya tersebut merugikan negara trilyunan ripis, dan berpotensi menyebabkan dia masuk penjara seumur idup.

Miturut sampeyan semua, bagaimanakah si Dulkenyung menjalani hidupnya sebulan ke depan? Bahagiakah atau cemaskah? Apakah dengan surat panggilan dari KPK itu tiba-tiba dia jadi miskin, lalu hilang semua simpanannya, atau hancur semua mobilnya atau bangkrut semua bisnisnya? Tentu saja tidak!! Hartanya tetap utuh, tapi kondisi hatinya sudah tidak seutuh seperti semula. Ketakutan mulai membayangi dirinya. Dengan kondisi kekayaan yang sama, hidupnya berubah menjadi seperti neraka.

Syahdan, simbah lantas bertanya, apakah yang menjadi penyebab bagi ketentraman hati dan kebahagiaan pada seseorang jika melihat cerita si Dulkamid dan si Dulkenyung di atas? Kekayaankah? Atau sepeda onthel? Atau Pring Bed kelas tinggi? Atau kemewahan dan segala keglamoran semisal yang dimiliki si Dulkenyung? Mengapa Dulkenyung di tengah kekayannya tidak menikmati masa sebulan penantian dipanggil oleh KPK, sementara di tengah kemelaratannya si Dulkamid hatinya bergembira menjalani sebulan penantian dipanggil konglomerat?

Seorang motivator yang tak mau disebut namanya menjelaskan, bahwa letak kebahagiaan dan penyebab kebahagiaan seseorang tergantung pada HARAPAN nya. Si Dulkamid memang mlarat kesrakat wal sekarat. Tapi harapannya sebulan ke depan luar biasa bagus, yang menjadikan kemlaratannya tak terasa pahit. Ada harapan walau belum berwujud, tapi mampu menyingkirkan segala rasa pahit kemiskinan dan kemlaratan yang menderanya.

Beda dengan si Dulkenyung walau hartanya melimpah, harapan sebulan ke depannya serba rumit dan gelap. Mobil mewahnya tak cukup bisa menghiburnya, istri denok deblongnya tak cukup cantik untuk menenangkan kegelisahannya. Spring Bed mewahnya tak cukup empuk untuk membuatnya tidur nyenyak. Semua diawali dari harapan yang suram.

Ilustrasi di atas menggambarkan tentang adanya harapan baik dan harapan buruk dengan durasi ’sebulan ke depan’. Harapan yang indah dalam sebulan ke depan, membuat bulan yang dilewati ikut menjadi indah. Harapan yang suram dalam sebulan ke depan, membuat durasi waktu sebulan yang dilewati ikut menjadi suram. Tidakkah sampeyan bisa mengambil satu kesimpulan dalam kalimat-kalimat di atas?

Hidup adalah satu waktu yang durasinya kita tidak tahu. Simbah tidak tahu, diberi durasi berapa tahun tinggal di planet bumi menghirup O2. Namun jika kita berpikir sederhana, sebab kebahagiaan pun juga sederhana. Sebab kebahagiaan terletak pada harapan yang hendak diraihnya.

Bagi orang beriman diberikan janji harapan “Laa khoufun ‘alaihim wa laa hum yahzanuun”. Tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka bersedih. Mengapa? Karena berapapun durasi hidup yang harus dijalani, endingnya adalah kalimat dalam bahasa arab yang sudah diterjemahkan di atas.

Apa ruginya hidup miskin berdurasi seumur hidup, jika endingnya bahagia selama-lamanya? Apa sedihnya hidup serba terbatas, jika endingnya senang tak terbatas? Durasi sebulan menunggu janji yang dialami si Dulkamid hanyalah gambaran betapa seharusnya seorang beriman menjalani hidupnya penuh harapan baik sebagaimana Dulkamid menunggu janji si konglomerat. Bedanya hanya di sisi durasi, mau sebulan, setahun, seabad… tak masalah.

Tapi mengapa ada saja orang yang hidupnya susah dan penuh kesedihan, jika ternyata untuk bahagia sangat sederhana caranya?

Penyebabnya ada beberapa:

1. Tidak yakin dengan isi janji dan si pembuat janji.
Jika si pembuat janji pada si Dulkamid adalah sesama kere yang gak gableg duit, maka isi janjinya pantas diragukan. Walaupun si Dulkamid dijanjkan gaji semilyar, tidurnya gak bakal jadi nyenyak. Masalahnya yang memberikan janji adalah si Dulkembung yang hanya bisa jual abab dan malah sering ngutang pada Dulkamid. Janji segede apapun tak akan menenangkan.
Demikian, pula jika sampeyan tak percaya janji Tuhan sampeyan, hidup sampeyan sedih dan menyedihkan. Mungkin sampeyan nyembah Tuihan yang salah. Tuhan yang dalam sejarahnya selalu ingkar janji. Tuhan yang tak jelas juntrungnya. Tuhan imaginer bikinan ahli ketuhanan yang suka menipu untuk kepentingan dunia. Jika sampeyan benar memilih Tuhan, sampeyan bisa pegang janji-Nya, dan menjadi tenanglah hidup sampeyan berapapun durasi hidup sampeyan.

2. Harapan hidupnya buruk.
Jika sampeyan berwatak ala Dulkenyung, si kaya berakhlak rajakaya (baca: hewan ternak), maka sudah terbayang ending hidup sampeyan pasti busuk. Maka berapapun durasi hidup yang diberikan pada sampeyan, mustahil sampeyan bisa bahagia. Hidup akan selalu dibayangi ketakutan, kekhawatiran dan ketidaktenangan. Kecuali sampeyan sudah terkontaminasi DNA nya si Iblis.

Iblis tahu ending hidupnya, yakni binasa. Namun buat dia oke-oke saja. Dia anggap sepadan. Toh hidupnya seumur dunia. Bisa hidup seenaknya, tak terikat aturan dlsb. Nah manusia yang sudah teracuni DNA Iblis akan menganggap kenikmatan dunia yang tanpa aturan itu sepadan jika harus mengalami ending busuk. Iblis dan kroninya lupa, bahwa bilangan berapapun jika dibagi bilangan tak terbatas, hasilnya NOL. Berapapun lamanya hidup di dunia, jika DIBANDINGKAN dengan waktu tak terbatas akherat, semuanya jadi tidak bernilai dan tak pantas diperjuangkan. Tak ada yang sepadan jika harus ditebus kesengsaraan tak terbatas.

Jadi jika sampeyan mau hidup bahagia, caranya sederhana. Perbaiki harapan hidup sampeyan. Ingat: harapan berbeda dengan khayalan. Jika petani menebar benih padi dan menunggu padi tumbuh, itu namanya harapan. Namun jika petani menebar kerikil dan menunggu kerikil itu tumbuh menjadi tanaman padi, itu namanya khayal.