Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Kamis, 16 Januari 2020
Maling
Kemarin Sabtu simbah pulang kampung ke Solo. Baru ke Jakarta lagi hari Selasa. Ada kejadian yang mbikin simbah agak miris sewaktu simbah balik ke Jakarta.
Sore itu simbah naik bis jurusan Solo-Jakarta. Di awal perjalanan, sang sopir dan kenek yang bertugas mendapat tawaran ngangkut barang sejumlah 15 karung. Sang Kondektur prengas prenges mengiyakan, karena ini berarti obyekan alias sabetan di luar inkam rutin dari penumpang resmi. Toh kalo diperiksa, penumpangnya cocok jumlahnya. Yang pasti gak diperiksa adalah bagasi, karena itu sudah pasti barang-barang milik penumpang.
Namun pada kasus ini kenyataannya tidak. Barang yang di bagasi itu adalah barang titipan yang harus diantar ke tujuan, yang tentu saja dengan biaya angkut tersendiri. Nah ini adalah kue buat sopir, kenek dan kondekturnya. Maka dengan semangatnya mereka njemput barang tersebut.
Simbah kira barang itu adalah beras sejumlah 15 karung. Setelah ketemu karungnya, jebulaknya karung itu berisi pete sak arat-arat. Lagian karungnya gedhe-gedhe. Maka dengan setengah mekso, karung itu dijejel-jejelkan ke bagasi. Sisanya yang 3 karung karena bagasi gak muat lagi, dijejelne ke toilet… Hwarakadah, bus yang judulnya “Bus Eksekutip AC Toilet” akhirnya kehilangan toiletnya karena dijejeli pete telung karung. Oalaah, dasar manungso ngrekes…
Dari 5 orang oknum bus yang terlibat pengangkutan pete itu, yang 2 orang langsung teler kambonan pete. Sedangkan yang 3 orang bertugas seperti biasa. Simbah sudah ngerasa gak enak duluan. Lha ini bus jelas-jelas main korupsi, simbah kawatir terjadi apa-apa di jalan. Apalagi saat oknum pegawai bus itu lagi ngangkut karung, tiba-tiba juragan bus tersebut lewat… kontan saja para oknum pegawai korup itu pecicilan bersembunyi dan pura-pura tak terjadi apa-apa.
Setelah beres mengurus angkutan haram itu, bus pun berangkat dengan sentausa. Namun sesampainya di Boyolali, bus yang simbah tumpangi mau nubruk bus yang ada di depannya yang kebetulan ngerem mendadak. Rupanya bus yang di depan simbah kedapatan ada 2 orang, entah pengamen yang nodong atau malah copet, sedang diboboki dan digajuli sak kayange oleh massa.
Melihat kejadian itu sopir, kondektur dan kenek yang menyaksikan adegan itu berkomentar.. :
“Nyuoh kowe… modar pora.. hayo boboki aja. Ben kuapok.. dasar maling. Hayoh koploki sisan!!” sang kondektur nyemangati.
“Weleh.. maling nekat. Bandemi pisan ben kapok. ..” yang lain ikut menimpali. Sedangkan simbah sendiri miris. Ha wong menyaksikan 2 pemuda harapan bangsa dibandemi sampai kojor. Bahkan sesampai di kantor polisi pun, 2 oknum maling atau penodong itu pun masih diboboki di depan aparat. Herannya aparat polisi yang bertugas diem saja.
Coba sampeyan pikirken…., kondektur, kenek dan sopir yang jelas-jelas bareng-bareng maling hak boss mereka pun masih berkomentar miring pada maling lain yang kebetulan dibonyoki rame-rame. Apa mereka gak nyadar kalo sebenarnya derajat mereka pun jebulaknya sama. Sesama maling, tapi gak nyadar.
Barangkali yang begini juga yang dialami bangsa ini, sehingga korupsi gak bisa ilang. Ha wong yang mbrantas dan yang dibrantas, sama-sama koruptor. Yang dibrantas adalah koruptor tulen, yang mbrantas adalah koruptor laten berpotensi besar, atau setidaknya koruptor dengan lepel lebih kecil.
Bahkan korupsi pun merangsek masuk di meja pasien simbah. Beberapa oknum pasien seringkali merayu-rayu minta dibuatkan surat sakit. Biasanya kebanyakan terjadi di hari Senen. Soalnya minggunya biayakan dan pecicilan, nah pas hari senennya males-malesan masuk kerja. Akhirnya sang dokter dilibatkan buat korupsi. Ada dokter yang senang hati membuatkan secarik surat korupsi itu asalkan taripnya sesuai, namun buat simbah hal yang begini ini penyakit sampah masyarakat. Ratusan bahkan mungkin ribuan karyawan yang biasa bernaung di bawah bendera “wong cilik” seringkali terlibat korupsi kelas ceremende ini.
Namun kalo sudah turun ke jalan, mereka dengan nyaringnya meneriakkan slogan “Berantas Korupsi” dengan sambil nyanyi-nyanyi dan sambil mledang-mledingke bokong ke kanan dan ke kiri. Sedih….
Satu pelajaran lain yang juga simbah ambil dari kejadian di perjalanan itu adalah, betapa sebagian orang untuk nyari sesuap nasi membutuhkan usaha sedemikian gigih dan ngedab-edabi. Dua pemuda yang simbah saksiken itu, koret-koret sesuap nasi dengan bertaruh nyawa di jalan haram. Kru bus yang pasti punya anak isteri itu, biayakan ngempet bau pete buat nyukupi kebutuhan keluarganya. Sayang, rejekinya dijemput di jalan yang salah.
Sedangkan di sisi lain, di negeri tercinta ini juga, sebagian orang menghabiskan 2 juta ripis buat beli sempak bin CD, 5 juta ripis ludes hanya buat beli dasi, puluhan juta ripis menguap buat belanja pupur sama benges buat mbengesi lambe kaum hedonis. Sedangkan kelompok yang lain sibuk membuat tontonan yang mempertontonkan gaya hidup kaum bersempak 2 juta ripis itu di layar kaca, yang membuat 2 pemuda copet beserta kaumnya itu terngowoh-ngowoh mati kepengen.
Coba sampeyan bayangkan, jika sampeyan dan tetangga sekampung semuanya lawuhnya tempe dan krupuk, simbah kira krupuk dan tempe itu akan terasa lezat. Namun bayangkan jika tiba-tiba ada 2 keluarga petentang petenteng nyangking iwak pitik beserta sampil wedhus yang diguyur kuah santen sampek mlekoh… trus makan temblang-tembleng secara demonstratip di depan mata orang sekampung, simbah yakin coklatpun serasa tai kucing, apalagi krupuk sama tempe…
Bertuhan Tapi Tak Beragama
Trend yang sekarang marak berhembus di kalangan jahiliyah mutakhir adalah adanya paham yang mempercayai Tuhan, tapi tak percaya pada agama-Nya. Hmmm… mumet juga nggagas paham koplo bin koclok ini. Memang itu hak masing-masing sampeyan untuk berpaham kayak gitu. Dan hak simbah juga untuk mengatakan itu paham koplo bin koclok.
Jika penyakit paham ini mulai menyerang sampeyan, dan sampeyan mungkin sreg, cobalah sampeyan pikir, jangan sambil mengerutkan dengkul, karena otak sampeyan bukan disitu. Miturut simbah, orang yang percaya pada tuhan, tapi tak percaya pada agama-Nya, berarti ada 2 kemungkinan :
1. Kemungkinan Pertama,
Orang itu salah memilih tuhan sebagai sesembahannya. Karena orang itu gagal diyakinkan -bahkan oleh tuhannya sendiri- bahwa agama-Nya itu benar dan bisa dipercaya. Boleh jadi karena ajaran agama yang dianutnya kacau balau, banyak dogma yang tak masuk akal, lantas dengan segala tumpang tindih kekacauan yang ada pada ajaran agama yang dianutnya itu, dia dipaksa oleh keadaan untuk menganutnya. Sebenarnya ada pilihan agama lain, namun egonya, kemaluannya, dan perutnya tak cukup mengijinkan dia untuk menjangkaunya.
Saran simbah, carilah tuhan dengan ajaran agama yang kebenarannya bisa diuji dengan apapun. Karena kebenaran dari Al Haq pasti tahan uji. Jika satu hal yang dianggap benar gagal mempertahankan nilai kebenarannya, maka pastilah itu bukan kebenaran, dan pasti bukan dari tuhan.
2. Kemungkinan Kedua,
Tuhan dengan ajaran agama-Nya sebenarnya sudah benar, sudah pas dan proporsional sesuai dengan Maha Adil-Nya Sang Pencipta. Namun hawa nafsu manusia yang memang tak mau diatur dan tak mau menyesuaikan diri dengan aturan-Nya melakukan penyangkalan. Sehingga meskipun si manusia mengaku bertuhan, namun agama yang diturunkan-Nya ke muka bumi yang berisi aturan ini-itu, menghalangi dia memuaskan hawa napsunya. Dia tak percaya pada agama karena agama mrintah ini dan itu, melarang ini dan itu, yang miturut otaknya yang sudah mlotrok ke kemaluan bahkan sampai ke dengkul itu, bertentangan dengan nilai-nilai yang dianggapnya lebih tinggi, daripada nilai yang ditawarkan oleh agama tuhan.
Maka orang ini, ketika dia berkata bahwa dia percaya pada tuhan namun tak percaya pada agamanya, sebenarnya Tuhan yang dia percayai itu adalah hawa nafsunya atau dirinya sendiri. Ini adalah ego terbesar manusia, yang dengan lantang diteriakkan dengan vulgar penuh tantangan oleh Fir’aun ribuan tahun yang lalu, dengan teriakan yang diabadikan dalam Al Qur’an, “Akulah tuhan kalian yang maha tinggi.” Namun di abad ini, teriakan itu kembali dikumandangkan dengan volume agak kecil, tapi frekwensinya kenceng.
Sebenarnya kedua golongan di atas, mereka ini intinya kecewa dengan ajaran agama. Bisa jadi karena ajaran agamanya yang memang tak bisa meyakinkan pemeluknya, tapi bisa jadi karena ajaran agama tersebut tak bersesuaian dengan hawa nafsunya. Tapi yang jelas, konsekwensi bertuhan dan percaya pada tuhan, sudah pasti menuntut untuk percaya pada agama yang diturunkan-Nya. Wallahu a’lam.
Benar-Benar Ada
Beberapa hari yang lalu simbah ngajak anak-anak jalan-jalan sambil jajan makanan kecil buat si thole dan si gendhuk. Saat itu anak-anak minta dibelikan es krim. Dan kalau melihat betapa lahapnya anak-anak simbah makan es krim, simbah jadi teringat masa kecil simbah, dimana untuk bisa menikmati yang namanya es krim itu dibutuhkan satu mujahadah kelas wahid.
Sewaktu kecil simbah mempunyai seorang teman yang namanya Gudel. Terlahir dari satu keluarga yang kisah hidupnya cukup memilukan. Bapaknya adalah kawan dekat dari orang tua simbah. Rajin sholat ke mesjid, tapi matinya bunuh diri dengan menggantung diri setelah tamat meminjam dan membaca buku yang berjudul “Hidup Sesudah Mati” karya Bey Arifin (kalau gak salah) dari orang tua simbah. Aneh memang, padahal buku itu isinya bagus. Tapi kok bisa-bisanya menginspirasi bapaknya Gudel buat gantung diri. Atau mungkin beliaunya mau membuktikan isi buku itu. Tapi apapun alasannya, yang jelas si Gudel jadi anak yatim.
Kehidupan si Gudel jadi tidak mudah. Di kalangan anak-anak kecil seusia simbah dia dijuluki “tukang gresek”. Gresek, dengan hurup ‘e’ dibaca seperti kata ‘pesek’, adalah satu perilaku yang dianggap ngisin-isini bin memalukan. Kata itu mengandung maksud memungut sesuatu yang sudah dibuang orang, kalau sekarang mungkin termasyhur dengan kata “Pemulung”.
Satu ketika, simbah dan Gudel menyaksikan beberapa anak sedang makan es mambo. Karena sama-sama gak gableg duit, cukuplah kita berdua menyaksikan acara makan es itu dengan seksama. Simbah lihat si Gudel sudah mulai terbit air liurnya, mlongo menyaksikan pesta es itu dengan terngowoh-ngowoh. Begitu selesai makan es mambo, anak-anak itu segera membuang bungkus es tersebut. Karena melihat si Gudel, anak-anak itu menginjak-injak bungkus es itu dengan kasarnya, sambil berkata :
“eh, ayo diinjak-injak sampai ancur. Entar digresek sama Gudel lho,” ajakan itu disambut dengan antusias. Herannya, setelah bungkus es itu dinjak-injak sampai kotor dan ditinggal oleh pemiliknya, si Gudel tetap saja mendatangi plastik es yang sudah gak mbejaji wujudnya itu dan mulai menyortir. Setelah dijumpainya ada beberapa bungkus masih agak wangun buat dikonsumsi, mulailah aksi penggresekan dilakukan.
“Weh, enak kang es yang ini. Sedep tenan……” katanya dengan mata berbinar-binar sambil nyesep-nyesep plastik es mambo itu dengan penuh daya eksplorasi. Hwarakadah…melihat wajahnya yang menyiratkan ekspresi kenikmatan kayak begitu, terus terang simbah agak terangsang juga pingin mencicipi hidangan gresek ala si Gudel itu. Tapi begitu teringat bahwa es itu sudah dinjak-injak sama kaki si Koplo yang kakinya korengan itu, atau si Kenyung yang sering nginjak telek lencung, hilanglah selera simbah.
Pernah suatu ketika, si Gudel ini melihat satu potongan roti yang masih lumayan utuh. Kebetulan dia berjalan bersama rekan sejawat sesama penggresek. Karena rekan sejawatnya gak lihat, dia injek dulu roti itu, lalu dia berdiri tak bergerak. Rekan sejawatnya heran, kok si Gudel tiba-tiba diem mematung. Karena jengkel ditinggallah si gudel. Begitu rekan sejawatnya nggeblas ngilang, diambilnya lah roti itu dari bawah tapak kakinya sambil cengar-cengir penuh kemenangan. “Belum
Yah, itulah gambaran sepotong keceriaan getir ala kere bin dhuafa. Salah seorang teman simbah pernah melihat di stasiun
Di masa kuliah dulu, simbah sering wira-wiri lewat di satu kontrakan masal yang dinamai Pondok Boro. Penghuninya kebanyakan keluarga kere, kaum mlarat dan juga beberapa waria. Saat itu simbah melihat langsung ada seorang bapak bertubuh gothot, sedang menggendong anaknya yang masih berumur setahun lebih. Dilihat dari perawakannya, propesi si bapak ini pantasnya pekerja keras. Kalau nggak kuli angkut, tukang becak, atau minimal tukang kepruk. Herannya si bapak ini mau momong anaknya yang saat itu nangis rewel mencari ibunya. Mungkin ibunya sedang kerja di pabrik, atau sedang ada kesibukan darurat lainnya, yang memaksa si bapak bertubuh gothot ini mau momong anaknya.
Yang mbikin simbah tersenyum kecut adalah, saat si anak gak mau diem dan nangis terus mencari ibunya, si bapak mulai jengkel. Dengan tinju terkepal, diancamlah anaknya yang masih kecil itu dengan kepalan tinjunya sambil berkata…
“Hayo, nangis lagi.. ayo cepet nangis lagi… jotos sisan kamu..!!” hati ini jadi mak tratap. Ancaman si bapak itu diulang-ulang dan herannya bapak-bapak yang lain disitu malah ketawa ngakak melihat ulah si bapak. Si anak jadi ciut juga, lalu tangisnya ditelen sampai membik-membik mau tersedak.
Keluarga-keluarga kere wal mlarat yang simbah ceritakan ini benar-benar ada. Bukan kisah cerita di sinetron. Kejadian itu telah ada bertahun-tahun yang lalu, jauh sebelum bengsin menjadi enam ribuan ripis seperti sekarang. Entah bagaimana kabarnya sekarang. Si gudel seingat simbah sudah mati muda. Simbah lupa kejadian kematiannya. Anak perempuan yang berbagi tegesan itu sekarang kalau masih hidup, pastilah sudah dewasa. dan anak bayi yang diancam jotos oleh bapaknya itu, simbah yakin sudah seusia Sherina, dengan nasib yang tentu saja tak seberuntung artis muda itu.
Dengan kondisi perekonomian yang seperti sekarang ini, simbah yakin keluarga ala Gudel itu masih banyak. Walaupun ada juga yang bilang, dengan bengsin seharga sekarang ini, jumlah rakyat miskin jadi berkurang. Entah statistik dari mana yang mengatakan ini. Asumsi ini masuk akal, jika yang dimaksud kemiskinan berkurang itu adalah dikarenakan rakyat miskin wal mlarat itu pada modiyar semua karena gak kuat melanjutkan hidup.
Kita terbiasa hidup di komunitas yang berkecukupan. Tetangga kiri kanan semuanya keluarga mampu. Teman kantor, teman kerja, semuanya warga borju. Sehingga dianggapnya, yang namanya kemiskinan itu cuma rekayasa, tidak benar-benar ada. Kalaupun ada itu masa lalu.
Simbah hanya bisa berdoa dan berusaha semampu simbah, agar tidak ikut tenggelam di kapal yang dibocori rame-rame ini. Sambil berharap, ada yang mau menambal kebocoran itu dan menyadarkan para pembocor kapal itu akan kebodohan tindakannya.
Penyesalan
Saya dan sampeyan semua pasti pernah mengalami yang namanya menyesal. Rasanya gak enak. Bukan penyesalannya yang gak enak, namun rasa kecewa yang mendahului penyesalan itulah yang mbikin gak enak.
Tetangga simbah yang sudah mendahului ke alam barzah pernah mengupas perihal penyesalan ini berdasarkan durasinya. Dari durasi yang pendek sampai kepada yang panjang dan lama. Beliau menerangkan berulang-ulang perihal bab penyesalan ini di mimbar Kultum selepas sholat Isya. Sampai pendengarnya blokekan dan ngedumel…. “Halah, bola-bali iki wae. Nyetel kaset sampe nglokor…”
Namun simbah tak pernah bosen tetap mendengarkan materi kultum yang itu-itu juga. Karena simbah mencoba mencari hal yang lain di balik isi kultum yang diulang-ulang macem House Music Extended Version. Di antaranya beliau menerangkan begini :
Penyesalan itu ada beberapa jenis. Dimulai dari durasi yang terpendek adalah sebagai berikut :
1. Penyesalan sehari.
Ini adalah penyesalan ibu-ibu yang salah bumbon dalam masak sayur. Maunya sayur asin malah jadi kasinen. Maunya sayur asem malah jadinya cuka. Maunya mbikin nasi goreng, jadinya malah intip goreng. Ya sudah, nyeselnya sehari itu. Kesalahannya cuma beberapa detik, tapi nyeselnya seharian.
2. Penyesalan seminggu.
Ini penyesalannya bang kumis yang salah model potongan kumisnya. Maunya nyompok macem Einstein, malah salah kedaden jadi kayak Saddam Husein. Maunya nglewer kayak Thompson bersaudara, malah nemplok kayak Hitler. Yah.. akhirnya nunggu seminggu nunggu sang kumis numbuh. Kesalahannya beberapa menit, nyeselnya mingguan.
3. Penyesalan Sebulan.
Ini penyesalannya orang yang salah cukur. Lha cukur kok petakilan, kegunting godegnya mbablas jadi peang… Yo wis.. Nyesel. Kalo mau ngreparasi model yang mbejaji, ya nunggu sebulanan, bahkan bisa lebih. Tergantung rambutnya ini model rambut jagung apa rambut geni…
4. Penyesalan setengah umur.
Ini penyesalan orang yang salah milih isteri. Lha milih isteri cuma dilihat dari penampakan dhohir thok. Nggaya, maunya yang ireng manis. Setelah manisnya ilang tinggal irengnya thok…. nyesel. Pokoke salah niat cari isteri. Lupa kalo manusia itu bosenan. Lha nyari isteri kriterianya gak permanen. Akhirnya setelah bosen, hidupnya penuh penyesalan. Ujung-ujungnya nyari lagi. Yang perempuan nyari brondong, yang laki nyari bronjong, yang bencong nyari brondjong.
5. Penyesalan tiada batas.
Ini penyesalan karena salah milih agama. Semua agama mengajarkan bahwa ajarannya baik, dan orang yang diluar agama itu akan celaka hidupnya. Apakah akhirnya semuanya nanti selamat?? Ini pertanyaan yang baru akan terjawab entar di akherat. Yang jelas nanti akan ada yang salah pilih agama yang akan menyesal tiada batas. Biar gak menyesal gimana?
Allah Maha Adil. Kebenaran itu bisa ditelusur. Panca indera, hati dan akal pemberian-Nya ini bisa mendeteksi kebenaran itu. Jadi kalo sampe gak nemu kebenaran, maka jelas panca indera, hati dan akal kita akan dituntut. Karena mesti ada salah satu atau lebih yang berkhianat dan menipu dirinya sendiri sehingga kita tidak menemukan kebenaran itu. Atau sudah nemu tapi ketutupan. Ada yang ketutupan gengsi, ada yang ketutupan harga diri (yang palsu), ada yang ketutupan duit, ada yang ketutupan pengikut, ada yang ketutupan dalan bayi, dan lain sebagainya.
Maka gunakanlah segala piranti pemberian Allah ini untuk mencari yang benar itu, karena PASTI BISA. Dan untuk penyesalan yang terakhir ini tak bisa diperbaiki sama sekali.
Ada kisah 3 orang yang terjebak di dalam satu goa yang gelap, saking gelapnya hanya bisa grayak-grayak. Lalu ada suara yang memberitahu mereka bertiga, “Ambillah sebanyak-banyaknya batu di goa ini. Karena barangsiapa yang tidak mengambinya akan menyesal. Dan barangsiapa yang mengambilnya juga akan menyesal.”
Maka orang pertama berpikiran, “Ambil sajalah. Ha wong perintahnya disuruh ngambil sebanyak-banyaknya.” Maka dia ambil yang banyak.
Orang kedua bingung, ngambil nyesel, gak ngambil juga nyesel. Maka dia ambil sedikit. Maju mundur merkengkong.
Orang ketiga masa bodo. Ha wong ngambil dan gak ngambil sama-sama nyeselnya, ngapain harus ngambil. Dia gak peduli akan isi perintah untuk mengambil sebanyak-banyaknya.
Maka tiba-tiba mereka bertiga menemukan pintu goa itu. Segera mereka keluar. Setibanya di luar pintu goa runtuh, dan menutup jalan masuknya. Lantas mereka bertiga mencoba melihat apa yang sebenarnya mereka ambil itu. Ternyata emas.
Yang ngambil banyak nyesel, kok gak lebih banyak lagi nyawuknya. Yang ngambil dikit nyesel sak pole. Yang gak ngambil langsung turun berok. Ini semua ibarat. Goa itu adalah masa hidup kita. Emas itu adalah amal sholehnya. Yang amal sholeh saja masih nyesel, apalagi yang membiarkan hidupnya lewat tak berguna.
Jurus Setan
Sebagaimana yang sudah dipahami, yang namanya tokoh sentral kehidupan di alam raya ini adalah manusia, bukan alien, gendruwo, wewegombel, banaspati ataupun sundel bolong. Manusia diiringi oleh dua kekuatan makhluk, yakni malaikat sebagai suporter kebaikan serta syetan sebagai suporter keburukan. Kedua energi negatip dan positip ini setiap detiknya mempengaruhi keputusan manusia untuk beramal. Apakah amal baik ataukah amal jelek.
Di dalam menjalani amal kebaikan, manusia akan selalu dihalangi dan dimusuhi oleh setan dan wadyabalanya. Trik dan tipu daya setan itu banyak macam dan banyak ragam. Dari setan kelas ceremende sampai setan kelas pejabat eselon satu. Nah, berikut ini akan simbah wedar beberapa jurus yang biasa setan gunakan untuk menjlomprongkan manusia.
1. Jurus Pertama.
Ini jurus klasik. Pelaksananya setan kelas ceremende. Tugasnya simpel, yakni menghalangi manusia dari taat pada aturan Gusti Allah. Jadi pokoknya cuma menghalangi dan mbujuki biar manungso gak usah njalani ngibadah. Jurus paling ringan ini saja bisa menjaring banyak pengikut sampai sak arat-arat. Jika sampeyan mendengar omongannya kang Kerto Gentho macem begini, “Halah, ngapain sholat dan sedekah. Buang-buang waktu dan duit saja. Mendingan waktunya dipakai buat yang produktip.” Maka sebenarnya dia itu sedang dijerat oleh setan kelas ceremende.
Kalo sampeyan di kelas ini saja keok, yo wis lah. Berarti kelas sampeyan cuma kelas teri. Sama setan level pra TK saja kukut.
2. Jurus Kedua.
Setan level ini menggoda manungso yang bertekad mau ngamal dan gak mau dihalangi. Nah setannya nuruti saja niat baiknya. Tapi secara halus dibujuki agar manungso mau “menunda” niat baiknya itu. Setannya mbisiki, “Udahlah sholat, sedekah, dan haji itu memang bagus sih. Tapi entar aja lah. Kamu kan masih muda, itu paling bagus dipakai ndugem saja. Ntar kalo sudah tua mertobat. Amal manusia kan yang penting gimana akhir hayatnya. Daripada sekarang ngamal sholeh trus pas tuwek ngekek malah maksiat… akhirnya neraka juga kan.”
Bujukan setan kelas ini menghasilkan manungso yang kalo diajak ngamal selalu bilang, “Yah, entar kalo sudah saatnya kan njalani juga. Sedekah entar saja kalo sudah nerima rapelan… lha kalo munggah kaji besok saja kalo anak cucu wis dadi uwong.”
Emange saiki isih munyuk…??
Korban jurus kedua ini juga gak kalah banyak. Mungkin sampeyan salah satu di antaranya. Di level kecil korbannya adalah orang yang suka menunda sholat sampai mepet hampir habis waktunya, subuh kesiangan, dlsb.
3. Jurus Ketiga.
Kalo jurus kedua itu sifatnya menunda, maka jurus ketiga ini si setan justru malahan mendorong agar manungso cepat-cepat njalani ngamal sholeh. Weleh, jos tenan. Setan kelas ini levelnya sudah mengarah kepada level khusus.
Mbujuki agar manungso cepet-cepet nglakoni ngamal itu temtu saja dengan konotasi ala setan. Yakni cepet-cepet dalam artian buru-buru. Sehingga karena buru-burunya sang manungso belum siap ngelmunya. Maka beramallah dia dengan tanpa ngelmu.
Sholatnya tanpa ngelmu yang cukup, akhirnya belepotan, taklid ikut-ikutan, pokoke ngene. Hajinya tanpa kesiapan ngelmu, akhirnya cuma plesir pake kemben putih, trus tahu-tahu pulang dipanggil pak kaji dan bu kajah setelah bagi-bagi tesbeh dan sajadah dicampur air zam-zam. Sudah kaji tapi sholat maghrib pirang rokangat ra apal. Semua berawal dari ketergesaan dan ketidak siapan ngelmu akibat diburu-buru setan untuk segera ngamal. Yang bener, segeralah beramal tapi dengan langkah yang tepat, tidak usah buru-buru. Lantas dipelajari ngelmunya secara bertahap agar amalnya dilandasi ngelmu yang mantabh…
4. Jurus Keempat
Jurus ini dipakai setan buat orang yang sudah tak mempan lagi dihalangi dan ditunda ngamalnya, Serta sudah melandasi amalnya dengan ilmu sebaik-baiknya. Maka jurus yang dilancarkan adalah menyerang sisi keniatan si pelaku amal. Segala ngamal ngibadah itu harusnya ikhlas. Tapi si setan membelokkan keniatan itu kepada niat-niat yang tujuan akhirnya adalah makhluk.
Maka disini setan nyebar pirus yang namanya riya’. Yakni ngamal sholeh untuk pamer dan dilihat manusia. Nyumbang masjid gak puas kalo gak dijepret kamera trus dipublikasikan di semua media. Nyumbang anak yatim gak mantabh kalo gak dipilem dan dipidiokan trus disiarkan di tipi. Tampak mesam-mesem puas melihat dirinya muncul di media sedang mbagi-mbagi rejeki, sekaligus menaikkan citra baiknya yang merupakan kredit point positip bagi kelangsungan karirnya.
Selain pirus riya’, si setan juga menebar bakteri sum’ah. Sum’ah ini gak mau amalnya dipertontonkan, gak seneng amalnya dilihat orang. Bahkan seringkali nyumbang dengan nilai besar trus ID nya cuma disebut “Hamba Allah di Bumi Allah”. Tapi ketika dia mendengar orang-orang membicarakan kebaikan si “Hamba Allah di Bumi Allah” itu, hatinya berbunga, bangga, menikmati pujian itu dengan berkata pada dirinya sendiri, “Ha wong aku kok… Gitu lho amalan yang ikhlas. Hanya Allah yang tahu, orang gak tahu… ya persis kayak aku ini.”
Itulah bakteri sum’ah, bukan seneng diperlihatkan amalnya tapi senengnya jika diperdengarkan amalnya. Disebut-sebut amalnya meskipun anonymouse. Kedua-duanya merusak niat ikhlas kita.
5. Jurus kelima
Di level ini jurusnya mangkin maut. Targetnya adalah manungso yang gak bisa dihalangi, ditunda dan diburu-buru untuk ngamal, trus berusaha ikhlas. Jadi untuk manungso yang sudah setengah sumeleh, maka dikirimlah setan jenis pengglembuk ulung.
Setan level ini mbisiki pada manusia, “Wah, sampeyan itu manungso langka lho. Mau ngamal sholeh, masih muda, ilmunya tinggi, lillahi tangala.. jarang lho ada manungso macem sampeyan. Yang lain-lainnya itu kan cuma tengu bangsat, gak ada apa-apanya dibanding sampeyan yang sudah sumeleh.”
Dipuji-puji sama setan setinggi langit lapis sembilan, sehingga melenakan. Akhirnya si manungso kemasupan sipat ujub. Mengherani diri sendiri, menganggap dirinya hebat dan mumpuni. Merasa amalnya sudah sak ikrak tumplak. Jauh dari neraka dan sudah bertetangga dengan surga. Sifat ujub ini melalaikan dan membinasakan. Seyogyanya semua pelaku ngamal sholeh mau meniadakan dirinya di hadapan Allah. Karena sebenarnya Gusti Allah lah yang memberikan taufik dan hidayah-Nya sehingga manungso bisa dan mau menjalani ngamal ngibadah. Kita lemah gak bisa apa-apa tanpa pertolongan Allah swt. Tapi dasar setan… manungso diglembuk, dielus-elus trus dikepruk. Sing dikepruk malah jegegas-jegeges gak ngrasa..
6. Jurus Keenam
Kalo ada manungso yang bisa ngamal, gak menunda amal, berilmu, trus bisa pasrah sumeleh serta yakin bahwa amalnya itu semata-mata atas pertolongan Allah dan ikhlas lilahi tangala, maka dikirimlah setan level advance. Level keenam ini si setan mencari celah. Dibiarkannya lima setan krocok dibawahnya njengkang kalah. Tapi dia jeli dan memanfaatkan momen. Ketika ada kesempatan masuplah dia. Yakni dengan cara membangkitkan emosi si manungso sehingga dia mengundat amalnya.
Mengundat atau mengungkit amalan yang sudah dikerjakan akan menghancurkan pahala amal. Ibarat sudah mbangun gedung sampai jadi, tahu-tahu dibom sampae hancur oleh si pembangunnya.
Biasanya mengungkit atau mengundat amalan dilakukan di saat manungso lengah. Misalnya, ada orang sudah ditulungi, diopeni, tahu-tahu melakukan perbuatan yang menyinggung dirinya. maka akan muncul ucapan-ucapan yang mengungkit kebaikannya. Macem gini :
“Oalah, dulu kalo kamu gak saya openi, kamu masih kere di jalanan. Kalo nggak ditulungi kamu mesti masih ngemis-ngemis. dasar ra nyawang githok.”
“Masjid itu kalo saya gak rintis pembangunannya gak bakalan berdiri tuh. Ha wong orang-orang sini katro semua.”
“halah tiwas tak tulungi… ha kok sekarang malah gak tahu terimakasih. Kalo kamu dulu gak ditulungi jadi apa kamu sekarang.”
Dan masih banyak sekali contoh-contoh yang serupa. Jadi hendaknya yang namanya amal itu ya harus ikhlas ketika sebelum beramal, saat beramal dan sesudah beramal. Trus dijaga sampe mati. Di lepel ini memang mangkin berat. Setannya juga bukan sembarang setan.
Sebenarnya masih ada beberapa jurus yang belum simbah sampaikan. Tapi sementara sampai disini dulu
Kesabaran
Malam itu begitu dinginnya. Namun bagi Si Kiwik, spesialis pencuri ayam kelas kamso tidaklah begitu dirasakan. Padahal bagi kulit orang normal, dinginnya malam yang sedikit diselimuti gerimis itu lumayan bisa bikin sering kepuyuh-puyuh beser wal anyang-anyangen. Dengan tenangnya si Kiwik mengincar pitik babon yang sudah mambu wajan, tak lupa juga si jago lurik yang kluruknya bisa mbangunin si empunya ayam.
Setelah berbasah-basah lumayan lama, akhirnya kira-kira pukul dua malam, beraksilah si Kiwik mbedhog pitiknya tetangga simbah. Namun apa daya, ibarat untung dapat ditolak dan malang dapat diraih, dumadakan si pitik kaing-kaing dengan kenceng saat dibedhog. Temtu saja si Kiwik kaget. Lha biasanya dengan ilmu sirep pitiknya yang ampuh itu, si ayam dengan lulutnya manut dibedhog sampai ke rumahnya. Ha kok ayam yang ini malah berontak.
Walhasil seisi rumah tetangga itu pada bangun. Si Kiwik diuber dan dikejar-kejar orang sekampung. Karena dikepung, si Kiwik akhirnya babak bundhas dibandemi massa, sebelum akhirnya diserahkan kepada pihak berwajib. Itu adalah kejadian sekitar duapuluh tahun yang lalu.
Yang simbah herani adalah kesabaran si maling menunggu dan mengincar mangsanya di malam hari itu. Padahal hujan, dingin, ngantuk, dan tentu saja seram karena jam operasinya selalu di atas jam satu malem. Bahkan ada juga yang mengincar satu rumah dengan lebih sabar dari itu.
Diperhatikannya rumah itu berbulan-bulan, diincer, dan diamati jadwal keluar masuknya si empunya rumah. Bahkan agar lebih mudah akses masupnya, dipacarinya si pembantu rumah tersebut. Padahal si babu rumah itu janda setengah tuwek yang mulai rajin nginang, berwajah ala Limbuk, yang kalo diajak ngobrol berulangkali ngludah dubang (idu abang = ludah merah hasil nginang). Tapi semua tekanan lahir batin itu dijalaninya dengan penuh kesabaran.
Begitu dirasa tepat waktunya, maka mulailah dilaksanakan aksinya ngrampok dan ngukut isi rumah tersebut. Semua diangkut, kecuali Babu STW hasil cinlok yang lantas ditinggalkannya dalam keadaan terikat dan disumpeli kinang sak kepel.
Rupanya untuk jadi penjahat sadis pun membutuhkan kesabaran. Semakin mau bersabar menjalani profesinya, maka semakin profesionallah si penjahat tersebut. Maka berkacalah pada bandit tengik berhati kejem itu. Mereka mau bersabar-sabar menanggung derita lahir batin untuk menghasilkan kejahatan yang rapi dan jali. Semua aksi kriminil yang sukses dan spektakuler membutuhkan kesabaran ekstra dan kecerdasan lebih untuk menjalaninya.
Maka yang simbah ulas tadi adalah jalan yang ditempuh oleh kalangan dunia hitam. Rupanya kunci sukses mereka pun ternyata satu : kesabaran. Lantas bagaimana pula bagi kalangan yang ingin meraih sukses dalam hal kebaikan?? Herannya kebanyakan orang pinginnya instan, ingin cepet-cepet melihat hasil, kemrungsung wal kesusu. Gimana bisa jadi sukses??
Di dalam meniti sukses mentaati aturan Sang Pencipta pun gak bisa instan. Tapi kebanyakan orang gak mau tahu. Pinginnya mereka itu paham agama secara karbitan. Ada yang gemar bokep, blayangan blusukan diskotik, istiqomah mlototin pilem holi maupun boliwud, gak pernah nyentuh Kitabullah dan kitab hadits, tapi kalo mbantah ulama mulutnya nyrocos lancar wal lanyah macem propesor lagi ngomelin mahasiswa hampir DO yang gak bisa njawab pertanyaan matematika kelas pipo londo.
So…. mau jadi bandit tengik saja butuh kesabaran, mengapa untuk menjadi orang yang tunduk manut Gusti Allah pada gak mau sabar??
Kesetiaan
Dalam satu riwayat disebutkan satu percakapan yang menarik antara Abu Bakar r.a dan anaknya. Sebagaimana difahami, salah seorang anaknya Abu Bakar yang laki-laki masuk Islamnya belakangan setelah perang Badar. Sehingga di saat perang Badar si anak berperang di pihak musyrikin, melawan bapaknya yang berperang bersama kaum mukminin. Berkatalah si anak:
“Wahai bapak, dulu di saat perang badar, aku memiliki kesempatan untuk membunuhmu, dan aku yakin jika aku lakukan maka engkau pasti sudah terbunuh.”
“Lantas apakah yang menghalangi dirimu untuk melakukannya wahai anakku?” tanya Abu Bakar.
“Aku masih memiliki rasa sayang kepadamu. Itulah yang membuat diriku ragu.”
“Itulah sifat kemusyrikan wahai anakku. Loyalitas dan kesetiaan kepada tuhan kalian bisa kalah dengan kecintaan kalian pada yang lain. Sungguh jika aku berada di posisimu saat itu, sudah aku tebas lehermu.”
Salah seorang sahabat Nabi saw yang digelari “Orang Kepercayaan Umat ini” yang gigi seri depannya rontok karena mencabut besi yang menancap di pipi Nabi saw, dan merupakan Panglima Besar Islam, adalah seorang yang tadinya senantiasa menghindari bapaknya di medan perang, karena bapaknya berperang dipihak musyrikin. Dengan kemantapan hati dan kecintaan kepada tauhid, akhirnya dibunuh jugalah bapaknya di medan peperangan. Beliau adalah Abu Ubaidah ibnul Jarrah.
Dalam satu riwayat disebutkan juga, bahwa Umar bin Khathab menyatakan kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya melebihi apapun yang ada di dunia ini kecuali dirinya. Jadi kecintaan pada dirinya masih nomor satu, barulah diikuti kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya. Halini dijawab oleh Nabi saw, bahwa tidak sempurna iman seseorang sebelum dia mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi apapun di dunia ini, bahkan terhadap dirinya sendiri.
Jika sampeyan perhatikan, ada yang hilang dari kehidupan beragama dari umat Islam,yakni kesetiaan atau loyalitas. Beragamanya orang-orang yang telah diridhoi Allah, yakni para shahabat Nabi, adalah beragama yang disertai loyalitas pada apa yang diyakini. Beragamanya orang saat ini, apapun agamanya, selalu diikuti loyalitas pada kebesaran nafsunya. Mengaku menyembah Allah tapi loyalitas hidupnya diserahkan pada keluarga, pangkat, jabatan, partai, bendera golongan, demokrasi, selangkangan wanita, perut, pluralisme, dan segala tetek bengek yang diringkes oleh Al Qur’an dengan nama Thaghut.
Dahulu kala, di saat Nabi mengajarkan ajaran wahyu, ada juga si bangsat Musailamah yang mengaku menerima wahyu. Di saat Nabi menerima surat Al Ashr, Musailamah mengaku menerima surat Al Wabr. Di masa kekalifahan Abu Bakar dibentuklah laskar khusus yang dikirim untuk membasmi para bangsatwan. Sang Nabi palsu bangsat Musailamah laknat dipenggal oleh salah seorang saudara Umar bin Khathab. Inilah loyalitas. Kesetiaan pada keyakinan.
Sesungguhnya semua orang memiliki loyalitas. Semua orang mempunyai kesetiaan pada sesuatu. Sabda Nabi mengatakan, “Ad Diinu Nasihah”. Agama itu Nasihah. Nasihah di sini seringkali diartikan nasehat atau wejangan atau petuah. Jika melihat isi keseluruhan haditsnya, makna itu kurang tepat. Nasihah lebih pas jika dimaknai “kesetiaan.”
Agama itu kesetiaan. Kepada siapa? Kepada Allah, Rasul, Kitab, Imam kaum mukminin dan pada umat keseluruhan.
Sudahkah kesetiaan sampeyan diletakkan pada ad diin (agama)? Atau sampeyan letakkan pada karir, jabatan, pangkat, keluarga, golongan, suku, blog, traffic, adsense, rating, rokok, tuak, sosialisme, humanisme, demokrasi, kesetaraan gender …. Atau thaghut??
Berapa kali sampeyan telat masuk kantor dan bandingkan dengan berapa kali sampeyan telat sholat jamaah lima waktu?? Lebih loyal pada apa sampeyan?
Yang Tegang Yang Asyik
Sebagaimana biasa Kang Paidul bersama wadyabalanya sesama penggemar pilem kungpu sedang berkumpul menyaksikan salah satu pilem kungpu yang disewanya dari pisidi rental. Adegan demi adegan dilewatinya. Hingga sampailah pada satu keadaan dimana sang lakon jagoan terdesak dan hampir koit diterjang musuh. Semua penonton tercekam tegang. Dumadakan muncullah Kang Pailul. Sambil prengas-prenges dia nyeletuk dengan koplonya :
“Halah gak usah tegang, itu entar lakonnya selamat, tapi nantinya dibunuh juga oleh boss penjahat…” katanya sambil nyruput secangkir coklat tubruk.
“Woo, lha semprul… “ kata kang Paidul marah-marah yang juga diikuti gerutuan wadyabalanya. “Kamu kalo udah pernah nonton mbok diem tho. Mbikin gak asik aja. Awas kalo nyobrot lagi, jotos sisan…”
Begitulah adanya. Keasyikan nonton pilem akan sirna manakala jalannya pilem tiba-tiba di-spoiled oleh oknum yang sudah pernah nonton, apalagi spoilernya amat trocoh.
Sebagus apapun jalannya satu pilem, apabila pernah menonton sampai rampung, maka untuk kedua kalinya dia nonton gak akan sama rasanya dengan yang pertama kali. Ketegangan yang dirasa saat pertama kali nonton tak akan dirasa asyik lagi pada kedua kalinya. Karena jalan ceritanya sudah ketebak. Demikian juga apabila sampeyan mbaca satu nopel atau buku cerita.
Mengapa begitu? Karena tingkat keasyikan satu alur cerita justru makin terasa dikarenakan kita tidak tahu cerita itu akan mengalir kemana. Makin tegang dan kritis keadaan yang dimunculkan, makin mengasyikan manakala ketegangan itu berakhir. Makin kacau suasana yang dihadirkan sehingga seakan tanpa solusi, makin indah ending cerita itu manakala semuanya ditutup dengan ending yang tak disangka.
Maka sungguh amat mengherankan, jika sudah tahu bahwa menonton pilem yang sudah pernah itu ditonton itu tak lagi mengasyikkan, mengapa orang pingin tahu nasib peruntungannya di masa depan? Bagaimana sampeyan mau menikmati indahnya hidup ini, jika sampeyan sudah tahu alur cerita hidup sampeyan dari lair ceprot sampai nggeblak ke liang lahad? Apa enaknya jika ketika sampeyan dirudung kesusahan tapi sudah tahu bahwa ending dari kesusahan itu pasti nanti begini dan begitu? Sampeyan akan merasakan plong, lega dan sangat gembira manakala sampeyan terlepas dari sesuatu yang menimpa sampeyan, dan disaat tertimpa sesuatu itu sampeyan gak tahu kalau akan bisa terlepas dari bencana yang menimpa sampeyan itu. Bahkan kebahagiaan yang sejati itu adalah kebahagiaan yang didapat manakala kebahagiaan itu seakan tak mungkin diraih karena bertubi-tubinya kesusahan yang menimpanya.
Dimana letak kebanggaan sampeyan, manakala sampeyan bisa menang catur melawan anak TK yang saat main catur itu, langkahnya saja nanya pada sampeyan? Sampeyan tak merasakan kesenangan yang sesungguhnya karena sampeyan menyangka sudah pasti menang.
Klub AC Milan pun juga tak akan mongkog hatinya manakala bisa mengalahkan klub Persemaka (Persatuan Sepak Bola Main Kayu) binaan ketua RT sampeyan.
Tapi kalau AC Milan menang lawan Real Madrid padahal dua pemainnya dikartu merah sehingga main hanya dengan 9 pemain…. wah itu kemenangan yang spektakuler. Karena bahkan mereka gak nyangka akan menang. Para fans
Mangkanya, ngapain sampeyan repot-repot main SMS “ketik reg spasi masa depan”? Justru hidup ini akan lebih indah jika ending tiap fragmen kehidupan kita gak pernah kita sangka akan mengalir kemana. Bahkan khusus buat orang yang bertakwa, rejekinya pun selalu datang dari arah yang tak pernah dia sangka. Untuk itu Imam Ghazali pernah menyampaikan, jika rejeki sampeyan sudah bisa diduga darimana asalnya, maka itu bukan rejeki yang dikhususkan buat orang yang bertakwa…. Nah lho..
Maka jika Gusti Allah menginginkan hidup sampeyan indah, sampeyan akan diberi ketegangan-ketegangan yang sepertinya tanpa solusi. Sampeyan akan dibikin keple sehingga semua usaha dhohir yang ditempuh seakan tanpa hasil. Dan dengan begitu sampeyan diharap mau tawakal kepada Sang Maha Pencipta. Dengan tertib amal yang baik, maka Gusti Allah akan membalik keadaan. Dari Underdog menjadi pemenang kehidupan.
Itulah yang terjadi saat peristiwa Badar. Dan itu juga yang terjadi pada saat kemenangan Islam diraih. Pada awalnya digoncang, dihantam, dan dihempas dengan musibah bertubi-tubi sehingga bahkan para shahabat dan bahkan Kanjeng Nabi saw sendiri berkata, “Kapan pertolongan Allah datang?” Ketahuilah, justru pada saat itulah pertolongan Allah dekat, yang membuat ending perjuangan jadi hebat dan indah. Mungkinkah kondisi umat saat ini sedang mengalami tahapan ini?? Semoga..
Jumat, 18 Agustus 2017
Proposal Hidup
Setelah kurang lebih 17 tahun menikah, simbah
dikaruniai 9
orang anak dan insya Allah sebentar
lagi 10. Bagi sebagian orang, jumlah anak 9 adalah jumlah yang
fantastis untuk ukuran keluarga abad 21 ini. Anggapan tersebut tentu saja hasil
pengkondisian, dimana ditanamkan di benak semua manusia bahwa jumlah anak
haruslah sedikit jika mau menghasilkan generasi yang nyakdhut.
Penanaman pemahaman tersebut masih terus
berlanjut walaupun sudah berpuluh bahkan beratus kasus terkuak, dimana seorang
ibu dibacok anak semata wayangnya karena tak dibelikan motor, atau si bapak
yang diancam bunuh karena tak segera menulis surat warisan buat anaknya yang
ragil (no.2), atau sang ibu yang terpaksa siang malam banting tulang menghidupi
2 anak SMA nya yang aktif ngePUNK mencukur gundul rambutnya, mengantingi hidung
dan lambenya yang persis lambe sumur itu tanpa menghiraukan gaji simboknya yang
dibawah UMR guna menghidupi gaya hidup ngepunknya.
Sebagian besar orang ketakutan dengan
jumlah anak bukan karena khawatir anaknya kurang terurus, tapi lebih banyak
yang khawatir jika anaknya banyak, kelangenan dirinya menjadi terganggu.
Sebagian orang tua yang kelangenannya berkarir di luar rumah merasa terganggu jika
harus tersita waktunya ngurus anak. Mereka
lupa bahwa mengurus anak di rumah pun merupakan karir yang dapat
mencemerlangkan hidupnya.
Ada satu pasien
simbah yang anaknya baru satu. Dua ortunya sibuk berkarir. Mereka bukan orang
miskin, bahkan bisa dibilang kaya raya. Tapi setiap simbah tanya perihal
kondisi penyakit anaknya, si ibu menjawab,
“Wah nggak tahu
ya dok, soalnya ini tadi yang momong simbahnya. Katanya sih agak mencret.”
Ha wong berobat
kok gak weruh pigimanah penyakit anaknya dan hanya mengandalkan kata embahnya
yang tak dihadirkan saat pemeriksaan. Kedua ortu ini sudah berangkat sejak
bakda shubuh, dan pulang selepas Isya’… Demi anak yang kalau sakit, orang
tuanya tak tahu sakit apa dan bagaimana sakitnya.
Orang tua
sebagimana yang simbah ceritakan di atas pasti akan tak habis pikir bagaimana
orang semodel simbah kok mau-maunya punya anak sembilan. Ha wong satu saja sudah
merusak kenyamanan mereka dalam berkarir, apalagi lipat sembilan.
Sebagian
beranggapan, simbah berani punya anak enam dikarenakan simbah adalah dokter
yang duitnya pasti sak jagad abuh. Sehingga tak lagi dipusingkan dengan urusan
financial buat ngopeni anak. Ini juga rembug ngoyoworo. Biasanya yang ngomong
begini adalah orang yang kebetulan belum pernah ketemu simbah langsung.
Ah, sudahlah…..
Tulisan ini tak berkehendak membahas hal-hal tersebut di atas. Hanya saja
kebetulan memang simbah dikaruniai anak banyak. Satu-satunya hal yang membuat
simbah tetap optimis bahwa hidup simbah ada yang membantu hanyalah proposal
hidup simbah. Bukan kekayaan, bukan kelonggaran dan bukan masalah financial.
Sampeyan tahu,
jika sampeyan memiliki proposal bisnis yang sangat menguntungkan dan masuk
akal, ketika kita presentasikan proposal tersebut, pastilah si pemilik modal
akan dengan senang hati merogoh koceknya untuk menyokong usulan bisnis kita
tersebut. Bahkan jika bisnis tersebut sangat prospekktif dan menguntungkan,
pemilik modal akan dengan gembira mau menggelontorkan duit banyak walaupun
hanya dibagehi 10% dari keuntungan.
Tapi jika
proposal bisnisnya beresiko, sampeyan harus mati-matian meyakinkan investor
untuk mau menyerahkan modalnya. Itupun sang investor pasti menghendaki porsi
besar karena bisnisnya beresiko.
Pertanyaan
besarnya, APA PROPOSAL HIDUP ANDA? Apa tujuan hidup anda yang nantinya Allah
akan sukacita membantu dan menyokong segala aspek kehidupan anda dengan
sepenuhnya. Jika proposal hidup anda hanya sekedar menggapai hidup nyaman, maka
proposal hidup anda tak lebih dan bahkan sama dengan si Pleki kiriknya lik
Pailul itu. Percuma Allah mengaruniai sampeyan kemampuan bicara, kemampuan
menalar, kemampuan berpikir dan segala kemampuan milik manusia yang tak
dimiliki hewan, jika cita-cita hidup sampeyan hanya selevel hewan. Betapa
rendahnya proposal hidup sampeyan.
Namun jika
sampeyan mempersembahkan hidup ini benar-benar dalam rangka beribadah, membantu
agama Allah (walau Allah sebenarnya tak butuh bantuan), mempersembahkan apa
yang sampeyan miliki dalam rangka menyempurnakan peribadatan kepada-Nya, maka
Allah Maha Kaya untuk mencukupi segala kebutuhan hidup sampeyan. Proposal hidup
yang begitulah yang Allah kehendaki, yang pasti hidup sampeyan tak akan
sia-sia.
Maka anak satu
atau dua, jika proposalnya benar, itu merupakan kebaikan. Anak sembilan bahkan
sepuluh, jika proposalnya benar, bisa jadi jumlah sembilan atau sepuluh kurang.
Semakin banyak anak semakin banyak kebaikan terbikin, jikalau proposal hidupnya
betul.
Dengan anak makin
banyak, simbah hanya dituntut untuk memperbaiki isi proposal hidup simbah. Jika
masih dalam rangka ngibadah, insya Allah tak ada kekhawatiran dalam diri simbah
akan kekurangan rejeki. Karena simbah yakin, Allah yang telah memakmurkan
mereka yang durhaka, tentulah Maha Kaya dari menelantarkan hamba-Nya yang telah
berniat mempersembahkan hidupnya demi mengabdi pada-Nya.
Ada ayat INTAN
yang nilainya melebihi intan jika dipahami:
“Intanshurullaaha
yanshurkum. Wa yutsabbit aqdaamakum..”
Jika kalian menolong Allah, maka Allah akan menolong kalian. Dan mengokohkan tumit-tumit kalian…
Jika kalian menolong Allah, maka Allah akan menolong kalian. Dan mengokohkan tumit-tumit kalian…
Senin, 31 Juli 2017
Bank PLECIT
Simbah kurang paham mana ejaan yang benar, apakah Bank Plecit
atau Bang Plecit. Kalo di
Jakarta sini orang menyebutnya Bank Keliling, tapi bisa
juga maksudnya Bang Keliling,
karena biasanya yang keliling itu laki-laki. Tampilannya pun biasa saja, bahkan
keliatan culun, ndeso bahkan sebagian tampak kurang gizi. Namun aktifitas yang
dilakukannya mbikin simbah miris.
Mereka adalah pelaku ekonomi riil di tengah masyarakat ekonomi lemah. Kerjanya memberikan pinjaman pada yang memerlukan. Tidak besar memang. Besarannya hanya ratusan rebu hingga jutaan, tapi tetap di bawah angka 5 juta.
Nggak tahu gimana asal muasalnya tiba-tiba simbah disambati seorang pengusaha bisnis remeh temeh yang terlilit utang di Bank Plecit alias Bank Keliling ini. Utangnya sebenarnya juga tak besar. Hanya 500 rebu ripis. Tapi itu nilai yang besar buat satu keluarga yang ekonominya lebih sering bumi gonjang-ganjingnya daripada langit kelap-kelapnya.
Setelah nggedabrus ngalor ngetan, akhirnya simbah menanyakan gimana tho sebenarnya kerja Bank Keliling itu. Kok bisa-bisanya banyak yang sambat dililit utang oleh Bank Keliling itu. Pengusaha itu akhirnya bercerita, bahwa bunga yang diterapkan oleh bank Plecit itu lumayan gede. Tagihannya pun harian. Jadi akhirnya kewalahan sendiri nyarutang (bayar hutang).
Mekanismenya gini, tarohlah si shohibul kajat ngutang dua juta ripis. Maka si Bank Plecit akan kasih dua juta ripis dipotong administrasi 10 persen, sehingga total duit yang diterima shohibul kajat cuma 1,8 juta ripis. Trus Bunga yang diterapkan adalah 20 persen perbulan. Sehingga dalam sebulan si shohibul kajat harus membayar tanggungan hutang sebesar 2,4 juta ripis. Jikalau dalam satu bulan bisa lunas, si bank Plecit akan memberikan uang penghargaan sebesar 100 rebu ripis buat shohibul kajat, karena berdedikasi tinggi mau mbayar utang tepat waktu.
Jadi buat Bank Plecit itu, dari uang 1,8 juta ripis bisa menangguk untung 500 rebu ripis. Jiaaaan… kapitalis sejati. Kapitalis edan wal gemblung. Menerapkan prinsip uang yang bekerja untuk diri kita. Bukan kita yang bekerja untuk uang. Tapi keblinger wal kesasar, milih dalan peteng… membungakan uang. Lha yang ngutang jadi semakin mbeseseg dadanya. Ngutang dua juta ripis ditagih setiap hari 80 rebu ripis. Ha wong hidupnya saja sudah kesrakat kok dituntut menyediakan duit 80 rebu ripis sehari. Apa nggak semakin semaput.
Si bank Plecit beralasan, ha wong minjem bolo pecah saja ada uang sewanya kok. Pinjem meja kursi, kamera, mobil, alat pesta dan lain sebagainya, semua pakai uang sewa. Mosok pinjem duit gak ada uang sewanya. Mereka menganggap hutang duit itu sama dengan nyewa. Maka harus bayar uang sewa. Lha, pantesan… makanya mereka pantas disebut RENTENIR. Karena kerjanya rental duit, yang mana RENT itu kan artinya sewa. Mereka nganggep menghutangkan uang itu ya menyewakan uang. Wah.. dasar koplo, otak kapitalis atheis.
Yang lebih mengherankan, ternyata pelaku lapangan itu hanya pegawe saja. Kerjanya menawarkan dan nagih. Sedangkan pemodal bank Plecit di daerah simbah sini kebanyakan kumpulan para Haji sugeh plus tuan tanah, yang hobinya kawin, punya simpenan bini di mana-mana, tapi terpandang di mata masyarakat karena sugehnya.
Makanya Kitabullah menganggap orang-orang yang terlibat dalam urusan rental merental duit ini sebagai orang yang gendheng dan kerasukan setan. Sehingga yang namanya riba itu dihapus oleh syareat sampai ke akar-akarnya. Gak ada itu riba walo kecil. Haram sampai ke akar-akarnya. Kalo nekat, Allah umumkan perang pada pelakunya.
Cuma yang namanya setan, tetap gak kehabisan jurus. Kata riba diasingkan dan dikucilkan. Dipoleslah kata-kata seram itu. Maka riba berevolusi menjadi produk-produk bergengsi. Saking bergengsinya menyebabkan yang makai jadi kecanduan. Bahkan menjadi tolok ukur kesuksesan seseorang. Seseorang belum dianggep perlente kalo belum punya kartu riba… eh… kartu kredit alias CC dari lima bank besar di dunia. Mbeli barang kurang nggaya kalo nggak dengan cara nggesek kertu.
Karena nyandu, maka banyak yang menolak bahwa itu sebenarnya riba. Ibarat lethong sapi dipoles krim sehingga nampak seperti kuwe tart. Lha trus ada yang kapusan. Kuwe tart lethong sapi itu diunthal sak kayange. Sebagian malah buat ndublag bayi-bayi yang masih innocent. Trus tiba-tiba ada yang ngelokne, “Kang lethong sapi kok diemplok. Lha opo hora pait..?”
Karena terlanjur nyandu dan belepotan lethong, njawab dengan membabi buta tanpa menceleng melek, “Lethong sapine mbahmu, iki kuwe tart lapis legit tahu…!! Ha mbok dirasakne… ha wong manis-manis nyamleng gini kok lethong sapi. Ha kalo ada pait-paitnya dikit wajarlah.. itu pariasi rasa.. Dasar ndesit..!!”
Pait-pait dikit wajar lah, Riba dikit gak papa lah. Bunganyakan kecil, gak mencekik
kita. Ha kok situ yang malah kecekik…. bla..bla..bla. Itulah alasan pembenaran
bagi pelakunya. Bahkan ada yang parah, sampai bilang… “Lha kalo gak pakai sistem riba ini, gimana bisa hidup di
jaman moderen ini..??”
Simbah menangkapnya begini, “Lha kalo gak makan lethong sapi, gimana kita bisa menahan lapar kita, mau makan apa kita??” Tapi buat yang lainnya sih, kali aja beda. Ha wong kupingnya juga beda, hatinya beda, isi polonya juga beda.
Yang jelas bank Konvensional, apalagi bank Plecit… telah diharamkan oleh MUI, yang haram tentu saja ribanya. Yang lainnya tidak. Ibarat warung yang jualan macem-macem barang, yang haram adalah dagangannya yang haram saja macem ciu, arak, sate jamu (asu), kikil babi dlsb. Tapi itu MUI, fatwanya katanya bukan hukum positip. Pelakunya berdosa menurut syareat tapi bukan kejahatan apalagi kriminal miturut negara. Sedangkan dokter yang nyembuhin pasien, pasiennya jadi bagas waras bahkan nyembah-nyembah maturnuwun sama dokternya karena sudah ditambani dan sembuh, dianggap kriminil
Mereka adalah pelaku ekonomi riil di tengah masyarakat ekonomi lemah. Kerjanya memberikan pinjaman pada yang memerlukan. Tidak besar memang. Besarannya hanya ratusan rebu hingga jutaan, tapi tetap di bawah angka 5 juta.
Nggak tahu gimana asal muasalnya tiba-tiba simbah disambati seorang pengusaha bisnis remeh temeh yang terlilit utang di Bank Plecit alias Bank Keliling ini. Utangnya sebenarnya juga tak besar. Hanya 500 rebu ripis. Tapi itu nilai yang besar buat satu keluarga yang ekonominya lebih sering bumi gonjang-ganjingnya daripada langit kelap-kelapnya.
Setelah nggedabrus ngalor ngetan, akhirnya simbah menanyakan gimana tho sebenarnya kerja Bank Keliling itu. Kok bisa-bisanya banyak yang sambat dililit utang oleh Bank Keliling itu. Pengusaha itu akhirnya bercerita, bahwa bunga yang diterapkan oleh bank Plecit itu lumayan gede. Tagihannya pun harian. Jadi akhirnya kewalahan sendiri nyarutang (bayar hutang).
Mekanismenya gini, tarohlah si shohibul kajat ngutang dua juta ripis. Maka si Bank Plecit akan kasih dua juta ripis dipotong administrasi 10 persen, sehingga total duit yang diterima shohibul kajat cuma 1,8 juta ripis. Trus Bunga yang diterapkan adalah 20 persen perbulan. Sehingga dalam sebulan si shohibul kajat harus membayar tanggungan hutang sebesar 2,4 juta ripis. Jikalau dalam satu bulan bisa lunas, si bank Plecit akan memberikan uang penghargaan sebesar 100 rebu ripis buat shohibul kajat, karena berdedikasi tinggi mau mbayar utang tepat waktu.
Jadi buat Bank Plecit itu, dari uang 1,8 juta ripis bisa menangguk untung 500 rebu ripis. Jiaaaan… kapitalis sejati. Kapitalis edan wal gemblung. Menerapkan prinsip uang yang bekerja untuk diri kita. Bukan kita yang bekerja untuk uang. Tapi keblinger wal kesasar, milih dalan peteng… membungakan uang. Lha yang ngutang jadi semakin mbeseseg dadanya. Ngutang dua juta ripis ditagih setiap hari 80 rebu ripis. Ha wong hidupnya saja sudah kesrakat kok dituntut menyediakan duit 80 rebu ripis sehari. Apa nggak semakin semaput.
Si bank Plecit beralasan, ha wong minjem bolo pecah saja ada uang sewanya kok. Pinjem meja kursi, kamera, mobil, alat pesta dan lain sebagainya, semua pakai uang sewa. Mosok pinjem duit gak ada uang sewanya. Mereka menganggap hutang duit itu sama dengan nyewa. Maka harus bayar uang sewa. Lha, pantesan… makanya mereka pantas disebut RENTENIR. Karena kerjanya rental duit, yang mana RENT itu kan artinya sewa. Mereka nganggep menghutangkan uang itu ya menyewakan uang. Wah.. dasar koplo, otak kapitalis atheis.
Yang lebih mengherankan, ternyata pelaku lapangan itu hanya pegawe saja. Kerjanya menawarkan dan nagih. Sedangkan pemodal bank Plecit di daerah simbah sini kebanyakan kumpulan para Haji sugeh plus tuan tanah, yang hobinya kawin, punya simpenan bini di mana-mana, tapi terpandang di mata masyarakat karena sugehnya.
Makanya Kitabullah menganggap orang-orang yang terlibat dalam urusan rental merental duit ini sebagai orang yang gendheng dan kerasukan setan. Sehingga yang namanya riba itu dihapus oleh syareat sampai ke akar-akarnya. Gak ada itu riba walo kecil. Haram sampai ke akar-akarnya. Kalo nekat, Allah umumkan perang pada pelakunya.
Cuma yang namanya setan, tetap gak kehabisan jurus. Kata riba diasingkan dan dikucilkan. Dipoleslah kata-kata seram itu. Maka riba berevolusi menjadi produk-produk bergengsi. Saking bergengsinya menyebabkan yang makai jadi kecanduan. Bahkan menjadi tolok ukur kesuksesan seseorang. Seseorang belum dianggep perlente kalo belum punya kartu riba… eh… kartu kredit alias CC dari lima bank besar di dunia. Mbeli barang kurang nggaya kalo nggak dengan cara nggesek kertu.
Karena nyandu, maka banyak yang menolak bahwa itu sebenarnya riba. Ibarat lethong sapi dipoles krim sehingga nampak seperti kuwe tart. Lha trus ada yang kapusan. Kuwe tart lethong sapi itu diunthal sak kayange. Sebagian malah buat ndublag bayi-bayi yang masih innocent. Trus tiba-tiba ada yang ngelokne, “Kang lethong sapi kok diemplok. Lha opo hora pait..?”
Karena terlanjur nyandu dan belepotan lethong, njawab dengan membabi buta tanpa menceleng melek, “Lethong sapine mbahmu, iki kuwe tart lapis legit tahu…!! Ha mbok dirasakne… ha wong manis-manis nyamleng gini kok lethong sapi. Ha kalo ada pait-paitnya dikit wajarlah.. itu pariasi rasa.. Dasar ndesit..!!”
Pait-pait dikit wajar lah, Riba dikit gak papa lah. Bunganya
Simbah menangkapnya begini, “Lha kalo gak makan lethong sapi, gimana kita bisa menahan lapar kita, mau makan apa kita??” Tapi buat yang lainnya sih, kali aja beda. Ha wong kupingnya juga beda, hatinya beda, isi polonya juga beda.
Yang jelas bank Konvensional, apalagi bank Plecit… telah diharamkan oleh MUI, yang haram tentu saja ribanya. Yang lainnya tidak. Ibarat warung yang jualan macem-macem barang, yang haram adalah dagangannya yang haram saja macem ciu, arak, sate jamu (asu), kikil babi dlsb. Tapi itu MUI, fatwanya katanya bukan hukum positip. Pelakunya berdosa menurut syareat tapi bukan kejahatan apalagi kriminal miturut negara. Sedangkan dokter yang nyembuhin pasien, pasiennya jadi bagas waras bahkan nyembah-nyembah maturnuwun sama dokternya karena sudah ditambani dan sembuh, dianggap kriminil
Jumat, 26 Mei 2017
Indera Bathin (Marhaban Yaa Ramadhan)
Sampeyan pernah nyaksiken orang makan Kepiting? Atau
malah sampeyan pernah makan kepiting? Itu adalah aktifitas makan yang penuh
perjuangan. Karena acara makannya diawali dulu dengan pertempuran melawan
cangkang, yang seringkali mengorbankan jari, lidah, dan bibir. Tapi tetep saja
makin asyik. Malah harganya muahal pol. Kenikmatannya berbanding lurus dengan
perjuangannya.
Beda lagi dengan makan sego bandeng alias sego kucing. Ini menu khas kaum dhuafa wal marjinal, berupa sego sak kepel dirubung sambel sak uprit, plus bandeng atau ikan asin nyak mit. Tak sampai sepeminum teh bisa ludes sebungkus. Rasanya ngedabh-edabhi. Mak nyoss..kotos-kotos.
Beda lagi dengan makan kambing guling, eyem penggeng, es kopyor, es cendol atau menu makanan dan minuman lainnya. Gak usah simbah ceritakan. Ha wong simbah yang nulis saja malah kemecer, apalagi sampeyan yang baca…
Tapi bayangkan jika sampeyan kena trilogy sariawan, alias sariawan telung panggonan. Satu di ujung lidah, satu di tenggorokan, satu lagi di pipi dalam dimana biasa dipakai ngunyah. Acara makan bisa menjadi acara penuh siksaan. Makan gak banyak, gak mau lama-lama, menu apapun bisa bikin derita. Apalagi jika ditambah giginya kerowok semua dan pas kumat…. wuuaah… mantabh.
Jadi untuk mendapatkan rasa nikmatnya makanan, selain makanannya sendiri harus nyamleng, si penikmat juga harus beres kesehatan inderanya. Itu berlaku tidak hanya untuk makanan. Bahkan untuk urusan seksual pun begitu. Istri muda, cantik, kinclong moblong-moblong, perawan, tapi si suami penisnya udunen… wuaahhh… urusan ranjang bisa jadi lemek kasur..alias preeiiii...alias libur dulu.
Nah itu urusan dhohir. Sekarang coba sampeyan rasakan sholat dan puasa sampeyan! Menyiksa diri sampeyan gak? Saat sholat, sampeyan merasakan nikmatnya sholat gak? Atau pinginnya buru-buru? Kalo dapet imam agak lama berdirinya, misuh-misuh dalam hati. Bahkan ada konco simbah kalo mau jadi makmum pesen sama imamnya, “Ntar suratnya qul-hu sama wal ngasri saja ya…”
Demikian pula gimana hati sampeyan saat sedekah? Berat penuh siksaan, atau ringan penuh kenikmatan? Gimana hati sampeyan saat mbaca dan tadarus al qur’an? Penuh kelezatan menikmati hurup demi hurup, atau ngebut nabrak ngalor ngidul yang penting katam 30 juz?? Gimana hati sampeyan kalo berjilbab? Merasa lebih malu saat rambut kepalanya ditutupi, melebihi malunya mereka yang bahkan rambut kemaluannya saja diumbar??
Nikmat dan tidaknya ibadah kita sebenarnya lebih banyak ditentukan beres tidaknya indera batin kita. Kalo indera batinnya sehat, maka sholat, puasa, sedekah, tadarus Al Qur’an, taraweh, berjilbab, dlsb adalah menu nikmat yang enak disantap dan perlu.
Maka Nabi saw sholat malam kakinya sampai abuh bengkak gak masalah. Nyerinya abuh kalah oleh nikmatnya sholat. Sebagaimana nyerinya ketusuk cangkang kepiting kalah oleh lezatnya daging kepiting. Sholat lama malah nyamleng, seperti gak mau berakhir sebagaimana sedapnya menikmati sate tusuk demi tusuk… gak mau segera kenyang dan berakhir.
Jadi, kalo ada yang sholatnya ngebut pencilakan, al fatihah dibaca dalam satu napas, trus sujud rukuk cuma manthuk-manthuk kayak manuk engkuk, itu orang indera batinnya lagi error. Gak doyan barang enak, sebagaimana suami yang isterinya bahenol tapi penisnya udunen wal bisulen tadi.
Di Kitabullah diceritakan tentang orang munapik. Ini oknum batinnya ada penyakitnya, alias fii qulubihim marodhun. Maka akibatnya segala macem ngibadah maunya kilat ekspress, karena gak mau ndikir illa qolilaa (kecuali nyak mit saja). Maka kalopun sholat ya model orang aras-arasen. Ninggal sholat ogah, serius juga gak mau…
Sekarang rasakan pada diri kita. Seberapa nikmat ibadah bisa kita rasakan? Kalo masih macem orang kesiksa, berarti batin sampeyan error, perlu diobati, perlu diopname. Kalo buat sakit dhohir saja mau njual sawah, sapi, mobil, dan bahkan rumah agar dhohir sehat, lantas apa yang bisa sampeyan korbankan agar batin bisa sehat? Mau opname dimana batin sampeyan?
Yang jelas, saat ini makin banyak manusia yang kehilangan nikmatnya beribadah…..
dan malah banyak merasakan nikmatnya maksiat…
Semoga Ramadhan tahun ini bisa menjadi sarana opname bathin yang kadang sudah tak lagi merasakan nikmatnya ibadah.
Beda lagi dengan makan sego bandeng alias sego kucing. Ini menu khas kaum dhuafa wal marjinal, berupa sego sak kepel dirubung sambel sak uprit, plus bandeng atau ikan asin nyak mit. Tak sampai sepeminum teh bisa ludes sebungkus. Rasanya ngedabh-edabhi. Mak nyoss..kotos-kotos.
Beda lagi dengan makan kambing guling, eyem penggeng, es kopyor, es cendol atau menu makanan dan minuman lainnya. Gak usah simbah ceritakan. Ha wong simbah yang nulis saja malah kemecer, apalagi sampeyan yang baca…
Tapi bayangkan jika sampeyan kena trilogy sariawan, alias sariawan telung panggonan. Satu di ujung lidah, satu di tenggorokan, satu lagi di pipi dalam dimana biasa dipakai ngunyah. Acara makan bisa menjadi acara penuh siksaan. Makan gak banyak, gak mau lama-lama, menu apapun bisa bikin derita. Apalagi jika ditambah giginya kerowok semua dan pas kumat…. wuuaah… mantabh.
Jadi untuk mendapatkan rasa nikmatnya makanan, selain makanannya sendiri harus nyamleng, si penikmat juga harus beres kesehatan inderanya. Itu berlaku tidak hanya untuk makanan. Bahkan untuk urusan seksual pun begitu. Istri muda, cantik, kinclong moblong-moblong, perawan, tapi si suami penisnya udunen… wuaahhh… urusan ranjang bisa jadi lemek kasur..alias preeiiii...alias libur dulu.
Nah itu urusan dhohir. Sekarang coba sampeyan rasakan sholat dan puasa sampeyan! Menyiksa diri sampeyan gak? Saat sholat, sampeyan merasakan nikmatnya sholat gak? Atau pinginnya buru-buru? Kalo dapet imam agak lama berdirinya, misuh-misuh dalam hati. Bahkan ada konco simbah kalo mau jadi makmum pesen sama imamnya, “Ntar suratnya qul-hu sama wal ngasri saja ya…”
Demikian pula gimana hati sampeyan saat sedekah? Berat penuh siksaan, atau ringan penuh kenikmatan? Gimana hati sampeyan saat mbaca dan tadarus al qur’an? Penuh kelezatan menikmati hurup demi hurup, atau ngebut nabrak ngalor ngidul yang penting katam 30 juz?? Gimana hati sampeyan kalo berjilbab? Merasa lebih malu saat rambut kepalanya ditutupi, melebihi malunya mereka yang bahkan rambut kemaluannya saja diumbar??
Nikmat dan tidaknya ibadah kita sebenarnya lebih banyak ditentukan beres tidaknya indera batin kita. Kalo indera batinnya sehat, maka sholat, puasa, sedekah, tadarus Al Qur’an, taraweh, berjilbab, dlsb adalah menu nikmat yang enak disantap dan perlu.
Maka Nabi saw sholat malam kakinya sampai abuh bengkak gak masalah. Nyerinya abuh kalah oleh nikmatnya sholat. Sebagaimana nyerinya ketusuk cangkang kepiting kalah oleh lezatnya daging kepiting. Sholat lama malah nyamleng, seperti gak mau berakhir sebagaimana sedapnya menikmati sate tusuk demi tusuk… gak mau segera kenyang dan berakhir.
Jadi, kalo ada yang sholatnya ngebut pencilakan, al fatihah dibaca dalam satu napas, trus sujud rukuk cuma manthuk-manthuk kayak manuk engkuk, itu orang indera batinnya lagi error. Gak doyan barang enak, sebagaimana suami yang isterinya bahenol tapi penisnya udunen wal bisulen tadi.
Di Kitabullah diceritakan tentang orang munapik. Ini oknum batinnya ada penyakitnya, alias fii qulubihim marodhun. Maka akibatnya segala macem ngibadah maunya kilat ekspress, karena gak mau ndikir illa qolilaa (kecuali nyak mit saja). Maka kalopun sholat ya model orang aras-arasen. Ninggal sholat ogah, serius juga gak mau…
Sekarang rasakan pada diri kita. Seberapa nikmat ibadah bisa kita rasakan? Kalo masih macem orang kesiksa, berarti batin sampeyan error, perlu diobati, perlu diopname. Kalo buat sakit dhohir saja mau njual sawah, sapi, mobil, dan bahkan rumah agar dhohir sehat, lantas apa yang bisa sampeyan korbankan agar batin bisa sehat? Mau opname dimana batin sampeyan?
Yang jelas, saat ini makin banyak manusia yang kehilangan nikmatnya beribadah…..
dan malah banyak merasakan nikmatnya maksiat…
Semoga Ramadhan tahun ini bisa menjadi sarana opname bathin yang kadang sudah tak lagi merasakan nikmatnya ibadah.
Selasa, 23 Mei 2017
Juri Prematur
Pada suatu hari kang Ndoweh bertandang ke rumah kang
Mbleweh yang sedang membuat onde-onde ceplus. Tampak kang Mbleweh sedang
sibuk membikin butiran-butiran kecil sang onde-onde ceplus.
Ndoweh : Welhadalah, sedang ngapain kang?
Mbleweh : Halah.. sini mampir. Ini sedang mbikin onde-onde ceplus.
Ndoweh : Waah.. kok sajak nyamleng. Mbikin kemecer saja ini.. Tak cicipi dulu ya kang.
Dengan tanpa ba-bi-bu kang Ndoweh tangannya nylonong menyambar sebutir adonan onde-onde ceplus tersebut. Lalu…
Ndoweh : Bluueeh.. weks.. kok rasanya gak nggenah babar blas gini kang. Bisa masak nggak sih kang sampeyan..? Onde-onde ceplus kok berantakan rasanya..
Mbleweh : Woooo..dapurmu.. lambemu ndoweh kuwi… Ha wong barang mentah kok diunthal. Yo genah pating klenyit rasanya. Ha mbok sabar, nunggu ini digoreng dulu. Kalo sudah mateng, silaken dinilai. Ha wong barang mentah sudah dikomentari.. cah gemblung..
Ndoweh : Wooo.. lha ayak. Ternyata mentah tho..
Mbleweh : Makanya sabar. Gak usah buru-buru nyacat. Mending kamu mbantu mbikin glindingannya. Biar cepet selesai.
Ndoweh : Yowis
kang… sini..
Sepenggal kisah di atas hanyalah ilustrasi. Bahwa untuk mencapai suatu hasil, memerlukan suatu proses. Adakalanya proses itu sebentar, tapi adakalanya lambat bahkan bertele-tele kalo perlu. Selama proses berlangsung, adakalanya orang yang tidak paham buru-buru menilai. Mending kalo menilainya sesuai tahapan. Yang terjadi, seringkali orang menilai tidak sesuai tahapannya, sebagaimana yang dilakukan oleh kang Ndoweh di atas.
Mbikin onde-onde ceplus hanyalah satu mitsal yang bisa dianalogikan ke banyak hal. Lha bisa dibayangkan kalo ada orang pekok setengah pinter, tiba-tiba pingin nyicipitempe ,
namun yang dicicipi adalah kedele yang barusan diidak-idak untuk
diproses jadi tempe .
Lha apa nggak nyamleng… apalagi yang ngidak-idak kakinya korengen pisan.
Muantabh pol.. Sudah gitu teriak-teriak nggoblok-nggoblokan si pembuat tempe , dianggep gak becus mbikin tempe
karena tempe
yang dia santap ternyata adalah kedele mentah beraroma koreng. Bisa
dinilai siapa sebenarnya yang goblok.
Dalam dunia amal perbuatan manusia, seringkali kita melihat adanya satu proses perubahan diri manusia yang tadinya mbejat wal mbromocorah, menuju kepada amal kebaikan. Proses itu adakalanya cepat, namun adakalanya lambat. Tapi yang jelas orang tersebut sedang berproses.
Satu hadits yang panjang menceritakan tentang seorang yang sudah mbunuh 99 nyawa dan pingin mertobat. Dia nanya pada orang yang disebutkan di hadits shahih itu sebagai Rahib. Intinya dia pingin tobat, padahal sudah melibas 99 nyawa. Si rahib bilang, gak ada jalan tobat. Soalnya dosanya sudah ngedab-edabi. Mbunuh satu nyawa semacem anak nabi Adam saja dosanya gede, apalagi ini 99 nyawa. Maka sang rahib pun dilibas juga, geneplah jadi cepek.
Si Rahib tidak melihat proses menuju perbaikan disini. Yang dia lihat hanyalah keburukan yang sudah dan masih menempel pada si pembunuh. Lain halnya saat si pembunuh ketemu orang yang disebut sebagai “alim” di hadits itu. Si ‘alim’ berkata bahwa si pembunuh bisa mertobat, asalkan dia mau hijrah dari desa yang maksiat menuju ke desa yang taat ibadat. Si "Alim" fokus pada proses dan melihat potensi proses perubahan pada si pembunuh. Syarat itu disanggupi si pembunuh. Dia berangkat, di tengah jalan wafat. Malaikat adzab dan malaikat rahmat berdebat. Namun akhirnya si pembunuh selamat. Sampe entar di akherat. Cerita tamat.
Di jaman ini, juri amatiran macem kang Ndoweh banyak berkeliaran dimana-mana. Mereka sibuk memvonis dan berfatwa. Memfatwai dan memvonis kelakuan dan amal ibadah manusia yang memang secara ndohir jauh dari taat, namun si juri lupa bahwa ada proses disitu. Namun proses tak digubris, maka meluncurlah kata-kata : ahli bid’ah, kopar kapir, kaum sesat, jahil, bodoh, ahlul hawa’, munapik, ahlu nar, anjing-anjing neraka serta puluhan kata-kata sopan dan pantas -setidaknya menurut mereka- yang lainnya.
Simbah punya temen mantan preman. Tadinya dia hidup dari malak orang. Singkat cerita dia mertobat. Mbuka warung kecil di samping mesjid. Niatnya pingin ngojek tapi gak gablek duik. Mau kridit takut dosa riba. Ha wong mau mertobat kok diawali pake riba, dia menolak. Namun akhirnya dapet juga dia motor buat ngojek, karena ada seorang sugeh yang baik hati kasih pinjeman tanpa bunga buat mbeli motor. Namun dia sedih, karena miturut beberapa ustadz yang mengaku ahlu sunnah wal jamangah, dia dilaknat Allah gara-gara masih bertatoo. Padahal dia sudah mati-matian menempuh jalan agar tatoonya hilang. Namun tatoo yang dia miliki tak kunjung ilang. Dan sampai saat ini cap laknat masih distempelkan pada dirinya, sementara proses penghilangan tatoonya masih berjalan.
Simbah sempat berpikir, kenapa ulama-ulama yang pinter-pinter itu seringkali menyibukkan dirinya dengan memvonis dan tidak mau sibuk untuk mengubah keadaan yang divonisnya. Seandainya mereka sibuk memperbaiki umat yang divonisnya ngalor ngidul itu, simbah yakin gak ada waktu lagi buat memvonis umat yang memang makin jauh dari taat ini. Gimana umat ini mau jadi baik, manakala keburukan hanya dijadikan bahan untuk divonis, dan proses perbaikan dianggap final… ?? Lha jika ulama model begini ketanggor pembunuh 100 orang yang diceritakan di hadits Nabi, lak sudah dilibas satu-satu sampe tumpes.
So, kita memang hidup di era banyak kegelapan. Tidak perlu sibuk mencela kegelapan dengan banyak jurus dan kosa kata. Cukup datangkan saja penerang, maka kegelapan hilang.
Qul jaa'al haqqu wa zahaqol baathil, innal baathila kaana zahuuqo.....
Ndoweh : Welhadalah, sedang ngapain kang?
Mbleweh : Halah.. sini mampir. Ini sedang mbikin onde-onde ceplus.
Ndoweh : Waah.. kok sajak nyamleng. Mbikin kemecer saja ini.. Tak cicipi dulu ya kang.
Dengan tanpa ba-bi-bu kang Ndoweh tangannya nylonong menyambar sebutir adonan onde-onde ceplus tersebut. Lalu…
Ndoweh : Bluueeh.. weks.. kok rasanya gak nggenah babar blas gini kang. Bisa masak nggak sih kang sampeyan..? Onde-onde ceplus kok berantakan rasanya..
Mbleweh : Woooo..dapurmu.. lambemu ndoweh kuwi… Ha wong barang mentah kok diunthal. Yo genah pating klenyit rasanya. Ha mbok sabar, nunggu ini digoreng dulu. Kalo sudah mateng, silaken dinilai. Ha wong barang mentah sudah dikomentari.. cah gemblung..
Ndoweh : Wooo.. lha ayak. Ternyata mentah tho..
Mbleweh : Makanya sabar. Gak usah buru-buru nyacat. Mending kamu mbantu mbikin glindingannya. Biar cepet selesai.
Ndoweh : Yo
Sepenggal kisah di atas hanyalah ilustrasi. Bahwa untuk mencapai suatu hasil, memerlukan suatu proses. Adakalanya proses itu sebentar, tapi adakalanya lambat bahkan bertele-tele kalo perlu. Selama proses berlangsung, adakalanya orang yang tidak paham buru-buru menilai. Mending kalo menilainya sesuai tahapan. Yang terjadi, seringkali orang menilai tidak sesuai tahapannya, sebagaimana yang dilakukan oleh kang Ndoweh di atas.
Mbikin onde-onde ceplus hanyalah satu mitsal yang bisa dianalogikan ke banyak hal. Lha bisa dibayangkan kalo ada orang pekok setengah pinter, tiba-tiba pingin nyicipi
Dalam dunia amal perbuatan manusia, seringkali kita melihat adanya satu proses perubahan diri manusia yang tadinya mbejat wal mbromocorah, menuju kepada amal kebaikan. Proses itu adakalanya cepat, namun adakalanya lambat. Tapi yang jelas orang tersebut sedang berproses.
Satu hadits yang panjang menceritakan tentang seorang yang sudah mbunuh 99 nyawa dan pingin mertobat. Dia nanya pada orang yang disebutkan di hadits shahih itu sebagai Rahib. Intinya dia pingin tobat, padahal sudah melibas 99 nyawa. Si rahib bilang, gak ada jalan tobat. Soalnya dosanya sudah ngedab-edabi. Mbunuh satu nyawa semacem anak nabi Adam saja dosanya gede, apalagi ini 99 nyawa. Maka sang rahib pun dilibas juga, geneplah jadi cepek.
Si Rahib tidak melihat proses menuju perbaikan disini. Yang dia lihat hanyalah keburukan yang sudah dan masih menempel pada si pembunuh. Lain halnya saat si pembunuh ketemu orang yang disebut sebagai “alim” di hadits itu. Si ‘alim’ berkata bahwa si pembunuh bisa mertobat, asalkan dia mau hijrah dari desa yang maksiat menuju ke desa yang taat ibadat. Si "Alim" fokus pada proses dan melihat potensi proses perubahan pada si pembunuh. Syarat itu disanggupi si pembunuh. Dia berangkat, di tengah jalan wafat. Malaikat adzab dan malaikat rahmat berdebat. Namun akhirnya si pembunuh selamat. Sampe entar di akherat. Cerita tamat.
Di jaman ini, juri amatiran macem kang Ndoweh banyak berkeliaran dimana-mana. Mereka sibuk memvonis dan berfatwa. Memfatwai dan memvonis kelakuan dan amal ibadah manusia yang memang secara ndohir jauh dari taat, namun si juri lupa bahwa ada proses disitu. Namun proses tak digubris, maka meluncurlah kata-kata : ahli bid’ah, kopar kapir, kaum sesat, jahil, bodoh, ahlul hawa’, munapik, ahlu nar, anjing-anjing neraka serta puluhan kata-kata sopan dan pantas -setidaknya menurut mereka- yang lainnya.
Simbah punya temen mantan preman. Tadinya dia hidup dari malak orang. Singkat cerita dia mertobat. Mbuka warung kecil di samping mesjid. Niatnya pingin ngojek tapi gak gablek duik. Mau kridit takut dosa riba. Ha wong mau mertobat kok diawali pake riba, dia menolak. Namun akhirnya dapet juga dia motor buat ngojek, karena ada seorang sugeh yang baik hati kasih pinjeman tanpa bunga buat mbeli motor. Namun dia sedih, karena miturut beberapa ustadz yang mengaku ahlu sunnah wal jamangah, dia dilaknat Allah gara-gara masih bertatoo. Padahal dia sudah mati-matian menempuh jalan agar tatoonya hilang. Namun tatoo yang dia miliki tak kunjung ilang. Dan sampai saat ini cap laknat masih distempelkan pada dirinya, sementara proses penghilangan tatoonya masih berjalan.
Simbah sempat berpikir, kenapa ulama-ulama yang pinter-pinter itu seringkali menyibukkan dirinya dengan memvonis dan tidak mau sibuk untuk mengubah keadaan yang divonisnya. Seandainya mereka sibuk memperbaiki umat yang divonisnya ngalor ngidul itu, simbah yakin gak ada waktu lagi buat memvonis umat yang memang makin jauh dari taat ini. Gimana umat ini mau jadi baik, manakala keburukan hanya dijadikan bahan untuk divonis, dan proses perbaikan dianggap final… ?? Lha jika ulama model begini ketanggor pembunuh 100 orang yang diceritakan di hadits Nabi, lak sudah dilibas satu-satu sampe tumpes.
So, kita memang hidup di era banyak kegelapan. Tidak perlu sibuk mencela kegelapan dengan banyak jurus dan kosa kata. Cukup datangkan saja penerang, maka kegelapan hilang.
Qul jaa'al haqqu wa zahaqol baathil, innal baathila kaana zahuuqo.....
Rabu, 10 Mei 2017
Antara Wajar dan Normal
Pada suatu waktu, ada seorang pasien yang datang
memeriksakan tekanan darahnya pada simbah. Pasien ini seorang ibu yang sudah
agak lanjut usia. Maka setelah simbah periksa, ternyata tekanan darahnya
150/100 mm Hg. Pasien itu lantas bertanya :
"Normal apa gak mbah?" tanya si pasien.
"Wah, ini tinggi bu. Harus hati-hati," jawab
simbah.
"Lho dok, bukankah saya sudah tua. Katanya kalau
sudah tua, tekanan darah segitu itu dianggap normal." sanggahnya.
"Bukan begitu bu," simbah mulai menerangkan.
"Buat kaum muda atau tua, patokan tekanan darah normal atau tinggi itu
sama saja. Hanya saja kalau sampeyan yang sudah tua ini tekanan darahnya naik,
itu dianggap wajar. Tapi wajar itu belum tentu normal."
Begitulah sedikit percakapan antara simbah dengan salah
seorang pasien. Banyak diantara kita yang tidak bisa membedakan antara wajar
dan normal. Wajar sering disinonimkan dengan normal. Padahal itu belum tentu
sama. Seorang embah-embah yang sudah mambu lemah, seringkali mengalami apa yang
disebut sebagai bolot bin budeg, atau setidaknya berkurang derajat
pendengarannya. Hal ini wajar, mengingat usianya yang sudah udzur. Namun
kekurangan pendengaran ini bukanlah sesuatu yang normal, dan bahkan harus
dikoreksi. Jadi wajar tapi tidak normal.
Gara-gara ketidaktahuan penegertian antara wajar dan
normal ini, banyak penderita hipertensi yang sudah tua tak mau dikasih obat
karena beranggapan bahwa sudah sewajarnya tekanan darahnya tinggi. Padahal
sebenarnya tidak normal. Dan sudah seharusnya tekanan darah yang tidak normal
harus dinormalkan.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal-hal yang
sebenarnya tidak normal tapi dianggap wajar. Seorang anak yang mbelingnya
setengah mati, suka mbandemi teman mainnya, dan suka nyolongi barang
tetangganya, seringkali dianggap wajar. Toh masih anak-anak, wajar kalau
mbeling wal bandel. Tapi seharusnya orang tua memahami, walaupun itu wajar,
tindakan suka mbandemi orang lain dan suka nyolong itu adalah tindakan yang
tidak normal. Maka seharusnya ada tindakan penormalan, yakni dengan pendidikan yang
baik, yang memahamkan pada si anak bahwa tindakannya salah. Sehingga si anak
tidak membawa kebiasaan vandalisme primitifnya itu sampai dewasa.
Di negeri Republik Genthonesia ini, yang namanya nyolong
bin korupsi adalah tindakan wajar. Mengapa wajar? Karena di semua lini
kehidupan, hampir selalu dijumpai adanya oknum mayoritas yang melakukan
tindakan nggentho atawa korupsi ini. Sayangnya banyak yang lupa, bahwa korupsi
itu adalah tindakan yang tidak normal. Butuh terapi yang sangat keras agar
penyakit ini terberantas sampai tuntas. Tapi karena wajar dianggap sama dengan
normal, maka kebanyakan menanggapi dengan nada putus asa... "Ah,
sudahlah..."
Pada sebagian komunitas bejad yang banyak terinspirasi
dari kehidupan kaum bejad di njaban rangkah sana, yang namanya pamer puser
adalah wajar. Itu adalah kebebasan berekspresi untuk menyatakan kemerdekaannya
mempertontonkan jejak ari-arinya. Sang oknum seakan hendak mengatakan, bahwa
dulu dia mendapat makan dan minum dari pusernya itu, maka sudah saatnya sekarang
pun dia kembali mencari makan lewat jejak tali pusernya itu. Pengamat seni yang
menuhankan seni menganggap itu wajar. "Lagi pula kalau pusernya tertutup,
maka jalan rejekinya ikut tertutup juga. Mosok sih kita mau menghalangi orang
mencari makan.." kata mereka.
Begitulah jika kita tinggal di negeri yang segalanya
diukur dari ukuran wajar dan tidak wajar. Kewajaran bisa terwujud jika satu
perbuatan dilakukan berulang-ulang yang akhirnya memasyarakat. Hamil di luar
nikah, dulu dianggap memalukan. Ketika kejadiannya berulang dan memasyarakat,
maka itu dianggap wajar. Kumpul kebo dulunya dianggap bejad bin mursal. Karena
dipromosikan dengan gencar, maka derajatnya naik menjadi wajar. Pamer paha dan
dada dulu hanya dilakukan pelacur yang mau menjual tubuhnya. Wanita terhormat
dianggap tak wajar berperilaku seperti itu. Namun seiring dengan merebaknya
fashion ala pelacur, maka berpakaian ala pelacur menjadi wajar. Berpakaian
tertutup dianggap tidak wajar.
Wajar dan normal adalah dua hal yang berbeda. Kata normal
dipakai untuk sesuatu yang memiliki standart ukuran yang baku. Sedangkan kata
wajar ukurannya hanyalah kebiasaan dan besarnya jumlah. Yang tak biasa dan
jarang disebut tak wajar, yang sudah terbiasa dan sering ditemui dianggap
wajar. Normal tak memperhatikan frekuensi dan jumlah. Di Rumah Sakit Jiwa yang
dipenuhi para pasien yang tak waras, walaupun mereka mayoritas dan berperilaku
wajarnya orang tak waras, mereka dianggap tidak normal. Karena normal memiliki
standar baku yang tak pandang bulu berapapun frekuensi maupun jumlahnya.
Dunia ini sebenarnya memiliki standar baku kenormalan.
Tentu saja standar baku kenormalan ini disusun oleh Yang Menciptakan Dunia,
yang biasa disebut sebagai syariat. Namun kelakuan manusia yang sudah disurupi
oleh iblis menghendaki agar kelakuan tidak normalnya diijinkan. Maka standar
kenormalan diubah menjadi standar kewajaran. Asalkan wajar, walaupun tak normal
dipersilakan saja. Sedangkan yang normal, jikalau tak wajar, pantaslah untuk
ditolak.
Mencuri, berzina, pamer aurat, berjudi, praktek riba,
makan bangkai, minum khamer wal ciu dan segala perilaku bejad lainnya adalah
perilaku yang tak normal. Ketidaknormalan ini oleh para pelakunya dialihkan
menjadi kewajaran agar tampak normal. Namun selamanya yang tak normal akan tetap
tak normal walaupun wajar. Dan segala keabnormalan membutuhkan obat agar
nilainya menjadi normal, walaupun oleh pelaku dan penderitanya dianggap wajar.
Tak semua yang wajar adalah normal. Tak semua yang normal
adalah wajar. Perhatikanlah, manakala ada
satu bangsa yang dengan teganya membantai satu bangsa lain, membunuh anak-anak
dan wanitanya dengan keji, lalu merampas kekayaannya, kita pastilah akan
bertanya bangsa apakah itu?! Manakala dijawab Israel dan Amerika Serikat,
sebagian dari kita akan berkata, “Oo, pantes, wajarlah kalau 2 negeri gentho
itu yang melakukan.” Celakalah satu bangsa yang melakukan satu ketidaknormalan
lalu dianggap wajar.
Minggu, 07 Mei 2017
Es Teh Manis
Di masa SMP, hari tatkala simbah disangoni buat uang jajan hanyalah di hari saat ada pelajaran olahraga. Tak banyak, tapi lumayan lah. Only 50 ripis. Uang sebesar itu hanya bisa dipakai menebus segelas es teh manis di kedai pak Senen di samping gedung sekolah. Jika kebetulan ada konco yang dermawan, simbah masih bisa menebus sebungkus sego kucing seharga 50 ripis juga.
Harga es teh manis ini masih simbah inget benar. Bahkan gambar uang 50 ripisan itu pun simbah juga masih inget. Sehingga, memory harga es teh manis ini membuyar di saat simbah berkesempatan mampir di salah satu café di bandara. Yang simbah pesan sama dengan minuman yang dijual Pak Senen. Tapi, harga yang harus dibayar ternyata melebihi harga obralan sempaknya Mbokdhe Goprot yang sepuluh ribu tiga itu. Bahkan 3 kali lipatnya, yakni 30 rebu ripis. Itu 60 kali lipat harga es teh manis Pak Senen.
Simbah tadinya tak memaklumi. Bayangkan saja, 30 rebu ripis hanya untuk segelas es teh manis. Sewaktu kegumunan simbah ini diutarakan ke beberapa konco, mereka malah justru menjuluki simbah ndeso wal katrok.
“Oalah, Mbah,Mbah… ya memang segitu. Gitu aja kok gumun. Biasa itu, Mbah. Mbok jangan terlalu ndesani tho, Mbah…,” begitu komentar mereka.
Di tahun dan bulan yang sama, simbah masih bisa merasakan es teh manis di tempat lain hanya dengan 1500 ripis. Simbah berpikir mungkin harga 30 rebu ripis itu karena harus bayar pajek ini itu, nggaji si ini dan si itu, nyogok si oknum ini dan si oknum itu, serta uang keamanan buat ormas ini dan ormas itu yang harus dikeluarkan oleh pihak café agar usahanya berdiri mantabh. Atau mungkin karena letaknya di bandara, maka es teh manis harus mahal. Karena, yang bisa naik mongtor mabur bin airplane itu hanya orang kaya. Jadi, kalo dijual murah malah gak bakalan dimasuki konsumen. Karena, orang kaya hanya doyan minuman mahal walau hanya es teh.
Rekan simbah yang ahli marketing beda lagi pendapatnya. Kemahalan harga es teh manis itu bukan karena pajak, atau segala tetek bengek lainnya. Namun, kemahalan harga itu karena lokasinya, yakni di bandara. Di bandara semuanya pantas untuk mahal. Yang murah malah dicurigai, jangan-jangan barang bermasalah. Jadi, di tempat tertentu, harga barang harus mahal karena menyesuaikan diri dengan tempatnya. Dan juga di tempat lain barang bisa jadi murah dan tak pantas mahal jika ingin laku.
Jadi, sesungguhnya semuanya itu hanyalah bahasa marketing, yang harga suatu barang tidak ditentukan oleh zat barangnya, tapi karena lokasinya. Sego pecel yang bener-bener pecel dengan lawuh tahu bacem, bisa berharga limapuluh rebu ripis jika dijual di resto yang lokasinya di Plaza Indonesia atau di resto bandara. Dan dengan segala kendesoan penampilan sego pecelnya, harga itu pantas dan tak diprotes pembeli. Bayangkan jika sego pecelnya Yu Ginem Mbleguk yang mangkal di pojokan pangkalan ojek itu dihargai 50 rebu ripis sepincuk. Opo ora njaluk dipisuhi, atau setidaknya gak bakalan ditengok. Kecuali, oleh Kang Tambi Gembrot yang memang naksir Yu Ginem Mbleguk, berapa pun harganya dia membuta.
Dari sini sebenarnya Sampeyan juga bisa menyimpulkan, bahwa bagi pembeli ada tempat yang tepat agar nominal uang yang Sampeyan keluarkan memiliki nilai pas. Dan perbedaan itu hanya semata-mata karena lokasi jual beli.
Dalam hal jual beli kayak beginian, Allah Swt di dalam Al-Qur`an menempatkan diri-Nya sebagai Pembeli, sedangkan kita diposisikan sebagai penjual. Allah menyatakan bahwa harta dan jiwa orang beriman telah dibeli oleh Allah dengan harga paling pantas, yakni dengan harga surga. Bunyi selengkapnya demikian:
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang beriman, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur`an. Dan siapakah yang lebih menepati janinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu. Dan itulah kemenangan yang besar.” (Q.s. at-Taubah [9]:111)
Persoalannya adalah dagangan Sampeyan digelar di mana? Kalo digelar di lapak yang benar, yakni lapak fi sabilillah, maka harga yang ditawarkan Allah sangatlah pantas. Dan, perlu dipahami, begitu lapaknya benar, maka transaksi sudah terjadi. Karena bentuk bahasa yang ditawarkan Allah menggunakan bentuk lampau, yang menunjukkan telah terjadi deal harga. Padahal, jika Sampeyan inget dan nyawang githok Sampeyan, harta dan jiwa yang ada pada Sampeyan itu milik Allah juga. Jadi, ibaratnya Sampeyan itu sudah dipinjemi, trus yang minjemi malah membeli barang yang Sampeyan pinjam dengan harga mahal pulak. Jian bejo kemayangan…!
Namun, jika dagangan Sampeyan diletakkan di lapak deket pangkalan ojek, harta, dan jiwa Sampeyan hanya akan dihargai senasib dengan harga sego pecelnya Yu Ginem Mbleguk. Itu pun kalo laku. Dan inget, dagangan Sampeyan itu hasil minjem. Jadi Sampeyan dipinjemi lalu dijual ke pihak lain. Ini namanya tidak amanah alias pengkhianat.
Jadi jika mau menjadi orang beriman yang senantiasa sibuk berada di jalan Allah, harga hidup Sampeyan ibarat harga makanan kelas resto bandara, bahkan lebih berkali lipat. Namun jika salah taruh, hidup Sampeyan sekadar bisa hidup. Dan, Sampeyan hidup dalam pengkhianatan karena menjual barang titipan pada pihak lain dengan harga yang tidak pantas. Hidup adalah jual beli, juallah ke pembeli yang memberi harga terbaik. Harga terbaik hidup kita adalah surga.
Rabu, 26 Agustus 2015
Plu Celeng
Salah seorang kawan simbah yang biasa blayangan ke njaban rangkah seringkali membandingkan kondisi sanitasi lingkungan di Indonesia, khususnya di Daerah Khusus Ibukota mBetawi dengan negeri-negeri yang konon maju macem Singapura, Hong Kong, mBeijing dll.
Tak bisa dipungkiri, kekemprohan warga mBetawi Raya ini memang sangatlah mblondrok sekali. Dengan anggunnya kekemprohan itu diperagakan melalui aliran sungai yang lebih tepat disebut The Giant Comberan. Atau melalui gunungan sampah yang dirubung laler dan belatung beraroma jumbleng. Atau kelakuan warga yang seenaknya ngidu wal meludah sak karepe jidat, atau mbuang ingus yang mungkin berpirus, atau mbuang hajat seenak pantat.
Selalu dan selalu sang kawan berkomentar, dengan beragam komentar melihat perilaku kemproh dan tidak disiplin warga mBetawi yang barusan ulang tahun ini. Misalnya :
“Wah, kalo di Singapur, ngidu kayak preman itu sudah didenda sekian dollar tuh.” katanya saat melihat preman ngidu nggilani yang didahului bunyi khoak-khoek yang meneror sistem antimuntah kita.
“Lhadalah, lha kali kok nggilaninya ngudubilah setan. Kayak gitu kok buat ciblon adus plus umbah-umbah. Opo gak gudigen orang-orang itu. Lhah, itu malah kumur-kumur buat gosok gigi… jian kumuh temen..” katanya saat melihat asiknya komunitas pengguna air Ciliwung yang sedang memanfaatkan hitamnya air Ciliwung untuk kebutuhan sehari-hari mereka.
Simbah sendiri juga lumayan gumun. Rumah simbah sendiri deket dengan perkampungan sampah. Dimana lahan sampah berhektar-hektar dihuni oleh ratusan rumah yang mengelilinginya, dan mereka mendapat penghidupan dari sampah. Jika lewat area situ, lobang hidung orang sehat tak akan betah terbuka lama-lama. Pasti langsung ditutup. Karena jikalau tidak, aroma badeg berkekuatan 3 megaton enthut mberut akan segera menghantam hidung sampeyan jika lewat situ. Namun herannya warga situ malah tinggal dengan nyaman dan sentausa. Seringkali simbah lihat orang-orang pada ngopi di areal yang badegnya bikin tobat nasuha itu dengan nyaman dan tentram.
Lebih mengherankan lagi, penyakit yang menghebohkan dunia justru tidak datang dari lingkungan mereka. Plu Genjik alias Plu Celeng atau plu apalah itu namanyah, justru berkembang biak dari negeri bersih kempling yang dipuji-puji karena kedisiplinan kebersihannya. Plu menghebohkan itu tumbuh subur di negeri yang jika meludah sembarangan saja didenda. Justru tidak datang dari negeri yang warganya jika mbenjret di pojokan terminal, bukannya ditegur, tapi malah ditambahi gunungan mbenjretannya.
Salah seorang tokoh yang diklaim sebagai ahli hikmah mengatakan, bahwa kekemprohan batiniah efeknya lebih menakutkan dan mematikan daripada kekemprohan lahiriah. Kekemprohan lahiriah menimbulkan penyakit lahiriah saja. Sedangkan kekemprohan batiniah, selain menggerogoti kesehatan batiniah, akan menggerogoti kesehatan lahiriah secara akut. Buktinya ya peristiwa plu celeng ini.
Sebersih apapun kotanya, karena kelangenannya ngemplok celeng yang diharamkan Yang Mencipta Celeng, maka didatangkanlah musibah beruntun yang berasal dari celeng. Bukan hanya plu yang bisa dicangking sang celeng. Sejarah mencatat sekian parasit, bakteri dan virus bercokol dengan mantabh di binatang kelangenannya penikmat kuliner haram itu.
“Lho mbah, kalau begitu sampeyan hendak membela kekemprohan jasmani warga kumuh yang kebanyakan muslimin itu? Jadi apakah miturut simbah lebih baik kemproh mambu tapi sehat daripada bersih kempling tapi sumber penyakit maut?” mungkin itu yang menjadi pertanyaan sampeyan saat membaca tulisan simbah.
Lhadalah, bukannya kita sudah diajarkan bahwa kita harus menjaga kebersihan jasmani dan rohani. Kalau masih kemproh, berarti Islamnya belum kaffah. Kalo masih mbenjret sembarangan, berarti ada unsur kapirnya disitu, dalam artian kapir terhadap nikmat Allah. Bukan kapir yang mengeluarkan dari islam, tapi kapir yang menghina keindahan ajaran Islam yang mengajarkan kebersihan jasmani.
Hanya saja simbah ingin menunjukkan, kerusakan akibat kekemprohan ruhani itu memang lebih merusak dari kekemprohan jasmani. HIV AIDS, plu celeng, bahkan plu burung yang akhir-akhir ini ditakuti, lahir dari permisivitas terhadap larangan Sang pencipta. Walaupun derivatnya tidak selalu begitu. Derivat penderitanya lahir karena mendiamkan kenyataan bahwa yang haram dibiarkan diterjang tanpa ada tindakan mencegah dan menasehati. Semuanya karena kebebasan. Bebas mau ngemplok yang haram atau halal. Toh tidak ngganggu hak orang lain, itu kata mereka.
Tidak!! Semua perbuatan haram, walaupun dilakukan ditengah hutan sendirian, atau di Kutub selatan sendirian, pasti akan berdampak pada orang lain. Tak ada maksiat yang tak berdampak pada orang lain. Lantas kalo begitu, kita mau diam saja membiarkan yang haram dinikmati setiap hari dengan alasan tak mengganggu hak orang lain? Genjik bin babi, aurot binti syahwat dan setumpuk barang haram digelar didepan sampeyan. Tak usah bertaruh apakah musibah akan datang lagi dari kemaksiatan. Karena selamanya orang yang ‘pinter-pinter’ itu tak akan menemukan korelasi antara maksiat dan adzab. Kalo ketemu korelasinya, mereka sudah tobat dari dulu….
Tak bisa dipungkiri, kekemprohan warga mBetawi Raya ini memang sangatlah mblondrok sekali. Dengan anggunnya kekemprohan itu diperagakan melalui aliran sungai yang lebih tepat disebut The Giant Comberan. Atau melalui gunungan sampah yang dirubung laler dan belatung beraroma jumbleng. Atau kelakuan warga yang seenaknya ngidu wal meludah sak karepe jidat, atau mbuang ingus yang mungkin berpirus, atau mbuang hajat seenak pantat.
Selalu dan selalu sang kawan berkomentar, dengan beragam komentar melihat perilaku kemproh dan tidak disiplin warga mBetawi yang barusan ulang tahun ini. Misalnya :
“Wah, kalo di Singapur, ngidu kayak preman itu sudah didenda sekian dollar tuh.” katanya saat melihat preman ngidu nggilani yang didahului bunyi khoak-khoek yang meneror sistem antimuntah kita.
“Lhadalah, lha kali kok nggilaninya ngudubilah setan. Kayak gitu kok buat ciblon adus plus umbah-umbah. Opo gak gudigen orang-orang itu. Lhah, itu malah kumur-kumur buat gosok gigi… jian kumuh temen..” katanya saat melihat asiknya komunitas pengguna air Ciliwung yang sedang memanfaatkan hitamnya air Ciliwung untuk kebutuhan sehari-hari mereka.
Simbah sendiri juga lumayan gumun. Rumah simbah sendiri deket dengan perkampungan sampah. Dimana lahan sampah berhektar-hektar dihuni oleh ratusan rumah yang mengelilinginya, dan mereka mendapat penghidupan dari sampah. Jika lewat area situ, lobang hidung orang sehat tak akan betah terbuka lama-lama. Pasti langsung ditutup. Karena jikalau tidak, aroma badeg berkekuatan 3 megaton enthut mberut akan segera menghantam hidung sampeyan jika lewat situ. Namun herannya warga situ malah tinggal dengan nyaman dan sentausa. Seringkali simbah lihat orang-orang pada ngopi di areal yang badegnya bikin tobat nasuha itu dengan nyaman dan tentram.
Lebih mengherankan lagi, penyakit yang menghebohkan dunia justru tidak datang dari lingkungan mereka. Plu Genjik alias Plu Celeng atau plu apalah itu namanyah, justru berkembang biak dari negeri bersih kempling yang dipuji-puji karena kedisiplinan kebersihannya. Plu menghebohkan itu tumbuh subur di negeri yang jika meludah sembarangan saja didenda. Justru tidak datang dari negeri yang warganya jika mbenjret di pojokan terminal, bukannya ditegur, tapi malah ditambahi gunungan mbenjretannya.
Salah seorang tokoh yang diklaim sebagai ahli hikmah mengatakan, bahwa kekemprohan batiniah efeknya lebih menakutkan dan mematikan daripada kekemprohan lahiriah. Kekemprohan lahiriah menimbulkan penyakit lahiriah saja. Sedangkan kekemprohan batiniah, selain menggerogoti kesehatan batiniah, akan menggerogoti kesehatan lahiriah secara akut. Buktinya ya peristiwa plu celeng ini.
Sebersih apapun kotanya, karena kelangenannya ngemplok celeng yang diharamkan Yang Mencipta Celeng, maka didatangkanlah musibah beruntun yang berasal dari celeng. Bukan hanya plu yang bisa dicangking sang celeng. Sejarah mencatat sekian parasit, bakteri dan virus bercokol dengan mantabh di binatang kelangenannya penikmat kuliner haram itu.
“Lho mbah, kalau begitu sampeyan hendak membela kekemprohan jasmani warga kumuh yang kebanyakan muslimin itu? Jadi apakah miturut simbah lebih baik kemproh mambu tapi sehat daripada bersih kempling tapi sumber penyakit maut?” mungkin itu yang menjadi pertanyaan sampeyan saat membaca tulisan simbah.
Lhadalah, bukannya kita sudah diajarkan bahwa kita harus menjaga kebersihan jasmani dan rohani. Kalau masih kemproh, berarti Islamnya belum kaffah. Kalo masih mbenjret sembarangan, berarti ada unsur kapirnya disitu, dalam artian kapir terhadap nikmat Allah. Bukan kapir yang mengeluarkan dari islam, tapi kapir yang menghina keindahan ajaran Islam yang mengajarkan kebersihan jasmani.
Hanya saja simbah ingin menunjukkan, kerusakan akibat kekemprohan ruhani itu memang lebih merusak dari kekemprohan jasmani. HIV AIDS, plu celeng, bahkan plu burung yang akhir-akhir ini ditakuti, lahir dari permisivitas terhadap larangan Sang pencipta. Walaupun derivatnya tidak selalu begitu. Derivat penderitanya lahir karena mendiamkan kenyataan bahwa yang haram dibiarkan diterjang tanpa ada tindakan mencegah dan menasehati. Semuanya karena kebebasan. Bebas mau ngemplok yang haram atau halal. Toh tidak ngganggu hak orang lain, itu kata mereka.
Tidak!! Semua perbuatan haram, walaupun dilakukan ditengah hutan sendirian, atau di Kutub selatan sendirian, pasti akan berdampak pada orang lain. Tak ada maksiat yang tak berdampak pada orang lain. Lantas kalo begitu, kita mau diam saja membiarkan yang haram dinikmati setiap hari dengan alasan tak mengganggu hak orang lain? Genjik bin babi, aurot binti syahwat dan setumpuk barang haram digelar didepan sampeyan. Tak usah bertaruh apakah musibah akan datang lagi dari kemaksiatan. Karena selamanya orang yang ‘pinter-pinter’ itu tak akan menemukan korelasi antara maksiat dan adzab. Kalo ketemu korelasinya, mereka sudah tobat dari dulu….
Langganan:
Postingan (Atom)





