Tampilkan postingan dengan label Taubat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taubat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Oktober 2020

ISTIGHFAR

Punya anak 11 bukanlah beban ringan. Itu yang simbah rasakan saat ini. Apalagi separoh lebihnya masih anak-anak usia SD dan Balita. Yang kalau main, pecicilannya bikin rumah amburadul kayak kapal pecah tenggelam dibom atom trus diorak-arik.

Dan mau tak mau hampir setiap hari simbah harus bersabar menata ulang kasur, sprei, meja, kursi, dan perabot lainnya. Perabot rusak sudah tak terhitung. Beberapa benda simbah beli berulang-ulang karena juga berulang-ulang diremuk sama anak-anak. 

Semisal kacamata. Sudah berapa kali beli baru lagi, sampai lupa. Lha si kriwil yang 2 tahun kalo ketemu kacamata simbah, nafsu buat nekuk-nekuk framenya muncul. walhasil kacamata selalu prothol. Gelas, piring, dan mug jelas langganan buat jatuh pecah. Yang rutin harian bikin pegel adalah sprei dan kasur. Sehari harus ditata berulangkali karena buat ajlug-ajlugan. Spring bed yang ancur sudah beberapa. Sebagian sudah direcycle dan diperbarui. Efek samping anak-anak suka lonjak-lonjak dan pecicilan di tempat tidur.

Sebagai orang tua, saat membenahi semua keamburadulan itu simbah kadang ya ndongkol. Tapi ya pigimana lagi. Memang kelakuan anak-anak yang masih precil ya begitu itu.Apalagi kalau pas dimarahi mereka minta maaf, wah maknyes nyang ati. Maka walaupun setiap hari ada kejengkelan saat mbenahi semua kekacauan yang ada, namun saat lihat wajah anak-anak yang culun dan kadang mbantu merapikan kamar, hati simbah ya ayem lagi.

Simbah jadi ingat sama Gusti Yang Murbeng Dumadi, Allah subhanahu wa ta'ala. Simbah sampai yakin, mungkin kita ini dilihat Allah sebagaimana orang tua lihat pecicilan anak-anaknya. Lha tiap hari lihat hamba-Nya bolak-balik maksiat, padahal sudah dilarang. Lalu setelah itu istighfar. Habis istighfar rada mapan, maksiat lagi. Lalu istighfar lagi. Itu kan ibarat kayak anak-anak yang tadinya ngorak-arik kasur lalu dirapikan lagi, trus berantakan lagi trus dirapikan lagi. 

Saat morak-marik ya bikin dongkol. Tapi saat lihat wajah-wajah culun yang penuh penyesalan, semua hilang.

Lha simbah yakin, Allah itu lebih dari itu. Ampunan Allah sudah pasti tersedia bagi yang mau mengambilnya. Meskipun si hamba berulang-ulang melakukan hal sama. Simbah yakin selama masih mau menyesal dan istighfar. tetap akan diampuni. 

Justru saat si hamba mulai enggan ambil istighfar karena tahu nanti akan maksiat lagi, itu justru moment setan ambil bagian. Dimasukkan syubhat ke dalam hati si hamba, "Ngapain lo istighfar, toh ntar maksiat lagi. Allah kagak mau istighfar model gituan. Jadi istighfarnya ntar aja kalau sudah numpuk banyak lalu baru tobat beneran. Jadi kagak malu-maluin."



Ada yang bertanya kepada Al-Hasan al-Bashri:

"Apakah kita tidak malu kepada Allah jika beristighfar minta ampun dari dosa kemudian kembali maksiat lalu istighfar lagi kemudian maksiat lagi."

Beliau menjawab: "justru syaitan berharap menang dari kita dengan sebab meninggalkan istighfar.
Maka Janganlah kalian bosan beristighfar!" 

Nah, sumangga biasakan istighfar berulang-ulang. Bencana sebenarnya adalah saat kita enggan beristighfar setelah maksiat.

Kamis, 16 Januari 2020

Maling


Kemarin Sabtu simbah pulang kampung ke Solo. Baru ke Jakarta lagi hari Selasa. Ada kejadian yang mbikin simbah agak miris sewaktu simbah balik ke Jakarta.

Sore itu simbah naik bis jurusan Solo-Jakarta. Di awal perjalanan, sang sopir dan kenek yang bertugas mendapat tawaran ngangkut barang sejumlah 15 karung. Sang Kondektur prengas prenges mengiyakan, karena ini berarti obyekan alias sabetan di luar inkam rutin dari penumpang resmi. Toh kalo diperiksa, penumpangnya cocok jumlahnya. Yang pasti gak diperiksa adalah bagasi, karena itu sudah pasti barang-barang milik penumpang.

Namun pada kasus ini kenyataannya tidak. Barang yang di bagasi itu adalah barang titipan yang harus diantar ke tujuan, yang tentu saja dengan biaya angkut tersendiri. Nah ini adalah kue buat sopir, kenek dan kondekturnya. Maka dengan semangatnya mereka njemput barang tersebut.

Simbah kira barang itu adalah beras sejumlah 15 karung. Setelah ketemu karungnya, jebulaknya karung itu berisi pete sak arat-arat. Lagian karungnya gedhe-gedhe. Maka dengan setengah mekso, karung itu dijejel-jejelkan ke bagasi. Sisanya yang 3 karung karena bagasi gak muat lagi, dijejelne ke toilet… Hwarakadah, bus yang judulnya “Bus Eksekutip AC Toilet” akhirnya kehilangan toiletnya karena dijejeli pete telung karung. Oalaah, dasar manungso ngrekes

Dari 5 orang oknum bus yang terlibat pengangkutan pete itu, yang 2 orang langsung teler kambonan pete. Sedangkan yang 3 orang bertugas seperti biasa. Simbah sudah ngerasa gak enak duluan. Lha ini bus jelas-jelas main korupsi, simbah kawatir terjadi apa-apa di jalan. Apalagi saat oknum pegawai bus itu lagi ngangkut karung, tiba-tiba juragan bus tersebut lewat… kontan saja para oknum pegawai korup itu pecicilan bersembunyi dan pura-pura tak terjadi apa-apa.

Setelah beres mengurus angkutan haram itu, bus pun berangkat dengan sentausa. Namun sesampainya di Boyolali, bus yang simbah tumpangi mau nubruk bus yang ada di depannya yang kebetulan ngerem mendadak. Rupanya bus yang di depan simbah kedapatan ada 2 orang, entah pengamen yang nodong atau malah copet, sedang diboboki dan digajuli sak kayange oleh massa.
Melihat kejadian itu sopir, kondektur dan kenek yang menyaksikan adegan itu berkomentar.. :
“Nyuoh kowe… modar pora.. hayo boboki aja. Ben kuapok.. dasar maling. Hayoh koploki sisan!!” sang kondektur nyemangati.

“Weleh.. maling nekat. Bandemi pisan ben kapok. ..” yang lain ikut menimpali. Sedangkan simbah sendiri miris. Ha wong menyaksikan 2 pemuda harapan bangsa dibandemi sampai kojor. Bahkan sesampai di kantor polisi pun, 2 oknum maling atau penodong itu pun masih diboboki di depan aparat. Herannya aparat polisi yang bertugas diem saja.

Coba sampeyan pikirken…., kondektur, kenek dan sopir yang jelas-jelas bareng-bareng maling hak boss mereka pun masih berkomentar miring pada maling lain yang kebetulan dibonyoki rame-rame. Apa mereka gak nyadar kalo sebenarnya derajat mereka pun jebulaknya sama. Sesama maling, tapi gak nyadar.

Barangkali yang begini juga yang dialami bangsa ini, sehingga korupsi gak bisa ilang. Ha wong yang mbrantas dan yang dibrantas, sama-sama koruptor. Yang dibrantas adalah koruptor tulen, yang mbrantas adalah koruptor laten berpotensi besar, atau setidaknya koruptor dengan lepel lebih kecil.
Bahkan korupsi pun merangsek masuk di meja pasien simbah. Beberapa oknum pasien seringkali merayu-rayu minta dibuatkan surat sakit. Biasanya kebanyakan terjadi di hari Senen. Soalnya minggunya biayakan dan pecicilan, nah pas hari senennya males-malesan masuk kerja. Akhirnya sang dokter dilibatkan buat korupsi. Ada dokter yang senang hati membuatkan secarik surat korupsi itu asalkan taripnya sesuai, namun buat simbah hal yang begini ini penyakit sampah masyarakat. Ratusan bahkan mungkin ribuan karyawan yang biasa bernaung di bawah bendera “wong cilik” seringkali terlibat korupsi kelas ceremende ini.

Namun kalo sudah turun ke jalan, mereka dengan nyaringnya meneriakkan slogan “Berantas Korupsi” dengan sambil nyanyi-nyanyi dan sambil mledang-mledingke bokong ke kanan dan ke kiri. Sedih….

Satu pelajaran lain yang juga simbah ambil dari kejadian di perjalanan itu adalah, betapa sebagian orang untuk nyari sesuap nasi membutuhkan usaha sedemikian gigih dan ngedab-edabi. Dua pemuda yang simbah saksiken itu, koret-koret sesuap nasi dengan bertaruh nyawa di jalan haram. Kru bus yang pasti punya anak isteri itu, biayakan ngempet bau pete buat nyukupi kebutuhan keluarganya. Sayang, rejekinya dijemput di jalan yang salah.

Sedangkan di sisi lain, di negeri tercinta ini juga, sebagian orang menghabiskan 2 juta ripis buat beli sempak bin CD, 5 juta ripis ludes hanya buat beli dasi, puluhan juta ripis menguap buat belanja pupur sama benges buat mbengesi lambe kaum hedonis. Sedangkan kelompok yang lain sibuk membuat tontonan yang mempertontonkan gaya hidup kaum bersempak 2 juta ripis itu di layar kaca, yang membuat 2 pemuda copet beserta kaumnya itu terngowoh-ngowoh mati kepengen.

Coba sampeyan bayangkan, jika sampeyan dan tetangga sekampung semuanya lawuhnya tempe dan krupuk, simbah kira krupuk dan tempe itu akan terasa lezat. Namun bayangkan jika tiba-tiba ada 2 keluarga petentang petenteng nyangking iwak pitik beserta sampil wedhus yang diguyur kuah santen sampek mlekoh… trus makan temblang-tembleng secara demonstratip di depan mata orang sekampung, simbah yakin coklatpun serasa tai kucing, apalagi krupuk sama tempe…

Halal Batas Haram


Yang namanya halal dan haram itu sebenarnya sudah jelas. Tapi hananging wal hanamun, di dunia kasunyatan definisi kedua hal tersebut bisa tumpang tindih, tumpang suk dan gaprukan sesuai kehendak napsu dan setan. Termasuk istilah haram batas halal ini. Sebetulnya mumetke, tapi dipake di segenap penjuru negeri, terutama bagi kalangan koruptor. Baik kelas kakap maupun kelas ceremende.
Apa tho Mangsudnya haram batas halal itu? Bagi sampeyan yang belum kesentuh istilah laknat ini memang mbikin kening berkerut. Tapi bagi yang sudah kenyang dengan harta kelas beginian, sampeyan yang belum tahu malah akan dicap sok suci dan tinggal nunggu tanggal mainnya ikut ngunthal harta macem ginian. Cuma masalah waktu saja, katanya.

Jika ada kacung disuruh potokopi oleh bos eselon satu, potokopinya senilai tigabelas rebu mangatus ripis, lalu kwitansinya senilai itu juga, maka itu kelas HALAL murni. Jika kwitansinya senilai tigapuluh rebu ripis, maka ini sepakat haram, setan pun sepakat. Tapi jika nilai kwitansinya limabelas rebu ripis, inilah yang disebut haram batas halal. Karena cuma sewumangatus ripis, itu batas kebolehan buat ngambil yang haram, sesuai kesepakatan nepsu, akal dan setan alas kobar. 

Kang Darmo Dimpil bilang, “Wajar lah ngambil segitu, kan gak gedhe-gedhe amat. Etung-etung buat jerih payah nyebrang jalan raya.”

Dan kebanyakan dari kita mengamini cobrotannya kang Darmo Dimpil tersebut.

Maka ketika pak bupati dapet proyek perbaikan jalan di wilayah yang dikangkanginya, sang kontraktor jangan harap dapet dana 100% buat mbikin jalan tersebut. Jikalau sang Bupati ngambil 15% saja, maka itu dianggap batas halal dari yang haram. Kalo ngambil 30% akan dianggap masih dalam haram batas halal, tapi dengan resiko nyiprati moncong di kiri kanan biar gak berkicau nyaring bak emprit dipakani kroto. Paling gak 10% nya diciprat-cipratke buat pagar pengaman. Kalo bupatinya ngambil 50%, ini dianggap  keterlaluan. Apalagi gak ada nyiprat-nyipratnya babar blas. Koruptor satelit disisi sang bupatipun sepakat, ini haram.

Herannya, tetep saja ada oknum manungso model begituan. Proyek jalan bernilai puluhan M, baru diliwati andong sudah semplak aspalnya. Karena mutu aspalnya bener-bener ASPAL. Lha diemplok 50%, melewati ambang batas haram yang dibolehkan. Bayangkan jika sang Bupati ngambil 25% saja, jika nilai kontraknya 50 M maka bisa dibayangkan yang masuk kantong sang Bupati. Dan perlu diketahui, 25% itu masih di ambang haram batas halal. Ediyan tenan. Njaluk dislomot neroko jahanam tenan.

Makanya dimusim Pilkadal saat ini, banyak kadal yang mulai berhitung. Tarohlah buat menang butuh biaya dan biayakan 50 M, itu nilai yang kecil, dibandingkan dengan yang akan diperolehnya dalam jangka 5 tahun ke depan. Ada bupati yang pada tahun pertamanya sudah BEP. Tahun kedua mbangun 5 SPBU, tahun ketiga ekspansi bisnis, tahun keempat dan kelima persiapan kampanye. Bupati mana itu? Mang goleki dewe, paling-paling bupati Kadipaten Karang Tumaritis.

Lha yang nglangut tetep rakyat kecil. Mau makan nasi, harga beras naik. Mau nggoreng lawuh, minyak gorengnya ikutan naik. Mau minum, tarif PDAM naik juga. Hidup macem lomba panjat pinang. Cuma buat ngraih satu tujuan, kudu ngidak-ngidak konco, menjatuhkan yang lain, itupun pakek mlorot-mlorot dan dilorot. Kalo sudah dapet isine ra mbejaji. Sedangkan yang diraih, makin menjauh dan keliatan naik saja.

Mulailah dari diri kita. Sampeyan semua dan simbah juga. Berapapun yang bukan hak milik kita, haram hukumnya. Gak ada batas halalnya buat barang yang haram.


Takdir Sebagai Kambing Hitam


Sudah beberapa kali simbah menerima email konsultasi yang isinya senada dengan bunyi email di bawah ini :

“Mbah, perkenalkan nama saya Gemblong. Saya lahir pada tanggal 7 Mei 1978 jam 02.00 pagi. Saat ini saya sedang membina hubungan dengan gadis bernama Brintik yang lahir pada tanggal 4 Agustus 1982. Menurut simbah, pigimanakah nasib perjodohan kami? Apakah sejodoh,langgeng,… atau malah berantakan?Apakah yang sebaiknya saya kerjakan agar perjodohan kami ini lancar?
Terimakasih atas jawabannya ya mbah…”

Entah darimana sang pembaca mendapat inspirasi buat mengirim email ini. Lagian simbah juga tidak memasang iklan menerima konsultasi nasib.. Tapi di artikel itu simbah justru tidak mendukung adanya praktek ramal meramal nasib ala dukun-dukun online via SMS itu. Mungkin oknum Gemblong ini cuma mbaca judul tanpa mbaca isinya….

Ditilik dari isinya, secara keseluruhan menggambarkan point pokok isi dari otak para pencari kabar masa depan. Rata-rata pencari kabar nasib, menanyakan hal tersebut. Bagi sampeyan-sampeyan yang masih single, baik berstatus sebagai pejantan tangguh, bujang lapuk, Duren (duda keren), Dublag (Duda hampir nggeblag alias duda udzur), perawan ting-tong, janda kembang ataupun janda kembung, nasib perjodohan maupun hidup sampeyan bukanlah hal yang harus diketahui sekarang. Nasib Masa depan sampeyan dibangun oleh sampeyan sendiri. Sampeyan setiap saat disodori multiple choice yang ketika memilih satu dari sekian pilihan yang disodorkan itu, sampeyan memilihnya dengan sadar dan merdeka.

Nggak ada yang maksa sampeyan untuk minum Es Mambo ketika sampeyan haus, di saat ada pilihan es Puter, es Doger maupun es Dung-dung. Sampeyan sendiri yang milih dengan sadar es mambo tersebut.

Nggak ada yang maksa sampeyan buat menzinahi si Denok Deblong atau mau menikahinya secara syah, karena ketika menentukan pilihan itu tak ada yang menghipnotis sampeyan, dan sampeyan memilihnya dengan penuh kesadaran.

“Lha lantas, pigimanakah dengan pengertian bahwa Jodoh itu ada di tangan Tuhan?” tanya Salah seorang single fighter yang penasaran.

Jawabannya mudah. Jawabannya ada di pertanyaan simbah berikut: “Apa sih yang tidak berada di tangan Tuhan?” Tidak hanya perjodohan coy…. Semuanya berada di bawah genggaman Tangan Tuhan. Bahkan ledakan supernova yang jauhnya berjuta tahun cahaya dari bimasakti, yang meledak di saat sampeyan semua ngowoh sampai klebus bantal sampeyan, itupun di Tangan Tuhan. Juga golnya Maradona….

Simbah gak habis pikir, di saat ada pasangan selebritis dimana yang perempuan gak becus ngurus anak dan suami,lalu dicerai oleh suaminya, si perempuan masih saja bilang….
“Yah bagaimana lagi…memang bukan jodoh saya. Tuhan belum menghendaki perjodohan ini langgeng…”

Ha kok yang disalahkan malah Tuhan, sekaligus mengkambinghitamkan perjodohan. Ha genah jelas-jelas dia dicerai gara-gara kelakuan dia yang gak becus ngurus anak dan suami kok yang disalahkan Tuhan.

Lain lagi dengan si miskin yang mengkambinghitamkan takdir. Dari pagi buta sampai senja rabun kerjaannya cuma udad-udud, eca-eco ala kere ayem. Kalo dinasehati dan disuruh kerja, jawabannya standart : “Rejeki itu di tangan Tuhan. Kalo jatah di lauhul mahfudz sono cuma sak iprit, ya percuma kerja keras. Dapetnya tetep saja sedikit. Tapi kalo memang jatahnya gedhe, meskipun saya nglekaran kayak gini tetep bisa sugeh.” Dan dia gak sugeh-sugeh setelah prinsip dia itu dipegang hampir setengah abad.

Tak ada yang salah dengan kata-kata yang mereka gunakan sebagai alasan tersebut. Yang salah adalah, mereka memahaminya separo. Dalam ajaran yang utuh, benar diakui bahwa takdir ada yang mengatur. Mengatur disini bukan dalam artian diskenario sekehendak hati secara acakadut bin random. Tapi diatur dengan tertib yang baku dan ketat. Maka Allah selalu menggunakan kata-kata :
“Barangsiapa begini,maka begini…. Barang siapa begitu,maka begitu…..”

Sementara otaknya si miskin ahli takdir dan rombongannya itu pinginnya “Barangsiapa begitu maka tidak begitu… barangsiapa begini,maka tidak begini..”

Berpuluh kali simbah mengalami jawaban dari embah-embah mambu lemah yang simbah ajak untuk sadar dan mau nglakoni ngibadah, “Oalah kang, lha kalo saya dapet hidayah dan sudah takdirnya, entar kan berangkat sendiri. Sampeyan gak usah repot-repot ngajaki saya.”

Tapi herannya, mereka itu kalo haus, bingung nyari minum. Dan kalo laper, bingung cari makan. Kok nggak diem aja di tempat, nunggu takdir kenyang sendiri. Mengapa begitu ya? BBM naik ikut marah, dipukul mbales, dihina tersinggung….. Harusnya kan diterima aja, ha wong sudah takdirnya. Dasar tidak fair……!!

Yang banyak dilupakan orang-orang model si miskin ahli takdir dan si “jodoh di Tangan Tuhan” itu adalah,bahwa Allah dan kanjeng Nabi memerintahkan kita untuk beramal. Gak usah mikir takdir, itu hal rumit yang sudah ditangani dengan sempurna oleh Allah. Gak usah kawatir Allah lalai atau lupa dan dholim mengatur takdir kita. Allah tidak seperti itu. Jadi beramalah, bekerjalah dan berbuatlah. Karena beramal,bekerja dan berbuat itu PERINTAH Allah dan Nabi-Nya. Jangan merisaukan hasil. Karena yang diminta adalah proses. Kita tak dimintai tanggung jawab atas hasil. Seluruh perintah dan larangan Allah adalah berkenaan dengan proses. Keberhasilan adalah kemauan menjalani proses yang benar.


Kapal Bocor


Beberapa waktu lalu simbah mendapat kabar bahwa beberapa perusahaan leasing mobil di Jakarta ini terancam kukut. Penyebab yang langsung dituding adalah krisis keuangan global. Karena sampai saat ini kata-kata “krisis keuangan global” adalah kata-kata ampuh untuk dijadikan biang kerok segala macam kejadian yang gak mbejaji. Tersiar pula kabar bahwa beberapa perusahaan tekstil dan industri lain mulai memanggil karyawan-karyawannya untuk ditawari memilih satu diantara 2 opsi. Yakni pilih mundur teratur atau mundur kabur. Jika mundur teratur akan disangoni walau gak mitayani. Tapi kalau mau bertahan, diramalkan di awal tahun 2009 perusahaan akan kolaps dan karyawan jangan harap dapat pesangon apapun, karena pemilik perusahaannya gak bakalan mampu dan justru memilih kabur dari tanggung jawab.

Kang Waluyo Pithut, salah seorang pemilik showroom mobil di bilangan Jatinegara mulai menggerutu, “Sebetulnya krisis ini apa tho penyebabnya? Katanya semua ini gara-gara Amerika Koplo. Gara-gara kelakuan mbejat segelintir jidat saja kok mbikin dunia jungkir balik,” keluhnya.
Simbah sendiri gak begitu paham perihal teori-teori ekonomi yang dipakai oleh ahli-ahli ekonomi dunia itu. Tapi yang jelas segala bentuk teori ekonomi yang sekarang ini dipakai, ternyata berujung pada krisis keuangan global seperti sekarang ini. Hampir semua ahli ekonomi menyusun kebijakan ekonominya untuk menyejahterakan rakyatnya. Semua negara menerapkan kebijakan ekonominya berdasarkan saran ahli-ahli ekonominya. Namun melihat krisis keuangan yang sekarang ini sedang melanda, timbul rasa skeptis pada diri para ahli ekonomi itu. Jangan-jangan segala macam bentuk teori ekonomi yang sekarang ini dijalani dan diubal-ubal ajarannya itu sebenarnya semuanya hanyalah sekumpulan “Bull” yang ketemu “Shit” alias omdo. Maka tak heran jika lantas para ekonom mulai mengevaluasi segala macam teori ekonomi yang sebelumnya dipegang menjadi setengah agama itu, baik teori ekonomi kapitalis, sosialis, komunis maupun yang cuma pringas-pringis.

Menurut kang Waluyo Pithut yang memang tak pernah mengenyam sekolah sampai tamat dan tak pernah belajar teori ekonomi yang ndakik-ndakik, segala bencana ekonomi dunia saat ini sebenarnya diawali oleh perangnya si Bush lawan Saddam Husein yang melibatkan rakyatnya. Perang yang akhirnya membahayakan ekonomi Amerika Koplo, didukung oleh meroketnya harga minyak dunia dan perilaku korup yahudi amerika dengan sistem ribanya, menjadi ramuan manjur buat membangkrutkan dan memberantakkan tatanan ekonomi dunia.

Kelakuan Amerika Koplo yang dengan tak sopan mengangkangi negara-negara kecil tak bersenjata demi minyak, hampir tiap hari ditayangkan di tipi. Kelakuan mbejat Amerika koplo dengan segala kelicikannya hampir setiap hari dipertontonkan di hadapan kang Waluyo Pithut sang pemilik showroom, pada Pak Min si penjual sego kucing, pada Lik Gemblong seorang pengusaha odhong-odhong, atau pada pejabat semi penjahat yang memegang keputusan dan kebijakan. Semuanya tak sadar, bahwa tontonan yang dipertunjukkan Amerika Koplo di tipi itulah yang akhirnya mengukut showroomnya Kang waluyo Pithut, mengancam harga bandeng di segonya Pak Min, menggerogoti kempolnya Lik Gemblong yang mengayuh odhong-odhong tanpa penumpang dan membuat jidat pejabat terembat lantaran puyeng mikir tuntutan rakyat yang sekarat.

Kanjeng Nabi menggambarkan perilaku Amerika Koplo itu ibarat serombongan idiot yang sedang melobangi dasar perahu karena hendak mengambil air di bawahnya, lantaran jikalau harus turun naik ngambil air terlalu jauh jaraknya. Sedangkan kita semua ini adalah penumpang di perahu tersebut, namun hanya bengong ngowoh melihat keidiotan sang pembocor perahu tanpa ada yang mengingatkan atau menegur. Di antara penumpang perahu itu ada yang sedang sholat, ada yang sedang doa hewes-hewes, ada yang sedang ndikir, ada yang sedang mbaca kitabullah, namun tak satupun yang menegur perilaku sang idiot yang sedang melobangi perahu. Manakala perahu mulai karam, semua panik. Pertunjukan koplo sang idiot rupanya membahayakan banyak jiwa dengan karamnya kapal. Sang ahli sholat heran, ha wong dirinya rajin sholat kok ikut karam. Sang tukang doa juga heran, ha wong tiap hari mendoa sapu jagad kok juga ikut mau karam. Sang ahli ndikir dan baca kitabullah juga kaget, ha wong selama ini selalu basah lidahnya mengingat Allah kok mau karam juga. Semuanya lupa, karamnya mereka itu lantaran tak ada satupun yang menghentikan upaya idiot sang pembocor kapal.

Salah seorang pasien simbah pernah bertanya, “Mbah, ha wong gara-gara segelintir orang kok semua harus nanggung. Kok bisa begitu itu gimana nalarnya?”

Simbah jawab, “Sampeyan tahu kan, komplek kita ini dulunya tak ada yang namanya polisi tidur. Semua pemakai jalan bisa berjalan dengan mulus tanpa harus ngerem-ngerem menghindari gajlugan polisi tidur. Lalu tiba-tiba ada seorang idiot bergaya Palentino Rosi lewat hampir nyerempet seorang anak kecil yang sedang main di jalan. Dari situlah orang berpikir untuk memasang polisi tidur walau sebenarnya bisa ditempuh dulu dengan menasehati pemakai jalan itu. Namun karena tak ada yang amar makrup nahi mungkar dipasanglah polisi tidur, bahkan sampai ada yang masang polisi nungging karena saking tingginya. Saya tanya sampeyan, jika sudah dipasangi polisi nungging itu, yang kena gajlugan apakah cuma si begajul ngebut ala Palentino Rosi tadi atau semua pemakai jalan termasuk yang ati-ati? Bahkan mbah Wiryo Setliko yang ngonthel dengan kecepatan siput pincang pun terpaksa kena gajlugannya si polisi tidur itu.”

“Masuk akal juga.” Kata pasien simbah tersebut.

Memang harus ada upaya amar makruf nahi munkar kepada para penguasa dunia, bahwa yang mereka upayakan saat ini adalah upaya idiot membocori kapal yang bisa menimbulkan bencana karam global. Amar makruf nahi munkar lah yang menyelamatkan kapal dunia dari bencana karam global. Memang masih ada ratusan juta bahkan milyaran bibir yang berdoa, berdikir, menengadahkan tangan minta keselamatan pada Penguasa Alam Semesta. Namun Sang Pencipta sudah memberi isyarat pada kita semua, 

“Kalian sendiri bisa menyelamatkan nasib kalian. Ada upaya yang bisa kalian tempuh, mengapa tidak kalian tempuh? Mengapa kalian suruh Aku menyelesaikan masalah kalian, sementara jalan penyelesaian sudah Aku tunjukkan pada kalian?”

Maaf Dan Penyesalan


Hari ini adalah hari yang melegakan buat simbah. Ada satu kasus berat yang simbah tuntasken. Seminggu sebelumnya simbah cukup dibikin pusing tujuh puluh keliling dengan kasus ini. Yakni adanya satu sales yang mbalelo dan mbikin kaco proses dol tinuku yang simbah jalanken.
Adalah tadinya simbah memiliki 3 sales yang menjalankan tugas lapangan menjajakan dagangan simbah ke toko dan warung di blusukan metropolitan ini. Ada seorang sales yang mengundurkan diri karena merasa tidak mampu menjalankan tugas. Simbah ijinken, dan sesuai surat kontrak kerja, dia wajib menyerahkan warung-warung yang selama ini dia kelola di lapangan kepada sales penggantinya. Jumlahnya ada lebih dari dua ratus limapuluh warung dan toko.

Setelah menyerahkan sekitar 200 warung, dia gak masup tanpa keterangan. Bilangnya sakit boyok. Simbah kirim obat ke rumahnya. Ha kok setelah ditunggu seminggu belum masup-masup juga. Herannya saat sales penggantinya nagih di warung yang dia serahkan, ternyata sudah ada oknum Mr. Rius yang duluan nagih. Sehingga sales baru tersebut ngaplo gak dapet duit tagihan. Malah dipisuhi sama pemilik warung, karena merasa ditagih 2 kali.. wah .. sakne tenan.

Selidik punya selidik ternyata, oknum Mr. Rius itu si sales simbah yang sudah undur diri tadi. Diem-diem njarah dan nagih ke warung-warung yang seharusnya bukan haknya lagi. Simbah datangi rumahnya, simbah ultimatum jika dalam 2 x 24 jam gak diberesi akan simbah bawa aparat polisi. Hwarakadah, bapak simboknya ngewel ketakutan. Si oknum juga ketakutan dan sekaligus malu. Akhirnya simbah tunggu di rumah kedatangan si oknum agar menyelesaikan masalah.

Hari pertama gak datang. Malamnya simbah kontak konco pulisi agar siap-siap nggrupyuk rumahnya. Alhamdulillah paginya si oknum datang. Wajahnya masih ketakutan, tapi sisi baiknya, dia minta maap dan mengakui semua kesalahannya.

Tadinya, sebelum si oknum dateng, simbah sudah getem-getem campur kemropok pingin ngamplengi gundhulnya si oknum ini. Namun begitu keluar kata maap dan nada penyesalan, simbah gak tega. Di detik-detik ini ada kesempatan niru sifat Allah. Mengampuni dan memaafkan.

Ada yang beda dari ucapan maap dan penyesalan si oknum. Yakni dia sebut kesalahan dan juga detil kesalahannya dan juga mengakui kesalahannya tersebut. Simbah berulangkali menerima ucapan permintaan maap lahir batin dari banyak teman, terutama kemaren saat awal memasuki bulan puasa. Namun ucapan maap dan penyesalan si oknum ini beda dengan ratusan ucapan maap lahir batin yang dikirimkan konco-konco simbah baik melalui SMS maupun komen yang ada disini. Yakni adanya detil kesalahan yang disesali dan dimintakan maap.

Ucapan maap lahir batin yang biasa diucapkan menjelang Romadhon maupun entar saat lebaran, tidak merinci apa yang menjadi kesalahan yang pantas dimintakan maap dan yang disesali. Sangat terasa basa basinya. Sehingga akan terasa sambil lalu. Maap, ini miturut hati simbah lho… mungkin sampeyan beda. Padahal inti dari permintaan maap adalah penyesalan dan keniatan tak mengulang apa yang menjadi kesalahannya tersebut.

Lha kalo yang dimintakan maapnya gak diperinci, lantas kita yang dimintai maap mau ngampuni dan memaapkan kesalahan yang mana kan bingung. Beda kasusnya dengan ucapan maap berikut ini :
“Mbah, mohon maap atas kesalahan saya kemaren. Saya kemaren nyolong mbako semprulnya simbah sak genggem buat mbikin tingwe. Tolong dimaapkan kesalahan saya ini ya mbah….”

Di ucapan maap ini jelas apa yang dimintakan maap, yakni kesalahan nyolong mbako semprul. Bandingkan ucapan maap yang hanya meminta maap, tapi tak disebut kesalahan yang mana yang ingin dimintakan maapnya itu. Padahal sisi paling berat dari meminta maap adalah sisi KEMAUAN DAN KEBERANIAN MENGAKUI KESALAHAN. Lha kalo tidak disebut kesalahan yang mana, maka ini belum ada “Pengakuan Bersalah”nya.


Makanya sehabis salam-salaman pas lebaran, bermaap-maapan trus saling memberi selamat, masih saja ada ganjelan di hati antara satu dengan yang lain. Lha maapnya digebyah uyah gak jelas babar blas. Bermaapan yang sekedar seremonial, mengejar kepantasan, agar enak dipandang mata umum.
Tiap tahun pejabat ngadain open house di rumah dinesnya, ngadain acara maap-maapan. Tapi gak jelas apa yang dimintakan maap pada rakyat. Lha dibalik itu korupsinya jalan terus. Rakyat juga bingung, pejabat dan pimpinannya ini minta maap dari kesalahan yang mana, wong bolak-balik masih mbejat terus.

Selama minta maap masih merupakan acara seremonial untuk mengejar kepantasan, maka tak ada penyesalan atas segala kesalahan yang dilakukan manusia. Selama tak ada penyesalan, maka tak ada pertobatan disitu, tak ada perbaikan dan stagnan dalam kebejatan yang lampau.
Dengan tulus, maapkan kata-kata simbah di atas kalo tak pantas…