Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Januari 2020

Penyesalan


Saya dan sampeyan semua pasti pernah mengalami yang namanya menyesal. Rasanya gak enak. Bukan penyesalannya yang gak enak, namun rasa kecewa yang mendahului penyesalan itulah yang mbikin gak enak.

Tetangga simbah yang sudah mendahului ke alam barzah pernah mengupas perihal penyesalan ini berdasarkan durasinya. Dari durasi yang pendek sampai kepada yang panjang dan lama. Beliau menerangkan berulang-ulang perihal bab penyesalan ini di mimbar Kultum selepas sholat Isya. Sampai pendengarnya blokekan dan ngedumel…. “Halah, bola-bali iki wae. Nyetel kaset sampe nglokor…”

Namun simbah tak pernah bosen tetap mendengarkan materi kultum yang itu-itu juga. Karena simbah mencoba mencari hal yang lain di balik isi kultum yang diulang-ulang macem House Music Extended Version. Di antaranya beliau menerangkan begini :

Penyesalan itu ada beberapa jenis. Dimulai dari durasi yang terpendek adalah sebagai berikut :

1. Penyesalan sehari.
Ini adalah penyesalan ibu-ibu yang salah bumbon dalam masak sayur. Maunya sayur asin malah jadi kasinen. Maunya sayur asem malah jadinya cuka. Maunya mbikin nasi goreng, jadinya malah intip goreng. Ya sudah, nyeselnya sehari itu. Kesalahannya cuma beberapa detik, tapi nyeselnya seharian.


2. Penyesalan seminggu.
Ini penyesalannya bang kumis yang salah model potongan kumisnya. Maunya nyompok macem Einstein, malah salah kedaden jadi kayak Saddam Husein. Maunya nglewer kayak Thompson bersaudara, malah nemplok kayak Hitler. Yah.. akhirnya nunggu seminggu nunggu sang kumis numbuh. Kesalahannya beberapa menit, nyeselnya mingguan.


3. Penyesalan Sebulan.
Ini penyesalannya orang yang salah cukur. Lha cukur kok petakilan, kegunting godegnya mbablas jadi peang… Yo wis.. Nyesel. Kalo mau ngreparasi model yang mbejaji, ya nunggu sebulanan, bahkan bisa lebih. Tergantung rambutnya ini model rambut jagung apa rambut geni…


4. Penyesalan setengah umur.
Ini penyesalan orang yang salah milih isteri. Lha milih isteri cuma dilihat dari penampakan dhohir thok. Nggaya, maunya yang ireng manis. Setelah manisnya ilang tinggal irengnya thok…. nyesel. Pokoke salah niat cari isteri. Lupa kalo manusia itu bosenan. Lha nyari isteri kriterianya gak permanen. Akhirnya setelah bosen, hidupnya penuh penyesalan. Ujung-ujungnya nyari lagi. Yang perempuan nyari brondong, yang laki nyari bronjong, yang bencong nyari brondjong.


5. Penyesalan tiada batas.
Ini penyesalan karena salah milih agama. Semua agama mengajarkan bahwa ajarannya baik, dan orang yang diluar agama itu akan celaka hidupnya. Apakah akhirnya semuanya nanti selamat?? Ini pertanyaan yang baru akan terjawab entar di akherat. Yang jelas nanti akan ada yang salah pilih agama yang akan menyesal tiada batas. Biar gak menyesal gimana?


Allah Maha Adil. Kebenaran itu bisa ditelusur. Panca indera, hati dan akal pemberian-Nya ini bisa mendeteksi kebenaran itu. Jadi kalo sampe gak nemu kebenaran, maka jelas panca indera, hati dan akal kita akan dituntut. Karena mesti ada salah satu atau lebih yang berkhianat dan menipu dirinya sendiri sehingga kita tidak menemukan kebenaran itu. Atau sudah nemu tapi ketutupan. Ada yang ketutupan gengsi, ada yang ketutupan harga diri (yang palsu), ada yang ketutupan duit, ada yang ketutupan pengikut, ada yang ketutupan dalan bayi, dan lain sebagainya.

Maka gunakanlah segala piranti pemberian Allah ini untuk mencari yang benar itu, karena PASTI BISA. Dan untuk penyesalan yang terakhir ini tak bisa diperbaiki sama sekali.

Ada kisah 3 orang yang terjebak di dalam satu goa yang gelap, saking gelapnya hanya bisa grayak-grayak. Lalu ada suara yang memberitahu mereka bertiga, “Ambillah sebanyak-banyaknya batu di goa ini. Karena barangsiapa yang tidak mengambinya akan menyesal. Dan barangsiapa yang mengambilnya juga akan menyesal.”

Maka orang pertama berpikiran, “Ambil sajalah. Ha wong perintahnya disuruh ngambil sebanyak-banyaknya.” Maka dia ambil yang banyak.

Orang kedua bingung, ngambil nyesel, gak ngambil juga nyesel. Maka dia ambil sedikit. Maju mundur merkengkong.

Orang ketiga masa bodo. Ha wong ngambil dan gak ngambil sama-sama nyeselnya, ngapain harus ngambil. Dia gak peduli akan isi perintah untuk mengambil sebanyak-banyaknya.
Maka tiba-tiba mereka bertiga menemukan pintu goa itu. Segera mereka keluar. Setibanya di luar pintu goa runtuh, dan menutup jalan masuknya. Lantas mereka bertiga mencoba melihat apa yang sebenarnya mereka ambil itu. Ternyata emas.

Yang ngambil banyak nyesel, kok gak lebih banyak lagi nyawuknya. Yang ngambil dikit nyesel sak pole. Yang gak ngambil langsung turun berok. Ini semua ibarat. Goa itu adalah masa hidup kita. Emas itu adalah amal sholehnya. Yang amal sholeh saja masih nyesel, apalagi yang membiarkan hidupnya lewat tak berguna.


Haram Yang Haramnya Tidak Sama Dengan Haram


Tentunya sampeyan sudah pada tahu, bahwa para Kyai MUI sudah mengharamkan 2 hal yang selama ini menjadi polemik. Yakni rokok dan Golput. Untuk rokok, salah seorang kyai MUI menerangkan bahwa keharamannya tidak sebagaimana babi. Jadi memiliki perbedaan. Rincian perbedaannya diterangkan dengan sangat njlimet sampai simbah gak mudeng babar blas. Tetapi keharamannya dilandasi bahwa kemadharatannya lebih besar dari manfaatnya.

Kyai NU dan beberapa ormas Islam lainnya gak sependapat kata “Haram” digunakan untuk memfatwai rokok. Haram yang bukan sebagaimana haramnya babi itu sudah ada kriteria tersendiri, yakni “makruh”. Jadi tak perlu menggunakan kata “Haram” jikalau ada kata lain yang lebih bisa mengakomodasi pengertian tidak diperbolehkannya merokok itu.

Alasan yang memakruhkan ini juga masuk akal, walaupun kang Jupri salah seorang teman simbah yang gak suka dengan kyai NU ini nyeletuk, “Halah, itu kan karena banyak kyai NU yang sudah nggathok ngudud kayak lokomotip sepur. Bilang aja gak mau ninggal klangenan.”



Bang Kamid yang lebih moderat menanggapi, “Bukan begitu kang Jupri. Mengharamkan sesuatu harus hati-hati. Karena mengharamkan yang halal itu hukumnya sama dengan menghalalkan yang haram. Lha kalau rokok diharamkan, akan timbul pertanyaan susulan. Misalnya, perokok pasip itu mau dihukumi pigimanah? Padahal perokok pasip itu lebih bahaya daripada perokok aktip. Trus bertani cengkeh dan tembakau itu hukumnya apa? Bekerja di pabrik rokok itu hukumnya haram apa tidak? Lalu jualan rokok itu duitnya haram apa tidak? Lantas event-event yang disponsori pabrikan rokok itu haram apa tidak untuk diikuti?”

Kang Jupri mulai mengerutkan kening. Rentetan pertanyaan susulan itu belum ada fatwa resminya. Namun tentu saja fatwa haram rokok mengandung konsekwensi bagi terjawabnya pertanyaan Bang Kamid di atas.

“Pengharaman rokok atas dasar madharat yang lebih besar dari manfaat juga mengandung konsekwensi lain kang. Misalnya, haram tidak pakai AC berfreon? Bukankah sudah diketahui bahwa barang itu bisa mbikin ozon tambah amoh. Lha kalo ozonnya tambah mbedah, milyaran manusia harus nanggung madharatnya. Padahal manfaatnya cuma sekedar ngilangi sumuk.  Tapi milyaran manusia lain yang juga sumuk karena gak gableg AC harus menanggung derita akibat ozonnya dibrakoti AC sampeyan. Pigimanah itu ya?” tanya bang Kamid.

“Wah… yo mbuh lah bang. Lama-lama kok tambah nggladrah.”

Hal kedua yang difatwai haram adalah Golput. Hal ini memang juga kontroversial. Seingat simbah ketika terjadi pertentangan antara dua kubu dalam tubuh mukminin, yakni Khalifah Ali r.a dan Muawiyah r.a, ada salah seorang sahabat yang sama sekali tak memilih dan berpihak pada salah satu dari 2 kubu itu. Kalau tidak salah beliau adalah Abdullah bin Umar r.a yang lebih terkenal dengan sebutan Ibnu Umar r.a.

Salah satu alasan beliau tidak ikut di antara 2 kubu yang ada adalah karena tidak ingin pedangnya menumpahkan darah muslimin. Maka beliau memilih memisahi dari 2 kubu itu. Simbah gak tahu apakah langkah ini bisa disebut sebagai golput atau tidak. Namun dengan alasan yang syar’i beliau memilih untuk tidak memilih.

Coba sekarang kita tarik ke Abad Plu Manuk ini. Adakah alasan syar’i yang bisa membolehkan seseorang untuk Golput?


“Kalau miturut saya gak ada alasan syar’i yang mewajibkan saya buat nyoblos bang,” kata Kang Jupri. “Ditambah lagi calegnya rata-rata sudah kita ketahui motipnya mengapa mereka nyaleg. Genah motip blodot wal cocakrowo tho? Kalau miturut saya itu cukup bahan buat memfatwai bahwa nyoblos itu haram.”

“Lho jangan terburu napsu kang, jangan su’udzhon”, kata Bang Kamid. “Lha kalo sampeyan dan juga jutaan muslimin lainnya gak milih, lalu justru yang kepilih orang-orang yang gak punya iman, sampeyan nanggung dosanya juga lho.”

“Gak usah kawatir bang, dulu orang beriman pernah dijajah sama Pir’on, itu lho orang kaPir yang juga O’on. Tapi nyatanya ketika orang berimannya sabar menjalani perintah demi perintah Allah, sang Pir’on akirnya keok juga. Yang kita perluken hanya mengikuti risalah kenabian dengan cara nurut sama syareat.  Lha sampeyan sekarang kawatir diplekoto sama Pir’on modern. Harusnya kita kawatir bahwa justru kita akan dikangkangi Pir’on-Pir’on modern ini manakala kita ikut-ikutan jejak mereka.” kata kang Jupri berapi-api.

Kang Jupri nambahi, “Kita ini kan sudah punya waham, bahwa muslimin gak bisa jaya kalo gak ikut pemilu. Sudah tertanam pada diri sampeyan semua, bahwa jalan satu-satunya untuk mencapai kejayaan adalah dengan ikut pemilu, gak ada alternatip lain. The only way, the one and only. Makanya ada patwa haram golput itu. Lha buat saya, alternatip buat mencapai kejayaan umat itu banyak, bahkan pemilu bukan salah satunya.”

Bang Kamid dengan tetep kalem (Kayak Lembu) menjawab pidato kang Jupri, “Yo wis… gak usah sewot kang. Prinsipnya kita beda, gitu aja.”


Simbah hanya bisa plonga-plongo. Mau milih Kang Jupri atau Bang Kamid… atau Golput ajah??