Tampilkan postingan dengan label Kejayaan Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kejayaan Hidup. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Januari 2020

Beban Harta


Sampeyan pernah naik sepur kelas ekonomi sambil mbawa duik limapuluh juta ripis? Kira-kira rasanya pigimanah? Kira-kira sampeyan bisa tidur gak dengan kondisi seperti itu? Dengan kondisi keamanan sepur kelas ekonomi yang seperti sekarang, mbawa duik tigapuluh juta ripis di dalamnya adalah satu aktifitas yang menyiksa. Akan lebih menyiksa manakala duik itu adalah duiknya bos kantor dimana dia bekerja, yang harus diantar ke tujuan dengan selamat, dan kalo terjadi apa-apa harus ngganti… Mak nyuuut..

Bahkan jikalau bepergian di dalam fasilitas transportasi yang aman sekalipun, orang pingin bepergian dengan praktis dan aman. Gak mau direpotkan membawa-bawa barang yang malah membebani perjalanan. Maka menungso yang pikirannya begitu itulah yang setelah melalui ribuan tahun sejarah kemanusiaan, akhirnya menemukan yang namanya ATM dengan kartunya. Kartu kecil, gampang dibawa dan disimpan, yang manfaatnya lebih besar daripada mbawa  tumpukan koper berisi tetek bengek bekal perjalanan.

Adalah konsep hidup model begitulah yang dianut salah seorang sohib simbah, yang tinggal di tlatah Javanese sono. Sebut saja namanya Abdul Ghani (bukan nama sebenarnya temtunya). Seorang yang sederhana, rumahnya kecil, anak banyak dengan segudang aktifitas yang menyibukkan dirinya sehingga hanya menyisakan sedikit waktu dia untuk nyari nafkah buat keluarganya.

Dengan waktu sehari yang cuma sekian jam untuk nyari duik itu, akhirnya membuat penghasilannya gak pernah banyak secara kuantitas. Maka tak terbersit sama sekali dalam hati Kang Abdul Ghani ini untuk bercita-cita jadi sugeh mblegedhu. Dia tahu diri, memang rejekinya hanya selevel koret-koret dasar kuali, alias rejeki kelas recehan. 

“Yah, mau apalagi tho mbah hidup ini. Wong ya cuma mampir sekian puluh tahun, habis itu nggeblas lagi ke alam berikut. Mau sugeh ya akhirnya matek, mau miskin ya akhirnya matek. Lha wektu nyari duik cuma sebentar, ya memper lah kalo cuma dikasih segini. Yang penting cukup,” katanya pada suatu hari.

Kata yang terakhir itulah yang menjadi misteri buat simbah. “Yang penting cukup”. Dan memang begitulah adanya. Dengan anak yang pating drindil, yang saat ini kalo gak salah sudah lima anak, pigimanah mengandalkan rejeki kelas koretan dan lantas  dengan klecam-klecem bisa ngomong dengan santai “Yang penting cukup”? Herannya memang bener-bener cukup. Anaknya bisa sekolah semua, makan sehari-hari cukup, bisa mbayar rekening tagihan bulanan, dan mantabhnya dia sangat mandiri.

Salah seorang rekan ngaji simbah menyebut rejekinya sebagai rejeki kelas “tuhia”. Yakni rejeki yang kalau pas “butuh” lalu sudah “tersedia”. Simbah melihatnya seperti orang yang bepergian gak bawa bawaan macem-macem, tapi ATM nya berisi duik dengan nominal puluhan digit. Klecam-klecem, cengar-cengir, gak repot, nyantai, gak terbebani dengan bawaan, tapi tiap kali butuh tinggal pencet-pencet tombol PIN dan duik dateng.

Bandingkan dengan Kang Panjul yang baru pertama kali blayangan ke Jakarta dari desanya di Gunung Kidul sana. Ha wong ke Jakarta kok mbawa baju lima koper karena takut gak sempat umbah-umbah, mbawa klapa 10 butir yang katanya buat mbikin es degan di Jakarta, mbawa pitik babon lima ekor, plus pete limang renteng buat lalap. Penumpang model beginilah yang mbikin penumpang kendaraan angkutan umum lainnya jadi tersiksa.

Cuma masalahnya, punya rejeki tuhia itu gak gampang. Harus punya mental dan keyakinan mantabh pada Sang Pemberi dan Pengatur Rejeki. Ditambah lagi, harus punya PIN yang cocok, yakni doa yang makbul. Bayangkan, anak sakit, anak sekolah, anak kuliah, anak isteri butuh makan, dan kebutuhan lainnya tinggal sambat ke  langit dengan penuh yakin, besoknya rejeki datang dengan beribu sebab dan jalan menghampiri rumahnya. Tentu saja dengan diiringi sikap harap-harap cemas, khauf dan roja. Dan ini sikap orang yang bertaqwa.

Banyak orang yang gak siap dengan gaya hidup seperti ini. Orang lebih memilih menjalani perjalanan hidupnya ala kang Panjul dari Gunung Kidul. Apa-apa punya atau dengan kata lain wajib kaya. Duik buat “kalo-kalo” anak sakit harus sudah ada, duik “kalo-kalo” ntar anak kuliah harus tersedia, duik “kalo-kalo” terjadi apa-apa sudah tersedia juga. Barulah jika segala “kalo-kalo” yang ditakutkan manusia itu terkafer semua, maka dia baru bisa tidur nyenyak, tidur pules, gak khawatir, gak cemas dan gak dihantui “hantu-hantu” kebutuhan pokoknya.

Kenyataannya tidak begitu. Ketika manusia jumpalitan mengusir rasa ketakutannya akan “kalo-kalo” yang hendak terjadi dengan menyiapkan harta sebanyak-banyaknya, disini dia dihantui dengan ketakutan yang lain.  Yakni ketakutan akan kehilangan semuanya. Dia dituntut harus mempertahankan hartanya agar tidak hilang, habis serta gak dicolongi, dan itu adalah satu bentuk kesibukan tersendiri yang gak kalah menyiksanya. Hal yang gak pernah dialami kang Abdul Ghani atau penumpang yang gak bawa apa-apa selain selembar ATM bermuatan puluhan digit tadi.

“Waman yatawakal ‘alallahi fahuwa hasbuhu”
Barangsiapa tawakal pada Allah, maka itu cukup baginya…. :)



Jurus Setan


Sebagaimana yang sudah dipahami, yang namanya tokoh sentral kehidupan di alam raya ini adalah manusia, bukan alien, gendruwo, wewegombel, banaspati ataupun sundel bolong. Manusia diiringi oleh dua kekuatan makhluk, yakni malaikat sebagai suporter kebaikan serta syetan sebagai suporter keburukan. Kedua energi negatip dan positip ini setiap detiknya mempengaruhi keputusan manusia untuk beramal. Apakah amal baik ataukah amal jelek.

Di dalam menjalani amal kebaikan, manusia akan selalu dihalangi dan dimusuhi oleh setan dan wadyabalanya. Trik dan tipu daya setan itu banyak macam dan banyak ragam. Dari setan kelas ceremende sampai setan kelas pejabat eselon satu. Nah, berikut ini akan simbah wedar beberapa jurus yang biasa setan gunakan untuk menjlomprongkan manusia.

1. Jurus Pertama.
Ini jurus klasik. Pelaksananya setan kelas ceremende. Tugasnya simpel, yakni menghalangi manusia dari taat pada aturan Gusti Allah. Jadi pokoknya cuma menghalangi dan mbujuki biar manungso gak usah njalani ngibadah. Jurus paling ringan ini saja bisa menjaring banyak pengikut sampai sak arat-arat. Jika sampeyan mendengar omongannya kang Kerto Gentho macem begini, “Halah, ngapain sholat dan sedekah. Buang-buang waktu dan duit saja. Mendingan waktunya dipakai buat yang produktip.”  Maka sebenarnya dia itu sedang dijerat oleh setan kelas ceremende.


Kalo sampeyan di kelas ini saja keok, yo wis lah. Berarti kelas sampeyan cuma kelas teri. Sama setan level pra TK saja kukut.

2. Jurus Kedua.

Setan level ini menggoda manungso yang bertekad mau ngamal dan gak mau dihalangi. Nah setannya nuruti saja niat baiknya. Tapi secara halus dibujuki agar manungso mau “menunda” niat baiknya itu. Setannya mbisiki, “Udahlah sholat, sedekah, dan haji itu memang bagus sih. Tapi entar aja lah. Kamu kan masih muda, itu paling bagus dipakai ndugem saja. Ntar kalo sudah tua mertobat. Amal manusia kan yang penting gimana akhir hayatnya. Daripada sekarang ngamal sholeh trus pas tuwek ngekek malah maksiat… akhirnya neraka juga kan.”


Bujukan setan kelas ini menghasilkan manungso yang kalo diajak ngamal selalu bilang, “Yah, entar kalo sudah saatnya kan njalani juga. Sedekah entar saja kalo sudah nerima rapelan… lha kalo munggah kaji besok saja kalo anak cucu wis dadi uwong.”
Emange saiki isih munyuk…??


Korban jurus kedua ini juga gak kalah banyak. Mungkin sampeyan salah satu di antaranya. Di level kecil korbannya adalah orang yang suka menunda sholat sampai mepet hampir habis waktunya, subuh kesiangan, dlsb.

3. Jurus Ketiga.

Kalo jurus kedua itu sifatnya menunda, maka jurus ketiga ini si setan justru malahan mendorong agar manungso cepat-cepat njalani ngamal sholeh. Weleh, jos tenan. Setan kelas ini levelnya sudah mengarah kepada level khusus.


Mbujuki agar manungso cepet-cepet nglakoni ngamal itu temtu saja dengan konotasi ala setan. Yakni cepet-cepet dalam artian buru-buru. Sehingga karena buru-burunya sang manungso belum siap ngelmunya. Maka beramallah dia dengan tanpa ngelmu.


Sholatnya tanpa ngelmu yang cukup, akhirnya belepotan, taklid ikut-ikutan, pokoke ngene. Hajinya tanpa kesiapan ngelmu, akhirnya cuma plesir pake kemben putih, trus tahu-tahu pulang dipanggil pak kaji dan bu kajah setelah bagi-bagi tesbeh dan sajadah dicampur air zam-zam. Sudah kaji tapi sholat maghrib pirang rokangat ra apal. Semua berawal dari ketergesaan dan ketidak siapan ngelmu akibat diburu-buru setan untuk segera ngamal. Yang bener, segeralah beramal tapi dengan langkah yang tepat, tidak usah buru-buru. Lantas dipelajari ngelmunya secara bertahap agar amalnya dilandasi ngelmu yang mantabh…

4. Jurus Keempat
Jurus ini dipakai setan buat orang yang sudah tak mempan lagi dihalangi dan ditunda ngamalnya, Serta sudah melandasi amalnya dengan ilmu sebaik-baiknya. Maka jurus yang dilancarkan adalah menyerang sisi keniatan si pelaku amal. Segala ngamal ngibadah itu harusnya ikhlas. Tapi si setan membelokkan keniatan itu kepada niat-niat yang tujuan akhirnya adalah makhluk.


Maka disini setan nyebar pirus yang namanya riya’. Yakni ngamal sholeh untuk pamer dan dilihat manusia. Nyumbang masjid gak puas kalo gak dijepret kamera trus dipublikasikan di semua media. Nyumbang anak yatim gak mantabh kalo gak dipilem dan dipidiokan trus disiarkan di tipi. Tampak mesam-mesem puas melihat dirinya muncul di media sedang mbagi-mbagi rejeki, sekaligus menaikkan citra baiknya yang merupakan kredit point positip bagi kelangsungan karirnya.

Selain pirus riya’, si setan juga menebar bakteri sum’ah. Sum’ah ini gak mau amalnya dipertontonkan, gak seneng amalnya dilihat orang. Bahkan seringkali nyumbang dengan nilai besar trus ID nya cuma disebut “Hamba Allah di Bumi Allah”. Tapi ketika dia mendengar orang-orang membicarakan kebaikan si “Hamba Allah di Bumi Allah” itu, hatinya berbunga, bangga, menikmati pujian itu dengan berkata pada dirinya sendiri, “Ha wong aku kok… Gitu lho amalan yang ikhlas. Hanya Allah yang tahu, orang gak tahu… ya persis kayak aku ini.”

Itulah bakteri sum’ah, bukan seneng diperlihatkan amalnya tapi senengnya jika diperdengarkan amalnya. Disebut-sebut amalnya meskipun anonymouse. Kedua-duanya merusak niat ikhlas kita.

5. Jurus kelima
Di level ini jurusnya mangkin maut. Targetnya adalah manungso yang gak bisa dihalangi, ditunda dan diburu-buru untuk ngamal, trus berusaha ikhlas. Jadi untuk manungso yang sudah setengah sumeleh, maka dikirimlah setan jenis pengglembuk ulung.


Setan level ini mbisiki pada manusia, “Wah, sampeyan itu manungso langka lho. Mau ngamal sholeh, masih muda, ilmunya tinggi, lillahi tangala.. jarang lho ada manungso macem sampeyan. Yang lain-lainnya itu kan cuma tengu bangsat, gak ada apa-apanya dibanding sampeyan yang sudah sumeleh.”

Dipuji-puji sama setan setinggi langit lapis sembilan, sehingga melenakan. Akhirnya si manungso kemasupan sipat ujub. Mengherani diri sendiri, menganggap dirinya hebat dan mumpuni. Merasa amalnya sudah sak ikrak tumplak. Jauh dari neraka dan sudah bertetangga dengan surga. Sifat ujub ini melalaikan dan membinasakan. Seyogyanya semua pelaku ngamal sholeh mau meniadakan dirinya di hadapan Allah. Karena sebenarnya Gusti Allah lah yang memberikan taufik dan hidayah-Nya sehingga manungso bisa dan mau menjalani ngamal ngibadah. Kita lemah gak bisa apa-apa tanpa pertolongan Allah swt. Tapi dasar setan… manungso diglembuk, dielus-elus trus dikepruk. Sing dikepruk malah jegegas-jegeges gak ngrasa..

6. Jurus Keenam
Kalo ada manungso yang bisa ngamal, gak menunda amal, berilmu, trus bisa pasrah sumeleh serta yakin bahwa amalnya itu semata-mata atas pertolongan Allah dan ikhlas lilahi tangala, maka dikirimlah setan level advance. Level keenam ini si setan mencari celah. Dibiarkannya lima setan krocok dibawahnya njengkang kalah. Tapi dia jeli dan memanfaatkan momen. Ketika ada kesempatan masuplah dia. Yakni dengan cara membangkitkan emosi si manungso sehingga dia mengundat amalnya.


Mengundat atau mengungkit amalan yang sudah dikerjakan akan menghancurkan pahala amal. Ibarat sudah mbangun gedung sampai jadi, tahu-tahu dibom sampae hancur oleh si pembangunnya.
Biasanya mengungkit atau mengundat amalan dilakukan di saat manungso lengah. Misalnya, ada orang sudah ditulungi, diopeni, tahu-tahu melakukan perbuatan yang menyinggung dirinya. maka akan muncul ucapan-ucapan yang mengungkit kebaikannya. Macem gini :

“Oalah, dulu kalo kamu gak saya openi, kamu masih kere di jalanan. Kalo nggak ditulungi kamu mesti masih ngemis-ngemis. dasar ra nyawang githok.”

“Masjid itu kalo saya gak rintis pembangunannya gak bakalan berdiri tuh. Ha wong orang-orang sini katro semua.”

“halah tiwas tak tulungi… ha kok sekarang malah gak tahu terimakasih. Kalo kamu dulu gak ditulungi jadi apa kamu sekarang.”


Dan masih banyak sekali contoh-contoh yang serupa. Jadi hendaknya yang namanya amal itu ya harus ikhlas ketika sebelum beramal, saat beramal dan sesudah beramal. Trus dijaga sampe mati. Di lepel ini memang mangkin berat. Setannya juga bukan sembarang setan.

Sebenarnya masih ada beberapa jurus yang belum simbah sampaikan. Tapi sementara sampai disini dulu


Kesetiaan


Dalam satu riwayat disebutkan satu percakapan yang menarik antara Abu Bakar r.a dan anaknya. Sebagaimana difahami, salah seorang anaknya Abu Bakar yang laki-laki masuk Islamnya belakangan setelah perang Badar. Sehingga di saat perang Badar si anak berperang di pihak musyrikin, melawan bapaknya yang berperang bersama kaum mukminin. Berkatalah si anak:

“Wahai bapak, dulu di saat perang badar, aku memiliki kesempatan untuk membunuhmu, dan aku yakin jika aku lakukan maka engkau pasti sudah terbunuh.”

“Lantas apakah yang menghalangi dirimu untuk melakukannya wahai anakku?” tanya Abu Bakar.
“Aku masih memiliki rasa sayang kepadamu. Itulah yang membuat diriku ragu.”

“Itulah sifat kemusyrikan wahai anakku. Loyalitas dan kesetiaan kepada tuhan kalian bisa kalah dengan kecintaan kalian pada yang lain. Sungguh jika aku berada di posisimu saat itu, sudah aku tebas lehermu.”

Salah seorang sahabat Nabi saw yang digelari “Orang Kepercayaan Umat ini” yang gigi seri depannya rontok karena mencabut besi yang menancap di pipi Nabi saw, dan merupakan Panglima Besar Islam, adalah seorang yang tadinya senantiasa menghindari bapaknya di medan perang, karena bapaknya berperang dipihak musyrikin. Dengan kemantapan hati dan kecintaan kepada tauhid, akhirnya dibunuh jugalah bapaknya di medan peperangan. Beliau adalah Abu Ubaidah ibnul Jarrah.
Dalam satu riwayat disebutkan juga, bahwa Umar bin Khathab menyatakan kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya melebihi apapun yang ada di dunia ini kecuali dirinya. Jadi kecintaan pada dirinya masih nomor satu, barulah diikuti kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya. Halini dijawab oleh Nabi saw, bahwa tidak sempurna iman seseorang sebelum dia mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi apapun di dunia ini, bahkan terhadap dirinya sendiri.

Jika sampeyan perhatikan, ada yang hilang dari kehidupan beragama dari umat Islam,yakni kesetiaan atau loyalitas. Beragamanya orang-orang yang telah diridhoi Allah, yakni para shahabat Nabi, adalah beragama yang disertai loyalitas pada apa yang diyakini. Beragamanya orang saat ini, apapun agamanya, selalu diikuti loyalitas pada kebesaran nafsunya. Mengaku menyembah Allah tapi loyalitas hidupnya diserahkan pada keluarga, pangkat, jabatan, partai, bendera golongan, demokrasi, selangkangan wanita, perut, pluralisme, dan segala tetek bengek yang diringkes oleh Al Qur’an dengan nama Thaghut.

Dahulu kala, di saat Nabi mengajarkan ajaran wahyu, ada juga si bangsat Musailamah yang mengaku menerima wahyu. Di saat Nabi menerima surat Al Ashr, Musailamah mengaku menerima surat Al Wabr. Di masa kekalifahan Abu Bakar dibentuklah laskar khusus yang dikirim untuk membasmi para bangsatwan. Sang Nabi palsu bangsat Musailamah laknat dipenggal oleh salah seorang saudara Umar bin Khathab. Inilah loyalitas. Kesetiaan pada keyakinan.

Sesungguhnya semua orang memiliki loyalitas. Semua orang mempunyai kesetiaan pada sesuatu. Sabda Nabi mengatakan, “Ad Diinu Nasihah”. Agama itu Nasihah. Nasihah di sini seringkali diartikan nasehat atau wejangan atau petuah. Jika melihat isi keseluruhan haditsnya, makna itu kurang tepat. Nasihah lebih pas jika dimaknai “kesetiaan.”

Agama itu kesetiaan. Kepada siapa? Kepada Allah, Rasul, Kitab, Imam kaum mukminin dan pada umat keseluruhan.

Sudahkah kesetiaan sampeyan diletakkan pada ad diin (agama)? Atau sampeyan letakkan pada karir, jabatan, pangkat, keluarga, golongan, suku, blog, traffic, adsense, rating, rokok, tuak, sosialisme, humanisme, demokrasi, kesetaraan gender …. Atau thaghut??

Berapa kali sampeyan telat masuk kantor dan bandingkan dengan berapa kali sampeyan telat sholat jamaah lima waktu?? Lebih loyal pada apa sampeyan?


Jujur Gak Bakal Hancur


Sekitar dua tahun yang, di saat simbah asyik metangkring di satu cakruk sambil mengamati mobil simbah yang sedang dicat, duduklah bersama simbah seorang sahabat simbah beserta seorang mantan tukang kepruk lokalisasi Kramat Tunggak yang luntang-lantung nyari kerja, sebut saja namanya si Gopar.

Waktu itu simbah dan sahabat simbah sedang ngetuprus membicarakan perihal kejujuran. Sambil nyantai simbah mituturi si tukang cat mobil itu, sesekali ditambahi pitutur dari sahabat simbah. Sebutlah si tukang cat mobil itu si Osrat, jagoan cat yang sudah kawentar hasil catnya mesti kinclong..

“Srat, pokoke kerja yang tekun, ulet dan yang terpenting jujur. Jangan nipu. Kalo nipu, bagaimanapun caranya, hidup gak bakalan sukses.” kata sahabat simbah pada si Osrat.
“Lha itu, koruptor-koruptor itu pada sugeh mblegedhu dari hasil nipu… nyatanya hidup enak mbah..,” sergah Osrat pada simbah.

“Halah, enak apanya? Wong hidup dihantui kebohongan kok enak.. Lagian emangnya kesuksesan hidup itu kayak mereka..?? Wah jauh Srat.. Mereka itu sedang menggali lobang neraka di dunia. Kalo di akherat, nggak usah digali, nerakanya sudah tersedia dan dalem. Jikalau ada bayi dicemplungin ke situ, sampe ke dasar neraka sudah jenggoten saking dalemnya…, mau hidup kayak gitu..!!??” jawab simbah.

Dua tahun telah berlalu……….

Pada satu malam, kira-kira dua minggu lalu, sahabat simbah itu dipanggil seseorang di satu cakruk.
“Pak-pak, mampir dulu pak. Bapak masih inget saya?” tanya orang itu.

“Wah, siapa ya?? Lupa-lupa inget…,” jawab sahabat simbah.

“Saya si Gopar yang waktu itu ikut ndengerin bapak dan mbah dokter ngobrol di cakruk dulu itu… Boleh minta waktunya pak. Saya mau ngobrol sebentar…” pinta si Gopar.

Setelah tersedia teh anget, ngobrollah si Gopar dengan semangat yang menggebu-gebu.

“Waduh pak, saya berterimakasih sekali lho atas nasehatnya pada waktu itu. Itu lho waktu ngobrol sama mbah dokter dulu itu. Saya itu heran ha wong obrolan kok lain-daripada yang lain…” kata Gopar.

“Lain gimana Par?”
tanya sahabat simbah.


“Saya itu sudah gaul sama haji-haji, kemana-mana kumpul. Kenal juga sama ustadz-ustadz, yah saya kan pingin mertobat, ha wong bertahun-tahun jadi tukang kepruk mbodiguard di Kramtung. Tapi meskipun haji, ustadz atau apapun namanya, kalo kumpul sama mereka itu yang diomongin mblangsak semua. Menasehati orang boleh jago di mimbar, tapi kelakuannya moorsaaal… Jadi kalo mereka ngobrol, meskipun isinya nasehat.. ya lewat saja. Ha wong kita tahu kemana blusukannya dan gimana kelakuannya..”

“Lha terus…?”


“Lha ini yang ngobrol bukan kyai, haji juga nggak, malah dokter… eee.. ngomongin kejujuran. Tadinya saya sudah putus asa lho pak pada kejujuran. Ha wong orang jujur hidupnya pada ancur semua. Lha dulu itu mbah dokter sama bapak malah bilang, dengan kejujuran hidup malah sukses. Makanya saya pingin membuktikan omongan itu…”

“Trus gimana… terbukti nggak?”

Maka berceritalah si Gopar, bagaimana dia ketemu seorang yang rusak motornya dan mogok di jalan. Orang itu adalah orang batak, marga Gurning. Anehnya dia muslim. Pak Gurning ini minta tolong Gopar buat memperbaiki motornya. Maka diopreklah hingga sehat lagi motor itu. Pak Gurning senangnya alang kepalang. Dikasihlah si Gopar seratus rebu ripis. Tapi oleh Gopar tak semua diterima.

“Maap pak, cukup duapuluh rebu saja. Ini Kebanyakan, terimakasih. Wong modal barang sama tenaganya gak lebih dari segitu…” kata Gopar waktu itu.

Maka heranlah pak Gurning ini, ada orang sejujur itu. Lalu diundanglah si Gopar untuk main ke rumahnya. Karena si Gopar itu pengangguran luntang-lantung, maka dimintalah dia mberesi dan mbersihkan rumah pak Gurning untuk kemudian diupah. Si Gopar jalani dengan agak bertanya-tanya. Masalahnya saat dia ngepel lantai, nyapu kamar dan mberesi ruangan-ruangan rumah, berceceranlah barang-barang berharga gemletak di mana-mana. HP, uang limapuluh rebuan, bahkan seratus rebuan, jam tangan mahal, semuanya tergeletak sembarangan. Kalo ditilep satu saja, nggak ada yang lihat. Tapi si Gopar merasakan, mungkin itu adalah ujian kejujurannya. Maka didiemkan saja barang-barang itu.

Selesai mengerjakan tugas itu dia menerima upah yang luar biasa banyak. Beberapa hari berjalan seperti itu, sampai akhirnya pak Gurning menyuruh dia untuk cari sebidang tanah di kampungnya buat nyawah. Diutuslah Gopar dan dipasrahi duit 50 juta ripis cash. Si Gopar sampai gemeteran megang duitnya. Seumur-umur belum pernah dia megang duit sebanyak itu. Dan dengan 50 juta di tangan, dia berhasil membeli tanah yang lumayan luas. Ha wong tanah di desa itu paling semeter dihargai limarebu ripis.

Oleh pak Gurning dia disuruh nyawah dengan hasil fifty-fifty. Setahun lewat, pembagian hasil berubah, 70% buat Gopar, 30% buat pak Gurning atas keputusan pak Gurning sendiri.

“Sekarang saya sudah bisa beli tanah dan motor atas bantuan pak Gurning juga pak. Saya merasakan bener bagaimana hidup jujur itu ternyata mbikin kita bener-bener sukses pak, karena saya selama itu selalu menjaga omongan dan tindakan saya agar selalu tepat. Apalagi pak Gurning itu orangnya juga menghargai kejujuran. Bahkan kalo sudah janji, saya telat semenit saja langsung saya gak diajak ngomong seharian oleh beliau….” kata Gopar pada sahabat simbah.

“Yah begitulah hidup Par.. kejujuran itu bagaimanapun lebih dihargai oleh manusia daripada kebohongan. bahkan tukang bohong pun menghargai kejujuran..”

“Saya malah kasian sama si Osrat pak… katanya dia nyolong uang bapak ya…?? Sekarang dia hidupnya kesrakat. Kemaren barusan saya kasih uang.. lha ngliatnya saya gak tega… Orang kok milih hidup jalan pintas…” kata Gopar.

Ya, begitulah. Si Osrat yang justru simbah dan sahabat simbah pituturi, akhirnya nilep uang sahabat simbah saat dipekerjakan di bengkelnya. Totalnya mencapai 2 jutaan ripis. Gak banyak. Tapi cukup untuk menjatuhkan vonis bahwa orang itu gak jujur. Berita tersebar, orang akhirnya gak percaya lagi sama si Osrat. Gak mau pakai tenaganya lagi. Hidupnya malah makin kesrakat. Terakhir simbah lihat si Osrat lagi mbantu jadi kenek bengkel dengan upah yang gak mitayani. Sementara si tukang Kepruk lokalisasi Kramtung yang cuma nebeng denger pitutur, malah jadi berubah menjadi orang yang sukses dengan bekal kejujurannya.

Sebelum menutup pembicaraan, sahabat simbah berkata : “Satu hal lagi Par.. kamu kan sudah merasakan buah kejujuran kamu, sekarang ada satu nasehat lagi yang kalo kamu jalani bisa mbikin hidup kamu tambah hebat lagi…”

“Apa itu pak?” tanya Gopar.


“Kerjakan sholat 5 waktu…..!”

“Wah.. iya pak.. saya sudah mulai latihan kalo yang itu…” kata Gopar sambil cengar-cengir.
Yang simbah ceritakan di atas adalah kisah nyata. Simbah saja sampai kaget ndengernya dari sahabat simbah. Ha kok ada lho yang akhirnya berubah hanya dengan nebeng denger orang ngobrol. Maka dari itu, ngomonglah, nulislah, mikirlah dan bertindaklah yang baik-baik, maka orang-orang yang ada di sekitar kita akan bisa menuai kebaikan itu, dan kebaikan itu akan kita tuai juga hasilnya… ;)


Haram Yang Haramnya Tidak Sama Dengan Haram


Tentunya sampeyan sudah pada tahu, bahwa para Kyai MUI sudah mengharamkan 2 hal yang selama ini menjadi polemik. Yakni rokok dan Golput. Untuk rokok, salah seorang kyai MUI menerangkan bahwa keharamannya tidak sebagaimana babi. Jadi memiliki perbedaan. Rincian perbedaannya diterangkan dengan sangat njlimet sampai simbah gak mudeng babar blas. Tetapi keharamannya dilandasi bahwa kemadharatannya lebih besar dari manfaatnya.

Kyai NU dan beberapa ormas Islam lainnya gak sependapat kata “Haram” digunakan untuk memfatwai rokok. Haram yang bukan sebagaimana haramnya babi itu sudah ada kriteria tersendiri, yakni “makruh”. Jadi tak perlu menggunakan kata “Haram” jikalau ada kata lain yang lebih bisa mengakomodasi pengertian tidak diperbolehkannya merokok itu.

Alasan yang memakruhkan ini juga masuk akal, walaupun kang Jupri salah seorang teman simbah yang gak suka dengan kyai NU ini nyeletuk, “Halah, itu kan karena banyak kyai NU yang sudah nggathok ngudud kayak lokomotip sepur. Bilang aja gak mau ninggal klangenan.”



Bang Kamid yang lebih moderat menanggapi, “Bukan begitu kang Jupri. Mengharamkan sesuatu harus hati-hati. Karena mengharamkan yang halal itu hukumnya sama dengan menghalalkan yang haram. Lha kalau rokok diharamkan, akan timbul pertanyaan susulan. Misalnya, perokok pasip itu mau dihukumi pigimanah? Padahal perokok pasip itu lebih bahaya daripada perokok aktip. Trus bertani cengkeh dan tembakau itu hukumnya apa? Bekerja di pabrik rokok itu hukumnya haram apa tidak? Lalu jualan rokok itu duitnya haram apa tidak? Lantas event-event yang disponsori pabrikan rokok itu haram apa tidak untuk diikuti?”

Kang Jupri mulai mengerutkan kening. Rentetan pertanyaan susulan itu belum ada fatwa resminya. Namun tentu saja fatwa haram rokok mengandung konsekwensi bagi terjawabnya pertanyaan Bang Kamid di atas.

“Pengharaman rokok atas dasar madharat yang lebih besar dari manfaat juga mengandung konsekwensi lain kang. Misalnya, haram tidak pakai AC berfreon? Bukankah sudah diketahui bahwa barang itu bisa mbikin ozon tambah amoh. Lha kalo ozonnya tambah mbedah, milyaran manusia harus nanggung madharatnya. Padahal manfaatnya cuma sekedar ngilangi sumuk.  Tapi milyaran manusia lain yang juga sumuk karena gak gableg AC harus menanggung derita akibat ozonnya dibrakoti AC sampeyan. Pigimanah itu ya?” tanya bang Kamid.

“Wah… yo mbuh lah bang. Lama-lama kok tambah nggladrah.”

Hal kedua yang difatwai haram adalah Golput. Hal ini memang juga kontroversial. Seingat simbah ketika terjadi pertentangan antara dua kubu dalam tubuh mukminin, yakni Khalifah Ali r.a dan Muawiyah r.a, ada salah seorang sahabat yang sama sekali tak memilih dan berpihak pada salah satu dari 2 kubu itu. Kalau tidak salah beliau adalah Abdullah bin Umar r.a yang lebih terkenal dengan sebutan Ibnu Umar r.a.

Salah satu alasan beliau tidak ikut di antara 2 kubu yang ada adalah karena tidak ingin pedangnya menumpahkan darah muslimin. Maka beliau memilih memisahi dari 2 kubu itu. Simbah gak tahu apakah langkah ini bisa disebut sebagai golput atau tidak. Namun dengan alasan yang syar’i beliau memilih untuk tidak memilih.

Coba sekarang kita tarik ke Abad Plu Manuk ini. Adakah alasan syar’i yang bisa membolehkan seseorang untuk Golput?


“Kalau miturut saya gak ada alasan syar’i yang mewajibkan saya buat nyoblos bang,” kata Kang Jupri. “Ditambah lagi calegnya rata-rata sudah kita ketahui motipnya mengapa mereka nyaleg. Genah motip blodot wal cocakrowo tho? Kalau miturut saya itu cukup bahan buat memfatwai bahwa nyoblos itu haram.”

“Lho jangan terburu napsu kang, jangan su’udzhon”, kata Bang Kamid. “Lha kalo sampeyan dan juga jutaan muslimin lainnya gak milih, lalu justru yang kepilih orang-orang yang gak punya iman, sampeyan nanggung dosanya juga lho.”

“Gak usah kawatir bang, dulu orang beriman pernah dijajah sama Pir’on, itu lho orang kaPir yang juga O’on. Tapi nyatanya ketika orang berimannya sabar menjalani perintah demi perintah Allah, sang Pir’on akirnya keok juga. Yang kita perluken hanya mengikuti risalah kenabian dengan cara nurut sama syareat.  Lha sampeyan sekarang kawatir diplekoto sama Pir’on modern. Harusnya kita kawatir bahwa justru kita akan dikangkangi Pir’on-Pir’on modern ini manakala kita ikut-ikutan jejak mereka.” kata kang Jupri berapi-api.

Kang Jupri nambahi, “Kita ini kan sudah punya waham, bahwa muslimin gak bisa jaya kalo gak ikut pemilu. Sudah tertanam pada diri sampeyan semua, bahwa jalan satu-satunya untuk mencapai kejayaan adalah dengan ikut pemilu, gak ada alternatip lain. The only way, the one and only. Makanya ada patwa haram golput itu. Lha buat saya, alternatip buat mencapai kejayaan umat itu banyak, bahkan pemilu bukan salah satunya.”

Bang Kamid dengan tetep kalem (Kayak Lembu) menjawab pidato kang Jupri, “Yo wis… gak usah sewot kang. Prinsipnya kita beda, gitu aja.”


Simbah hanya bisa plonga-plongo. Mau milih Kang Jupri atau Bang Kamid… atau Golput ajah??