Kamis, 16 Januari 2020

Kapal Bocor


Beberapa waktu lalu simbah mendapat kabar bahwa beberapa perusahaan leasing mobil di Jakarta ini terancam kukut. Penyebab yang langsung dituding adalah krisis keuangan global. Karena sampai saat ini kata-kata “krisis keuangan global” adalah kata-kata ampuh untuk dijadikan biang kerok segala macam kejadian yang gak mbejaji. Tersiar pula kabar bahwa beberapa perusahaan tekstil dan industri lain mulai memanggil karyawan-karyawannya untuk ditawari memilih satu diantara 2 opsi. Yakni pilih mundur teratur atau mundur kabur. Jika mundur teratur akan disangoni walau gak mitayani. Tapi kalau mau bertahan, diramalkan di awal tahun 2009 perusahaan akan kolaps dan karyawan jangan harap dapat pesangon apapun, karena pemilik perusahaannya gak bakalan mampu dan justru memilih kabur dari tanggung jawab.

Kang Waluyo Pithut, salah seorang pemilik showroom mobil di bilangan Jatinegara mulai menggerutu, “Sebetulnya krisis ini apa tho penyebabnya? Katanya semua ini gara-gara Amerika Koplo. Gara-gara kelakuan mbejat segelintir jidat saja kok mbikin dunia jungkir balik,” keluhnya.
Simbah sendiri gak begitu paham perihal teori-teori ekonomi yang dipakai oleh ahli-ahli ekonomi dunia itu. Tapi yang jelas segala bentuk teori ekonomi yang sekarang ini dipakai, ternyata berujung pada krisis keuangan global seperti sekarang ini. Hampir semua ahli ekonomi menyusun kebijakan ekonominya untuk menyejahterakan rakyatnya. Semua negara menerapkan kebijakan ekonominya berdasarkan saran ahli-ahli ekonominya. Namun melihat krisis keuangan yang sekarang ini sedang melanda, timbul rasa skeptis pada diri para ahli ekonomi itu. Jangan-jangan segala macam bentuk teori ekonomi yang sekarang ini dijalani dan diubal-ubal ajarannya itu sebenarnya semuanya hanyalah sekumpulan “Bull” yang ketemu “Shit” alias omdo. Maka tak heran jika lantas para ekonom mulai mengevaluasi segala macam teori ekonomi yang sebelumnya dipegang menjadi setengah agama itu, baik teori ekonomi kapitalis, sosialis, komunis maupun yang cuma pringas-pringis.

Menurut kang Waluyo Pithut yang memang tak pernah mengenyam sekolah sampai tamat dan tak pernah belajar teori ekonomi yang ndakik-ndakik, segala bencana ekonomi dunia saat ini sebenarnya diawali oleh perangnya si Bush lawan Saddam Husein yang melibatkan rakyatnya. Perang yang akhirnya membahayakan ekonomi Amerika Koplo, didukung oleh meroketnya harga minyak dunia dan perilaku korup yahudi amerika dengan sistem ribanya, menjadi ramuan manjur buat membangkrutkan dan memberantakkan tatanan ekonomi dunia.

Kelakuan Amerika Koplo yang dengan tak sopan mengangkangi negara-negara kecil tak bersenjata demi minyak, hampir tiap hari ditayangkan di tipi. Kelakuan mbejat Amerika koplo dengan segala kelicikannya hampir setiap hari dipertontonkan di hadapan kang Waluyo Pithut sang pemilik showroom, pada Pak Min si penjual sego kucing, pada Lik Gemblong seorang pengusaha odhong-odhong, atau pada pejabat semi penjahat yang memegang keputusan dan kebijakan. Semuanya tak sadar, bahwa tontonan yang dipertunjukkan Amerika Koplo di tipi itulah yang akhirnya mengukut showroomnya Kang waluyo Pithut, mengancam harga bandeng di segonya Pak Min, menggerogoti kempolnya Lik Gemblong yang mengayuh odhong-odhong tanpa penumpang dan membuat jidat pejabat terembat lantaran puyeng mikir tuntutan rakyat yang sekarat.

Kanjeng Nabi menggambarkan perilaku Amerika Koplo itu ibarat serombongan idiot yang sedang melobangi dasar perahu karena hendak mengambil air di bawahnya, lantaran jikalau harus turun naik ngambil air terlalu jauh jaraknya. Sedangkan kita semua ini adalah penumpang di perahu tersebut, namun hanya bengong ngowoh melihat keidiotan sang pembocor perahu tanpa ada yang mengingatkan atau menegur. Di antara penumpang perahu itu ada yang sedang sholat, ada yang sedang doa hewes-hewes, ada yang sedang ndikir, ada yang sedang mbaca kitabullah, namun tak satupun yang menegur perilaku sang idiot yang sedang melobangi perahu. Manakala perahu mulai karam, semua panik. Pertunjukan koplo sang idiot rupanya membahayakan banyak jiwa dengan karamnya kapal. Sang ahli sholat heran, ha wong dirinya rajin sholat kok ikut karam. Sang tukang doa juga heran, ha wong tiap hari mendoa sapu jagad kok juga ikut mau karam. Sang ahli ndikir dan baca kitabullah juga kaget, ha wong selama ini selalu basah lidahnya mengingat Allah kok mau karam juga. Semuanya lupa, karamnya mereka itu lantaran tak ada satupun yang menghentikan upaya idiot sang pembocor kapal.

Salah seorang pasien simbah pernah bertanya, “Mbah, ha wong gara-gara segelintir orang kok semua harus nanggung. Kok bisa begitu itu gimana nalarnya?”

Simbah jawab, “Sampeyan tahu kan, komplek kita ini dulunya tak ada yang namanya polisi tidur. Semua pemakai jalan bisa berjalan dengan mulus tanpa harus ngerem-ngerem menghindari gajlugan polisi tidur. Lalu tiba-tiba ada seorang idiot bergaya Palentino Rosi lewat hampir nyerempet seorang anak kecil yang sedang main di jalan. Dari situlah orang berpikir untuk memasang polisi tidur walau sebenarnya bisa ditempuh dulu dengan menasehati pemakai jalan itu. Namun karena tak ada yang amar makrup nahi mungkar dipasanglah polisi tidur, bahkan sampai ada yang masang polisi nungging karena saking tingginya. Saya tanya sampeyan, jika sudah dipasangi polisi nungging itu, yang kena gajlugan apakah cuma si begajul ngebut ala Palentino Rosi tadi atau semua pemakai jalan termasuk yang ati-ati? Bahkan mbah Wiryo Setliko yang ngonthel dengan kecepatan siput pincang pun terpaksa kena gajlugannya si polisi tidur itu.”

“Masuk akal juga.” Kata pasien simbah tersebut.

Memang harus ada upaya amar makruf nahi munkar kepada para penguasa dunia, bahwa yang mereka upayakan saat ini adalah upaya idiot membocori kapal yang bisa menimbulkan bencana karam global. Amar makruf nahi munkar lah yang menyelamatkan kapal dunia dari bencana karam global. Memang masih ada ratusan juta bahkan milyaran bibir yang berdoa, berdikir, menengadahkan tangan minta keselamatan pada Penguasa Alam Semesta. Namun Sang Pencipta sudah memberi isyarat pada kita semua, 

“Kalian sendiri bisa menyelamatkan nasib kalian. Ada upaya yang bisa kalian tempuh, mengapa tidak kalian tempuh? Mengapa kalian suruh Aku menyelesaikan masalah kalian, sementara jalan penyelesaian sudah Aku tunjukkan pada kalian?”

Malulah Sebelum Malu-maluin


Kemarin simbah menyempatkan diri blayangan ke Pasar Pagi buat survey barang-barang mainan. Sibuk dan ruwet bukan main. Hingga akhirnya simbah sampai di satu sudut jembatan yang baunya minta ampun pesingnya. Rupa-rupanya khalayak ramai sepakat untuk ngrabuk sudut jembatan itu dengan uyuh bin kencing. Dan itu nampak dari beberapa orang yang dengan sengaja wira-wiri masuk kesitu untuk memenuhi panggilan alamnya.

Yang gak enak dipandang adalah prosesi dari ngrabuknya itu. Lha si oknum dengan santainya ngocor sambil singsut-singsut, trus dengan cueknya mengandangkan si waterbird ke paseban. Hampir tanpa tutup, di tengah lalu lalangnya orang. Jangan tanya cebok apa nggaknya. Atau istinjak pakai apa, karena baik air maupun batu tak ada. Kalopun dimungkinkan istinjak, paling dioset-oset ke tembok jembatan… jian malah mikir yang saru tho sampeyan..

Kejadian yang sama pernah simbah lihat di Terminal Pulogadung. Cobalah di siang hari yang terik, berjalan di dalam terminal bisnya. Maka aroma amonia yang nyungsep menggelitiki hidung akan segera menyambut sampeyan. Trus tak lupa pemandangan di kiri kanan, para sopir dengan santainya nguyuhi ban kendaraannya, sambil sesekali ngudud pating sledubh…. terlihat puas.

Padahal nguyuh wal kencing itukan urusan yang sensitip dan membutuhkan privasi. Terbukti orang lebih nyaman melakukannya di ruangan tertutup. Kalopun di ruang terbuka, ternyata ya masih clingak-clinguk macem munyuk ditulup. Berarti masih tersisa endapan rasa malu. Belum semua terkikis. Nggak kayak Sarindi si oknum yang setengah edan, seprapat menying, dan seprapat ra ganep itu, nguyuh ya tinggal mlotrokne kathok. Masalah orang lihat rudalnya apa tidak gak masalah.

Malu itu bagian dari iman. Tapi malu yang pada tempatnya. Dahulu wanita kelihatan dengkulnya saja merasa malu. Bahkan wanita barat pun begitu. Namun seiring dengan waktu, jangankan dengkul, sampai keliatan selangkangannya pun malah ditunjukkan dengan senyum lebar. Mereka bilang itu kan cuma daging dan kulit biasa. Batas aurat yang harus dirasakan malu oleh pemilik aurat pun gak jelas, dan malah dibikin kabur.

Aurat jadi gak jelas definisinya. Ini disengaja, biar bingung mendefinisikan aurat, pornografi dan lain sebagainya. Sebagian orang menganggap yang namanya aurat wanita itu cuma “puting susu” sama “klitoris”. Jadi selama dua barang itu tertutup, masih bisa dianggap menutup aurat. dan itulah yang sedang dikampanyekan oleh sebagian besar jurkam Iblis. Yang lebih ekstrim, ada juga yang gak mengenal aurat. Tubuh manusia itu gak ada auratnya. Pakaian itukan cuma memperindah saja fungsinya. Kalo dengan tanpa pakaian lebih indah, ngapain berpakaian.

Inilah yang akhirnya membuat rasa malu manusia terkikis. Gadis pemalu yang tadinya gak enak kalo pahanya terlihat, berlomba-lomba menggelar tontonan gratis di mana-mana tempat. Kalo ditegur malah nyobrot, “Situ saja yang ngeres otaknya. Lha kalo sudah dasar pikirannya ngeres, lihat pepaya saja asosiasinya sudah macem-macem.”

Yang nyobrot ini gak sadar bahwa type manusia yang dia cap ngeres otaknya itu bukan satu dua orang. Dia hanya berpikir bahwa yang ngeres otaknya itu adalah para kyai bersorban, berjenggot, celananya cingkrang, jidatnya gosong yang mengingatkan dia untuk berpakaian menutup aurat, mereka ini sok bermoral, jumlahnya minoritas, hanya 5% paling banter. Sedangkan selain yang simbah sebut tadi adalah manusia yang layak dipercaya, yakni dari kalangan preman pasar, karyawan kantor berwajah culun, laki-laki monogami yang santun, pria-pria eksekutif dari alam party dugem yang sopan berhati bersih, bromocorah bertato yang pasti tahu adab, yang kalo lihat paha mulus dan payudara montog sama rasanya dengan melihat batu kali. Dan golongan yang ini lebih banyak, 95% lah, miturut statistik mereka. Jadi gak usah kawatir kalo mau ngligo ngumbar kothang.
Gak tahulah simbah, darimana statistik itu. 

Tapi ada salah seorang kawan lama simbah dari dunia dugem yang termasuk dalam 95% manusia santun dan beradab itu, suatu ketika duduk mendengarkan satu ceramah. Duduk di depannya seorang perempuan memakai rok ultra mini. Mungkin gak kuat sumuk, maka dibiarkan ngisis semriwing agak semrowong. Sang kawan lama bertanya pada teman sebelahnya dengan berbisik :

“Nggowo sego opo ora Dul?” tanyanya, pada si Dul kawan dekatnya. Aneh-aneh wae, kok nanya bawa nasi apa tidak nggo opo tho?

“Ora kang. Takok sego nggo opo?” Tanya si Dul.


“Galo kae ono sampil nganggur iso nggo lawuh….”


Keduanya ngakak, saat si kawan lama nunjuk paha mloho yang digelar bak sampil wedhus kambing guling. Mungkin semua orang dianggep kayak si kawan lama ini. Lihat auroth malah ngelih…. dasar kanibal ndeso.


Maka malu itu pokok. Malu yang pada tempatnya. Tempat malu adalah di dalam koridor syareat agama. Ini berlaku dimana-mana tempat. Di jalan, di gedung DPR, di kantor, di terminal dlsb. Kalo malu sudah tercabut, maka bencana besar. Korupsi, kolusi, nepotisme, dan budaya permisif adalah sebagian kecil akibat hilangnya rasa malu. Maka janganlah menjadi orang yang sebagaimana disebutkan cirinya oleh Ki Tamtomo Madipo-dipo di bawah ini :

Isih cilik isinan
Mundhak gede ngisin-isini
Mbareng tuwo ra nduwe isin

(oleh Kamus Pitutur ver.5.2.1 diterjemahkan : waktu kecil pemalu, saat dewasa malu-maluin, saat tua gak tahu malu)