Tampilkan postingan dengan label Pitutur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pitutur. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Januari 2020

Halal Batas Haram


Yang namanya halal dan haram itu sebenarnya sudah jelas. Tapi hananging wal hanamun, di dunia kasunyatan definisi kedua hal tersebut bisa tumpang tindih, tumpang suk dan gaprukan sesuai kehendak napsu dan setan. Termasuk istilah haram batas halal ini. Sebetulnya mumetke, tapi dipake di segenap penjuru negeri, terutama bagi kalangan koruptor. Baik kelas kakap maupun kelas ceremende.
Apa tho Mangsudnya haram batas halal itu? Bagi sampeyan yang belum kesentuh istilah laknat ini memang mbikin kening berkerut. Tapi bagi yang sudah kenyang dengan harta kelas beginian, sampeyan yang belum tahu malah akan dicap sok suci dan tinggal nunggu tanggal mainnya ikut ngunthal harta macem ginian. Cuma masalah waktu saja, katanya.

Jika ada kacung disuruh potokopi oleh bos eselon satu, potokopinya senilai tigabelas rebu mangatus ripis, lalu kwitansinya senilai itu juga, maka itu kelas HALAL murni. Jika kwitansinya senilai tigapuluh rebu ripis, maka ini sepakat haram, setan pun sepakat. Tapi jika nilai kwitansinya limabelas rebu ripis, inilah yang disebut haram batas halal. Karena cuma sewumangatus ripis, itu batas kebolehan buat ngambil yang haram, sesuai kesepakatan nepsu, akal dan setan alas kobar. 

Kang Darmo Dimpil bilang, “Wajar lah ngambil segitu, kan gak gedhe-gedhe amat. Etung-etung buat jerih payah nyebrang jalan raya.”

Dan kebanyakan dari kita mengamini cobrotannya kang Darmo Dimpil tersebut.

Maka ketika pak bupati dapet proyek perbaikan jalan di wilayah yang dikangkanginya, sang kontraktor jangan harap dapet dana 100% buat mbikin jalan tersebut. Jikalau sang Bupati ngambil 15% saja, maka itu dianggap batas halal dari yang haram. Kalo ngambil 30% akan dianggap masih dalam haram batas halal, tapi dengan resiko nyiprati moncong di kiri kanan biar gak berkicau nyaring bak emprit dipakani kroto. Paling gak 10% nya diciprat-cipratke buat pagar pengaman. Kalo bupatinya ngambil 50%, ini dianggap  keterlaluan. Apalagi gak ada nyiprat-nyipratnya babar blas. Koruptor satelit disisi sang bupatipun sepakat, ini haram.

Herannya, tetep saja ada oknum manungso model begituan. Proyek jalan bernilai puluhan M, baru diliwati andong sudah semplak aspalnya. Karena mutu aspalnya bener-bener ASPAL. Lha diemplok 50%, melewati ambang batas haram yang dibolehkan. Bayangkan jika sang Bupati ngambil 25% saja, jika nilai kontraknya 50 M maka bisa dibayangkan yang masuk kantong sang Bupati. Dan perlu diketahui, 25% itu masih di ambang haram batas halal. Ediyan tenan. Njaluk dislomot neroko jahanam tenan.

Makanya dimusim Pilkadal saat ini, banyak kadal yang mulai berhitung. Tarohlah buat menang butuh biaya dan biayakan 50 M, itu nilai yang kecil, dibandingkan dengan yang akan diperolehnya dalam jangka 5 tahun ke depan. Ada bupati yang pada tahun pertamanya sudah BEP. Tahun kedua mbangun 5 SPBU, tahun ketiga ekspansi bisnis, tahun keempat dan kelima persiapan kampanye. Bupati mana itu? Mang goleki dewe, paling-paling bupati Kadipaten Karang Tumaritis.

Lha yang nglangut tetep rakyat kecil. Mau makan nasi, harga beras naik. Mau nggoreng lawuh, minyak gorengnya ikutan naik. Mau minum, tarif PDAM naik juga. Hidup macem lomba panjat pinang. Cuma buat ngraih satu tujuan, kudu ngidak-ngidak konco, menjatuhkan yang lain, itupun pakek mlorot-mlorot dan dilorot. Kalo sudah dapet isine ra mbejaji. Sedangkan yang diraih, makin menjauh dan keliatan naik saja.

Mulailah dari diri kita. Sampeyan semua dan simbah juga. Berapapun yang bukan hak milik kita, haram hukumnya. Gak ada batas halalnya buat barang yang haram.


Beban Harta


Sampeyan pernah naik sepur kelas ekonomi sambil mbawa duik limapuluh juta ripis? Kira-kira rasanya pigimanah? Kira-kira sampeyan bisa tidur gak dengan kondisi seperti itu? Dengan kondisi keamanan sepur kelas ekonomi yang seperti sekarang, mbawa duik tigapuluh juta ripis di dalamnya adalah satu aktifitas yang menyiksa. Akan lebih menyiksa manakala duik itu adalah duiknya bos kantor dimana dia bekerja, yang harus diantar ke tujuan dengan selamat, dan kalo terjadi apa-apa harus ngganti… Mak nyuuut..

Bahkan jikalau bepergian di dalam fasilitas transportasi yang aman sekalipun, orang pingin bepergian dengan praktis dan aman. Gak mau direpotkan membawa-bawa barang yang malah membebani perjalanan. Maka menungso yang pikirannya begitu itulah yang setelah melalui ribuan tahun sejarah kemanusiaan, akhirnya menemukan yang namanya ATM dengan kartunya. Kartu kecil, gampang dibawa dan disimpan, yang manfaatnya lebih besar daripada mbawa  tumpukan koper berisi tetek bengek bekal perjalanan.

Adalah konsep hidup model begitulah yang dianut salah seorang sohib simbah, yang tinggal di tlatah Javanese sono. Sebut saja namanya Abdul Ghani (bukan nama sebenarnya temtunya). Seorang yang sederhana, rumahnya kecil, anak banyak dengan segudang aktifitas yang menyibukkan dirinya sehingga hanya menyisakan sedikit waktu dia untuk nyari nafkah buat keluarganya.

Dengan waktu sehari yang cuma sekian jam untuk nyari duik itu, akhirnya membuat penghasilannya gak pernah banyak secara kuantitas. Maka tak terbersit sama sekali dalam hati Kang Abdul Ghani ini untuk bercita-cita jadi sugeh mblegedhu. Dia tahu diri, memang rejekinya hanya selevel koret-koret dasar kuali, alias rejeki kelas recehan. 

“Yah, mau apalagi tho mbah hidup ini. Wong ya cuma mampir sekian puluh tahun, habis itu nggeblas lagi ke alam berikut. Mau sugeh ya akhirnya matek, mau miskin ya akhirnya matek. Lha wektu nyari duik cuma sebentar, ya memper lah kalo cuma dikasih segini. Yang penting cukup,” katanya pada suatu hari.

Kata yang terakhir itulah yang menjadi misteri buat simbah. “Yang penting cukup”. Dan memang begitulah adanya. Dengan anak yang pating drindil, yang saat ini kalo gak salah sudah lima anak, pigimanah mengandalkan rejeki kelas koretan dan lantas  dengan klecam-klecem bisa ngomong dengan santai “Yang penting cukup”? Herannya memang bener-bener cukup. Anaknya bisa sekolah semua, makan sehari-hari cukup, bisa mbayar rekening tagihan bulanan, dan mantabhnya dia sangat mandiri.

Salah seorang rekan ngaji simbah menyebut rejekinya sebagai rejeki kelas “tuhia”. Yakni rejeki yang kalau pas “butuh” lalu sudah “tersedia”. Simbah melihatnya seperti orang yang bepergian gak bawa bawaan macem-macem, tapi ATM nya berisi duik dengan nominal puluhan digit. Klecam-klecem, cengar-cengir, gak repot, nyantai, gak terbebani dengan bawaan, tapi tiap kali butuh tinggal pencet-pencet tombol PIN dan duik dateng.

Bandingkan dengan Kang Panjul yang baru pertama kali blayangan ke Jakarta dari desanya di Gunung Kidul sana. Ha wong ke Jakarta kok mbawa baju lima koper karena takut gak sempat umbah-umbah, mbawa klapa 10 butir yang katanya buat mbikin es degan di Jakarta, mbawa pitik babon lima ekor, plus pete limang renteng buat lalap. Penumpang model beginilah yang mbikin penumpang kendaraan angkutan umum lainnya jadi tersiksa.

Cuma masalahnya, punya rejeki tuhia itu gak gampang. Harus punya mental dan keyakinan mantabh pada Sang Pemberi dan Pengatur Rejeki. Ditambah lagi, harus punya PIN yang cocok, yakni doa yang makbul. Bayangkan, anak sakit, anak sekolah, anak kuliah, anak isteri butuh makan, dan kebutuhan lainnya tinggal sambat ke  langit dengan penuh yakin, besoknya rejeki datang dengan beribu sebab dan jalan menghampiri rumahnya. Tentu saja dengan diiringi sikap harap-harap cemas, khauf dan roja. Dan ini sikap orang yang bertaqwa.

Banyak orang yang gak siap dengan gaya hidup seperti ini. Orang lebih memilih menjalani perjalanan hidupnya ala kang Panjul dari Gunung Kidul. Apa-apa punya atau dengan kata lain wajib kaya. Duik buat “kalo-kalo” anak sakit harus sudah ada, duik “kalo-kalo” ntar anak kuliah harus tersedia, duik “kalo-kalo” terjadi apa-apa sudah tersedia juga. Barulah jika segala “kalo-kalo” yang ditakutkan manusia itu terkafer semua, maka dia baru bisa tidur nyenyak, tidur pules, gak khawatir, gak cemas dan gak dihantui “hantu-hantu” kebutuhan pokoknya.

Kenyataannya tidak begitu. Ketika manusia jumpalitan mengusir rasa ketakutannya akan “kalo-kalo” yang hendak terjadi dengan menyiapkan harta sebanyak-banyaknya, disini dia dihantui dengan ketakutan yang lain.  Yakni ketakutan akan kehilangan semuanya. Dia dituntut harus mempertahankan hartanya agar tidak hilang, habis serta gak dicolongi, dan itu adalah satu bentuk kesibukan tersendiri yang gak kalah menyiksanya. Hal yang gak pernah dialami kang Abdul Ghani atau penumpang yang gak bawa apa-apa selain selembar ATM bermuatan puluhan digit tadi.

“Waman yatawakal ‘alallahi fahuwa hasbuhu”
Barangsiapa tawakal pada Allah, maka itu cukup baginya…. :)



Takdir Sebagai Kambing Hitam


Sudah beberapa kali simbah menerima email konsultasi yang isinya senada dengan bunyi email di bawah ini :

“Mbah, perkenalkan nama saya Gemblong. Saya lahir pada tanggal 7 Mei 1978 jam 02.00 pagi. Saat ini saya sedang membina hubungan dengan gadis bernama Brintik yang lahir pada tanggal 4 Agustus 1982. Menurut simbah, pigimanakah nasib perjodohan kami? Apakah sejodoh,langgeng,… atau malah berantakan?Apakah yang sebaiknya saya kerjakan agar perjodohan kami ini lancar?
Terimakasih atas jawabannya ya mbah…”

Entah darimana sang pembaca mendapat inspirasi buat mengirim email ini. Lagian simbah juga tidak memasang iklan menerima konsultasi nasib.. Tapi di artikel itu simbah justru tidak mendukung adanya praktek ramal meramal nasib ala dukun-dukun online via SMS itu. Mungkin oknum Gemblong ini cuma mbaca judul tanpa mbaca isinya….

Ditilik dari isinya, secara keseluruhan menggambarkan point pokok isi dari otak para pencari kabar masa depan. Rata-rata pencari kabar nasib, menanyakan hal tersebut. Bagi sampeyan-sampeyan yang masih single, baik berstatus sebagai pejantan tangguh, bujang lapuk, Duren (duda keren), Dublag (Duda hampir nggeblag alias duda udzur), perawan ting-tong, janda kembang ataupun janda kembung, nasib perjodohan maupun hidup sampeyan bukanlah hal yang harus diketahui sekarang. Nasib Masa depan sampeyan dibangun oleh sampeyan sendiri. Sampeyan setiap saat disodori multiple choice yang ketika memilih satu dari sekian pilihan yang disodorkan itu, sampeyan memilihnya dengan sadar dan merdeka.

Nggak ada yang maksa sampeyan untuk minum Es Mambo ketika sampeyan haus, di saat ada pilihan es Puter, es Doger maupun es Dung-dung. Sampeyan sendiri yang milih dengan sadar es mambo tersebut.

Nggak ada yang maksa sampeyan buat menzinahi si Denok Deblong atau mau menikahinya secara syah, karena ketika menentukan pilihan itu tak ada yang menghipnotis sampeyan, dan sampeyan memilihnya dengan penuh kesadaran.

“Lha lantas, pigimanakah dengan pengertian bahwa Jodoh itu ada di tangan Tuhan?” tanya Salah seorang single fighter yang penasaran.

Jawabannya mudah. Jawabannya ada di pertanyaan simbah berikut: “Apa sih yang tidak berada di tangan Tuhan?” Tidak hanya perjodohan coy…. Semuanya berada di bawah genggaman Tangan Tuhan. Bahkan ledakan supernova yang jauhnya berjuta tahun cahaya dari bimasakti, yang meledak di saat sampeyan semua ngowoh sampai klebus bantal sampeyan, itupun di Tangan Tuhan. Juga golnya Maradona….

Simbah gak habis pikir, di saat ada pasangan selebritis dimana yang perempuan gak becus ngurus anak dan suami,lalu dicerai oleh suaminya, si perempuan masih saja bilang….
“Yah bagaimana lagi…memang bukan jodoh saya. Tuhan belum menghendaki perjodohan ini langgeng…”

Ha kok yang disalahkan malah Tuhan, sekaligus mengkambinghitamkan perjodohan. Ha genah jelas-jelas dia dicerai gara-gara kelakuan dia yang gak becus ngurus anak dan suami kok yang disalahkan Tuhan.

Lain lagi dengan si miskin yang mengkambinghitamkan takdir. Dari pagi buta sampai senja rabun kerjaannya cuma udad-udud, eca-eco ala kere ayem. Kalo dinasehati dan disuruh kerja, jawabannya standart : “Rejeki itu di tangan Tuhan. Kalo jatah di lauhul mahfudz sono cuma sak iprit, ya percuma kerja keras. Dapetnya tetep saja sedikit. Tapi kalo memang jatahnya gedhe, meskipun saya nglekaran kayak gini tetep bisa sugeh.” Dan dia gak sugeh-sugeh setelah prinsip dia itu dipegang hampir setengah abad.

Tak ada yang salah dengan kata-kata yang mereka gunakan sebagai alasan tersebut. Yang salah adalah, mereka memahaminya separo. Dalam ajaran yang utuh, benar diakui bahwa takdir ada yang mengatur. Mengatur disini bukan dalam artian diskenario sekehendak hati secara acakadut bin random. Tapi diatur dengan tertib yang baku dan ketat. Maka Allah selalu menggunakan kata-kata :
“Barangsiapa begini,maka begini…. Barang siapa begitu,maka begitu…..”

Sementara otaknya si miskin ahli takdir dan rombongannya itu pinginnya “Barangsiapa begitu maka tidak begitu… barangsiapa begini,maka tidak begini..”

Berpuluh kali simbah mengalami jawaban dari embah-embah mambu lemah yang simbah ajak untuk sadar dan mau nglakoni ngibadah, “Oalah kang, lha kalo saya dapet hidayah dan sudah takdirnya, entar kan berangkat sendiri. Sampeyan gak usah repot-repot ngajaki saya.”

Tapi herannya, mereka itu kalo haus, bingung nyari minum. Dan kalo laper, bingung cari makan. Kok nggak diem aja di tempat, nunggu takdir kenyang sendiri. Mengapa begitu ya? BBM naik ikut marah, dipukul mbales, dihina tersinggung….. Harusnya kan diterima aja, ha wong sudah takdirnya. Dasar tidak fair……!!

Yang banyak dilupakan orang-orang model si miskin ahli takdir dan si “jodoh di Tangan Tuhan” itu adalah,bahwa Allah dan kanjeng Nabi memerintahkan kita untuk beramal. Gak usah mikir takdir, itu hal rumit yang sudah ditangani dengan sempurna oleh Allah. Gak usah kawatir Allah lalai atau lupa dan dholim mengatur takdir kita. Allah tidak seperti itu. Jadi beramalah, bekerjalah dan berbuatlah. Karena beramal,bekerja dan berbuat itu PERINTAH Allah dan Nabi-Nya. Jangan merisaukan hasil. Karena yang diminta adalah proses. Kita tak dimintai tanggung jawab atas hasil. Seluruh perintah dan larangan Allah adalah berkenaan dengan proses. Keberhasilan adalah kemauan menjalani proses yang benar.


The Power of Risau


Dulu sewaktu simbah masih dapat jatah jaga di ICU, seringkali simbah menyaksikan para penunggu pasien menunggu di luar ruang dengan begitu cemasnya. Ada yang nggelar tikar sambil sesekali sledap-sledup ngudud dan srupat-sruput minum kopi, ada juga yang duduk merenung. Namun yang jelas semua jadi kuat melek.

Ibu-ibu yang tadinya ngantukan, jam sepuluh malem sudah mlungker selimutan, tiba-tiba menjadi bisa kuat melekan. Semalam tidur dua jam sudah cukup manakala menunggu anak kesayangannya dirawat di ruang batas hidup dan mati itu. Kang Pawiro Cobrot yang biasanya sebelum Dunia Dalam Berita sudah ngowoh, tiba-tiba jadi tukang melek selama berhari-hari karena nunggu isterinya yang kritis setelah cesar.

Itulah kekuatan asli manusia. Dalam keadaan normal, kekuatan manusia terasa terbatas. Orang sekuat apapun bisa kalah oleh capek dan letih. Kalo sudah kelelahan, oknum segothot apapun akan nglumpruk lemes karena dikalahkan oleh lelah.

Namun sebenarnya masih ada yang bisa mengalahkan rasa lelah. Apa itu? Lelah, letih ataupun capek, bisa dikalahkan oleh mabok. Kang Paidul yang badannya gering dan tampak ringkih itu, kalo sudah nenggak ciu limolas sloki, tiba-tiba bisa ngibing semalam suntuk tanpa capek. Demikian juga konco-konconya yang mblangsak gak karuan itu. Kalo sudah nenggak wiski sebotol plus pil koplo, mau diajak jogedan ala kipas angin yang gedak-gedek kira-kanan itu ya oke saja…  Gak ada capeknya.

Tapi mabok masih ada yang mengalahkan. Yang bisa mengalahkan mabok adalah kantuk. Kalo kantuk sudah datang, semabok apapun seseorang pasti klipuk juga. Ngorok senggrak-senggrok kayak suara gergaji sedang melakukan aksi illegal logging. Sesekali diselingi batuk karena tersedak iler.

Nah … rasa kantuk itu  masih ada yang bisa mengalahkan, yakni RISAU. Macem penunggu pasien di emperan ICU rumah sakit itu. Risau karena menunggu dan mencemaskan sesuatu yang menyebabkan kantukpun dianggap angin. Melek semalaman no problem. Ada kekuatan ekstra yang muncul dengan tiba-tiba manakala risau itu datang. Dan tubuh pun merespon serta beradaptasi dengannya.

Dengan ini pula maka kita bisa paham, mengapa Nabi saw bisa sholat malam semalaman suntuk sampai kakinya bengkak. Dakwah tanpa lelah sampai babak belur dan tetap bertenaga terus. Juga riwayat orang-orang yang kuat ngibadah sampai sedemikian hebatnya. Mereka bisa begitu karena menyertakan risau pada amalannya.

Sayangnya kekuatan risau ini lebih banyak diletakkan pada sesuatu yang sebenarnya tak perlu dirisaukan. Orang lebih banyak risau tentang bagaimana mencari sesuap nasi. Satu hal yang sudah dijamin pasti adanya selama hayat masih dikandung badan. Tapi tak pernah risau bagaimana nasibnya nanti di akherat. Apakah selamat ataukah cilaka mencit…??

Sebagian merasa tenang karena salah dalam memahami Maha Pengampunnya Allah. Setiap kali habis mblangsak, mabok, zina, korupsi dan maksiat, yang tertanam dalam dirinya adalah keyakinan bahwa dirinya sudah diampuni. Sampai-sampai ada yang berkeyakinan bahwa semuanya nanti pasti masup sorga, karena Tuhan Maha Kasih Sayang, gak mungkin menyiksa hamba-Nya. Mungkin orang ini belum pernah dibacok anaknya sama garong, belum pernah diperkosa isterinya sama bromocorah dan belum pernah disunduki dan disetrum kemaluannya sama interogator yang memaksa mengakui perbuatan yang gak pernah dilakukannya.

Mulai sekarang, sertakan risau dalam semua urusan kita, agar kekuatan ekstra yang tak kenal lelah membantu kita mengerjakan amalan-amalan kita… ;)


Jurus Setan


Sebagaimana yang sudah dipahami, yang namanya tokoh sentral kehidupan di alam raya ini adalah manusia, bukan alien, gendruwo, wewegombel, banaspati ataupun sundel bolong. Manusia diiringi oleh dua kekuatan makhluk, yakni malaikat sebagai suporter kebaikan serta syetan sebagai suporter keburukan. Kedua energi negatip dan positip ini setiap detiknya mempengaruhi keputusan manusia untuk beramal. Apakah amal baik ataukah amal jelek.

Di dalam menjalani amal kebaikan, manusia akan selalu dihalangi dan dimusuhi oleh setan dan wadyabalanya. Trik dan tipu daya setan itu banyak macam dan banyak ragam. Dari setan kelas ceremende sampai setan kelas pejabat eselon satu. Nah, berikut ini akan simbah wedar beberapa jurus yang biasa setan gunakan untuk menjlomprongkan manusia.

1. Jurus Pertama.
Ini jurus klasik. Pelaksananya setan kelas ceremende. Tugasnya simpel, yakni menghalangi manusia dari taat pada aturan Gusti Allah. Jadi pokoknya cuma menghalangi dan mbujuki biar manungso gak usah njalani ngibadah. Jurus paling ringan ini saja bisa menjaring banyak pengikut sampai sak arat-arat. Jika sampeyan mendengar omongannya kang Kerto Gentho macem begini, “Halah, ngapain sholat dan sedekah. Buang-buang waktu dan duit saja. Mendingan waktunya dipakai buat yang produktip.”  Maka sebenarnya dia itu sedang dijerat oleh setan kelas ceremende.


Kalo sampeyan di kelas ini saja keok, yo wis lah. Berarti kelas sampeyan cuma kelas teri. Sama setan level pra TK saja kukut.

2. Jurus Kedua.

Setan level ini menggoda manungso yang bertekad mau ngamal dan gak mau dihalangi. Nah setannya nuruti saja niat baiknya. Tapi secara halus dibujuki agar manungso mau “menunda” niat baiknya itu. Setannya mbisiki, “Udahlah sholat, sedekah, dan haji itu memang bagus sih. Tapi entar aja lah. Kamu kan masih muda, itu paling bagus dipakai ndugem saja. Ntar kalo sudah tua mertobat. Amal manusia kan yang penting gimana akhir hayatnya. Daripada sekarang ngamal sholeh trus pas tuwek ngekek malah maksiat… akhirnya neraka juga kan.”


Bujukan setan kelas ini menghasilkan manungso yang kalo diajak ngamal selalu bilang, “Yah, entar kalo sudah saatnya kan njalani juga. Sedekah entar saja kalo sudah nerima rapelan… lha kalo munggah kaji besok saja kalo anak cucu wis dadi uwong.”
Emange saiki isih munyuk…??


Korban jurus kedua ini juga gak kalah banyak. Mungkin sampeyan salah satu di antaranya. Di level kecil korbannya adalah orang yang suka menunda sholat sampai mepet hampir habis waktunya, subuh kesiangan, dlsb.

3. Jurus Ketiga.

Kalo jurus kedua itu sifatnya menunda, maka jurus ketiga ini si setan justru malahan mendorong agar manungso cepat-cepat njalani ngamal sholeh. Weleh, jos tenan. Setan kelas ini levelnya sudah mengarah kepada level khusus.


Mbujuki agar manungso cepet-cepet nglakoni ngamal itu temtu saja dengan konotasi ala setan. Yakni cepet-cepet dalam artian buru-buru. Sehingga karena buru-burunya sang manungso belum siap ngelmunya. Maka beramallah dia dengan tanpa ngelmu.


Sholatnya tanpa ngelmu yang cukup, akhirnya belepotan, taklid ikut-ikutan, pokoke ngene. Hajinya tanpa kesiapan ngelmu, akhirnya cuma plesir pake kemben putih, trus tahu-tahu pulang dipanggil pak kaji dan bu kajah setelah bagi-bagi tesbeh dan sajadah dicampur air zam-zam. Sudah kaji tapi sholat maghrib pirang rokangat ra apal. Semua berawal dari ketergesaan dan ketidak siapan ngelmu akibat diburu-buru setan untuk segera ngamal. Yang bener, segeralah beramal tapi dengan langkah yang tepat, tidak usah buru-buru. Lantas dipelajari ngelmunya secara bertahap agar amalnya dilandasi ngelmu yang mantabh…

4. Jurus Keempat
Jurus ini dipakai setan buat orang yang sudah tak mempan lagi dihalangi dan ditunda ngamalnya, Serta sudah melandasi amalnya dengan ilmu sebaik-baiknya. Maka jurus yang dilancarkan adalah menyerang sisi keniatan si pelaku amal. Segala ngamal ngibadah itu harusnya ikhlas. Tapi si setan membelokkan keniatan itu kepada niat-niat yang tujuan akhirnya adalah makhluk.


Maka disini setan nyebar pirus yang namanya riya’. Yakni ngamal sholeh untuk pamer dan dilihat manusia. Nyumbang masjid gak puas kalo gak dijepret kamera trus dipublikasikan di semua media. Nyumbang anak yatim gak mantabh kalo gak dipilem dan dipidiokan trus disiarkan di tipi. Tampak mesam-mesem puas melihat dirinya muncul di media sedang mbagi-mbagi rejeki, sekaligus menaikkan citra baiknya yang merupakan kredit point positip bagi kelangsungan karirnya.

Selain pirus riya’, si setan juga menebar bakteri sum’ah. Sum’ah ini gak mau amalnya dipertontonkan, gak seneng amalnya dilihat orang. Bahkan seringkali nyumbang dengan nilai besar trus ID nya cuma disebut “Hamba Allah di Bumi Allah”. Tapi ketika dia mendengar orang-orang membicarakan kebaikan si “Hamba Allah di Bumi Allah” itu, hatinya berbunga, bangga, menikmati pujian itu dengan berkata pada dirinya sendiri, “Ha wong aku kok… Gitu lho amalan yang ikhlas. Hanya Allah yang tahu, orang gak tahu… ya persis kayak aku ini.”

Itulah bakteri sum’ah, bukan seneng diperlihatkan amalnya tapi senengnya jika diperdengarkan amalnya. Disebut-sebut amalnya meskipun anonymouse. Kedua-duanya merusak niat ikhlas kita.

5. Jurus kelima
Di level ini jurusnya mangkin maut. Targetnya adalah manungso yang gak bisa dihalangi, ditunda dan diburu-buru untuk ngamal, trus berusaha ikhlas. Jadi untuk manungso yang sudah setengah sumeleh, maka dikirimlah setan jenis pengglembuk ulung.


Setan level ini mbisiki pada manusia, “Wah, sampeyan itu manungso langka lho. Mau ngamal sholeh, masih muda, ilmunya tinggi, lillahi tangala.. jarang lho ada manungso macem sampeyan. Yang lain-lainnya itu kan cuma tengu bangsat, gak ada apa-apanya dibanding sampeyan yang sudah sumeleh.”

Dipuji-puji sama setan setinggi langit lapis sembilan, sehingga melenakan. Akhirnya si manungso kemasupan sipat ujub. Mengherani diri sendiri, menganggap dirinya hebat dan mumpuni. Merasa amalnya sudah sak ikrak tumplak. Jauh dari neraka dan sudah bertetangga dengan surga. Sifat ujub ini melalaikan dan membinasakan. Seyogyanya semua pelaku ngamal sholeh mau meniadakan dirinya di hadapan Allah. Karena sebenarnya Gusti Allah lah yang memberikan taufik dan hidayah-Nya sehingga manungso bisa dan mau menjalani ngamal ngibadah. Kita lemah gak bisa apa-apa tanpa pertolongan Allah swt. Tapi dasar setan… manungso diglembuk, dielus-elus trus dikepruk. Sing dikepruk malah jegegas-jegeges gak ngrasa..

6. Jurus Keenam
Kalo ada manungso yang bisa ngamal, gak menunda amal, berilmu, trus bisa pasrah sumeleh serta yakin bahwa amalnya itu semata-mata atas pertolongan Allah dan ikhlas lilahi tangala, maka dikirimlah setan level advance. Level keenam ini si setan mencari celah. Dibiarkannya lima setan krocok dibawahnya njengkang kalah. Tapi dia jeli dan memanfaatkan momen. Ketika ada kesempatan masuplah dia. Yakni dengan cara membangkitkan emosi si manungso sehingga dia mengundat amalnya.


Mengundat atau mengungkit amalan yang sudah dikerjakan akan menghancurkan pahala amal. Ibarat sudah mbangun gedung sampai jadi, tahu-tahu dibom sampae hancur oleh si pembangunnya.
Biasanya mengungkit atau mengundat amalan dilakukan di saat manungso lengah. Misalnya, ada orang sudah ditulungi, diopeni, tahu-tahu melakukan perbuatan yang menyinggung dirinya. maka akan muncul ucapan-ucapan yang mengungkit kebaikannya. Macem gini :

“Oalah, dulu kalo kamu gak saya openi, kamu masih kere di jalanan. Kalo nggak ditulungi kamu mesti masih ngemis-ngemis. dasar ra nyawang githok.”

“Masjid itu kalo saya gak rintis pembangunannya gak bakalan berdiri tuh. Ha wong orang-orang sini katro semua.”

“halah tiwas tak tulungi… ha kok sekarang malah gak tahu terimakasih. Kalo kamu dulu gak ditulungi jadi apa kamu sekarang.”


Dan masih banyak sekali contoh-contoh yang serupa. Jadi hendaknya yang namanya amal itu ya harus ikhlas ketika sebelum beramal, saat beramal dan sesudah beramal. Trus dijaga sampe mati. Di lepel ini memang mangkin berat. Setannya juga bukan sembarang setan.

Sebenarnya masih ada beberapa jurus yang belum simbah sampaikan. Tapi sementara sampai disini dulu


Kapal Bocor


Beberapa waktu lalu simbah mendapat kabar bahwa beberapa perusahaan leasing mobil di Jakarta ini terancam kukut. Penyebab yang langsung dituding adalah krisis keuangan global. Karena sampai saat ini kata-kata “krisis keuangan global” adalah kata-kata ampuh untuk dijadikan biang kerok segala macam kejadian yang gak mbejaji. Tersiar pula kabar bahwa beberapa perusahaan tekstil dan industri lain mulai memanggil karyawan-karyawannya untuk ditawari memilih satu diantara 2 opsi. Yakni pilih mundur teratur atau mundur kabur. Jika mundur teratur akan disangoni walau gak mitayani. Tapi kalau mau bertahan, diramalkan di awal tahun 2009 perusahaan akan kolaps dan karyawan jangan harap dapat pesangon apapun, karena pemilik perusahaannya gak bakalan mampu dan justru memilih kabur dari tanggung jawab.

Kang Waluyo Pithut, salah seorang pemilik showroom mobil di bilangan Jatinegara mulai menggerutu, “Sebetulnya krisis ini apa tho penyebabnya? Katanya semua ini gara-gara Amerika Koplo. Gara-gara kelakuan mbejat segelintir jidat saja kok mbikin dunia jungkir balik,” keluhnya.
Simbah sendiri gak begitu paham perihal teori-teori ekonomi yang dipakai oleh ahli-ahli ekonomi dunia itu. Tapi yang jelas segala bentuk teori ekonomi yang sekarang ini dipakai, ternyata berujung pada krisis keuangan global seperti sekarang ini. Hampir semua ahli ekonomi menyusun kebijakan ekonominya untuk menyejahterakan rakyatnya. Semua negara menerapkan kebijakan ekonominya berdasarkan saran ahli-ahli ekonominya. Namun melihat krisis keuangan yang sekarang ini sedang melanda, timbul rasa skeptis pada diri para ahli ekonomi itu. Jangan-jangan segala macam bentuk teori ekonomi yang sekarang ini dijalani dan diubal-ubal ajarannya itu sebenarnya semuanya hanyalah sekumpulan “Bull” yang ketemu “Shit” alias omdo. Maka tak heran jika lantas para ekonom mulai mengevaluasi segala macam teori ekonomi yang sebelumnya dipegang menjadi setengah agama itu, baik teori ekonomi kapitalis, sosialis, komunis maupun yang cuma pringas-pringis.

Menurut kang Waluyo Pithut yang memang tak pernah mengenyam sekolah sampai tamat dan tak pernah belajar teori ekonomi yang ndakik-ndakik, segala bencana ekonomi dunia saat ini sebenarnya diawali oleh perangnya si Bush lawan Saddam Husein yang melibatkan rakyatnya. Perang yang akhirnya membahayakan ekonomi Amerika Koplo, didukung oleh meroketnya harga minyak dunia dan perilaku korup yahudi amerika dengan sistem ribanya, menjadi ramuan manjur buat membangkrutkan dan memberantakkan tatanan ekonomi dunia.

Kelakuan Amerika Koplo yang dengan tak sopan mengangkangi negara-negara kecil tak bersenjata demi minyak, hampir tiap hari ditayangkan di tipi. Kelakuan mbejat Amerika koplo dengan segala kelicikannya hampir setiap hari dipertontonkan di hadapan kang Waluyo Pithut sang pemilik showroom, pada Pak Min si penjual sego kucing, pada Lik Gemblong seorang pengusaha odhong-odhong, atau pada pejabat semi penjahat yang memegang keputusan dan kebijakan. Semuanya tak sadar, bahwa tontonan yang dipertunjukkan Amerika Koplo di tipi itulah yang akhirnya mengukut showroomnya Kang waluyo Pithut, mengancam harga bandeng di segonya Pak Min, menggerogoti kempolnya Lik Gemblong yang mengayuh odhong-odhong tanpa penumpang dan membuat jidat pejabat terembat lantaran puyeng mikir tuntutan rakyat yang sekarat.

Kanjeng Nabi menggambarkan perilaku Amerika Koplo itu ibarat serombongan idiot yang sedang melobangi dasar perahu karena hendak mengambil air di bawahnya, lantaran jikalau harus turun naik ngambil air terlalu jauh jaraknya. Sedangkan kita semua ini adalah penumpang di perahu tersebut, namun hanya bengong ngowoh melihat keidiotan sang pembocor perahu tanpa ada yang mengingatkan atau menegur. Di antara penumpang perahu itu ada yang sedang sholat, ada yang sedang doa hewes-hewes, ada yang sedang ndikir, ada yang sedang mbaca kitabullah, namun tak satupun yang menegur perilaku sang idiot yang sedang melobangi perahu. Manakala perahu mulai karam, semua panik. Pertunjukan koplo sang idiot rupanya membahayakan banyak jiwa dengan karamnya kapal. Sang ahli sholat heran, ha wong dirinya rajin sholat kok ikut karam. Sang tukang doa juga heran, ha wong tiap hari mendoa sapu jagad kok juga ikut mau karam. Sang ahli ndikir dan baca kitabullah juga kaget, ha wong selama ini selalu basah lidahnya mengingat Allah kok mau karam juga. Semuanya lupa, karamnya mereka itu lantaran tak ada satupun yang menghentikan upaya idiot sang pembocor kapal.

Salah seorang pasien simbah pernah bertanya, “Mbah, ha wong gara-gara segelintir orang kok semua harus nanggung. Kok bisa begitu itu gimana nalarnya?”

Simbah jawab, “Sampeyan tahu kan, komplek kita ini dulunya tak ada yang namanya polisi tidur. Semua pemakai jalan bisa berjalan dengan mulus tanpa harus ngerem-ngerem menghindari gajlugan polisi tidur. Lalu tiba-tiba ada seorang idiot bergaya Palentino Rosi lewat hampir nyerempet seorang anak kecil yang sedang main di jalan. Dari situlah orang berpikir untuk memasang polisi tidur walau sebenarnya bisa ditempuh dulu dengan menasehati pemakai jalan itu. Namun karena tak ada yang amar makrup nahi mungkar dipasanglah polisi tidur, bahkan sampai ada yang masang polisi nungging karena saking tingginya. Saya tanya sampeyan, jika sudah dipasangi polisi nungging itu, yang kena gajlugan apakah cuma si begajul ngebut ala Palentino Rosi tadi atau semua pemakai jalan termasuk yang ati-ati? Bahkan mbah Wiryo Setliko yang ngonthel dengan kecepatan siput pincang pun terpaksa kena gajlugannya si polisi tidur itu.”

“Masuk akal juga.” Kata pasien simbah tersebut.

Memang harus ada upaya amar makruf nahi munkar kepada para penguasa dunia, bahwa yang mereka upayakan saat ini adalah upaya idiot membocori kapal yang bisa menimbulkan bencana karam global. Amar makruf nahi munkar lah yang menyelamatkan kapal dunia dari bencana karam global. Memang masih ada ratusan juta bahkan milyaran bibir yang berdoa, berdikir, menengadahkan tangan minta keselamatan pada Penguasa Alam Semesta. Namun Sang Pencipta sudah memberi isyarat pada kita semua, 

“Kalian sendiri bisa menyelamatkan nasib kalian. Ada upaya yang bisa kalian tempuh, mengapa tidak kalian tempuh? Mengapa kalian suruh Aku menyelesaikan masalah kalian, sementara jalan penyelesaian sudah Aku tunjukkan pada kalian?”

Kesabaran


Malam itu begitu dinginnya. Namun bagi Si Kiwik, spesialis pencuri ayam kelas kamso tidaklah begitu dirasakan. Padahal bagi kulit orang normal, dinginnya malam yang sedikit diselimuti gerimis itu lumayan bisa bikin sering kepuyuh-puyuh beser wal anyang-anyangen. Dengan tenangnya si Kiwik mengincar pitik babon yang sudah mambu wajan, tak lupa juga si jago lurik yang kluruknya bisa mbangunin si empunya ayam.

Setelah berbasah-basah lumayan lama, akhirnya kira-kira pukul dua malam, beraksilah si Kiwik mbedhog pitiknya tetangga simbah. Namun apa daya, ibarat untung dapat ditolak dan malang dapat diraih, dumadakan si pitik kaing-kaing dengan kenceng saat dibedhog. Temtu saja si Kiwik kaget. Lha biasanya dengan ilmu sirep pitiknya yang ampuh itu, si ayam dengan lulutnya manut dibedhog sampai ke rumahnya. Ha kok ayam yang ini malah berontak.

Walhasil seisi rumah tetangga itu pada bangun. Si Kiwik diuber dan dikejar-kejar orang sekampung. Karena dikepung, si Kiwik akhirnya babak bundhas dibandemi massa, sebelum akhirnya diserahkan kepada pihak berwajib. Itu adalah kejadian sekitar duapuluh tahun yang lalu.

Yang simbah herani adalah kesabaran si maling menunggu dan mengincar mangsanya di malam hari itu. Padahal hujan, dingin, ngantuk, dan tentu saja seram karena jam operasinya selalu di atas jam satu malem. Bahkan ada juga yang mengincar satu rumah dengan lebih sabar dari itu. 
Diperhatikannya rumah itu berbulan-bulan, diincer, dan diamati jadwal keluar masuknya si empunya rumah. Bahkan agar lebih mudah akses masupnya, dipacarinya si pembantu rumah tersebut. Padahal si babu rumah itu janda setengah tuwek yang mulai rajin nginang, berwajah ala Limbuk, yang kalo diajak ngobrol berulangkali ngludah dubang (idu abang = ludah merah hasil nginang). Tapi semua tekanan lahir batin itu dijalaninya dengan penuh kesabaran.

Begitu dirasa tepat waktunya, maka mulailah dilaksanakan aksinya ngrampok dan ngukut isi rumah tersebut. Semua diangkut, kecuali Babu STW hasil cinlok yang lantas ditinggalkannya dalam keadaan terikat dan disumpeli kinang sak kepel.

Rupanya untuk jadi penjahat sadis pun membutuhkan kesabaran. Semakin mau bersabar menjalani profesinya, maka semakin profesionallah si penjahat tersebut. Maka berkacalah pada bandit tengik berhati kejem itu. Mereka mau bersabar-sabar menanggung derita lahir batin untuk menghasilkan kejahatan yang rapi dan jali. Semua aksi kriminil yang sukses dan spektakuler membutuhkan kesabaran ekstra dan kecerdasan lebih untuk menjalaninya.

Maka yang simbah ulas tadi adalah jalan yang ditempuh oleh kalangan dunia hitam. Rupanya kunci sukses mereka pun ternyata satu : kesabaran. Lantas bagaimana pula bagi kalangan yang ingin meraih sukses dalam hal kebaikan?? Herannya kebanyakan orang pinginnya instan, ingin cepet-cepet melihat hasil, kemrungsung wal kesusu. Gimana bisa jadi sukses??

Di dalam meniti sukses mentaati aturan Sang Pencipta pun gak bisa instan. Tapi kebanyakan orang gak mau tahu. Pinginnya mereka itu paham agama secara karbitan. Ada yang gemar bokep, blayangan blusukan diskotik, istiqomah mlototin pilem holi maupun boliwud, gak pernah nyentuh Kitabullah dan kitab hadits, tapi kalo mbantah ulama mulutnya nyrocos lancar wal lanyah macem propesor lagi ngomelin mahasiswa hampir DO yang gak bisa njawab pertanyaan matematika kelas pipo londo.

So…. mau jadi bandit tengik saja butuh kesabaran, mengapa untuk menjadi orang yang tunduk manut Gusti Allah pada gak mau sabar??


Jujur Gak Bakal Hancur


Sekitar dua tahun yang, di saat simbah asyik metangkring di satu cakruk sambil mengamati mobil simbah yang sedang dicat, duduklah bersama simbah seorang sahabat simbah beserta seorang mantan tukang kepruk lokalisasi Kramat Tunggak yang luntang-lantung nyari kerja, sebut saja namanya si Gopar.

Waktu itu simbah dan sahabat simbah sedang ngetuprus membicarakan perihal kejujuran. Sambil nyantai simbah mituturi si tukang cat mobil itu, sesekali ditambahi pitutur dari sahabat simbah. Sebutlah si tukang cat mobil itu si Osrat, jagoan cat yang sudah kawentar hasil catnya mesti kinclong..

“Srat, pokoke kerja yang tekun, ulet dan yang terpenting jujur. Jangan nipu. Kalo nipu, bagaimanapun caranya, hidup gak bakalan sukses.” kata sahabat simbah pada si Osrat.
“Lha itu, koruptor-koruptor itu pada sugeh mblegedhu dari hasil nipu… nyatanya hidup enak mbah..,” sergah Osrat pada simbah.

“Halah, enak apanya? Wong hidup dihantui kebohongan kok enak.. Lagian emangnya kesuksesan hidup itu kayak mereka..?? Wah jauh Srat.. Mereka itu sedang menggali lobang neraka di dunia. Kalo di akherat, nggak usah digali, nerakanya sudah tersedia dan dalem. Jikalau ada bayi dicemplungin ke situ, sampe ke dasar neraka sudah jenggoten saking dalemnya…, mau hidup kayak gitu..!!??” jawab simbah.

Dua tahun telah berlalu……….

Pada satu malam, kira-kira dua minggu lalu, sahabat simbah itu dipanggil seseorang di satu cakruk.
“Pak-pak, mampir dulu pak. Bapak masih inget saya?” tanya orang itu.

“Wah, siapa ya?? Lupa-lupa inget…,” jawab sahabat simbah.

“Saya si Gopar yang waktu itu ikut ndengerin bapak dan mbah dokter ngobrol di cakruk dulu itu… Boleh minta waktunya pak. Saya mau ngobrol sebentar…” pinta si Gopar.

Setelah tersedia teh anget, ngobrollah si Gopar dengan semangat yang menggebu-gebu.

“Waduh pak, saya berterimakasih sekali lho atas nasehatnya pada waktu itu. Itu lho waktu ngobrol sama mbah dokter dulu itu. Saya itu heran ha wong obrolan kok lain-daripada yang lain…” kata Gopar.

“Lain gimana Par?”
tanya sahabat simbah.


“Saya itu sudah gaul sama haji-haji, kemana-mana kumpul. Kenal juga sama ustadz-ustadz, yah saya kan pingin mertobat, ha wong bertahun-tahun jadi tukang kepruk mbodiguard di Kramtung. Tapi meskipun haji, ustadz atau apapun namanya, kalo kumpul sama mereka itu yang diomongin mblangsak semua. Menasehati orang boleh jago di mimbar, tapi kelakuannya moorsaaal… Jadi kalo mereka ngobrol, meskipun isinya nasehat.. ya lewat saja. Ha wong kita tahu kemana blusukannya dan gimana kelakuannya..”

“Lha terus…?”


“Lha ini yang ngobrol bukan kyai, haji juga nggak, malah dokter… eee.. ngomongin kejujuran. Tadinya saya sudah putus asa lho pak pada kejujuran. Ha wong orang jujur hidupnya pada ancur semua. Lha dulu itu mbah dokter sama bapak malah bilang, dengan kejujuran hidup malah sukses. Makanya saya pingin membuktikan omongan itu…”

“Trus gimana… terbukti nggak?”

Maka berceritalah si Gopar, bagaimana dia ketemu seorang yang rusak motornya dan mogok di jalan. Orang itu adalah orang batak, marga Gurning. Anehnya dia muslim. Pak Gurning ini minta tolong Gopar buat memperbaiki motornya. Maka diopreklah hingga sehat lagi motor itu. Pak Gurning senangnya alang kepalang. Dikasihlah si Gopar seratus rebu ripis. Tapi oleh Gopar tak semua diterima.

“Maap pak, cukup duapuluh rebu saja. Ini Kebanyakan, terimakasih. Wong modal barang sama tenaganya gak lebih dari segitu…” kata Gopar waktu itu.

Maka heranlah pak Gurning ini, ada orang sejujur itu. Lalu diundanglah si Gopar untuk main ke rumahnya. Karena si Gopar itu pengangguran luntang-lantung, maka dimintalah dia mberesi dan mbersihkan rumah pak Gurning untuk kemudian diupah. Si Gopar jalani dengan agak bertanya-tanya. Masalahnya saat dia ngepel lantai, nyapu kamar dan mberesi ruangan-ruangan rumah, berceceranlah barang-barang berharga gemletak di mana-mana. HP, uang limapuluh rebuan, bahkan seratus rebuan, jam tangan mahal, semuanya tergeletak sembarangan. Kalo ditilep satu saja, nggak ada yang lihat. Tapi si Gopar merasakan, mungkin itu adalah ujian kejujurannya. Maka didiemkan saja barang-barang itu.

Selesai mengerjakan tugas itu dia menerima upah yang luar biasa banyak. Beberapa hari berjalan seperti itu, sampai akhirnya pak Gurning menyuruh dia untuk cari sebidang tanah di kampungnya buat nyawah. Diutuslah Gopar dan dipasrahi duit 50 juta ripis cash. Si Gopar sampai gemeteran megang duitnya. Seumur-umur belum pernah dia megang duit sebanyak itu. Dan dengan 50 juta di tangan, dia berhasil membeli tanah yang lumayan luas. Ha wong tanah di desa itu paling semeter dihargai limarebu ripis.

Oleh pak Gurning dia disuruh nyawah dengan hasil fifty-fifty. Setahun lewat, pembagian hasil berubah, 70% buat Gopar, 30% buat pak Gurning atas keputusan pak Gurning sendiri.

“Sekarang saya sudah bisa beli tanah dan motor atas bantuan pak Gurning juga pak. Saya merasakan bener bagaimana hidup jujur itu ternyata mbikin kita bener-bener sukses pak, karena saya selama itu selalu menjaga omongan dan tindakan saya agar selalu tepat. Apalagi pak Gurning itu orangnya juga menghargai kejujuran. Bahkan kalo sudah janji, saya telat semenit saja langsung saya gak diajak ngomong seharian oleh beliau….” kata Gopar pada sahabat simbah.

“Yah begitulah hidup Par.. kejujuran itu bagaimanapun lebih dihargai oleh manusia daripada kebohongan. bahkan tukang bohong pun menghargai kejujuran..”

“Saya malah kasian sama si Osrat pak… katanya dia nyolong uang bapak ya…?? Sekarang dia hidupnya kesrakat. Kemaren barusan saya kasih uang.. lha ngliatnya saya gak tega… Orang kok milih hidup jalan pintas…” kata Gopar.

Ya, begitulah. Si Osrat yang justru simbah dan sahabat simbah pituturi, akhirnya nilep uang sahabat simbah saat dipekerjakan di bengkelnya. Totalnya mencapai 2 jutaan ripis. Gak banyak. Tapi cukup untuk menjatuhkan vonis bahwa orang itu gak jujur. Berita tersebar, orang akhirnya gak percaya lagi sama si Osrat. Gak mau pakai tenaganya lagi. Hidupnya malah makin kesrakat. Terakhir simbah lihat si Osrat lagi mbantu jadi kenek bengkel dengan upah yang gak mitayani. Sementara si tukang Kepruk lokalisasi Kramtung yang cuma nebeng denger pitutur, malah jadi berubah menjadi orang yang sukses dengan bekal kejujurannya.

Sebelum menutup pembicaraan, sahabat simbah berkata : “Satu hal lagi Par.. kamu kan sudah merasakan buah kejujuran kamu, sekarang ada satu nasehat lagi yang kalo kamu jalani bisa mbikin hidup kamu tambah hebat lagi…”

“Apa itu pak?” tanya Gopar.


“Kerjakan sholat 5 waktu…..!”

“Wah.. iya pak.. saya sudah mulai latihan kalo yang itu…” kata Gopar sambil cengar-cengir.
Yang simbah ceritakan di atas adalah kisah nyata. Simbah saja sampai kaget ndengernya dari sahabat simbah. Ha kok ada lho yang akhirnya berubah hanya dengan nebeng denger orang ngobrol. Maka dari itu, ngomonglah, nulislah, mikirlah dan bertindaklah yang baik-baik, maka orang-orang yang ada di sekitar kita akan bisa menuai kebaikan itu, dan kebaikan itu akan kita tuai juga hasilnya… ;)


Yang Tegang Yang Asyik


Sebagaimana biasa Kang Paidul bersama wadyabalanya sesama penggemar pilem kungpu sedang berkumpul menyaksikan salah satu pilem kungpu yang disewanya dari pisidi rental. Adegan demi adegan dilewatinya. Hingga sampailah pada satu keadaan dimana sang lakon jagoan terdesak dan hampir koit diterjang musuh. Semua penonton tercekam tegang. Dumadakan muncullah Kang Pailul. Sambil prengas-prenges dia nyeletuk dengan koplonya :

“Halah gak usah tegang, itu entar lakonnya selamat, tapi nantinya dibunuh juga oleh boss penjahat…”
katanya sambil nyruput secangkir coklat tubruk.

“Woo, lha semprul… “ kata kang Paidul marah-marah yang juga diikuti gerutuan wadyabalanya. “Kamu kalo udah pernah nonton mbok diem tho. Mbikin gak asik aja. Awas kalo nyobrot lagi, jotos sisan…”

Begitulah adanya. Keasyikan nonton pilem akan sirna manakala jalannya pilem tiba-tiba di-spoiled oleh oknum yang sudah pernah nonton, apalagi spoilernya amat trocoh.

Sebagus apapun jalannya satu pilem, apabila pernah menonton sampai rampung, maka untuk kedua kalinya dia nonton gak akan sama rasanya dengan yang pertama kali. Ketegangan yang dirasa saat pertama kali nonton tak akan dirasa asyik lagi pada kedua kalinya. Karena jalan ceritanya sudah ketebak. Demikian juga apabila sampeyan mbaca satu nopel atau buku cerita.

Mengapa begitu? Karena tingkat keasyikan satu alur cerita justru makin terasa dikarenakan kita tidak tahu cerita itu akan mengalir kemana. Makin tegang dan kritis keadaan yang dimunculkan, makin mengasyikan manakala ketegangan itu berakhir. Makin kacau suasana yang dihadirkan sehingga seakan tanpa solusi, makin indah ending cerita itu manakala semuanya ditutup dengan ending yang tak disangka.

Maka sungguh amat mengherankan, jika sudah tahu bahwa menonton pilem yang sudah pernah itu ditonton itu tak lagi mengasyikkan, mengapa orang pingin tahu nasib peruntungannya di masa depan? Bagaimana sampeyan mau menikmati indahnya hidup ini, jika sampeyan sudah tahu alur cerita hidup sampeyan dari lair ceprot sampai nggeblak ke liang lahad? Apa enaknya jika ketika sampeyan dirudung kesusahan tapi sudah tahu bahwa ending dari kesusahan itu pasti nanti begini dan begitu? Sampeyan akan merasakan plong, lega dan sangat gembira manakala sampeyan terlepas dari sesuatu yang menimpa sampeyan, dan disaat tertimpa sesuatu itu sampeyan gak tahu kalau akan bisa terlepas dari bencana yang menimpa sampeyan itu. Bahkan kebahagiaan yang sejati itu adalah kebahagiaan yang didapat manakala kebahagiaan itu seakan tak mungkin diraih karena bertubi-tubinya kesusahan yang menimpanya.

Dimana letak kebanggaan sampeyan, manakala sampeyan bisa menang catur melawan anak TK yang saat main catur itu, langkahnya saja nanya pada sampeyan? Sampeyan tak merasakan kesenangan yang sesungguhnya karena sampeyan menyangka sudah pasti menang.

Klub AC Milan pun juga tak akan mongkog hatinya manakala bisa mengalahkan klub Persemaka (Persatuan Sepak Bola Main Kayu) binaan ketua RT sampeyan.
Tapi kalau AC Milan menang lawan Real Madrid padahal dua pemainnya dikartu merah sehingga main hanya dengan 9 pemain…. wah itu kemenangan yang spektakuler. Karena bahkan mereka gak nyangka akan menang. Para fans Milan yang nonton pun akan ikut njeblug atinya saking senengnya, karena GAK NYANGKA klub kesayangannya akan menang. Tapi coba sampeyan lihat siaran ulangnya… babar blas gak asyik.

Mangkanya, ngapain sampeyan repot-repot main SMS “ketik reg spasi masa depan”? Justru hidup ini akan lebih indah jika ending tiap fragmen kehidupan kita gak pernah kita sangka akan mengalir kemana. Bahkan khusus buat orang yang bertakwa, rejekinya pun selalu datang dari arah yang tak pernah dia sangka. Untuk itu Imam Ghazali pernah menyampaikan, jika rejeki sampeyan sudah bisa diduga darimana asalnya, maka itu bukan rejeki yang dikhususkan buat orang yang bertakwa…. Nah lho..

Maka jika Gusti Allah menginginkan hidup sampeyan indah, sampeyan akan diberi ketegangan-ketegangan yang sepertinya tanpa solusi. Sampeyan akan dibikin keple sehingga semua usaha dhohir yang ditempuh seakan tanpa hasil. Dan dengan begitu sampeyan diharap mau tawakal kepada Sang Maha Pencipta. Dengan tertib amal yang baik, maka Gusti Allah akan membalik keadaan. Dari Underdog menjadi pemenang kehidupan.

Itulah yang terjadi saat peristiwa Badar. Dan itu juga yang terjadi pada saat kemenangan Islam diraih. Pada awalnya digoncang, dihantam, dan dihempas dengan musibah bertubi-tubi sehingga bahkan para shahabat dan bahkan Kanjeng Nabi saw sendiri berkata, “Kapan pertolongan Allah datang?” Ketahuilah, justru pada saat itulah pertolongan Allah dekat, yang membuat ending perjuangan jadi hebat dan indah. Mungkinkah kondisi umat saat ini sedang mengalami tahapan ini?? Semoga..


Jumat, 18 Agustus 2017

Proposal Hidup

Setelah kurang lebih 17 tahun menikah, simbah dikaruniai 9 orang anak dan insya Allah sebentar lagi 10. Bagi sebagian orang, jumlah anak 9 adalah jumlah yang fantastis untuk ukuran keluarga abad 21 ini. Anggapan tersebut tentu saja hasil pengkondisian, dimana ditanamkan di benak semua manusia bahwa jumlah anak haruslah sedikit jika mau menghasilkan generasi yang nyakdhut.

Penanaman pemahaman tersebut masih terus berlanjut walaupun sudah berpuluh bahkan beratus kasus terkuak, dimana seorang ibu dibacok anak semata wayangnya karena tak dibelikan motor, atau si bapak yang diancam bunuh karena tak segera menulis surat warisan buat anaknya yang ragil (no.2), atau sang ibu yang terpaksa siang malam banting tulang menghidupi 2 anak SMA nya yang aktif ngePUNK mencukur gundul rambutnya, mengantingi hidung dan lambenya yang persis lambe sumur itu tanpa menghiraukan gaji simboknya yang dibawah UMR guna menghidupi gaya hidup ngepunknya.

Sebagian besar orang ketakutan dengan jumlah anak bukan karena khawatir anaknya kurang terurus, tapi lebih banyak yang khawatir jika anaknya banyak, kelangenan dirinya menjadi terganggu. Sebagian orang tua yang kelangenannya berkarir di luar rumah merasa terganggu jika harus tersita waktunya ngurus anak. Mereka lupa bahwa mengurus anak di rumah pun merupakan karir yang dapat mencemerlangkan hidupnya.

Ada satu pasien simbah yang anaknya baru satu. Dua ortunya sibuk berkarir. Mereka bukan orang miskin, bahkan bisa dibilang kaya raya. Tapi setiap simbah tanya perihal kondisi penyakit anaknya, si ibu menjawab,
“Wah nggak tahu ya dok, soalnya ini tadi yang momong simbahnya. Katanya sih agak mencret.”
Ha wong berobat kok gak weruh pigimanah penyakit anaknya dan hanya mengandalkan kata embahnya yang tak dihadirkan saat pemeriksaan. Kedua ortu ini sudah berangkat sejak bakda shubuh, dan pulang selepas Isya’… Demi anak yang kalau sakit, orang tuanya tak tahu sakit apa dan bagaimana sakitnya.

Orang tua sebagimana yang simbah ceritakan di atas pasti akan tak habis pikir bagaimana orang semodel simbah kok mau-maunya punya anak sembilan. Ha wong satu saja sudah merusak kenyamanan mereka dalam berkarir, apalagi lipat sembilan.
Sebagian beranggapan, simbah berani punya anak enam dikarenakan simbah adalah dokter yang duitnya pasti sak jagad abuh. Sehingga tak lagi dipusingkan dengan urusan financial buat ngopeni anak. Ini juga rembug ngoyoworo. Biasanya yang ngomong begini adalah orang yang kebetulan belum pernah ketemu simbah langsung.

Ah, sudahlah….. Tulisan ini tak berkehendak membahas hal-hal tersebut di atas. Hanya saja kebetulan memang simbah dikaruniai anak banyak. Satu-satunya hal yang membuat simbah tetap optimis bahwa hidup simbah ada yang membantu hanyalah proposal hidup simbah. Bukan kekayaan, bukan kelonggaran dan bukan masalah financial.

Sampeyan tahu, jika sampeyan memiliki proposal bisnis yang sangat menguntungkan dan masuk akal, ketika kita presentasikan proposal tersebut, pastilah si pemilik modal akan dengan senang hati merogoh koceknya untuk menyokong usulan bisnis kita tersebut. Bahkan jika bisnis tersebut sangat prospekktif dan menguntungkan, pemilik modal akan dengan gembira mau menggelontorkan duit banyak walaupun hanya dibagehi 10% dari keuntungan.
Tapi jika proposal bisnisnya beresiko, sampeyan harus mati-matian meyakinkan investor untuk mau menyerahkan modalnya. Itupun sang investor pasti menghendaki porsi besar karena bisnisnya beresiko.

Pertanyaan besarnya, APA PROPOSAL HIDUP ANDA? Apa tujuan hidup anda yang nantinya Allah akan sukacita membantu dan menyokong segala aspek kehidupan anda dengan sepenuhnya. Jika proposal hidup anda hanya sekedar menggapai hidup nyaman, maka proposal hidup anda tak lebih dan bahkan sama dengan si Pleki kiriknya lik Pailul itu. Percuma Allah mengaruniai sampeyan kemampuan bicara, kemampuan menalar, kemampuan berpikir dan segala kemampuan milik manusia yang tak dimiliki hewan, jika cita-cita hidup sampeyan hanya selevel hewan. Betapa rendahnya proposal hidup sampeyan.



Namun jika sampeyan mempersembahkan hidup ini benar-benar dalam rangka beribadah, membantu agama Allah (walau Allah sebenarnya tak butuh bantuan), mempersembahkan apa yang sampeyan miliki dalam rangka menyempurnakan peribadatan kepada-Nya, maka Allah Maha Kaya untuk mencukupi segala kebutuhan hidup sampeyan. Proposal hidup yang begitulah yang Allah kehendaki, yang pasti hidup sampeyan tak akan sia-sia.

Maka anak satu atau dua, jika proposalnya benar, itu merupakan kebaikan. Anak sembilan bahkan sepuluh, jika proposalnya benar, bisa jadi jumlah sembilan atau sepuluh kurang. Semakin banyak anak semakin banyak kebaikan terbikin, jikalau proposal hidupnya betul.

Dengan anak makin banyak, simbah hanya dituntut untuk memperbaiki isi proposal hidup simbah. Jika masih dalam rangka ngibadah, insya Allah tak ada kekhawatiran dalam diri simbah akan kekurangan rejeki. Karena simbah yakin, Allah yang telah memakmurkan mereka yang durhaka, tentulah Maha Kaya dari menelantarkan hamba-Nya yang telah berniat mempersembahkan hidupnya demi mengabdi pada-Nya.

Ada ayat INTAN yang nilainya melebihi intan jika dipahami:

“Intanshurullaaha yanshurkum. Wa yutsabbit aqdaamakum..”
Jika kalian menolong Allah, maka Allah akan menolong kalian.
Dan mengokohkan tumit-tumit kalian…

Senin, 31 Juli 2017

Bank PLECIT

Simbah kurang paham mana ejaan yang benar, apakah Bank Plecit atau Bang Plecit. Kalo di Jakarta sini orang menyebutnya Bank Keliling, tapi bisa juga maksudnya Bang Keliling, karena biasanya yang keliling itu laki-laki. Tampilannya pun biasa saja, bahkan keliatan culun, ndeso bahkan sebagian tampak kurang gizi. Namun aktifitas yang dilakukannya mbikin simbah miris.

Mereka adalah pelaku ekonomi riil di tengah masyarakat ekonomi lemah. Kerjanya memberikan pinjaman pada yang memerlukan. Tidak besar memang. Besarannya hanya ratusan rebu hingga jutaan, tapi tetap di bawah angka 5 juta.

Nggak tahu gimana asal muasalnya tiba-tiba simbah disambati seorang pengusaha bisnis remeh temeh yang terlilit utang di Bank Plecit alias Bank Keliling ini. Utangnya sebenarnya juga tak besar. Hanya 500 rebu ripis. Tapi itu nilai yang besar buat satu keluarga yang ekonominya lebih sering bumi gonjang-ganjingnya daripada langit kelap-kelapnya.



Setelah nggedabrus ngalor ngetan, akhirnya simbah menanyakan gimana tho sebenarnya kerja Bank Keliling itu. Kok bisa-bisanya banyak yang sambat dililit utang oleh Bank Keliling itu. Pengusaha itu akhirnya bercerita, bahwa bunga yang diterapkan oleh bank Plecit itu lumayan gede. Tagihannya pun harian. Jadi akhirnya kewalahan sendiri nyarutang (bayar hutang).

Mekanismenya gini, tarohlah si shohibul kajat ngutang dua juta ripis. Maka si Bank Plecit akan kasih dua juta ripis dipotong administrasi 10 persen, sehingga total duit yang diterima shohibul kajat cuma 1,8 juta ripis. Trus Bunga yang diterapkan adalah 20 persen perbulan. Sehingga dalam sebulan si shohibul kajat harus membayar tanggungan hutang sebesar 2,4 juta ripis. Jikalau dalam satu bulan bisa lunas, si bank Plecit akan memberikan uang penghargaan sebesar 100 rebu ripis buat shohibul kajat, karena berdedikasi tinggi mau mbayar utang tepat waktu.

Jadi buat Bank Plecit itu, dari uang 1,8 juta ripis bisa menangguk untung 500 rebu ripis. Jiaaaan… kapitalis sejati. Kapitalis edan wal gemblung. Menerapkan prinsip uang yang bekerja untuk diri kita. Bukan kita yang bekerja untuk uang. Tapi keblinger wal kesasar, milih dalan peteng… membungakan uang. Lha yang ngutang jadi semakin mbeseseg dadanya. Ngutang dua juta ripis ditagih setiap hari 80 rebu ripis. Ha wong hidupnya saja sudah kesrakat kok dituntut menyediakan duit 80 rebu ripis sehari. Apa nggak semakin semaput.

Si bank Plecit beralasan, ha wong minjem bolo pecah saja ada uang sewanya kok. Pinjem meja kursi, kamera, mobil, alat pesta dan lain sebagainya, semua pakai uang sewa. Mosok pinjem duit gak ada uang sewanya. Mereka menganggap hutang duit itu sama dengan nyewa. Maka harus bayar uang sewa. Lha, pantesan… makanya mereka pantas disebut RENTENIR. Karena kerjanya rental duit, yang mana RENT itu kan artinya sewa. Mereka nganggep menghutangkan uang itu ya menyewakan uang. Wah.. dasar koplo, otak kapitalis atheis.

Yang lebih mengherankan, ternyata pelaku lapangan itu hanya pegawe saja. Kerjanya menawarkan dan nagih. Sedangkan pemodal bank Plecit di daerah simbah sini kebanyakan kumpulan para Haji sugeh plus tuan tanah, yang hobinya kawin, punya simpenan bini di mana-mana, tapi terpandang di mata masyarakat karena sugehnya.

Makanya Kitabullah menganggap orang-orang yang terlibat dalam urusan rental merental duit ini sebagai orang yang gendheng dan kerasukan setan. Sehingga yang namanya riba itu dihapus oleh syareat sampai ke akar-akarnya. Gak ada itu riba walo kecil. Haram sampai ke akar-akarnya. Kalo nekat, Allah umumkan perang pada pelakunya.

Cuma yang namanya setan, tetap gak kehabisan jurus. Kata riba diasingkan dan dikucilkan. Dipoleslah kata-kata seram itu. Maka riba berevolusi menjadi produk-produk bergengsi. Saking bergengsinya menyebabkan yang makai jadi kecanduan. Bahkan menjadi tolok ukur kesuksesan seseorang. Seseorang belum dianggep perlente kalo belum punya kartu riba… eh… kartu kredit alias CC dari lima bank besar di dunia. Mbeli barang kurang nggaya kalo nggak dengan cara nggesek kertu.

Karena nyandu, maka banyak yang menolak bahwa itu sebenarnya riba. Ibarat lethong sapi dipoles krim sehingga nampak seperti kuwe tart. Lha trus ada yang kapusan. Kuwe tart lethong sapi itu diunthal sak kayange. Sebagian malah buat ndublag bayi-bayi yang masih innocent. Trus tiba-tiba ada yang ngelokne, Kang lethong sapi kok diemplok. Lha opo hora pait..?”

Karena terlanjur nyandu dan belepotan lethong, njawab dengan membabi buta tanpa menceleng melek,Lethong sapine mbahmu, iki kuwe tart lapis legit tahu…!! Ha mbok dirasakne… ha wong manis-manis nyamleng gini kok lethong sapi. Ha kalo ada pait-paitnya dikit wajarlah.. itu pariasi rasa.. Dasar ndesit..!!”

Pait-pait dikit wajar lah, Riba dikit gak papa lah. Bunganya kan kecil, gak mencekik kita. Ha kok situ yang malah kecekik…. bla..bla..bla. Itulah alasan pembenaran bagi pelakunya. Bahkan ada yang parah, sampai bilang…Lha kalo gak pakai sistem riba ini, gimana bisa hidup di jaman moderen ini..??”

Simbah menangkapnya begini, “Lha kalo gak makan lethong sapi, gimana kita bisa menahan lapar kita, mau makan apa kita??” Tapi buat yang lainnya sih, kali aja beda. Ha wong kupingnya juga beda, hatinya beda, isi polonya juga beda.

Yang jelas bank Konvensional, apalagi bank Plecit… telah diharamkan oleh MUI, yang haram tentu saja ribanya. Yang lainnya tidak. Ibarat warung yang jualan macem-macem barang, yang haram adalah dagangannya yang haram saja macem ciu, arak, sate jamu (asu), kikil babi dlsb. Tapi itu MUI, fatwanya katanya bukan hukum positip. Pelakunya berdosa menurut syareat tapi bukan kejahatan apalagi kriminal miturut negara. Sedangkan dokter yang nyembuhin pasien, pasiennya jadi bagas waras bahkan nyembah-nyembah maturnuwun sama dokternya karena sudah ditambani dan sembuh, dianggap kriminil 

Minggu, 28 Mei 2017

Hedonis Religius

Setidaknya ada 5 keluarga yang selama ini bekerja di perusahaan kecil simbah, dengan penghasilan per bulan berkisar antara 1 hingga 1,4 juta. Angka sebesar itu bukanlah apa-apa jika dibanding dengan jumlah pengeluaran yang harus dikeluarkan untuk tinggal di Jakarta. Maka tak heran jika mereka sampai saat ini masih istiqomah ngekasbon pada perusahaan yang nantinya ditutup dengan potongan gaji mereka.

Ada yang menarik dari perilaku pengeluaran para buruh itu. Beberapa bulan lalu simbah menawarkan HP pada mereka untuk komunikasi lapangan. Simbah menawarkan bantuan dengan kisaran 200 hingga 300 rebu ripis buat membeli HP CDMA atau kalau mau GSM bekas. Saat simbah tawarkan pada mereka, simbah kaget dengan jawaban mereka…..

“Pak, kalau HP yang ada MP3 dan kameranya itu berapa ya? Saya mau yang itu saja….” Kata salah seorang pegawai yang berposisi sebagai sales. 

Glodaak..!! HP dengan kriteria yang sales maksud itu, saat itu harganya mencapai satu bulan gaji mereka. Bukan simbah gak mau ngasih, tapi apa yang dimaksud sudah melenceng dari tujuan semula. Simbah bermaksud dengan adanya HP komunikasi lapangan jadi mudah. Jadi sekedar maksud fungsional saja, mengingat gaji pegawai yang kecil.

Beberapa waktu sebelumnya, seorang kawan simbah kebobolan rumahnya oleh pembantu rumah tangganya. Duit sekian juta ilang. Rupanya ditilep oleh si Denok yang ngebet punya HP buat nggedabrus ngalor ngidul. Karena si Denok masih termasup kalangan gedibal pitulikur yang mlarat ngempet, diampunilah dosanya. Namun ternyata blunder masih berlanjut. Diawali dengan ketakutan salah seorang anak dari kawan simbah yang saat malam-malam kencing ke mbese, dia mendengar bunyi tawa cekikikan seorang wanita bak kuntilanak dikitikin. 

Misteri suara tawa cekikikan wanita tengah malam itu terungkap, di saat sang kawan menerima print out billing tagihan telepon bulanannya. Tertera tagihan dua juta ripis lebih. Satu jumlah yang membuat kaget, mengingat mereka jarang memakai telepon rumahnya. Usut punya usut ternyata suara cekikikan tengah malam itu adalah suara si Denok yang tengah asyik nggedabrus pakai telepon sang juragannya. Sekali pakai tagihannya bisa nyampai ratusan rebu ripis. Kali ini si Denok tak diampuni. Melarat, gedibal pitulikur, tapi maunya hedonis.

Tiga hari lalu simbah mengangkat tukang cuci baru. Seorang wanita dari kalangan yang terbuang. Konon anaknya tiga. Yang sudah simbah lihat baru satu, yakni anak yang kedua. Seorang anak kecil dengan pakaian lusuh, dengan ingusnya yang khas yang selalu bergelayut. Anak pertamanya katanya sudah SD kelas 4. Sedangkan yang membuat hati hampir meledak adalah kisah anak ketiganya. Saat dia hamil anak ketiga, dia gak punya duit. Ditawarlah anak yang masih di dalam kandungan itu oleh satu keluarga yang konon belum dikaruniai momongan yang tinggal di Tanjung Priok. Sang ibu mengiyakan. Anak ketiga yang berjenis kelamin perempuan itu sekarang sudah berujud televisi kecil yang metangkring di kontrakannya, serta uang tiga juta ripis dan biaya perawatan kehamilan dan persalinannya sebagai tukar gulingnya. Mengingat simbah juga masih punya momongan berumur baru setahun, simbah mau nangis mendengar kisah sang ibu buruh cuci itu.

Simbah gak habis pikir, apa enaknya nonton tipi jika saat nonton tipi itu lantas terkenang si anak yang saat ini ditangan orang lain akibat ditukargulingkan dengan tipi itu. Belum lagi jika mengingat adanya jaringan penjual manusia yang berkeliaran mencari mangsa.

Herannya lagi, respon yang muncul pada tetangga kanan kiri adalah respon yang kurang baik. Mereka memandang rendah wanita yang terbuang itu. Sehingga yang tadinya banyak yang mempekerjakan wanita itu, sekarang hanya tinggal satu yang mau. Memang perbuatan menjual anak itu bukanlah hal yang baik, tapi simbah kok melihatnya bukan dari perbuatannya itu. Tapi lebih kepada keseluruhan aspek, dimana sebenarnya si ibu itu juga korban.

Saat simbah bertanya berapa tarif mencuci sebulan, dia menjawab “Kalau mencuci dan setrika, 300 ribu pak. Kalau mencuci saja 150 ribu,” kata ibu itu menyebutkan jumlah angka yang nilainya senilai dengan sekali kongkow di satu rumah makan di Jakarta. Jumlah itu dicapainya dalam waktu sebulan nyuci.

Si Denok, si ibu dan juga salah seorang sales simbah itu merupakan korban gaya hidup. Mungkin kalau cuma sekedar miskin saja, mereka sudah biasa. Karena dari sejak kecil mereka sudah mlarat ngempet. Tapi saat mereka tinggal di Jakarta, pahitnya kemiskinan makin terasa dengan adanya gaya hidup ala Firaun dan Qarun yang berseliweran di sekeliling mereka. HP dan televisi mungkin bukan barang yang urgen untuk mereka miliki. Namun karena itulah yang mereka lihat tiap hari ditenteng orang kaya dan dimiliki orang borju. Dan dengan menenteng serta memiliki barang-barang tersebut, setidaknya mereka sudah mencicipi sensasi menjadi kaya. Dan barang-barang itulah yang wajib bin fardhu ain harus dimiliki saat pulang kampung lebaran nanti, untuk menunjukkan pada orang di kampung bahwa di Jakarta dia telah sukses.

Orang-orang miskin saat ini benar-benar kehilangan pegangan dan partner. Dulu masih ada kyai atau ustadz yang mau mengobati kepahitan hidup mereka dengan wejangan yang empuk eyup dan menyejukkan. Namun jebulaknya dibalik wejangan empuk eyup dan menyejukkan itu, si kyai dan si ustadz pun rupanya juga bergaya hidup tak beda dengan si Bajirut sang juragan shabu yang rajin ndugem.

Beberapa ustadz yang kehidupannya disorot, dengan terang-terangan menunjukkan bahwa hidup mereka sudah makmur. Punya ini dan itu. Sambil menunjukkan apa yang sudah mereka punyai, mereka bercerita dengan penuh nada nostalgia bahwa dulunya mereka melarat. Makan susah, minum pun gelisah. Akhirnya dengan penuh perjuangan yang gigih, sang ustadz pun terentaskan dari neraka kemiskinannya. Maka sudah saatnya sekarang mengenyam kesuksesan. Kesuksesan adalah hidup cukup. Hidup cukup yang dimaksud adalah kaya. Cukup buat merayakan ulang tahunnya di cafe remang-remang dengan makanan seharga gaji nyuci sebulan.

Jika sukses hidup menurut ustadz atau kyai adalah hidup cukup dan turah mblasah, dan bukannya kesuksesan menghantarkan umat menuju kepada hidup jujur, kerja keras, akhlak karimah, kesederhanaan dan sifat terpuji lainnya, maka satu-satunya harapan bagi orang miskin untuk mengadu pun punah.


Racun hedonisme sedang merambah ke semua lini. Ustadz dan kyai pun kena juga. Satu-satunya harapan adalah mencari partner yang benar-benar partner. Gaya hidup yang dicontohkan suri tauladan uswatun hasanah Kanjeng Nabi saw adalah hidup yang sederhana. Sayangnya kebanyakan para pewaris Nabi, yakni ulama, hanya mewarisi hafalan sabda-sabdanya yang lantas dilantunkan macam tape recorder. Sedangkan gaya hidupnya masih mewarisi gaya si Bajirut, dengan maksud dan tujuan hidup yang tak beda. Tapi simbah yakin, itu gak semua. Hanya saja mencari perkecualian memang bukan pekerjaan yang mudah.

Jumat, 26 Mei 2017

Indera Bathin (Marhaban Yaa Ramadhan)

Sampeyan pernah nyaksiken orang makan Kepiting? Atau malah sampeyan pernah makan kepiting? Itu adalah aktifitas makan yang penuh perjuangan. Karena acara makannya diawali dulu dengan pertempuran melawan cangkang, yang seringkali mengorbankan jari, lidah, dan bibir. Tapi tetep saja makin asyik. Malah harganya muahal pol. Kenikmatannya berbanding lurus dengan perjuangannya.
Beda lagi dengan makan sego bandeng alias sego kucing. Ini menu khas kaum dhuafa wal marjinal, berupa sego sak kepel dirubung sambel sak uprit, plus bandeng atau ikan asin nyak mit. Tak sampai sepeminum teh bisa ludes sebungkus. Rasanya ngedabh-edabhi. Mak nyoss..kotos-kotos.

Beda lagi dengan makan kambing guling, eyem penggeng, es kopyor, es cendol atau menu makanan dan minuman lainnya. Gak usah simbah ceritakan. Ha wong simbah yang nulis saja malah kemecer, apalagi sampeyan yang baca…

Tapi bayangkan jika sampeyan kena trilogy sariawan, alias sariawan telung panggonan. Satu di ujung lidah, satu di tenggorokan, satu lagi di pipi dalam dimana biasa dipakai ngunyah. Acara makan bisa menjadi acara penuh siksaan. Makan gak banyak, gak mau lama-lama, menu apapun bisa bikin derita. Apalagi jika ditambah giginya kerowok semua dan pas kumat…. wuuaah… mantabh.
Jadi untuk mendapatkan rasa nikmatnya makanan, selain makanannya sendiri harus nyamleng, si penikmat juga harus beres kesehatan inderanya. Itu berlaku tidak hanya untuk makanan. Bahkan untuk urusan seksual pun begitu. Istri muda, cantik, kinclong moblong-moblong, perawan, tapi si suami penisnya udunen… wuaahhh… urusan ranjang bisa jadi lemek kasur..alias preeiiii...alias libur dulu.

Nah itu urusan dhohir. Sekarang coba sampeyan rasakan sholat dan puasa sampeyan! Menyiksa diri sampeyan gak? Saat sholat, sampeyan merasakan nikmatnya sholat gak? Atau pinginnya buru-buru? Kalo dapet imam agak lama berdirinya, misuh-misuh dalam hati. Bahkan ada konco simbah kalo mau jadi makmum pesen sama imamnya, “Ntar suratnya qul-hu sama wal ngasri saja ya…”

Demikian pula gimana hati sampeyan saat sedekah? Berat penuh siksaan, atau ringan penuh kenikmatan? Gimana hati sampeyan saat mbaca dan tadarus al qur’an? Penuh kelezatan menikmati hurup demi hurup, atau ngebut nabrak ngalor ngidul yang penting katam 30 juz?? Gimana hati sampeyan kalo berjilbab? Merasa lebih malu saat rambut kepalanya ditutupi, melebihi malunya mereka yang bahkan rambut kemaluannya saja diumbar??

Nikmat dan tidaknya ibadah kita sebenarnya lebih banyak ditentukan beres tidaknya indera batin kita. Kalo indera batinnya sehat, maka sholat, puasa, sedekah, tadarus Al Qur’an, taraweh, berjilbab, dlsb adalah menu nikmat yang enak disantap dan perlu.

Maka Nabi saw sholat malam kakinya sampai abuh bengkak gak masalah. Nyerinya abuh kalah oleh nikmatnya sholat. Sebagaimana nyerinya ketusuk cangkang kepiting kalah oleh lezatnya daging kepiting. Sholat lama malah nyamleng, seperti gak mau berakhir sebagaimana sedapnya menikmati sate tusuk demi tusuk… gak mau segera kenyang dan berakhir.

Jadi, kalo ada yang sholatnya ngebut pencilakan, al fatihah dibaca dalam satu napas, trus sujud rukuk cuma manthuk-manthuk kayak manuk engkuk, itu orang indera batinnya lagi error. Gak doyan barang enak, sebagaimana suami yang isterinya bahenol tapi penisnya udunen wal bisulen tadi.
Di Kitabullah diceritakan tentang orang munapik. Ini oknum batinnya ada penyakitnya, alias fii qulubihim marodhun. Maka akibatnya segala macem ngibadah maunya kilat ekspress, karena gak mau ndikir illa qolilaa (kecuali nyak mit saja). Maka kalopun sholat ya model orang aras-arasen. Ninggal sholat ogah, serius juga gak mau…

Sekarang rasakan pada diri kita. Seberapa nikmat ibadah bisa kita rasakan? Kalo masih macem orang kesiksa, berarti batin sampeyan error, perlu diobati, perlu diopname. Kalo buat sakit dhohir saja mau njual sawah, sapi, mobil, dan bahkan rumah agar dhohir sehat, lantas apa yang bisa sampeyan korbankan agar batin bisa sehat? Mau opname dimana batin sampeyan?
Yang jelas, saat ini makin banyak manusia yang kehilangan nikmatnya beribadah…..
 dan malah banyak merasakan nikmatnya maksiat…


Semoga Ramadhan tahun ini bisa menjadi sarana opname bathin yang kadang sudah tak lagi merasakan nikmatnya ibadah.


Selasa, 23 Mei 2017

Juri Prematur

Pada suatu hari kang Ndoweh bertandang ke rumah kang Mbleweh yang sedang membuat onde-onde ceplus. Tampak kang Mbleweh sedang sibuk membikin butiran-butiran kecil sang onde-onde ceplus.

Ndoweh  : Welhadalah, sedang ngapain kang?
Mbleweh : Halah.. sini mampir. Ini sedang mbikin onde-onde ceplus.
Ndoweh  : Waah.. kok sajak nyamleng. Mbikin kemecer saja ini.. Tak cicipi dulu ya kang.


Dengan tanpa ba-bi-bu kang Ndoweh tangannya nylonong menyambar sebutir adonan onde-onde ceplus tersebut. Lalu…

Ndoweh  : Bluueeh.. weks.. kok rasanya gak nggenah babar blas gini kang. Bisa masak nggak sih kang sampeyan..? Onde-onde ceplus kok berantakan rasanya..
Mbleweh : Woooo..dapurmu.. lambemu ndoweh kuwi… Ha wong barang mentah kok diunthal. Yo genah pating klenyit rasanya. Ha mbok sabar, nunggu ini digoreng dulu. Kalo sudah mateng, silaken dinilai. Ha wong barang mentah sudah dikomentari.. cah gemblung..
Ndoweh  : Wooo.. lha ayak. Ternyata mentah tho..


Mbleweh : Makanya sabar. Gak usah buru-buru nyacat. Mending kamu mbantu mbikin glindingannya. Biar cepet selesai.
Ndoweh  : Yo wis kang… sini..


Sepenggal kisah di atas hanyalah ilustrasi. Bahwa untuk mencapai suatu hasil, memerlukan suatu proses. Adakalanya proses itu sebentar, tapi adakalanya lambat bahkan bertele-tele kalo perlu. Selama proses berlangsung, adakalanya orang yang tidak paham buru-buru menilai. Mending kalo menilainya sesuai tahapan. Yang terjadi, seringkali orang menilai tidak sesuai tahapannya, sebagaimana yang dilakukan oleh kang Ndoweh di atas.

Mbikin onde-onde ceplus hanyalah satu mitsal yang bisa dianalogikan ke banyak hal. Lha bisa dibayangkan kalo ada orang pekok setengah pinter, tiba-tiba pingin nyicipi tempe, namun yang dicicipi adalah kedele yang barusan diidak-idak untuk diproses jadi tempe. Lha apa nggak nyamleng… apalagi yang ngidak-idak kakinya korengen pisan. Muantabh pol.. Sudah gitu teriak-teriak nggoblok-nggoblokan si pembuat tempe, dianggep gak becus mbikin tempe karena tempe yang dia santap ternyata adalah kedele mentah beraroma koreng. Bisa dinilai siapa sebenarnya yang goblok.

Dalam dunia amal perbuatan manusia, seringkali kita melihat adanya satu proses perubahan diri manusia yang tadinya mbejat wal mbromocorah, menuju kepada amal kebaikan. Proses itu adakalanya cepat, namun adakalanya lambat. Tapi yang jelas orang tersebut sedang berproses.
Satu hadits yang panjang menceritakan tentang seorang yang sudah mbunuh 99 nyawa dan pingin mertobat. Dia nanya pada orang yang disebutkan di hadits shahih itu sebagai Rahib. Intinya dia pingin tobat, padahal sudah melibas 99 nyawa. Si rahib bilang, gak ada jalan tobat. Soalnya dosanya sudah ngedab-edabi. Mbunuh satu nyawa semacem anak nabi Adam saja dosanya gede, apalagi ini 99 nyawa. Maka sang rahib pun dilibas juga, geneplah jadi cepek.

Si Rahib tidak melihat proses menuju perbaikan disini. Yang dia lihat hanyalah keburukan yang sudah dan masih menempel pada si pembunuh. Lain halnya saat si pembunuh ketemu orang yang disebut sebagai “alim” di hadits itu. Si ‘alim’ berkata bahwa si pembunuh bisa mertobat, asalkan dia mau hijrah dari desa yang maksiat menuju ke desa yang taat ibadat. Si "Alim" fokus pada proses dan melihat potensi proses perubahan pada si pembunuh. Syarat itu disanggupi si pembunuh. Dia berangkat, di tengah jalan wafat. Malaikat adzab dan malaikat rahmat berdebat. Namun akhirnya si pembunuh selamat. Sampe entar di akherat. Cerita tamat.

Di jaman ini, juri amatiran macem kang Ndoweh banyak berkeliaran dimana-mana. Mereka sibuk memvonis dan berfatwa. Memfatwai dan memvonis kelakuan dan amal ibadah manusia yang memang secara ndohir jauh dari taat, namun si juri lupa bahwa ada proses disitu. Namun proses tak digubris, maka meluncurlah kata-kata : ahli bid’ah, kopar kapir,  kaum sesat, jahil, bodoh, ahlul hawa’, munapik, ahlu nar, anjing-anjing neraka serta puluhan kata-kata sopan dan pantas -setidaknya menurut mereka- yang lainnya.

Simbah punya temen mantan preman. Tadinya dia hidup dari malak orang. Singkat cerita dia mertobat. Mbuka warung kecil di samping mesjid. Niatnya pingin ngojek tapi gak gablek duik. Mau kridit takut dosa riba. Ha wong mau mertobat kok diawali pake riba, dia menolak. Namun akhirnya dapet juga dia motor buat ngojek, karena ada seorang sugeh yang baik hati kasih pinjeman tanpa bunga buat mbeli motor. Namun dia sedih, karena miturut beberapa ustadz yang mengaku ahlu sunnah wal jamangah, dia dilaknat Allah gara-gara masih bertatoo. Padahal dia sudah mati-matian menempuh jalan agar tatoonya hilang. Namun tatoo yang dia miliki tak kunjung ilang. Dan sampai saat ini cap laknat masih distempelkan pada dirinya, sementara proses penghilangan tatoonya masih berjalan.


Simbah sempat berpikir, kenapa ulama-ulama yang pinter-pinter itu seringkali menyibukkan dirinya dengan memvonis dan tidak mau sibuk  untuk mengubah keadaan yang divonisnya. Seandainya mereka sibuk memperbaiki umat yang divonisnya ngalor ngidul itu, simbah yakin gak ada waktu lagi buat memvonis umat yang memang makin jauh dari taat ini. Gimana umat ini mau jadi baik, manakala keburukan hanya dijadikan bahan untuk divonis, dan proses perbaikan dianggap final… ?? Lha jika ulama model begini ketanggor pembunuh 100 orang yang diceritakan di hadits Nabi, lak sudah dilibas satu-satu sampe tumpes.

So, kita memang hidup di era banyak kegelapan. Tidak perlu sibuk mencela kegelapan dengan banyak jurus dan kosa kata. Cukup datangkan saja penerang, maka kegelapan hilang.

Qul jaa'al haqqu wa zahaqol baathil, innal baathila kaana zahuuqo.....

Jumat, 19 Mei 2017

Mengikuti Jejak

Sore itu Kang Petruk sedang asyik bercengkerama dengan Lik Bagong. Kang Gareng tampak asyik mendengarkan percakapan keduanya sambil sedikit agak ngowoh.

Petruk  :  Gong, kamu tahu apa yang ada di tanganku ini?
Bagong : Welhadalah, itu kan batangan emas kang. Dapet darimana itu? Jangan-jangan sampeyan nyolong..

Petruk  :  Woo, nyolong lambemu kuwi. Ini barang berharga Gong. Dapetnya susah. Untuk dapet batangan emas ini ceritanya panjang.
Bagong  :  Lha ceritanya gimana kang. Aku kok jadi penasaran. Mbok aku dicritani, tapi jangan sak critan thok lho. Sampeyan kemarin bilang sak critan trus aku sampeyan kasih satu kata thok… “crit”. Habis itu Bubar..!

Petruk  :  Enggak Gong. Begini ceritanya. Kamu tahu kan, Lik Togog itu punya dua ekor wedhus balap alias anjing yang galaknya ngudubilah setan. Lha kemarin aku liwat depan rumahnya. Padahal aku gak ngapa-ngapain lho, ha kok dijegogi dan langsung dikejar.
Bagong  :  Sampeyan lari kang?

Petruk  :  Jelas… lari sipat kuping, rindik asu digithik Gong. Pokoknya lintang pukang lah. Sampai aku kepepet di jurang.
Bagong  :  Sampeyan lompat kang?
Petruk  :  Terpaksa Gong. Aku lompat ke jurang… untungnya ada pohon rindang. Aku nyangkut disitu.
Bagong  :  Wah bejo bener sampeyan.

Petruk  :  Bejo piye? Ha wong baru sebentar dahannya patah, aku langsung jatuh lagi.
Bagong  :  Wah… bonyok kang?
Petruk  :  Enggak. Untungnya di bawah ada kalinya. Jadi njebur disitu. Baru sebentar slulup, ternyata ada ular sebesar dahan kelapa sedang ngejar aku.
Bagong  :  Wah, sampeyan gak diemplok? Daging sampeyan pahit kali kang.

Petruk  :  Bukan begitu. Untungnya ada kelapa tua jatuh menimpa pas di kepala ular itu. Ularnya langsung klenger. Tapi ternyata di belakang ular itu ada buaya Gong. Aku langsung ke darat dan lari sembunyi. EE… buayanya ngikut. Karena panik, apa saja yang aku temu, langsung tak pakai buat mbandemi buaya itu. Sampai akhirnya aku tak sengaja nemu peti besar. Langsung tak angkat dan buayanya tak timpuk pakai peti itu Gong.
Bagong  :  Mati kang?

Petruk  : Mati Gong. Petinya sampai pecah. Dan ternyata isi peti itu batangan emas.
Bagong  :  Wah, bejo kemayangan sampeyan kang. Mbok sekarang aku diantar ke rumah lik Togog.
Petruk  :  Ke rumah Lik Togog ngapain?
Bagong  : Biar aku dijegogi sama anjingnya Lik Togog. Ntar lompat jurang, biar nemu emas kayak kamu.
Petruk  :  Woo, dasar bocah slewah.


Begitulah, kadangkala satu keberuntungan menemui seseorang dengan jalan yang seringkali tak terduga. Namun tak semua jalan yang akhirnya menemui happy ending itu pantas diikuti, karena di tiap episode peristiwa yang terjadi bisa terdapat kemungkinan yang menyebabkan endingnya mengenaskan. Sebagaimana kang Petruk saat diuber ular besar. Untungnya si ular ketimpa kelapa jatuh. Seandainya Lik Bagong yang jatuh ke air itu dikejar ular dan ternyata tak ada kelapa jatuh, apa nggak remuk badannya lik Bagong diklamuti ular raksasa.

Demikian juga dengan turunnya hidayah yang dikaruniakan Allah pada seseorang. Berbagai macam jalan Allah bisa menurunkan hidayah dengan bermacam sebab. Ada yang mendapat hidayah setelah membunuh seratus orang, ada yang mendapat hidayah setelah berkubang maksiat, ada juga yang mendapat hidayah melalui mimpi. Salah seorang sahabat Nabi yang bernama Salman Al Farisi mendapat hidayah setelah berpindah-pindah keyakinan. Dari majusi, nasrani, yahudi sampai akhirnya hidayah Islam.

Namun dari semua peristiwa yang akhirnya mengantarkan seseorang mendapat hidayah itu, jika dialami oleh orang lain belum tentu akan menghasilkan akibat yang sama. Untuk mendapatkan hidayah, seseorang tidak lantas membunuh seratus orang hanya lantaran ada riwayat adanya orang yang bertaubat setelah membunuh seratus orang. Pada intinya, untuk mendapatkan kebaikan seseorang tidak harus merunut sebab buruk yang seakan mengantar kepada kebaikan itu. Karena yang pasti, sebab buruk tidak akan membawa kepada akibat yang baik. Jika satu keburukan seakan membawa kebaikan, itu hanyalah “seakan” saja. Karena sebenarnya yang mengakibatkan kebaikan atau dalam hal ini hidayah adalah kebaikan pula, yang seringkali tersembunyi karena ghaibnya.

Seorang yang tadinya bermaksiat kemudian bertaubat dan jadi baik, bukan perbuatan maksiatnya yang menjadikan dia taubat dan baik. Bisa jadi dia taubat lantaran manakala dia maksiat, dia besarkan kebencian dirinya pada kemaksiatan yang dia lakukan itu yang sampai pada akhirnya menyebabkan dia berani mengambil tindakan bertaubat dan jadi baik. Salman Al Farisi mendapatkan hidayah Islam bukan lantaran mengikuti ajaran Majusi, Nasrani dan Yahudi. Namun dia mendapatkan hidayah lantaran kejujuran dirinya terhadap Al Haq, walaupun keadaan sekitarnya saat itu belum sepenuhnya mendukungnya. Berkat kecintaan dan kejujurannya terhadap kebenaran, Allah sampaikan juga dia kepada kebenaran Islam, walaupun kebenaran itu berada jauh dari tempat tinggalnya.

Maka jejak kebenaran dan kebaikanlah yang seharusnya dicari dan diikuti. Bukannya jejak keburukan, walaupun kadangkala orang mendapat kebaikan dari jejak keburukan ini lantaran akhirnya bertaubat. Namun kebaikan yang berasal dari pintu keburukan pastilah memiliki efek samping, setidaknya gejala sisa dari akibat keburukan tersebut.

Saat ini, dengan majunya teknologi dan transportasi, gaya hidup ala Majusi, Nasrani dan Yahudi dengan gampang dapat disaksikan. Karena memang bersesuaian dengan hawa nafsu,maka mengikutinya tak membutuhkan perjuangan dan mujahadah. Kota-kota besar macam New York, Tokyo, Sidney, London, Singapura, ataupun Paris, dengan segala gemerlap dan gaya hidup bebasnya, menjadi kiblat bagi ibukota-ibukota negara di seluruh dunia. Termasuk Indonesia dengan Jakartanya. Sedangkan kota-kota propinsi macam Semarang, Medan, Bandung, Makasar ataupun Jayapura, berlomba-lomba memantaskan diri agar sepadan dan setara dengan Jakarta.

Demikian pula dengan kota-kota kecil di bawah ibukota propinsi, semuanya berkiblat kepada ibukotanya. Sehingga kalau dirunut, desa kecil macem Eromoko, Bonjot, Gempol ataupun Gayamsari, semuanya sedang merangkak pelan namun pasti menuju satu kehidupan dan gaya hidup ala New York atau Tokyo. Karena  kota-kota besar itulah yang saat ini dianggap sebagai kota masa depan,maju dan modern. Amat sedikit satu tempat yang dikelola dan diarahkan agar menjadi kota semisal Madinah Munawaroh di jaman Nabi, yang bersinar dengan hidayah dan kebaikan. Semua kota sedang digiring oleh kekuatan nafsu yang dimotori Yahudi,menuju gaya hidup yang menuhankan kebebasan hawa nafsu. Dan banyak dari kita yang tak menyadari sedang terlibat di dalamnya.
Simbah jadi ingat dimana pada satu malam ada serombongan Pramuka lewat di samping simbah. Secara iseng ada salah seorang kawan simbah bertanya,

“Sedang ngapain kalian?”
“Sedang mencari jejak pak,” jawab mereka.
“Oalah, malam-malam kok susah amat mencari jejak,” katanya. “Ha mbok suruh ke sini minta jejak berapapun tak kasih, nggak usah nyari. Tinggal njejaki gundhulnya satu-satu.”

Sampeyan juga sedang mencari jejak?