Minggu, 28 Mei 2017

Hedonis Religius

Setidaknya ada 5 keluarga yang selama ini bekerja di perusahaan kecil simbah, dengan penghasilan per bulan berkisar antara 1 hingga 1,4 juta. Angka sebesar itu bukanlah apa-apa jika dibanding dengan jumlah pengeluaran yang harus dikeluarkan untuk tinggal di Jakarta. Maka tak heran jika mereka sampai saat ini masih istiqomah ngekasbon pada perusahaan yang nantinya ditutup dengan potongan gaji mereka.

Ada yang menarik dari perilaku pengeluaran para buruh itu. Beberapa bulan lalu simbah menawarkan HP pada mereka untuk komunikasi lapangan. Simbah menawarkan bantuan dengan kisaran 200 hingga 300 rebu ripis buat membeli HP CDMA atau kalau mau GSM bekas. Saat simbah tawarkan pada mereka, simbah kaget dengan jawaban mereka…..

“Pak, kalau HP yang ada MP3 dan kameranya itu berapa ya? Saya mau yang itu saja….” Kata salah seorang pegawai yang berposisi sebagai sales. 

Glodaak..!! HP dengan kriteria yang sales maksud itu, saat itu harganya mencapai satu bulan gaji mereka. Bukan simbah gak mau ngasih, tapi apa yang dimaksud sudah melenceng dari tujuan semula. Simbah bermaksud dengan adanya HP komunikasi lapangan jadi mudah. Jadi sekedar maksud fungsional saja, mengingat gaji pegawai yang kecil.

Beberapa waktu sebelumnya, seorang kawan simbah kebobolan rumahnya oleh pembantu rumah tangganya. Duit sekian juta ilang. Rupanya ditilep oleh si Denok yang ngebet punya HP buat nggedabrus ngalor ngidul. Karena si Denok masih termasup kalangan gedibal pitulikur yang mlarat ngempet, diampunilah dosanya. Namun ternyata blunder masih berlanjut. Diawali dengan ketakutan salah seorang anak dari kawan simbah yang saat malam-malam kencing ke mbese, dia mendengar bunyi tawa cekikikan seorang wanita bak kuntilanak dikitikin. 

Misteri suara tawa cekikikan wanita tengah malam itu terungkap, di saat sang kawan menerima print out billing tagihan telepon bulanannya. Tertera tagihan dua juta ripis lebih. Satu jumlah yang membuat kaget, mengingat mereka jarang memakai telepon rumahnya. Usut punya usut ternyata suara cekikikan tengah malam itu adalah suara si Denok yang tengah asyik nggedabrus pakai telepon sang juragannya. Sekali pakai tagihannya bisa nyampai ratusan rebu ripis. Kali ini si Denok tak diampuni. Melarat, gedibal pitulikur, tapi maunya hedonis.

Tiga hari lalu simbah mengangkat tukang cuci baru. Seorang wanita dari kalangan yang terbuang. Konon anaknya tiga. Yang sudah simbah lihat baru satu, yakni anak yang kedua. Seorang anak kecil dengan pakaian lusuh, dengan ingusnya yang khas yang selalu bergelayut. Anak pertamanya katanya sudah SD kelas 4. Sedangkan yang membuat hati hampir meledak adalah kisah anak ketiganya. Saat dia hamil anak ketiga, dia gak punya duit. Ditawarlah anak yang masih di dalam kandungan itu oleh satu keluarga yang konon belum dikaruniai momongan yang tinggal di Tanjung Priok. Sang ibu mengiyakan. Anak ketiga yang berjenis kelamin perempuan itu sekarang sudah berujud televisi kecil yang metangkring di kontrakannya, serta uang tiga juta ripis dan biaya perawatan kehamilan dan persalinannya sebagai tukar gulingnya. Mengingat simbah juga masih punya momongan berumur baru setahun, simbah mau nangis mendengar kisah sang ibu buruh cuci itu.

Simbah gak habis pikir, apa enaknya nonton tipi jika saat nonton tipi itu lantas terkenang si anak yang saat ini ditangan orang lain akibat ditukargulingkan dengan tipi itu. Belum lagi jika mengingat adanya jaringan penjual manusia yang berkeliaran mencari mangsa.

Herannya lagi, respon yang muncul pada tetangga kanan kiri adalah respon yang kurang baik. Mereka memandang rendah wanita yang terbuang itu. Sehingga yang tadinya banyak yang mempekerjakan wanita itu, sekarang hanya tinggal satu yang mau. Memang perbuatan menjual anak itu bukanlah hal yang baik, tapi simbah kok melihatnya bukan dari perbuatannya itu. Tapi lebih kepada keseluruhan aspek, dimana sebenarnya si ibu itu juga korban.

Saat simbah bertanya berapa tarif mencuci sebulan, dia menjawab “Kalau mencuci dan setrika, 300 ribu pak. Kalau mencuci saja 150 ribu,” kata ibu itu menyebutkan jumlah angka yang nilainya senilai dengan sekali kongkow di satu rumah makan di Jakarta. Jumlah itu dicapainya dalam waktu sebulan nyuci.

Si Denok, si ibu dan juga salah seorang sales simbah itu merupakan korban gaya hidup. Mungkin kalau cuma sekedar miskin saja, mereka sudah biasa. Karena dari sejak kecil mereka sudah mlarat ngempet. Tapi saat mereka tinggal di Jakarta, pahitnya kemiskinan makin terasa dengan adanya gaya hidup ala Firaun dan Qarun yang berseliweran di sekeliling mereka. HP dan televisi mungkin bukan barang yang urgen untuk mereka miliki. Namun karena itulah yang mereka lihat tiap hari ditenteng orang kaya dan dimiliki orang borju. Dan dengan menenteng serta memiliki barang-barang tersebut, setidaknya mereka sudah mencicipi sensasi menjadi kaya. Dan barang-barang itulah yang wajib bin fardhu ain harus dimiliki saat pulang kampung lebaran nanti, untuk menunjukkan pada orang di kampung bahwa di Jakarta dia telah sukses.

Orang-orang miskin saat ini benar-benar kehilangan pegangan dan partner. Dulu masih ada kyai atau ustadz yang mau mengobati kepahitan hidup mereka dengan wejangan yang empuk eyup dan menyejukkan. Namun jebulaknya dibalik wejangan empuk eyup dan menyejukkan itu, si kyai dan si ustadz pun rupanya juga bergaya hidup tak beda dengan si Bajirut sang juragan shabu yang rajin ndugem.

Beberapa ustadz yang kehidupannya disorot, dengan terang-terangan menunjukkan bahwa hidup mereka sudah makmur. Punya ini dan itu. Sambil menunjukkan apa yang sudah mereka punyai, mereka bercerita dengan penuh nada nostalgia bahwa dulunya mereka melarat. Makan susah, minum pun gelisah. Akhirnya dengan penuh perjuangan yang gigih, sang ustadz pun terentaskan dari neraka kemiskinannya. Maka sudah saatnya sekarang mengenyam kesuksesan. Kesuksesan adalah hidup cukup. Hidup cukup yang dimaksud adalah kaya. Cukup buat merayakan ulang tahunnya di cafe remang-remang dengan makanan seharga gaji nyuci sebulan.

Jika sukses hidup menurut ustadz atau kyai adalah hidup cukup dan turah mblasah, dan bukannya kesuksesan menghantarkan umat menuju kepada hidup jujur, kerja keras, akhlak karimah, kesederhanaan dan sifat terpuji lainnya, maka satu-satunya harapan bagi orang miskin untuk mengadu pun punah.


Racun hedonisme sedang merambah ke semua lini. Ustadz dan kyai pun kena juga. Satu-satunya harapan adalah mencari partner yang benar-benar partner. Gaya hidup yang dicontohkan suri tauladan uswatun hasanah Kanjeng Nabi saw adalah hidup yang sederhana. Sayangnya kebanyakan para pewaris Nabi, yakni ulama, hanya mewarisi hafalan sabda-sabdanya yang lantas dilantunkan macam tape recorder. Sedangkan gaya hidupnya masih mewarisi gaya si Bajirut, dengan maksud dan tujuan hidup yang tak beda. Tapi simbah yakin, itu gak semua. Hanya saja mencari perkecualian memang bukan pekerjaan yang mudah.

Jumat, 26 Mei 2017

Indera Bathin (Marhaban Yaa Ramadhan)

Sampeyan pernah nyaksiken orang makan Kepiting? Atau malah sampeyan pernah makan kepiting? Itu adalah aktifitas makan yang penuh perjuangan. Karena acara makannya diawali dulu dengan pertempuran melawan cangkang, yang seringkali mengorbankan jari, lidah, dan bibir. Tapi tetep saja makin asyik. Malah harganya muahal pol. Kenikmatannya berbanding lurus dengan perjuangannya.
Beda lagi dengan makan sego bandeng alias sego kucing. Ini menu khas kaum dhuafa wal marjinal, berupa sego sak kepel dirubung sambel sak uprit, plus bandeng atau ikan asin nyak mit. Tak sampai sepeminum teh bisa ludes sebungkus. Rasanya ngedabh-edabhi. Mak nyoss..kotos-kotos.

Beda lagi dengan makan kambing guling, eyem penggeng, es kopyor, es cendol atau menu makanan dan minuman lainnya. Gak usah simbah ceritakan. Ha wong simbah yang nulis saja malah kemecer, apalagi sampeyan yang baca…

Tapi bayangkan jika sampeyan kena trilogy sariawan, alias sariawan telung panggonan. Satu di ujung lidah, satu di tenggorokan, satu lagi di pipi dalam dimana biasa dipakai ngunyah. Acara makan bisa menjadi acara penuh siksaan. Makan gak banyak, gak mau lama-lama, menu apapun bisa bikin derita. Apalagi jika ditambah giginya kerowok semua dan pas kumat…. wuuaah… mantabh.
Jadi untuk mendapatkan rasa nikmatnya makanan, selain makanannya sendiri harus nyamleng, si penikmat juga harus beres kesehatan inderanya. Itu berlaku tidak hanya untuk makanan. Bahkan untuk urusan seksual pun begitu. Istri muda, cantik, kinclong moblong-moblong, perawan, tapi si suami penisnya udunen… wuaahhh… urusan ranjang bisa jadi lemek kasur..alias preeiiii...alias libur dulu.

Nah itu urusan dhohir. Sekarang coba sampeyan rasakan sholat dan puasa sampeyan! Menyiksa diri sampeyan gak? Saat sholat, sampeyan merasakan nikmatnya sholat gak? Atau pinginnya buru-buru? Kalo dapet imam agak lama berdirinya, misuh-misuh dalam hati. Bahkan ada konco simbah kalo mau jadi makmum pesen sama imamnya, “Ntar suratnya qul-hu sama wal ngasri saja ya…”

Demikian pula gimana hati sampeyan saat sedekah? Berat penuh siksaan, atau ringan penuh kenikmatan? Gimana hati sampeyan saat mbaca dan tadarus al qur’an? Penuh kelezatan menikmati hurup demi hurup, atau ngebut nabrak ngalor ngidul yang penting katam 30 juz?? Gimana hati sampeyan kalo berjilbab? Merasa lebih malu saat rambut kepalanya ditutupi, melebihi malunya mereka yang bahkan rambut kemaluannya saja diumbar??

Nikmat dan tidaknya ibadah kita sebenarnya lebih banyak ditentukan beres tidaknya indera batin kita. Kalo indera batinnya sehat, maka sholat, puasa, sedekah, tadarus Al Qur’an, taraweh, berjilbab, dlsb adalah menu nikmat yang enak disantap dan perlu.

Maka Nabi saw sholat malam kakinya sampai abuh bengkak gak masalah. Nyerinya abuh kalah oleh nikmatnya sholat. Sebagaimana nyerinya ketusuk cangkang kepiting kalah oleh lezatnya daging kepiting. Sholat lama malah nyamleng, seperti gak mau berakhir sebagaimana sedapnya menikmati sate tusuk demi tusuk… gak mau segera kenyang dan berakhir.

Jadi, kalo ada yang sholatnya ngebut pencilakan, al fatihah dibaca dalam satu napas, trus sujud rukuk cuma manthuk-manthuk kayak manuk engkuk, itu orang indera batinnya lagi error. Gak doyan barang enak, sebagaimana suami yang isterinya bahenol tapi penisnya udunen wal bisulen tadi.
Di Kitabullah diceritakan tentang orang munapik. Ini oknum batinnya ada penyakitnya, alias fii qulubihim marodhun. Maka akibatnya segala macem ngibadah maunya kilat ekspress, karena gak mau ndikir illa qolilaa (kecuali nyak mit saja). Maka kalopun sholat ya model orang aras-arasen. Ninggal sholat ogah, serius juga gak mau…

Sekarang rasakan pada diri kita. Seberapa nikmat ibadah bisa kita rasakan? Kalo masih macem orang kesiksa, berarti batin sampeyan error, perlu diobati, perlu diopname. Kalo buat sakit dhohir saja mau njual sawah, sapi, mobil, dan bahkan rumah agar dhohir sehat, lantas apa yang bisa sampeyan korbankan agar batin bisa sehat? Mau opname dimana batin sampeyan?
Yang jelas, saat ini makin banyak manusia yang kehilangan nikmatnya beribadah…..
 dan malah banyak merasakan nikmatnya maksiat…


Semoga Ramadhan tahun ini bisa menjadi sarana opname bathin yang kadang sudah tak lagi merasakan nikmatnya ibadah.