Tampilkan postingan dengan label Kebahagiaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebahagiaan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Januari 2020

Benar-Benar Ada


Beberapa hari yang lalu simbah ngajak anak-anak jalan-jalan sambil jajan makanan kecil buat si thole dan si gendhuk. Saat itu anak-anak minta dibelikan es krim. Dan kalau melihat betapa lahapnya anak-anak simbah makan es krim, simbah jadi teringat masa kecil simbah, dimana untuk bisa menikmati yang namanya es krim itu dibutuhkan satu mujahadah kelas wahid.

Sewaktu kecil simbah mempunyai seorang teman yang namanya Gudel. Terlahir dari satu keluarga yang kisah hidupnya cukup memilukan. Bapaknya adalah kawan dekat dari orang tua simbah. Rajin sholat ke mesjid, tapi matinya bunuh diri dengan menggantung diri setelah tamat meminjam dan membaca buku yang berjudul “Hidup Sesudah Mati” karya Bey Arifin (kalau gak salah) dari orang tua simbah. Aneh memang, padahal buku itu isinya bagus. Tapi kok bisa-bisanya menginspirasi bapaknya Gudel buat gantung diri. Atau mungkin beliaunya mau membuktikan isi buku itu. Tapi apapun alasannya, yang jelas si Gudel jadi anak yatim.

Kehidupan si Gudel jadi tidak mudah. Di kalangan anak-anak kecil seusia simbah dia dijuluki “tukang gresek”. Gresek, dengan hurup ‘e’ dibaca seperti kata ‘pesek’, adalah satu perilaku yang dianggap ngisin-isini bin memalukan. Kata itu mengandung maksud memungut sesuatu yang sudah dibuang orang, kalau sekarang mungkin termasyhur dengan kata “Pemulung”.

Satu ketika, simbah dan Gudel menyaksikan beberapa anak sedang makan es mambo. Karena sama-sama gak gableg duit, cukuplah kita berdua menyaksikan acara makan es itu dengan seksama. Simbah lihat si Gudel sudah mulai terbit air liurnya, mlongo menyaksikan pesta es itu dengan terngowoh-ngowoh. Begitu selesai makan es mambo, anak-anak itu segera membuang bungkus es tersebut. Karena melihat si Gudel, anak-anak itu menginjak-injak bungkus es itu dengan kasarnya, sambil berkata :

“eh, ayo diinjak-injak sampai ancur. Entar digresek sama Gudel lho,” ajakan itu disambut dengan antusias. Herannya, setelah bungkus es itu dinjak-injak sampai kotor dan ditinggal oleh pemiliknya, si Gudel tetap saja mendatangi plastik es yang sudah gak mbejaji wujudnya itu dan mulai menyortir. Setelah dijumpainya ada beberapa bungkus masih agak wangun buat dikonsumsi, mulailah aksi penggresekan dilakukan.

“Weh, enak kang es yang ini. Sedep tenan……” katanya dengan mata berbinar-binar sambil nyesep-nyesep plastik es mambo itu dengan penuh daya eksplorasi. Hwarakadah…melihat wajahnya yang menyiratkan ekspresi kenikmatan kayak begitu, terus terang simbah agak terangsang juga pingin mencicipi hidangan gresek ala si Gudel itu. Tapi begitu teringat bahwa es itu sudah dinjak-injak sama kaki si Koplo yang kakinya korengan itu, atau si Kenyung yang sering nginjak telek lencung, hilanglah selera simbah.

Pernah suatu ketika, si Gudel ini melihat satu potongan roti yang masih lumayan utuh. Kebetulan dia berjalan bersama rekan sejawat sesama penggresek. Karena rekan sejawatnya gak lihat, dia injek dulu roti itu, lalu dia berdiri tak bergerak. Rekan sejawatnya heran, kok si Gudel tiba-tiba diem mematung. Karena jengkel ditinggallah si gudel. Begitu rekan sejawatnya nggeblas ngilang, diambilnya lah roti itu dari bawah tapak kakinya sambil cengar-cengir penuh kemenangan. “Belum lima menit..” begitu mungkin pikirnya sambil menyantap roti itu dengan mantabhnya.

Yah, itulah gambaran sepotong keceriaan getir ala kere bin dhuafa. Salah seorang teman simbah pernah melihat di stasiun Jogjakarta, seorang ibu beserta anak perempuannya yang masih berumur sekitar 10 tahun, asyik ngemis dari gerbong ke gerbong. Kebetulan saat itu sang ibu ketiban rejeki nomplok yang tak terduga, yakni nemu sepotong tegesan bin puntung rokok yang mingsih lumayan panjang. Yah setara dengan sepuluh sledupan wal sedotan lah. Diisepnyalah tegesan itu dengan penuh citarasa. Yang mbikin hati agak miris adalah manakala sang ibu berbagi puntung tegesan itu dengan anak perempuannya yang masih kecil itu. Secara bergantian si ibu dan si anak sledap-sledup ngisep rokok tegesan itu dengan penuh keceriaan dan canda tawa.

Di masa kuliah dulu, simbah sering wira-wiri lewat di satu kontrakan masal yang dinamai Pondok Boro. Penghuninya kebanyakan keluarga kere, kaum mlarat dan juga beberapa waria. Saat itu simbah melihat langsung ada seorang bapak bertubuh gothot, sedang menggendong anaknya yang masih berumur setahun lebih. Dilihat dari perawakannya, propesi si bapak ini pantasnya pekerja keras. Kalau nggak kuli angkut, tukang becak, atau minimal tukang kepruk. Herannya si bapak ini mau momong anaknya yang saat itu nangis rewel mencari ibunya. Mungkin ibunya sedang kerja di pabrik, atau sedang ada kesibukan darurat lainnya, yang memaksa si bapak bertubuh gothot ini mau momong anaknya.

Yang mbikin simbah tersenyum kecut adalah, saat si anak gak mau diem dan nangis terus mencari ibunya, si bapak mulai jengkel. Dengan tinju terkepal, diancamlah anaknya yang masih kecil itu dengan kepalan tinjunya sambil berkata…

“Hayo, nangis lagi.. ayo cepet nangis lagi… jotos sisan kamu..!!” hati ini jadi mak tratap. Ancaman si bapak itu diulang-ulang dan herannya bapak-bapak yang lain disitu malah ketawa ngakak melihat ulah si bapak. Si anak jadi ciut juga, lalu tangisnya ditelen sampai membik-membik mau tersedak.
Keluarga-keluarga kere wal mlarat yang simbah ceritakan ini benar-benar ada. Bukan kisah cerita di sinetron. Kejadian itu telah ada bertahun-tahun yang lalu, jauh sebelum bengsin menjadi enam ribuan ripis seperti sekarang. Entah bagaimana kabarnya sekarang. Si gudel seingat simbah sudah mati muda. Simbah lupa kejadian kematiannya. Anak perempuan yang berbagi tegesan itu sekarang kalau masih hidup, pastilah sudah dewasa. dan anak bayi yang diancam jotos oleh bapaknya itu, simbah yakin sudah seusia Sherina, dengan nasib yang tentu saja tak seberuntung artis muda itu.

Dengan kondisi perekonomian yang seperti sekarang ini, simbah yakin keluarga ala Gudel itu masih banyak. Walaupun ada juga yang bilang, dengan bengsin seharga sekarang ini, jumlah rakyat miskin jadi berkurang. Entah statistik dari mana yang mengatakan ini. Asumsi ini masuk akal, jika yang dimaksud kemiskinan berkurang itu adalah dikarenakan rakyat miskin wal mlarat itu pada modiyar semua karena gak kuat melanjutkan hidup.

Kita terbiasa hidup di komunitas yang berkecukupan. Tetangga kiri kanan semuanya keluarga mampu. Teman kantor, teman kerja, semuanya warga borju. Sehingga dianggapnya, yang namanya kemiskinan itu cuma rekayasa, tidak benar-benar ada. Kalaupun ada itu masa lalu.

Ada sebagian dari kita yang tahu, bahwa kemiskinan itu ada. Tapi sayangnya kemiskinan itu lantas hanya dijadikan komoditi. Kemiskinan adalah modal buat menarik simpati untuk mencari suara. Masing-masing bendera menyuarakan ingin membela rakyat kecil. Biasalah, gabrulan lima tahunan. Dibela setahun, diinjek empat tahun. Rakyat miskin makin terinferior. Makin kere, tidak hanya lahiriah tapi juga mental. Makin nggedhibal pitulikur.

Simbah hanya bisa berdoa dan berusaha semampu simbah, agar tidak ikut tenggelam di kapal yang dibocori rame-rame ini. Sambil berharap, ada yang mau menambal kebocoran itu dan menyadarkan para pembocor kapal itu akan kebodohan tindakannya.


The Power of Risau


Dulu sewaktu simbah masih dapat jatah jaga di ICU, seringkali simbah menyaksikan para penunggu pasien menunggu di luar ruang dengan begitu cemasnya. Ada yang nggelar tikar sambil sesekali sledap-sledup ngudud dan srupat-sruput minum kopi, ada juga yang duduk merenung. Namun yang jelas semua jadi kuat melek.

Ibu-ibu yang tadinya ngantukan, jam sepuluh malem sudah mlungker selimutan, tiba-tiba menjadi bisa kuat melekan. Semalam tidur dua jam sudah cukup manakala menunggu anak kesayangannya dirawat di ruang batas hidup dan mati itu. Kang Pawiro Cobrot yang biasanya sebelum Dunia Dalam Berita sudah ngowoh, tiba-tiba jadi tukang melek selama berhari-hari karena nunggu isterinya yang kritis setelah cesar.

Itulah kekuatan asli manusia. Dalam keadaan normal, kekuatan manusia terasa terbatas. Orang sekuat apapun bisa kalah oleh capek dan letih. Kalo sudah kelelahan, oknum segothot apapun akan nglumpruk lemes karena dikalahkan oleh lelah.

Namun sebenarnya masih ada yang bisa mengalahkan rasa lelah. Apa itu? Lelah, letih ataupun capek, bisa dikalahkan oleh mabok. Kang Paidul yang badannya gering dan tampak ringkih itu, kalo sudah nenggak ciu limolas sloki, tiba-tiba bisa ngibing semalam suntuk tanpa capek. Demikian juga konco-konconya yang mblangsak gak karuan itu. Kalo sudah nenggak wiski sebotol plus pil koplo, mau diajak jogedan ala kipas angin yang gedak-gedek kira-kanan itu ya oke saja…  Gak ada capeknya.

Tapi mabok masih ada yang mengalahkan. Yang bisa mengalahkan mabok adalah kantuk. Kalo kantuk sudah datang, semabok apapun seseorang pasti klipuk juga. Ngorok senggrak-senggrok kayak suara gergaji sedang melakukan aksi illegal logging. Sesekali diselingi batuk karena tersedak iler.

Nah … rasa kantuk itu  masih ada yang bisa mengalahkan, yakni RISAU. Macem penunggu pasien di emperan ICU rumah sakit itu. Risau karena menunggu dan mencemaskan sesuatu yang menyebabkan kantukpun dianggap angin. Melek semalaman no problem. Ada kekuatan ekstra yang muncul dengan tiba-tiba manakala risau itu datang. Dan tubuh pun merespon serta beradaptasi dengannya.

Dengan ini pula maka kita bisa paham, mengapa Nabi saw bisa sholat malam semalaman suntuk sampai kakinya bengkak. Dakwah tanpa lelah sampai babak belur dan tetap bertenaga terus. Juga riwayat orang-orang yang kuat ngibadah sampai sedemikian hebatnya. Mereka bisa begitu karena menyertakan risau pada amalannya.

Sayangnya kekuatan risau ini lebih banyak diletakkan pada sesuatu yang sebenarnya tak perlu dirisaukan. Orang lebih banyak risau tentang bagaimana mencari sesuap nasi. Satu hal yang sudah dijamin pasti adanya selama hayat masih dikandung badan. Tapi tak pernah risau bagaimana nasibnya nanti di akherat. Apakah selamat ataukah cilaka mencit…??

Sebagian merasa tenang karena salah dalam memahami Maha Pengampunnya Allah. Setiap kali habis mblangsak, mabok, zina, korupsi dan maksiat, yang tertanam dalam dirinya adalah keyakinan bahwa dirinya sudah diampuni. Sampai-sampai ada yang berkeyakinan bahwa semuanya nanti pasti masup sorga, karena Tuhan Maha Kasih Sayang, gak mungkin menyiksa hamba-Nya. Mungkin orang ini belum pernah dibacok anaknya sama garong, belum pernah diperkosa isterinya sama bromocorah dan belum pernah disunduki dan disetrum kemaluannya sama interogator yang memaksa mengakui perbuatan yang gak pernah dilakukannya.

Mulai sekarang, sertakan risau dalam semua urusan kita, agar kekuatan ekstra yang tak kenal lelah membantu kita mengerjakan amalan-amalan kita… ;)


Perjodohan


“Gimana sih mbah caranya, supaya saya bisa mendapat jodoh yang baik?” begitu pertanyaan ini sering berulang ditanyakan ke diri simbah. Pertanyaan ini biasa simbah jawab dengan beragam jawaban, tergantung apakah si penanya ini type pemburu ataukah type yang suka diburu. Untuk type pemburu, simbah suka menasehatkan :

“Lha sampeyan mau mburu apa? Kalo mau mburu kijang, ya jangan blusukan turut waduk! Ntar dapetnya wader sama mujair. Lha kalo mau mburu ikan, ya jangan byayakan masup ke padang pasir. Ntar ketemunya ikan dendeng doang…!”


Biasanya kalo si penanya lepel otaknya hanya lulusan SD, atau lulusan S1 tapi nyogok lanjut bertanya…

“Maksudnya apa itu mbah?”

“Gini lho Dul… Kalau kamu memang mau nyari jodoh yang baik, ya carilah ke tempat-tempat yang baik. Orang-orang baik hanya akan betah tinggal di lingkungan yang sehabitat dengan dirinya, yakni lingkungan yang baik. Cuma masalahnya, kata “baik” itu beda-beda miturut isi jidat masing-masing.”


“Maksudnya apa itu mbah?”

“Lha kalo itu orang dengan latar belakang ilmu agamanya mantabh, yang namanya jodoh yang baik itu ya yang penting sholeh, ngibadahnya tekun, menahan pandangan, gak plerak-plerok kayak kadal ijo, trus patuh tunduk sama rambu-rambu syareat. Tapi kalo orang itu latar belakangnya pemuas syahwat, jodoh yang baek itu ya pokoke yang nyakdhut, moleq monthoq (dibaca dengan qolqolah), mulus, murah senyum, nyah-nyoh, dan cemekel. Masalah ngibadah nomer sewidak rolas. Dan masing-masingnya pasti mendapat sesuai kriterianya.”


“Kok bisa gitu, maksudnya apa itu mbah?”

“Lhaiyo, lha kalo sampeyan macak jadi macan, tentu saja ngiler dan ngeces kalo weruh dan lihat daging. Dikasih rumput mukok-mukok wal muntah. Tapi kalo sampeyan macak jadi wedhus bin gembel, lihat krokot dan rumput semrinthil ndekati…. Jadi mesti klop dengan cocokannya…”

Itu type Pemburu. Nah ada juga yang type diburu. Inipun wejangannya lain lagi…

“Maksudnya apa itu mbah?”

“Wooo… sontoloyo.. bola-bali kok pertanyaannya gitu…!”


“Maap mbah, saya memang sontoloyo.. ha wong propesi saya angon bebek je…”

“Gini lho Sont… Untuk type yang diburu, ya tinggal milih didatengi siapa… Kalo macak jadi daging, ya yang ndatengi dan nyaplok pasti macan dan sebangsanya. Tapi kalo macak jadi suket, ya jangan salahkan siapa-siapa kalo yang nyaplok itu wedhus dan wadyabalanya.”


Dan rupanya itupun terjadi di dunia perbloggeran. Jika sampeyan punya blog, sebenarnya blog itu ibarat piringnya. kalo sampeyan isi gereh petek sama iwak cethul, ya jangan heran kalo yang mampir kesitu adalah kucing. Atau sampeyan isi bekatul, ya mesti saja dirubung dan dithotholi pitik. Karena hanya orang-orang yang sreg dan sejodoh dengan isi blog itulah yang bertahan menanti dan membaca hidangan yang sesuai dengan seleranya.

Akhirnya, memang sebuah blog dengan tulisannya. tidak akan bisa memuaskan semua pihak. Yang sejodoh akan mendukung, dan yang tak sejodoh akan mengingkari. Sebagaimana satu quote yang pernah dilontarkan Bill Cosby :

“Saya tidak tahu apa itu kunci kesuksesan. Namun saya tahu kunci kegagalan, yakni jika anda berusaha memuaskan semua orang.”


Satu cerita pernah dibawakan oleh kalangan tabiin, bahwa mereka terheran-heran dengan adanya seekor burung merak yang runtang-runtung rukun dengan seekor burung gagak. Sebagaimana diketahui, burung merak adalah lambang keindahan, sedangkan burung gagak adalah lambang keburukan dan kengerian… tapi kok bisa rukun. Apa yang mbikin mereka bisa sejodoh? 
Rupanya setelah diamati, kedua burung itu sama-sama pincang. Mereka diikat oleh kesamaan nasib… pincang.

Yang namanya kebaikan hanya akan disukai dan dicintai oleh orang-orang baik. Dan orang-orang baik hanya akan berkumpul dan berjodoh dalam pertemanan hanya dengan orang baik yang lain. Imam Syafii menasehati kita…

“Nilailah saudaramu, dengan cara melihat dengan siapa mereka berteman dan bergaul…!”
Kanjeng Nabi saw bersabda, “Ruh itu saling berjodoh. Yang sejalan dan cocok akan saling mengenali dan berkumpul, sedangkan yang tak sejalan dan bertentangan akan saling mengingkari…..”

Simbah gak tahu, sampeyan orang yang gimana. Tapi simbah hanya berharap, semoga hanya orang-orang baiklah yang menyukai blog simbah…. ;)


Jujur Gak Bakal Hancur


Sekitar dua tahun yang, di saat simbah asyik metangkring di satu cakruk sambil mengamati mobil simbah yang sedang dicat, duduklah bersama simbah seorang sahabat simbah beserta seorang mantan tukang kepruk lokalisasi Kramat Tunggak yang luntang-lantung nyari kerja, sebut saja namanya si Gopar.

Waktu itu simbah dan sahabat simbah sedang ngetuprus membicarakan perihal kejujuran. Sambil nyantai simbah mituturi si tukang cat mobil itu, sesekali ditambahi pitutur dari sahabat simbah. Sebutlah si tukang cat mobil itu si Osrat, jagoan cat yang sudah kawentar hasil catnya mesti kinclong..

“Srat, pokoke kerja yang tekun, ulet dan yang terpenting jujur. Jangan nipu. Kalo nipu, bagaimanapun caranya, hidup gak bakalan sukses.” kata sahabat simbah pada si Osrat.
“Lha itu, koruptor-koruptor itu pada sugeh mblegedhu dari hasil nipu… nyatanya hidup enak mbah..,” sergah Osrat pada simbah.

“Halah, enak apanya? Wong hidup dihantui kebohongan kok enak.. Lagian emangnya kesuksesan hidup itu kayak mereka..?? Wah jauh Srat.. Mereka itu sedang menggali lobang neraka di dunia. Kalo di akherat, nggak usah digali, nerakanya sudah tersedia dan dalem. Jikalau ada bayi dicemplungin ke situ, sampe ke dasar neraka sudah jenggoten saking dalemnya…, mau hidup kayak gitu..!!??” jawab simbah.

Dua tahun telah berlalu……….

Pada satu malam, kira-kira dua minggu lalu, sahabat simbah itu dipanggil seseorang di satu cakruk.
“Pak-pak, mampir dulu pak. Bapak masih inget saya?” tanya orang itu.

“Wah, siapa ya?? Lupa-lupa inget…,” jawab sahabat simbah.

“Saya si Gopar yang waktu itu ikut ndengerin bapak dan mbah dokter ngobrol di cakruk dulu itu… Boleh minta waktunya pak. Saya mau ngobrol sebentar…” pinta si Gopar.

Setelah tersedia teh anget, ngobrollah si Gopar dengan semangat yang menggebu-gebu.

“Waduh pak, saya berterimakasih sekali lho atas nasehatnya pada waktu itu. Itu lho waktu ngobrol sama mbah dokter dulu itu. Saya itu heran ha wong obrolan kok lain-daripada yang lain…” kata Gopar.

“Lain gimana Par?”
tanya sahabat simbah.


“Saya itu sudah gaul sama haji-haji, kemana-mana kumpul. Kenal juga sama ustadz-ustadz, yah saya kan pingin mertobat, ha wong bertahun-tahun jadi tukang kepruk mbodiguard di Kramtung. Tapi meskipun haji, ustadz atau apapun namanya, kalo kumpul sama mereka itu yang diomongin mblangsak semua. Menasehati orang boleh jago di mimbar, tapi kelakuannya moorsaaal… Jadi kalo mereka ngobrol, meskipun isinya nasehat.. ya lewat saja. Ha wong kita tahu kemana blusukannya dan gimana kelakuannya..”

“Lha terus…?”


“Lha ini yang ngobrol bukan kyai, haji juga nggak, malah dokter… eee.. ngomongin kejujuran. Tadinya saya sudah putus asa lho pak pada kejujuran. Ha wong orang jujur hidupnya pada ancur semua. Lha dulu itu mbah dokter sama bapak malah bilang, dengan kejujuran hidup malah sukses. Makanya saya pingin membuktikan omongan itu…”

“Trus gimana… terbukti nggak?”

Maka berceritalah si Gopar, bagaimana dia ketemu seorang yang rusak motornya dan mogok di jalan. Orang itu adalah orang batak, marga Gurning. Anehnya dia muslim. Pak Gurning ini minta tolong Gopar buat memperbaiki motornya. Maka diopreklah hingga sehat lagi motor itu. Pak Gurning senangnya alang kepalang. Dikasihlah si Gopar seratus rebu ripis. Tapi oleh Gopar tak semua diterima.

“Maap pak, cukup duapuluh rebu saja. Ini Kebanyakan, terimakasih. Wong modal barang sama tenaganya gak lebih dari segitu…” kata Gopar waktu itu.

Maka heranlah pak Gurning ini, ada orang sejujur itu. Lalu diundanglah si Gopar untuk main ke rumahnya. Karena si Gopar itu pengangguran luntang-lantung, maka dimintalah dia mberesi dan mbersihkan rumah pak Gurning untuk kemudian diupah. Si Gopar jalani dengan agak bertanya-tanya. Masalahnya saat dia ngepel lantai, nyapu kamar dan mberesi ruangan-ruangan rumah, berceceranlah barang-barang berharga gemletak di mana-mana. HP, uang limapuluh rebuan, bahkan seratus rebuan, jam tangan mahal, semuanya tergeletak sembarangan. Kalo ditilep satu saja, nggak ada yang lihat. Tapi si Gopar merasakan, mungkin itu adalah ujian kejujurannya. Maka didiemkan saja barang-barang itu.

Selesai mengerjakan tugas itu dia menerima upah yang luar biasa banyak. Beberapa hari berjalan seperti itu, sampai akhirnya pak Gurning menyuruh dia untuk cari sebidang tanah di kampungnya buat nyawah. Diutuslah Gopar dan dipasrahi duit 50 juta ripis cash. Si Gopar sampai gemeteran megang duitnya. Seumur-umur belum pernah dia megang duit sebanyak itu. Dan dengan 50 juta di tangan, dia berhasil membeli tanah yang lumayan luas. Ha wong tanah di desa itu paling semeter dihargai limarebu ripis.

Oleh pak Gurning dia disuruh nyawah dengan hasil fifty-fifty. Setahun lewat, pembagian hasil berubah, 70% buat Gopar, 30% buat pak Gurning atas keputusan pak Gurning sendiri.

“Sekarang saya sudah bisa beli tanah dan motor atas bantuan pak Gurning juga pak. Saya merasakan bener bagaimana hidup jujur itu ternyata mbikin kita bener-bener sukses pak, karena saya selama itu selalu menjaga omongan dan tindakan saya agar selalu tepat. Apalagi pak Gurning itu orangnya juga menghargai kejujuran. Bahkan kalo sudah janji, saya telat semenit saja langsung saya gak diajak ngomong seharian oleh beliau….” kata Gopar pada sahabat simbah.

“Yah begitulah hidup Par.. kejujuran itu bagaimanapun lebih dihargai oleh manusia daripada kebohongan. bahkan tukang bohong pun menghargai kejujuran..”

“Saya malah kasian sama si Osrat pak… katanya dia nyolong uang bapak ya…?? Sekarang dia hidupnya kesrakat. Kemaren barusan saya kasih uang.. lha ngliatnya saya gak tega… Orang kok milih hidup jalan pintas…” kata Gopar.

Ya, begitulah. Si Osrat yang justru simbah dan sahabat simbah pituturi, akhirnya nilep uang sahabat simbah saat dipekerjakan di bengkelnya. Totalnya mencapai 2 jutaan ripis. Gak banyak. Tapi cukup untuk menjatuhkan vonis bahwa orang itu gak jujur. Berita tersebar, orang akhirnya gak percaya lagi sama si Osrat. Gak mau pakai tenaganya lagi. Hidupnya malah makin kesrakat. Terakhir simbah lihat si Osrat lagi mbantu jadi kenek bengkel dengan upah yang gak mitayani. Sementara si tukang Kepruk lokalisasi Kramtung yang cuma nebeng denger pitutur, malah jadi berubah menjadi orang yang sukses dengan bekal kejujurannya.

Sebelum menutup pembicaraan, sahabat simbah berkata : “Satu hal lagi Par.. kamu kan sudah merasakan buah kejujuran kamu, sekarang ada satu nasehat lagi yang kalo kamu jalani bisa mbikin hidup kamu tambah hebat lagi…”

“Apa itu pak?” tanya Gopar.


“Kerjakan sholat 5 waktu…..!”

“Wah.. iya pak.. saya sudah mulai latihan kalo yang itu…” kata Gopar sambil cengar-cengir.
Yang simbah ceritakan di atas adalah kisah nyata. Simbah saja sampai kaget ndengernya dari sahabat simbah. Ha kok ada lho yang akhirnya berubah hanya dengan nebeng denger orang ngobrol. Maka dari itu, ngomonglah, nulislah, mikirlah dan bertindaklah yang baik-baik, maka orang-orang yang ada di sekitar kita akan bisa menuai kebaikan itu, dan kebaikan itu akan kita tuai juga hasilnya… ;)


Minggu, 28 Mei 2017

Hedonis Religius

Setidaknya ada 5 keluarga yang selama ini bekerja di perusahaan kecil simbah, dengan penghasilan per bulan berkisar antara 1 hingga 1,4 juta. Angka sebesar itu bukanlah apa-apa jika dibanding dengan jumlah pengeluaran yang harus dikeluarkan untuk tinggal di Jakarta. Maka tak heran jika mereka sampai saat ini masih istiqomah ngekasbon pada perusahaan yang nantinya ditutup dengan potongan gaji mereka.

Ada yang menarik dari perilaku pengeluaran para buruh itu. Beberapa bulan lalu simbah menawarkan HP pada mereka untuk komunikasi lapangan. Simbah menawarkan bantuan dengan kisaran 200 hingga 300 rebu ripis buat membeli HP CDMA atau kalau mau GSM bekas. Saat simbah tawarkan pada mereka, simbah kaget dengan jawaban mereka…..

“Pak, kalau HP yang ada MP3 dan kameranya itu berapa ya? Saya mau yang itu saja….” Kata salah seorang pegawai yang berposisi sebagai sales. 

Glodaak..!! HP dengan kriteria yang sales maksud itu, saat itu harganya mencapai satu bulan gaji mereka. Bukan simbah gak mau ngasih, tapi apa yang dimaksud sudah melenceng dari tujuan semula. Simbah bermaksud dengan adanya HP komunikasi lapangan jadi mudah. Jadi sekedar maksud fungsional saja, mengingat gaji pegawai yang kecil.

Beberapa waktu sebelumnya, seorang kawan simbah kebobolan rumahnya oleh pembantu rumah tangganya. Duit sekian juta ilang. Rupanya ditilep oleh si Denok yang ngebet punya HP buat nggedabrus ngalor ngidul. Karena si Denok masih termasup kalangan gedibal pitulikur yang mlarat ngempet, diampunilah dosanya. Namun ternyata blunder masih berlanjut. Diawali dengan ketakutan salah seorang anak dari kawan simbah yang saat malam-malam kencing ke mbese, dia mendengar bunyi tawa cekikikan seorang wanita bak kuntilanak dikitikin. 

Misteri suara tawa cekikikan wanita tengah malam itu terungkap, di saat sang kawan menerima print out billing tagihan telepon bulanannya. Tertera tagihan dua juta ripis lebih. Satu jumlah yang membuat kaget, mengingat mereka jarang memakai telepon rumahnya. Usut punya usut ternyata suara cekikikan tengah malam itu adalah suara si Denok yang tengah asyik nggedabrus pakai telepon sang juragannya. Sekali pakai tagihannya bisa nyampai ratusan rebu ripis. Kali ini si Denok tak diampuni. Melarat, gedibal pitulikur, tapi maunya hedonis.

Tiga hari lalu simbah mengangkat tukang cuci baru. Seorang wanita dari kalangan yang terbuang. Konon anaknya tiga. Yang sudah simbah lihat baru satu, yakni anak yang kedua. Seorang anak kecil dengan pakaian lusuh, dengan ingusnya yang khas yang selalu bergelayut. Anak pertamanya katanya sudah SD kelas 4. Sedangkan yang membuat hati hampir meledak adalah kisah anak ketiganya. Saat dia hamil anak ketiga, dia gak punya duit. Ditawarlah anak yang masih di dalam kandungan itu oleh satu keluarga yang konon belum dikaruniai momongan yang tinggal di Tanjung Priok. Sang ibu mengiyakan. Anak ketiga yang berjenis kelamin perempuan itu sekarang sudah berujud televisi kecil yang metangkring di kontrakannya, serta uang tiga juta ripis dan biaya perawatan kehamilan dan persalinannya sebagai tukar gulingnya. Mengingat simbah juga masih punya momongan berumur baru setahun, simbah mau nangis mendengar kisah sang ibu buruh cuci itu.

Simbah gak habis pikir, apa enaknya nonton tipi jika saat nonton tipi itu lantas terkenang si anak yang saat ini ditangan orang lain akibat ditukargulingkan dengan tipi itu. Belum lagi jika mengingat adanya jaringan penjual manusia yang berkeliaran mencari mangsa.

Herannya lagi, respon yang muncul pada tetangga kanan kiri adalah respon yang kurang baik. Mereka memandang rendah wanita yang terbuang itu. Sehingga yang tadinya banyak yang mempekerjakan wanita itu, sekarang hanya tinggal satu yang mau. Memang perbuatan menjual anak itu bukanlah hal yang baik, tapi simbah kok melihatnya bukan dari perbuatannya itu. Tapi lebih kepada keseluruhan aspek, dimana sebenarnya si ibu itu juga korban.

Saat simbah bertanya berapa tarif mencuci sebulan, dia menjawab “Kalau mencuci dan setrika, 300 ribu pak. Kalau mencuci saja 150 ribu,” kata ibu itu menyebutkan jumlah angka yang nilainya senilai dengan sekali kongkow di satu rumah makan di Jakarta. Jumlah itu dicapainya dalam waktu sebulan nyuci.

Si Denok, si ibu dan juga salah seorang sales simbah itu merupakan korban gaya hidup. Mungkin kalau cuma sekedar miskin saja, mereka sudah biasa. Karena dari sejak kecil mereka sudah mlarat ngempet. Tapi saat mereka tinggal di Jakarta, pahitnya kemiskinan makin terasa dengan adanya gaya hidup ala Firaun dan Qarun yang berseliweran di sekeliling mereka. HP dan televisi mungkin bukan barang yang urgen untuk mereka miliki. Namun karena itulah yang mereka lihat tiap hari ditenteng orang kaya dan dimiliki orang borju. Dan dengan menenteng serta memiliki barang-barang tersebut, setidaknya mereka sudah mencicipi sensasi menjadi kaya. Dan barang-barang itulah yang wajib bin fardhu ain harus dimiliki saat pulang kampung lebaran nanti, untuk menunjukkan pada orang di kampung bahwa di Jakarta dia telah sukses.

Orang-orang miskin saat ini benar-benar kehilangan pegangan dan partner. Dulu masih ada kyai atau ustadz yang mau mengobati kepahitan hidup mereka dengan wejangan yang empuk eyup dan menyejukkan. Namun jebulaknya dibalik wejangan empuk eyup dan menyejukkan itu, si kyai dan si ustadz pun rupanya juga bergaya hidup tak beda dengan si Bajirut sang juragan shabu yang rajin ndugem.

Beberapa ustadz yang kehidupannya disorot, dengan terang-terangan menunjukkan bahwa hidup mereka sudah makmur. Punya ini dan itu. Sambil menunjukkan apa yang sudah mereka punyai, mereka bercerita dengan penuh nada nostalgia bahwa dulunya mereka melarat. Makan susah, minum pun gelisah. Akhirnya dengan penuh perjuangan yang gigih, sang ustadz pun terentaskan dari neraka kemiskinannya. Maka sudah saatnya sekarang mengenyam kesuksesan. Kesuksesan adalah hidup cukup. Hidup cukup yang dimaksud adalah kaya. Cukup buat merayakan ulang tahunnya di cafe remang-remang dengan makanan seharga gaji nyuci sebulan.

Jika sukses hidup menurut ustadz atau kyai adalah hidup cukup dan turah mblasah, dan bukannya kesuksesan menghantarkan umat menuju kepada hidup jujur, kerja keras, akhlak karimah, kesederhanaan dan sifat terpuji lainnya, maka satu-satunya harapan bagi orang miskin untuk mengadu pun punah.


Racun hedonisme sedang merambah ke semua lini. Ustadz dan kyai pun kena juga. Satu-satunya harapan adalah mencari partner yang benar-benar partner. Gaya hidup yang dicontohkan suri tauladan uswatun hasanah Kanjeng Nabi saw adalah hidup yang sederhana. Sayangnya kebanyakan para pewaris Nabi, yakni ulama, hanya mewarisi hafalan sabda-sabdanya yang lantas dilantunkan macam tape recorder. Sedangkan gaya hidupnya masih mewarisi gaya si Bajirut, dengan maksud dan tujuan hidup yang tak beda. Tapi simbah yakin, itu gak semua. Hanya saja mencari perkecualian memang bukan pekerjaan yang mudah.

Jumat, 26 Mei 2017

Indera Bathin (Marhaban Yaa Ramadhan)

Sampeyan pernah nyaksiken orang makan Kepiting? Atau malah sampeyan pernah makan kepiting? Itu adalah aktifitas makan yang penuh perjuangan. Karena acara makannya diawali dulu dengan pertempuran melawan cangkang, yang seringkali mengorbankan jari, lidah, dan bibir. Tapi tetep saja makin asyik. Malah harganya muahal pol. Kenikmatannya berbanding lurus dengan perjuangannya.
Beda lagi dengan makan sego bandeng alias sego kucing. Ini menu khas kaum dhuafa wal marjinal, berupa sego sak kepel dirubung sambel sak uprit, plus bandeng atau ikan asin nyak mit. Tak sampai sepeminum teh bisa ludes sebungkus. Rasanya ngedabh-edabhi. Mak nyoss..kotos-kotos.

Beda lagi dengan makan kambing guling, eyem penggeng, es kopyor, es cendol atau menu makanan dan minuman lainnya. Gak usah simbah ceritakan. Ha wong simbah yang nulis saja malah kemecer, apalagi sampeyan yang baca…

Tapi bayangkan jika sampeyan kena trilogy sariawan, alias sariawan telung panggonan. Satu di ujung lidah, satu di tenggorokan, satu lagi di pipi dalam dimana biasa dipakai ngunyah. Acara makan bisa menjadi acara penuh siksaan. Makan gak banyak, gak mau lama-lama, menu apapun bisa bikin derita. Apalagi jika ditambah giginya kerowok semua dan pas kumat…. wuuaah… mantabh.
Jadi untuk mendapatkan rasa nikmatnya makanan, selain makanannya sendiri harus nyamleng, si penikmat juga harus beres kesehatan inderanya. Itu berlaku tidak hanya untuk makanan. Bahkan untuk urusan seksual pun begitu. Istri muda, cantik, kinclong moblong-moblong, perawan, tapi si suami penisnya udunen… wuaahhh… urusan ranjang bisa jadi lemek kasur..alias preeiiii...alias libur dulu.

Nah itu urusan dhohir. Sekarang coba sampeyan rasakan sholat dan puasa sampeyan! Menyiksa diri sampeyan gak? Saat sholat, sampeyan merasakan nikmatnya sholat gak? Atau pinginnya buru-buru? Kalo dapet imam agak lama berdirinya, misuh-misuh dalam hati. Bahkan ada konco simbah kalo mau jadi makmum pesen sama imamnya, “Ntar suratnya qul-hu sama wal ngasri saja ya…”

Demikian pula gimana hati sampeyan saat sedekah? Berat penuh siksaan, atau ringan penuh kenikmatan? Gimana hati sampeyan saat mbaca dan tadarus al qur’an? Penuh kelezatan menikmati hurup demi hurup, atau ngebut nabrak ngalor ngidul yang penting katam 30 juz?? Gimana hati sampeyan kalo berjilbab? Merasa lebih malu saat rambut kepalanya ditutupi, melebihi malunya mereka yang bahkan rambut kemaluannya saja diumbar??

Nikmat dan tidaknya ibadah kita sebenarnya lebih banyak ditentukan beres tidaknya indera batin kita. Kalo indera batinnya sehat, maka sholat, puasa, sedekah, tadarus Al Qur’an, taraweh, berjilbab, dlsb adalah menu nikmat yang enak disantap dan perlu.

Maka Nabi saw sholat malam kakinya sampai abuh bengkak gak masalah. Nyerinya abuh kalah oleh nikmatnya sholat. Sebagaimana nyerinya ketusuk cangkang kepiting kalah oleh lezatnya daging kepiting. Sholat lama malah nyamleng, seperti gak mau berakhir sebagaimana sedapnya menikmati sate tusuk demi tusuk… gak mau segera kenyang dan berakhir.

Jadi, kalo ada yang sholatnya ngebut pencilakan, al fatihah dibaca dalam satu napas, trus sujud rukuk cuma manthuk-manthuk kayak manuk engkuk, itu orang indera batinnya lagi error. Gak doyan barang enak, sebagaimana suami yang isterinya bahenol tapi penisnya udunen wal bisulen tadi.
Di Kitabullah diceritakan tentang orang munapik. Ini oknum batinnya ada penyakitnya, alias fii qulubihim marodhun. Maka akibatnya segala macem ngibadah maunya kilat ekspress, karena gak mau ndikir illa qolilaa (kecuali nyak mit saja). Maka kalopun sholat ya model orang aras-arasen. Ninggal sholat ogah, serius juga gak mau…

Sekarang rasakan pada diri kita. Seberapa nikmat ibadah bisa kita rasakan? Kalo masih macem orang kesiksa, berarti batin sampeyan error, perlu diobati, perlu diopname. Kalo buat sakit dhohir saja mau njual sawah, sapi, mobil, dan bahkan rumah agar dhohir sehat, lantas apa yang bisa sampeyan korbankan agar batin bisa sehat? Mau opname dimana batin sampeyan?
Yang jelas, saat ini makin banyak manusia yang kehilangan nikmatnya beribadah…..
 dan malah banyak merasakan nikmatnya maksiat…


Semoga Ramadhan tahun ini bisa menjadi sarana opname bathin yang kadang sudah tak lagi merasakan nikmatnya ibadah.


Selasa, 09 Mei 2017

Kemakmuran

Bagi sampeyan yang tinggal di tlatah Solo dan sekitarnya, dan saat ini setidaknya berusia 40 tahun, tentu masih ingat yang namanya Bancakan Weton. Satu ritual yang diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, dengan menyajikan satu nampan nasi tumpeng yang dihiasi sayur gudhangan binti urap plus telor ayam yang ukurannya cukup menggetarkan jiwa. Betapa tidak, bagaimana sampeyan bisa membayangkan sebutir telor ayam yang dibagi dengan bilangan empat kwadrat…?

Dengan menu Bancakan Weton yang sangat sederhana itu, simbah masih inget bagaimana nasi bancakan itu cukup dahsyat menggoncang lidah ndeso kita. Sehingga jika ada panggilan undangan buat menghadiri bancakan weton ini, segera saja semua berandal cilik seumuran simbah waktu itu berlomba berkumpul untuk merubungi nasi tumpeng sederhana itu. Terus terang, yang paling menggoda dari menu bancakan saat itu bukanlah nasi urapnya. Namun hampir semua anak-anak saat itu sepakat, telor seperempat kwadrat yang mungil itulah yang menjadi daya tarik paling kuat buat menyedot ketertarikan para member bancakan itu. Sehingga seringkali anak-anak saat itu menjadikan telor ayam seperempat kwadrat itu sebagai hidangan penutup, yang akan habis dengan sekali klamut.

Simbah masih inget si Yadi Lemu dan Surono Nggople yang nangis kenceng karena telor ayam seperempat kwadrat yang sedianya dieman-eman buat “Gong Penutup”, jatuh bersimbah tanah gara-gara sengaja disenggol oleh konconya yang sirik karena telornya lebih dulu disantap sebagai pembuka.

Meskipun hanya bervolume seperempat kwadrat, telor ayam masih merupakan makanan mewah saat itu. Sehingga kalau di satu perhelatan makan-makan dihidangkan telor ayam utuh, maka itu merupakan lambang kemakmuran buat sang tuan rumah. Dan segera akan menjadi pembicaraan di tengah masyarakat, dengan ragam komentarnya.

“Wuedyan tenan, ingone ndog utuh…. sedep tenan, “ kata mbah Dermo sang pengamat kuliner.


Waktu berlalu. Kasta telor yang tadinya menduduki area ningrat, semakin merosot tergantikan oleh lawuh pauh (lauk pauk) yang bernuansa daging. Tadinya daging merupakan menu sakral, yang hanya bisa dinikmati setahun dua kali, yakni di saat hari raya lebaran dan kurban. Kalaupun ada tambahan selain di 2 waktu itu, biasanya daging ayam tambahan ini berasal dari ayam mbah buyut yang kena ayan, lalu masih sempat disembelih daripada mati mubadzir. Dengan hadirnya kemampuan rakyat yang makin bisa beli daging, Bancakan Weton tidak lagi menjadi acara yang menarik. Walaupun di saat terakhir simbah melihat menu bancakaannya, telor seperempat kwadratnya sudah ditingkatkan volumenya menjadi telor ayam separo. Namun anak-anak mendatangi acara bancakan ini dengan ogah-ogahan.

Dari pengamatan simbah, yang namanya kemakmuran itu seringkali diwujudkan dalam jenis lauk yang dikonsumsinya. Orang mengkonsumsi makanan seringkali hanya untuk menunjukkan derajat kemakmurannya. Ketika melihat orang yang makan dikelilingi lauk serba daging, masyarakat menilainya sebagai orang yang sukses. Awalnya begitu. Sehingga target makan bagi orang sukses adalah bisa makan dengan daging.

Namun ketika diketahui bahwa banyak penyakit yang bisa dimunculkan oleh menu yang serba daging, orang-orang mulai kaget. Rupa-rupanya lambang kemakmuran mereka membawa petaka. Lambang kemakmuran mereka merupakan sumber penyakit yang menakutkan semisal stroke, hiperkolesterolemia, hypertrigliseridemia, asam urat, jantung koroner dan penyakit mematikan lainnya. Dan makanan ndeso macam gudhangan binti urap, tempe (yang enak dibacem dan perlu), tahu, dan lainya yang tadinya dipandang dengan pandangan rendah, ternyata malah mengandung zat yang bersahabat bagi tubuh sehat. Akhirnya terangkatlah derajatnya, ibarat kere munggah bale.

Begitulah, yang namanya kemakmuran, ukurannya selalu berubah. Pencanangan mewujudkan masyarakat yang Adil dan Makmur sudah ada sejak jaman Majaphit. Lalu digaungkan lagi dijaman orba dengan Program Pelitanya. Tapi bagaimanakah wujud kemakmuran itu dan bagaimana menggapainya, banyak yang kebingungan. Simbah melihatnya seperti kuda yang dipasangi rumput segar di depan matanya, lalu sang kuda mengejar dengan penuh semangat, berlari dengan makin cepat, namun jarak dia dengan rumput itu tak berubah. Sayangnya sang kuda tidak sadar dan menyangka bahwa dia makin dekat dengan rumput segar itu.

Gambaran simbah di atas akan klop dan terjadi pada sampeyan semua, manakala yang namanya kemakmuran itu adalah satu sarana untuk mencukupi kebutuhan hawa napsu. Karena hawa napsu tidak akan pernah cukup dengan yang ada. Diberi satu gunung emas pun akan kepingin punya dua, dan seterusnya. Namun kemakmuran akan gampang terwujud, manakala yang dimaksud adalah memakmurkan hati manusia. Mencukupi kebutuhan hati. Kemakmuran sudah dekat dan bahkan setiap hari terwujud pada mereka yang hatinya qona’ah, merasa cukup dengan apa yang bisa dia raih.

Merasa cukup bukan berarti tidak punya keinginan lebih. Yang merasa cukup adalah sang hati, tapi manusia dikaruniai nafsu yang akan memacunya untuk memiliki lebih. Nafsu tidak boleh dimatikan. Dialah yang nantinya dengan sendirinya memasukkan rasa kurang pada manusia. Remnya adalah qona’ah. Jika sampeyan bisa menjaga stabilitas pedal rem dan pedal gas nafsu dengan disertai permainan kopling yang cantik, sampeyan bisa melaju di tengah kehidupan dengan harmonis. Itulah kemakmuran yang sesungguhnya.

Tapi kebanyakan manusia lebih suka mewujudkan dan mementingkan kemakmuran dengan simbol-simbol materi. Dengan bentuk rumah, jenis mobil, jenis lauk,stelan jas, jenis stick golf dan lain sebagainya. Manusia yang mementingkan mewujudkan kemakmuran dengan bentuk materi,kebanyakannya adalah manusia yang sedang mengelola kesan makmur. Mereka lebih suka terlihat makmur daripada menjadi makmur itu sendiri. Hal ini bukan berarti tidak boleh memiliki materi. Milikilah materi yang memang sampeyan butuh untuk memilikinya. Tunaikan kewajibannya (zakatnya), lalu berqona’ahlah hati sampeyan. Selamat menggapai kemakmuran… 

Rabu, 26 Agustus 2015

Apa Atawa Bagaimana..?

Belum lama ini simbah menyaksiken satu acara di tipi tentang seni menyantap sushi. Makanan ala Jepang dan nJepangi banget ini ditayangkan dengan penuh seni. Simbah sebut nJepangi karena sesuai dengan karakter orang Jepang yang serba kemrungsung, sampai-sampai yang namanya makan gak nunggu dimasak. Pokoke langsung santlap. Mak nyuk…

Yang makan pun keliatan mantabh. Padahal yang namanya ikan laut, jangankan mentah, yang sudah mateng saja kadang amisnya masih nempel di tenggorokan. Maka simbah berusaha mendalami, bagaimana orang-orang Jepun itu bisa menyantap daging ikan yang amis itu dengan penuh kenikmatan

Lain sushi lain lagi dengan jengkol. Makanan tradisional yang aromanya berpotensi memancing keusuhan ini termasuk makanan yang masih susah simbah mengerti mengapa disebut lezat oleh penggemarnya. Bahkan bibi simbah sendiri dan sebagian anggota keluarga simbah menjadikan jengkol ini sebagai cemilan wal snack di saat senggang. Tapi simbah yakin, jika mau belajar menikmati pasti akan ketemu juga titik kelezatannya.

Sebagaimana saat simbah masih kecil dulu, tersebutlah makanan berbahan organik yang kluget-kluget di dasar akar pohon Turi berjuluk “Gendhon”. Gendhon adalah makhluk ra mbejaji berwujud seperti ulat gemuk, penuh lemak dan protein, serta konon menurut Kadi bisu -seorang konco angon simbah- merupakan sumber gizi yang ngedhab-edhabi. Sehingga kalo nemu makhluk berjuluk Gendhon ini, tiba-tiba konco-konco dolan simbah langsung menggelar acara kuliner ekstrim berbahan baku ulet berprotein tinggi itu. Maap aja, walaupun agak mlarat simbah tetep gak doyan makan Gendhon goreng itu. Meskipun konco-konco simbah ngiming-imingi dengan penuh demonstratip makan temblang-tembleng di depan simbah.

Kedoyanan dan ketidakdoyanan pada makanan-makanan tersebut oleh orang banyak disebut selera. Agak susah dimengerti memang dengan kata yang namanya “selera”. Karena secara anatomis, yang namanya lidah manusia itu sama saja. Letak syaraf-syaraf pengecapnya tak berbeda. Letak titik gurih, asem, manis, asin, pahit, cemplang, dan lain-lain, semuanya sama. Namun tiba-tiba satu makanan yang sama menghasilkan rasa yang berbeda pada individu yang berbeda.

Lantas jika ada yang muntah di tempat gara-gara bau duren, apakah pasti karena durennya? Padahal ada juga yang sledap-sledup dengan mantab menyedot aroma duren ini dengan sentausa dan malah ketagihan. Malahan kalo habis nyantap duren sebiji, kulitnya ditaruh dibawah amben tempat tidur karena ingin kamarnya beraroma duren.

Kesimpulannya: kenikmatan segala sesuatu terletak bukan pada “apa”nya yang dinikmati, tapi justru kenikmatan itu tergantung pada yang menikmati. Karena tergantung pada yang menikmati, maka kenikmatan itu terletak pada “bagaimana” menikmatinya. Pada subyek dan bukan pada obyek.

Pertanyaannya, bisakah kita belajar menikmati? Jawabannya : karena kenikmatan itu tergantung pada “bagaimana” cara menikmatinya, maka tentu saja bisa dipelajari. Tergantung kita mau apa tidak. Kalau mau, pasti ada jalan.

Dari sini seharusnya kita bisa menggladrahkan pikiran kita ke apa saja yang bisa dinikmati. Misalnya kekayaan. Kalau tak tahu bagaimana menikmatinya, maka kekayaan akan mendatangkan musibah. Kekayaan bisa terasa nikmat manakala orang paham bagaimana menikmatinya. Namun yang terjadi adalah banyak orang menyangka kekayaan itu nikmat bukan pada “bagaimana” nya. Banyak orang yakin kekayaan itu nikmat karena terletak pada “apa”nya. Sehingga yang tertanam pada diri kebanyakan orang, kekayaan itu nikmat karena kayanya itu.

Dari sini juga muncul pemahaman bahwa kemiskinan tak bisa dinikmati. Kalau kenikmatan itu tergantung pada “bagaimana” cara menikmatinya, maka pada semua kejadian seharusnya bisa dinikmati, termasuk kemiskinan. Tapi kita sudah lama dicekoki bahwa kenikmatan terletak pada “apa” yang dinikmati. Pada obyeknya. Jika jidat sampeyan konsekwen dengan pemahaman ini, maka seharusnya duren dan jengkol itu pasti nikmat bagi seluruh lidah spesies yang bernama manusia karena secara anatomis sama. Nyatanya tidak. Lalu muncullah kosa kata “selera” yang sebenarnya mendukung fakta bahwa sampeyan meyakini kenikmatan itu terletak pada “bagaimana”, pada subyek dan bukan pada “apa” yang dinikmati.

Kanjeng Nabi saw pernah bersabda, “Sungguh menakjubkan keadaan orang beriman. Seluruh keadaannya, baginya semuanya baik. Jika menerima kenikmatan lalu bersyukur, maka baik baginya. Jika menerima musibah lalu sabar, maka baik baginya. Dan tidak akan begini, kecuali mereka yang beriman saja.”

Maka kebaikan tidak terletak pada “apa”, tapi terletak pada “bagaimana” menyikapi. Karena sifat hipokrit kita, maka kita meletakkan kebaikan, kenikmatan, dan kebahagiaan pada “apa”, dan bukan pada “bagaimana”. Maka muncullah anggapan bahwa bahagia itu kekayaan, sukses itu pangkat, kenikmatan itu rumah mewah, keberhasilan itu karir mantabh, cemerlang itu gaji sembilan digit, dlsb.

Orang tak bisa memahami bahwa pada kemiskinan ada kebaikan, pada kekurangan ada kebaikan, pada musibah ada kenikmatan, pada bencana ada keberhasilan. Padahal semua tergantung pada “bagaimana” nya, dan tak bergantung pada “apa”nya. Namun kita menganggap tak ada kosa kata selera disini. Seakan semuanya absolut. Ketahuilah, sampeyan diglembuki sama setan kalo begitu.

Sebab Kebahagiaan

Syahdan, tersebutlah kang Dulkamid yang hidupnya terkenal kesrakat secara dhohir. Adalah kekayaannya berupa rumah reyot hampir rubuh, sepeda onthel yang rantainya rajin lepas, baju berjumlah tujuh -nanti dulu…- maksudnya tujuh tambalannya, sebuah tempat tidur Spring Bed tanpa “S” (baca: Pring Bed) alias lincak dari bambu yang lebih terkenal dengan sebutan tempat tidur ‘kelas tinggi’ karena banyak “tinggi”nya (tinggi=kutu busuk bin bangsat) dan sejumlah lima juta ripis – nanti dulu…- maksudnya berupa utang. Tak seorangpun ibu dan tak juga sampeyan yang sedang menggendong anaknya menginginkan anaknya menjadi semisal si Dulkamid. Keunggulan satu-satunya yang dimiliki adalah kejujurannya. Tapi banyak orang mencibir, kejujuran tak membuat dia kaya.

Syahdan, dumadakan si Dulkamid didatangi seorang konglomerat yang menginginkan si Dulkamid menjadi asisten pribadinya. Tidak tanggung-tanggung, dia DIJANJIKAN gaji 30 juta ripis per bulan oleh si konglomerat. Konglomerat itu bilang, dia boleh langsung bekerja sebulan kemudian, dan langsung menerima gaji di muka 30 juta ripis.

Sampai di sini simbah mau bertanya, miturut sampeyan semua, kira-kira bagaimana keadaan hati si Dulkamid selama menunggu selama sebulan itu? Gembirakah atau sedihkah? Tentu saja dia gembira luar biasa.

Pertanyaan selanjutnya. Apakah dengan janji akan bekerja dan digaji di muka 30 juta ripis itu keadaan dhohirnya sudah berubah? Apakah dengan janji itu Pring Bed “kelas tinggi”nya itu menjadi sungguh-sungguh Spring Bed dengan “S”? Apakah dengan janji itu bajunya langsung rontok tambalannya seketika? Apakah dengan janji itu sepeda onthelnya tiba-tiba berubah menjadi Ducati 500 cc? Tidak!! Dengan janji itu kondisi dhohirnya tetep!! Tapi suasana hatinya berbeda. Si Dulkamid bisa tidur lebih nyenyak dengan mimpi indah. Tak masalah bajunya bertambal, utangnya masih tetep lima juta ripis dan masih miskin. Ada yang berubah pada dirinya yang tak terlihat secara dhohir.

Syahdan, di lain pihak tersebutlah si Dulkenyung, pengusaha sugeh mblegedhu berkantong tebal. Rumah real estate, mobilnya mewah, harta melimpah, orang memanggilnya bos eksekutif, tokoh papan atas … halah mirip lagu ‘Bento’ pokoknya. Simpanannya banyak, baik berupa uang maupun istri.

Syahdan, baru saja datang surat dari KPK yang meminta dirinya datang bulan depan, untuk ditanyai perihal semua bisnisnya yang ternyata bermasalah. Hingga disinyalir bisnisnya tersebut merugikan negara trilyunan ripis, dan berpotensi menyebabkan dia masuk penjara seumur idup.

Miturut sampeyan semua, bagaimanakah si Dulkenyung menjalani hidupnya sebulan ke depan? Bahagiakah atau cemaskah? Apakah dengan surat panggilan dari KPK itu tiba-tiba dia jadi miskin, lalu hilang semua simpanannya, atau hancur semua mobilnya atau bangkrut semua bisnisnya? Tentu saja tidak!! Hartanya tetap utuh, tapi kondisi hatinya sudah tidak seutuh seperti semula. Ketakutan mulai membayangi dirinya. Dengan kondisi kekayaan yang sama, hidupnya berubah menjadi seperti neraka.

Syahdan, simbah lantas bertanya, apakah yang menjadi penyebab bagi ketentraman hati dan kebahagiaan pada seseorang jika melihat cerita si Dulkamid dan si Dulkenyung di atas? Kekayaankah? Atau sepeda onthel? Atau Pring Bed kelas tinggi? Atau kemewahan dan segala keglamoran semisal yang dimiliki si Dulkenyung? Mengapa Dulkenyung di tengah kekayannya tidak menikmati masa sebulan penantian dipanggil oleh KPK, sementara di tengah kemelaratannya si Dulkamid hatinya bergembira menjalani sebulan penantian dipanggil konglomerat?

Seorang motivator yang tak mau disebut namanya menjelaskan, bahwa letak kebahagiaan dan penyebab kebahagiaan seseorang tergantung pada HARAPAN nya. Si Dulkamid memang mlarat kesrakat wal sekarat. Tapi harapannya sebulan ke depan luar biasa bagus, yang menjadikan kemlaratannya tak terasa pahit. Ada harapan walau belum berwujud, tapi mampu menyingkirkan segala rasa pahit kemiskinan dan kemlaratan yang menderanya.

Beda dengan si Dulkenyung walau hartanya melimpah, harapan sebulan ke depannya serba rumit dan gelap. Mobil mewahnya tak cukup bisa menghiburnya, istri denok deblongnya tak cukup cantik untuk menenangkan kegelisahannya. Spring Bed mewahnya tak cukup empuk untuk membuatnya tidur nyenyak. Semua diawali dari harapan yang suram.

Ilustrasi di atas menggambarkan tentang adanya harapan baik dan harapan buruk dengan durasi ’sebulan ke depan’. Harapan yang indah dalam sebulan ke depan, membuat bulan yang dilewati ikut menjadi indah. Harapan yang suram dalam sebulan ke depan, membuat durasi waktu sebulan yang dilewati ikut menjadi suram. Tidakkah sampeyan bisa mengambil satu kesimpulan dalam kalimat-kalimat di atas?

Hidup adalah satu waktu yang durasinya kita tidak tahu. Simbah tidak tahu, diberi durasi berapa tahun tinggal di planet bumi menghirup O2. Namun jika kita berpikir sederhana, sebab kebahagiaan pun juga sederhana. Sebab kebahagiaan terletak pada harapan yang hendak diraihnya.

Bagi orang beriman diberikan janji harapan “Laa khoufun ‘alaihim wa laa hum yahzanuun”. Tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka bersedih. Mengapa? Karena berapapun durasi hidup yang harus dijalani, endingnya adalah kalimat dalam bahasa arab yang sudah diterjemahkan di atas.

Apa ruginya hidup miskin berdurasi seumur hidup, jika endingnya bahagia selama-lamanya? Apa sedihnya hidup serba terbatas, jika endingnya senang tak terbatas? Durasi sebulan menunggu janji yang dialami si Dulkamid hanyalah gambaran betapa seharusnya seorang beriman menjalani hidupnya penuh harapan baik sebagaimana Dulkamid menunggu janji si konglomerat. Bedanya hanya di sisi durasi, mau sebulan, setahun, seabad… tak masalah.

Tapi mengapa ada saja orang yang hidupnya susah dan penuh kesedihan, jika ternyata untuk bahagia sangat sederhana caranya?

Penyebabnya ada beberapa:

1. Tidak yakin dengan isi janji dan si pembuat janji.
Jika si pembuat janji pada si Dulkamid adalah sesama kere yang gak gableg duit, maka isi janjinya pantas diragukan. Walaupun si Dulkamid dijanjkan gaji semilyar, tidurnya gak bakal jadi nyenyak. Masalahnya yang memberikan janji adalah si Dulkembung yang hanya bisa jual abab dan malah sering ngutang pada Dulkamid. Janji segede apapun tak akan menenangkan.
Demikian, pula jika sampeyan tak percaya janji Tuhan sampeyan, hidup sampeyan sedih dan menyedihkan. Mungkin sampeyan nyembah Tuihan yang salah. Tuhan yang dalam sejarahnya selalu ingkar janji. Tuhan yang tak jelas juntrungnya. Tuhan imaginer bikinan ahli ketuhanan yang suka menipu untuk kepentingan dunia. Jika sampeyan benar memilih Tuhan, sampeyan bisa pegang janji-Nya, dan menjadi tenanglah hidup sampeyan berapapun durasi hidup sampeyan.

2. Harapan hidupnya buruk.
Jika sampeyan berwatak ala Dulkenyung, si kaya berakhlak rajakaya (baca: hewan ternak), maka sudah terbayang ending hidup sampeyan pasti busuk. Maka berapapun durasi hidup yang diberikan pada sampeyan, mustahil sampeyan bisa bahagia. Hidup akan selalu dibayangi ketakutan, kekhawatiran dan ketidaktenangan. Kecuali sampeyan sudah terkontaminasi DNA nya si Iblis.

Iblis tahu ending hidupnya, yakni binasa. Namun buat dia oke-oke saja. Dia anggap sepadan. Toh hidupnya seumur dunia. Bisa hidup seenaknya, tak terikat aturan dlsb. Nah manusia yang sudah teracuni DNA Iblis akan menganggap kenikmatan dunia yang tanpa aturan itu sepadan jika harus mengalami ending busuk. Iblis dan kroninya lupa, bahwa bilangan berapapun jika dibagi bilangan tak terbatas, hasilnya NOL. Berapapun lamanya hidup di dunia, jika DIBANDINGKAN dengan waktu tak terbatas akherat, semuanya jadi tidak bernilai dan tak pantas diperjuangkan. Tak ada yang sepadan jika harus ditebus kesengsaraan tak terbatas.

Jadi jika sampeyan mau hidup bahagia, caranya sederhana. Perbaiki harapan hidup sampeyan. Ingat: harapan berbeda dengan khayalan. Jika petani menebar benih padi dan menunggu padi tumbuh, itu namanya harapan. Namun jika petani menebar kerikil dan menunggu kerikil itu tumbuh menjadi tanaman padi, itu namanya khayal.