Senin, 31 Juli 2017

Bank PLECIT

Simbah kurang paham mana ejaan yang benar, apakah Bank Plecit atau Bang Plecit. Kalo di Jakarta sini orang menyebutnya Bank Keliling, tapi bisa juga maksudnya Bang Keliling, karena biasanya yang keliling itu laki-laki. Tampilannya pun biasa saja, bahkan keliatan culun, ndeso bahkan sebagian tampak kurang gizi. Namun aktifitas yang dilakukannya mbikin simbah miris.

Mereka adalah pelaku ekonomi riil di tengah masyarakat ekonomi lemah. Kerjanya memberikan pinjaman pada yang memerlukan. Tidak besar memang. Besarannya hanya ratusan rebu hingga jutaan, tapi tetap di bawah angka 5 juta.

Nggak tahu gimana asal muasalnya tiba-tiba simbah disambati seorang pengusaha bisnis remeh temeh yang terlilit utang di Bank Plecit alias Bank Keliling ini. Utangnya sebenarnya juga tak besar. Hanya 500 rebu ripis. Tapi itu nilai yang besar buat satu keluarga yang ekonominya lebih sering bumi gonjang-ganjingnya daripada langit kelap-kelapnya.



Setelah nggedabrus ngalor ngetan, akhirnya simbah menanyakan gimana tho sebenarnya kerja Bank Keliling itu. Kok bisa-bisanya banyak yang sambat dililit utang oleh Bank Keliling itu. Pengusaha itu akhirnya bercerita, bahwa bunga yang diterapkan oleh bank Plecit itu lumayan gede. Tagihannya pun harian. Jadi akhirnya kewalahan sendiri nyarutang (bayar hutang).

Mekanismenya gini, tarohlah si shohibul kajat ngutang dua juta ripis. Maka si Bank Plecit akan kasih dua juta ripis dipotong administrasi 10 persen, sehingga total duit yang diterima shohibul kajat cuma 1,8 juta ripis. Trus Bunga yang diterapkan adalah 20 persen perbulan. Sehingga dalam sebulan si shohibul kajat harus membayar tanggungan hutang sebesar 2,4 juta ripis. Jikalau dalam satu bulan bisa lunas, si bank Plecit akan memberikan uang penghargaan sebesar 100 rebu ripis buat shohibul kajat, karena berdedikasi tinggi mau mbayar utang tepat waktu.

Jadi buat Bank Plecit itu, dari uang 1,8 juta ripis bisa menangguk untung 500 rebu ripis. Jiaaaan… kapitalis sejati. Kapitalis edan wal gemblung. Menerapkan prinsip uang yang bekerja untuk diri kita. Bukan kita yang bekerja untuk uang. Tapi keblinger wal kesasar, milih dalan peteng… membungakan uang. Lha yang ngutang jadi semakin mbeseseg dadanya. Ngutang dua juta ripis ditagih setiap hari 80 rebu ripis. Ha wong hidupnya saja sudah kesrakat kok dituntut menyediakan duit 80 rebu ripis sehari. Apa nggak semakin semaput.

Si bank Plecit beralasan, ha wong minjem bolo pecah saja ada uang sewanya kok. Pinjem meja kursi, kamera, mobil, alat pesta dan lain sebagainya, semua pakai uang sewa. Mosok pinjem duit gak ada uang sewanya. Mereka menganggap hutang duit itu sama dengan nyewa. Maka harus bayar uang sewa. Lha, pantesan… makanya mereka pantas disebut RENTENIR. Karena kerjanya rental duit, yang mana RENT itu kan artinya sewa. Mereka nganggep menghutangkan uang itu ya menyewakan uang. Wah.. dasar koplo, otak kapitalis atheis.

Yang lebih mengherankan, ternyata pelaku lapangan itu hanya pegawe saja. Kerjanya menawarkan dan nagih. Sedangkan pemodal bank Plecit di daerah simbah sini kebanyakan kumpulan para Haji sugeh plus tuan tanah, yang hobinya kawin, punya simpenan bini di mana-mana, tapi terpandang di mata masyarakat karena sugehnya.

Makanya Kitabullah menganggap orang-orang yang terlibat dalam urusan rental merental duit ini sebagai orang yang gendheng dan kerasukan setan. Sehingga yang namanya riba itu dihapus oleh syareat sampai ke akar-akarnya. Gak ada itu riba walo kecil. Haram sampai ke akar-akarnya. Kalo nekat, Allah umumkan perang pada pelakunya.

Cuma yang namanya setan, tetap gak kehabisan jurus. Kata riba diasingkan dan dikucilkan. Dipoleslah kata-kata seram itu. Maka riba berevolusi menjadi produk-produk bergengsi. Saking bergengsinya menyebabkan yang makai jadi kecanduan. Bahkan menjadi tolok ukur kesuksesan seseorang. Seseorang belum dianggep perlente kalo belum punya kartu riba… eh… kartu kredit alias CC dari lima bank besar di dunia. Mbeli barang kurang nggaya kalo nggak dengan cara nggesek kertu.

Karena nyandu, maka banyak yang menolak bahwa itu sebenarnya riba. Ibarat lethong sapi dipoles krim sehingga nampak seperti kuwe tart. Lha trus ada yang kapusan. Kuwe tart lethong sapi itu diunthal sak kayange. Sebagian malah buat ndublag bayi-bayi yang masih innocent. Trus tiba-tiba ada yang ngelokne, Kang lethong sapi kok diemplok. Lha opo hora pait..?”

Karena terlanjur nyandu dan belepotan lethong, njawab dengan membabi buta tanpa menceleng melek,Lethong sapine mbahmu, iki kuwe tart lapis legit tahu…!! Ha mbok dirasakne… ha wong manis-manis nyamleng gini kok lethong sapi. Ha kalo ada pait-paitnya dikit wajarlah.. itu pariasi rasa.. Dasar ndesit..!!”

Pait-pait dikit wajar lah, Riba dikit gak papa lah. Bunganya kan kecil, gak mencekik kita. Ha kok situ yang malah kecekik…. bla..bla..bla. Itulah alasan pembenaran bagi pelakunya. Bahkan ada yang parah, sampai bilang…Lha kalo gak pakai sistem riba ini, gimana bisa hidup di jaman moderen ini..??”

Simbah menangkapnya begini, “Lha kalo gak makan lethong sapi, gimana kita bisa menahan lapar kita, mau makan apa kita??” Tapi buat yang lainnya sih, kali aja beda. Ha wong kupingnya juga beda, hatinya beda, isi polonya juga beda.

Yang jelas bank Konvensional, apalagi bank Plecit… telah diharamkan oleh MUI, yang haram tentu saja ribanya. Yang lainnya tidak. Ibarat warung yang jualan macem-macem barang, yang haram adalah dagangannya yang haram saja macem ciu, arak, sate jamu (asu), kikil babi dlsb. Tapi itu MUI, fatwanya katanya bukan hukum positip. Pelakunya berdosa menurut syareat tapi bukan kejahatan apalagi kriminal miturut negara. Sedangkan dokter yang nyembuhin pasien, pasiennya jadi bagas waras bahkan nyembah-nyembah maturnuwun sama dokternya karena sudah ditambani dan sembuh, dianggap kriminil 

Minggu, 28 Mei 2017

Hedonis Religius

Setidaknya ada 5 keluarga yang selama ini bekerja di perusahaan kecil simbah, dengan penghasilan per bulan berkisar antara 1 hingga 1,4 juta. Angka sebesar itu bukanlah apa-apa jika dibanding dengan jumlah pengeluaran yang harus dikeluarkan untuk tinggal di Jakarta. Maka tak heran jika mereka sampai saat ini masih istiqomah ngekasbon pada perusahaan yang nantinya ditutup dengan potongan gaji mereka.

Ada yang menarik dari perilaku pengeluaran para buruh itu. Beberapa bulan lalu simbah menawarkan HP pada mereka untuk komunikasi lapangan. Simbah menawarkan bantuan dengan kisaran 200 hingga 300 rebu ripis buat membeli HP CDMA atau kalau mau GSM bekas. Saat simbah tawarkan pada mereka, simbah kaget dengan jawaban mereka…..

“Pak, kalau HP yang ada MP3 dan kameranya itu berapa ya? Saya mau yang itu saja….” Kata salah seorang pegawai yang berposisi sebagai sales. 

Glodaak..!! HP dengan kriteria yang sales maksud itu, saat itu harganya mencapai satu bulan gaji mereka. Bukan simbah gak mau ngasih, tapi apa yang dimaksud sudah melenceng dari tujuan semula. Simbah bermaksud dengan adanya HP komunikasi lapangan jadi mudah. Jadi sekedar maksud fungsional saja, mengingat gaji pegawai yang kecil.

Beberapa waktu sebelumnya, seorang kawan simbah kebobolan rumahnya oleh pembantu rumah tangganya. Duit sekian juta ilang. Rupanya ditilep oleh si Denok yang ngebet punya HP buat nggedabrus ngalor ngidul. Karena si Denok masih termasup kalangan gedibal pitulikur yang mlarat ngempet, diampunilah dosanya. Namun ternyata blunder masih berlanjut. Diawali dengan ketakutan salah seorang anak dari kawan simbah yang saat malam-malam kencing ke mbese, dia mendengar bunyi tawa cekikikan seorang wanita bak kuntilanak dikitikin. 

Misteri suara tawa cekikikan wanita tengah malam itu terungkap, di saat sang kawan menerima print out billing tagihan telepon bulanannya. Tertera tagihan dua juta ripis lebih. Satu jumlah yang membuat kaget, mengingat mereka jarang memakai telepon rumahnya. Usut punya usut ternyata suara cekikikan tengah malam itu adalah suara si Denok yang tengah asyik nggedabrus pakai telepon sang juragannya. Sekali pakai tagihannya bisa nyampai ratusan rebu ripis. Kali ini si Denok tak diampuni. Melarat, gedibal pitulikur, tapi maunya hedonis.

Tiga hari lalu simbah mengangkat tukang cuci baru. Seorang wanita dari kalangan yang terbuang. Konon anaknya tiga. Yang sudah simbah lihat baru satu, yakni anak yang kedua. Seorang anak kecil dengan pakaian lusuh, dengan ingusnya yang khas yang selalu bergelayut. Anak pertamanya katanya sudah SD kelas 4. Sedangkan yang membuat hati hampir meledak adalah kisah anak ketiganya. Saat dia hamil anak ketiga, dia gak punya duit. Ditawarlah anak yang masih di dalam kandungan itu oleh satu keluarga yang konon belum dikaruniai momongan yang tinggal di Tanjung Priok. Sang ibu mengiyakan. Anak ketiga yang berjenis kelamin perempuan itu sekarang sudah berujud televisi kecil yang metangkring di kontrakannya, serta uang tiga juta ripis dan biaya perawatan kehamilan dan persalinannya sebagai tukar gulingnya. Mengingat simbah juga masih punya momongan berumur baru setahun, simbah mau nangis mendengar kisah sang ibu buruh cuci itu.

Simbah gak habis pikir, apa enaknya nonton tipi jika saat nonton tipi itu lantas terkenang si anak yang saat ini ditangan orang lain akibat ditukargulingkan dengan tipi itu. Belum lagi jika mengingat adanya jaringan penjual manusia yang berkeliaran mencari mangsa.

Herannya lagi, respon yang muncul pada tetangga kanan kiri adalah respon yang kurang baik. Mereka memandang rendah wanita yang terbuang itu. Sehingga yang tadinya banyak yang mempekerjakan wanita itu, sekarang hanya tinggal satu yang mau. Memang perbuatan menjual anak itu bukanlah hal yang baik, tapi simbah kok melihatnya bukan dari perbuatannya itu. Tapi lebih kepada keseluruhan aspek, dimana sebenarnya si ibu itu juga korban.

Saat simbah bertanya berapa tarif mencuci sebulan, dia menjawab “Kalau mencuci dan setrika, 300 ribu pak. Kalau mencuci saja 150 ribu,” kata ibu itu menyebutkan jumlah angka yang nilainya senilai dengan sekali kongkow di satu rumah makan di Jakarta. Jumlah itu dicapainya dalam waktu sebulan nyuci.

Si Denok, si ibu dan juga salah seorang sales simbah itu merupakan korban gaya hidup. Mungkin kalau cuma sekedar miskin saja, mereka sudah biasa. Karena dari sejak kecil mereka sudah mlarat ngempet. Tapi saat mereka tinggal di Jakarta, pahitnya kemiskinan makin terasa dengan adanya gaya hidup ala Firaun dan Qarun yang berseliweran di sekeliling mereka. HP dan televisi mungkin bukan barang yang urgen untuk mereka miliki. Namun karena itulah yang mereka lihat tiap hari ditenteng orang kaya dan dimiliki orang borju. Dan dengan menenteng serta memiliki barang-barang tersebut, setidaknya mereka sudah mencicipi sensasi menjadi kaya. Dan barang-barang itulah yang wajib bin fardhu ain harus dimiliki saat pulang kampung lebaran nanti, untuk menunjukkan pada orang di kampung bahwa di Jakarta dia telah sukses.

Orang-orang miskin saat ini benar-benar kehilangan pegangan dan partner. Dulu masih ada kyai atau ustadz yang mau mengobati kepahitan hidup mereka dengan wejangan yang empuk eyup dan menyejukkan. Namun jebulaknya dibalik wejangan empuk eyup dan menyejukkan itu, si kyai dan si ustadz pun rupanya juga bergaya hidup tak beda dengan si Bajirut sang juragan shabu yang rajin ndugem.

Beberapa ustadz yang kehidupannya disorot, dengan terang-terangan menunjukkan bahwa hidup mereka sudah makmur. Punya ini dan itu. Sambil menunjukkan apa yang sudah mereka punyai, mereka bercerita dengan penuh nada nostalgia bahwa dulunya mereka melarat. Makan susah, minum pun gelisah. Akhirnya dengan penuh perjuangan yang gigih, sang ustadz pun terentaskan dari neraka kemiskinannya. Maka sudah saatnya sekarang mengenyam kesuksesan. Kesuksesan adalah hidup cukup. Hidup cukup yang dimaksud adalah kaya. Cukup buat merayakan ulang tahunnya di cafe remang-remang dengan makanan seharga gaji nyuci sebulan.

Jika sukses hidup menurut ustadz atau kyai adalah hidup cukup dan turah mblasah, dan bukannya kesuksesan menghantarkan umat menuju kepada hidup jujur, kerja keras, akhlak karimah, kesederhanaan dan sifat terpuji lainnya, maka satu-satunya harapan bagi orang miskin untuk mengadu pun punah.


Racun hedonisme sedang merambah ke semua lini. Ustadz dan kyai pun kena juga. Satu-satunya harapan adalah mencari partner yang benar-benar partner. Gaya hidup yang dicontohkan suri tauladan uswatun hasanah Kanjeng Nabi saw adalah hidup yang sederhana. Sayangnya kebanyakan para pewaris Nabi, yakni ulama, hanya mewarisi hafalan sabda-sabdanya yang lantas dilantunkan macam tape recorder. Sedangkan gaya hidupnya masih mewarisi gaya si Bajirut, dengan maksud dan tujuan hidup yang tak beda. Tapi simbah yakin, itu gak semua. Hanya saja mencari perkecualian memang bukan pekerjaan yang mudah.