Kamis, 16 Januari 2020

Halal Batas Haram


Yang namanya halal dan haram itu sebenarnya sudah jelas. Tapi hananging wal hanamun, di dunia kasunyatan definisi kedua hal tersebut bisa tumpang tindih, tumpang suk dan gaprukan sesuai kehendak napsu dan setan. Termasuk istilah haram batas halal ini. Sebetulnya mumetke, tapi dipake di segenap penjuru negeri, terutama bagi kalangan koruptor. Baik kelas kakap maupun kelas ceremende.
Apa tho Mangsudnya haram batas halal itu? Bagi sampeyan yang belum kesentuh istilah laknat ini memang mbikin kening berkerut. Tapi bagi yang sudah kenyang dengan harta kelas beginian, sampeyan yang belum tahu malah akan dicap sok suci dan tinggal nunggu tanggal mainnya ikut ngunthal harta macem ginian. Cuma masalah waktu saja, katanya.

Jika ada kacung disuruh potokopi oleh bos eselon satu, potokopinya senilai tigabelas rebu mangatus ripis, lalu kwitansinya senilai itu juga, maka itu kelas HALAL murni. Jika kwitansinya senilai tigapuluh rebu ripis, maka ini sepakat haram, setan pun sepakat. Tapi jika nilai kwitansinya limabelas rebu ripis, inilah yang disebut haram batas halal. Karena cuma sewumangatus ripis, itu batas kebolehan buat ngambil yang haram, sesuai kesepakatan nepsu, akal dan setan alas kobar. 

Kang Darmo Dimpil bilang, “Wajar lah ngambil segitu, kan gak gedhe-gedhe amat. Etung-etung buat jerih payah nyebrang jalan raya.”

Dan kebanyakan dari kita mengamini cobrotannya kang Darmo Dimpil tersebut.

Maka ketika pak bupati dapet proyek perbaikan jalan di wilayah yang dikangkanginya, sang kontraktor jangan harap dapet dana 100% buat mbikin jalan tersebut. Jikalau sang Bupati ngambil 15% saja, maka itu dianggap batas halal dari yang haram. Kalo ngambil 30% akan dianggap masih dalam haram batas halal, tapi dengan resiko nyiprati moncong di kiri kanan biar gak berkicau nyaring bak emprit dipakani kroto. Paling gak 10% nya diciprat-cipratke buat pagar pengaman. Kalo bupatinya ngambil 50%, ini dianggap  keterlaluan. Apalagi gak ada nyiprat-nyipratnya babar blas. Koruptor satelit disisi sang bupatipun sepakat, ini haram.

Herannya, tetep saja ada oknum manungso model begituan. Proyek jalan bernilai puluhan M, baru diliwati andong sudah semplak aspalnya. Karena mutu aspalnya bener-bener ASPAL. Lha diemplok 50%, melewati ambang batas haram yang dibolehkan. Bayangkan jika sang Bupati ngambil 25% saja, jika nilai kontraknya 50 M maka bisa dibayangkan yang masuk kantong sang Bupati. Dan perlu diketahui, 25% itu masih di ambang haram batas halal. Ediyan tenan. Njaluk dislomot neroko jahanam tenan.

Makanya dimusim Pilkadal saat ini, banyak kadal yang mulai berhitung. Tarohlah buat menang butuh biaya dan biayakan 50 M, itu nilai yang kecil, dibandingkan dengan yang akan diperolehnya dalam jangka 5 tahun ke depan. Ada bupati yang pada tahun pertamanya sudah BEP. Tahun kedua mbangun 5 SPBU, tahun ketiga ekspansi bisnis, tahun keempat dan kelima persiapan kampanye. Bupati mana itu? Mang goleki dewe, paling-paling bupati Kadipaten Karang Tumaritis.

Lha yang nglangut tetep rakyat kecil. Mau makan nasi, harga beras naik. Mau nggoreng lawuh, minyak gorengnya ikutan naik. Mau minum, tarif PDAM naik juga. Hidup macem lomba panjat pinang. Cuma buat ngraih satu tujuan, kudu ngidak-ngidak konco, menjatuhkan yang lain, itupun pakek mlorot-mlorot dan dilorot. Kalo sudah dapet isine ra mbejaji. Sedangkan yang diraih, makin menjauh dan keliatan naik saja.

Mulailah dari diri kita. Sampeyan semua dan simbah juga. Berapapun yang bukan hak milik kita, haram hukumnya. Gak ada batas halalnya buat barang yang haram.


Bertuhan Tapi Tak Beragama


Trend yang sekarang marak berhembus di kalangan jahiliyah mutakhir adalah adanya paham yang mempercayai Tuhan, tapi tak percaya pada agama-Nya. Hmmm… mumet juga nggagas paham koplo bin koclok ini. Memang itu hak masing-masing sampeyan untuk berpaham kayak gitu. Dan hak simbah juga untuk mengatakan itu paham koplo bin koclok.

Jika penyakit paham ini mulai menyerang sampeyan, dan sampeyan mungkin sreg, cobalah sampeyan pikir, jangan sambil mengerutkan dengkul, karena otak sampeyan bukan disitu. Miturut simbah, orang yang percaya pada tuhan, tapi tak percaya pada agama-Nya, berarti ada 2 kemungkinan :

1. Kemungkinan Pertama

Orang itu salah memilih tuhan sebagai sesembahannya. Karena orang itu gagal diyakinkan -bahkan oleh tuhannya sendiri- bahwa agama-Nya itu benar dan bisa dipercaya. Boleh jadi karena ajaran agama yang dianutnya kacau balau, banyak dogma yang tak masuk akal, lantas dengan segala tumpang tindih kekacauan yang ada pada ajaran agama yang dianutnya itu, dia dipaksa oleh keadaan untuk menganutnya. Sebenarnya ada pilihan agama lain, namun egonya, kemaluannya, dan perutnya tak cukup mengijinkan dia untuk menjangkaunya.

Saran simbah, carilah tuhan dengan ajaran agama yang kebenarannya bisa diuji dengan apapun. Karena kebenaran dari Al Haq pasti tahan uji. Jika satu hal yang dianggap benar gagal mempertahankan nilai kebenarannya, maka pastilah itu bukan kebenaran, dan pasti bukan dari tuhan.

2. Kemungkinan Kedua

Tuhan dengan ajaran agama-Nya sebenarnya sudah benar, sudah pas dan proporsional sesuai dengan Maha Adil-Nya Sang Pencipta. Namun hawa nafsu manusia yang memang tak mau diatur dan tak mau menyesuaikan diri dengan aturan-Nya melakukan penyangkalan. Sehingga meskipun si manusia mengaku bertuhan, namun agama yang diturunkan-Nya ke muka bumi yang berisi aturan ini-itu, menghalangi dia memuaskan hawa napsunya. Dia tak percaya pada agama karena agama mrintah ini dan itu, melarang ini dan itu, yang miturut otaknya yang sudah mlotrok ke kemaluan bahkan sampai ke dengkul itu, bertentangan dengan nilai-nilai yang dianggapnya lebih tinggi, daripada nilai yang ditawarkan oleh agama tuhan.

Maka orang ini, ketika dia berkata bahwa dia percaya pada tuhan namun tak percaya pada agamanya, sebenarnya Tuhan yang dia percayai itu adalah hawa nafsunya atau dirinya sendiri. Ini adalah ego terbesar manusia, yang dengan lantang diteriakkan dengan vulgar penuh tantangan oleh Fir’aun ribuan tahun yang lalu, dengan teriakan yang diabadikan dalam Al Qur’an, “Akulah tuhan kalian yang maha tinggi.” Namun di abad ini, teriakan itu kembali dikumandangkan dengan volume agak kecil, tapi frekwensinya kenceng.

Sebenarnya kedua golongan di atas, mereka ini intinya kecewa dengan ajaran agama. Bisa jadi karena ajaran agamanya yang memang tak bisa meyakinkan pemeluknya, tapi bisa jadi karena ajaran agama tersebut tak bersesuaian dengan hawa nafsunya. Tapi yang jelas, konsekwensi bertuhan dan percaya pada tuhan, sudah pasti menuntut untuk percaya pada agama yang diturunkan-Nya. Wallahu a’lam.