Sebagaimana biasa Kang Paidul bersama wadyabalanya sesama penggemar pilem kungpu sedang berkumpul menyaksikan salah satu pilem kungpu yang disewanya dari pisidi rental. Adegan demi adegan dilewatinya. Hingga sampailah pada satu keadaan dimana sang lakon jagoan terdesak dan hampir koit diterjang musuh. Semua penonton tercekam tegang. Dumadakan muncullah Kang Pailul. Sambil prengas-prenges dia nyeletuk dengan koplonya :
“Halah gak usah tegang, itu entar lakonnya selamat, tapi nantinya dibunuh juga oleh boss penjahat…” katanya sambil nyruput secangkir coklat tubruk.
“Woo, lha semprul… “ kata kang Paidul marah-marah yang juga diikuti gerutuan wadyabalanya. “Kamu kalo udah pernah nonton mbok diem tho. Mbikin gak asik aja. Awas kalo nyobrot lagi, jotos sisan…”
Begitulah adanya. Keasyikan nonton pilem akan sirna manakala jalannya pilem tiba-tiba di-spoiled oleh oknum yang sudah pernah nonton, apalagi spoilernya amat trocoh.
Sebagus apapun jalannya satu pilem, apabila pernah menonton sampai rampung, maka untuk kedua kalinya dia nonton gak akan sama rasanya dengan yang pertama kali. Ketegangan yang dirasa saat pertama kali nonton tak akan dirasa asyik lagi pada kedua kalinya. Karena jalan ceritanya sudah ketebak. Demikian juga apabila sampeyan mbaca satu nopel atau buku cerita.
Mengapa begitu? Karena tingkat keasyikan satu alur cerita justru makin terasa dikarenakan kita tidak tahu cerita itu akan mengalir kemana. Makin tegang dan kritis keadaan yang dimunculkan, makin mengasyikan manakala ketegangan itu berakhir. Makin kacau suasana yang dihadirkan sehingga seakan tanpa solusi, makin indah ending cerita itu manakala semuanya ditutup dengan ending yang tak disangka.
Maka sungguh amat mengherankan, jika sudah tahu bahwa menonton pilem yang sudah pernah itu ditonton itu tak lagi mengasyikkan, mengapa orang pingin tahu nasib peruntungannya di masa depan? Bagaimana sampeyan mau menikmati indahnya hidup ini, jika sampeyan sudah tahu alur cerita hidup sampeyan dari lair ceprot sampai nggeblak ke liang lahad? Apa enaknya jika ketika sampeyan dirudung kesusahan tapi sudah tahu bahwa ending dari kesusahan itu pasti nanti begini dan begitu? Sampeyan akan merasakan plong, lega dan sangat gembira manakala sampeyan terlepas dari sesuatu yang menimpa sampeyan, dan disaat tertimpa sesuatu itu sampeyan gak tahu kalau akan bisa terlepas dari bencana yang menimpa sampeyan itu. Bahkan kebahagiaan yang sejati itu adalah kebahagiaan yang didapat manakala kebahagiaan itu seakan tak mungkin diraih karena bertubi-tubinya kesusahan yang menimpanya.
Dimana letak kebanggaan sampeyan, manakala sampeyan bisa menang catur melawan anak TK yang saat main catur itu, langkahnya saja nanya pada sampeyan? Sampeyan tak merasakan kesenangan yang sesungguhnya karena sampeyan menyangka sudah pasti menang.
Klub AC Milan pun juga tak akan mongkog hatinya manakala bisa mengalahkan klub Persemaka (Persatuan Sepak Bola Main Kayu) binaan ketua RT sampeyan.
Tapi kalau AC Milan menang lawan Real Madrid padahal dua pemainnya dikartu merah sehingga main hanya dengan 9 pemain…. wah itu kemenangan yang spektakuler. Karena bahkan mereka gak nyangka akan menang. Para fans
Mangkanya, ngapain sampeyan repot-repot main SMS “ketik reg spasi masa depan”? Justru hidup ini akan lebih indah jika ending tiap fragmen kehidupan kita gak pernah kita sangka akan mengalir kemana. Bahkan khusus buat orang yang bertakwa, rejekinya pun selalu datang dari arah yang tak pernah dia sangka. Untuk itu Imam Ghazali pernah menyampaikan, jika rejeki sampeyan sudah bisa diduga darimana asalnya, maka itu bukan rejeki yang dikhususkan buat orang yang bertakwa…. Nah lho..
Maka jika Gusti Allah menginginkan hidup sampeyan indah, sampeyan akan diberi ketegangan-ketegangan yang sepertinya tanpa solusi. Sampeyan akan dibikin keple sehingga semua usaha dhohir yang ditempuh seakan tanpa hasil. Dan dengan begitu sampeyan diharap mau tawakal kepada Sang Maha Pencipta. Dengan tertib amal yang baik, maka Gusti Allah akan membalik keadaan. Dari Underdog menjadi pemenang kehidupan.
Itulah yang terjadi saat peristiwa Badar. Dan itu juga yang terjadi pada saat kemenangan Islam diraih. Pada awalnya digoncang, dihantam, dan dihempas dengan musibah bertubi-tubi sehingga bahkan para shahabat dan bahkan Kanjeng Nabi saw sendiri berkata, “Kapan pertolongan Allah datang?” Ketahuilah, justru pada saat itulah pertolongan Allah dekat, yang membuat ending perjuangan jadi hebat dan indah. Mungkinkah kondisi umat saat ini sedang mengalami tahapan ini?? Semoga..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar