Kamis, 16 Januari 2020

Kesabaran


Malam itu begitu dinginnya. Namun bagi Si Kiwik, spesialis pencuri ayam kelas kamso tidaklah begitu dirasakan. Padahal bagi kulit orang normal, dinginnya malam yang sedikit diselimuti gerimis itu lumayan bisa bikin sering kepuyuh-puyuh beser wal anyang-anyangen. Dengan tenangnya si Kiwik mengincar pitik babon yang sudah mambu wajan, tak lupa juga si jago lurik yang kluruknya bisa mbangunin si empunya ayam.

Setelah berbasah-basah lumayan lama, akhirnya kira-kira pukul dua malam, beraksilah si Kiwik mbedhog pitiknya tetangga simbah. Namun apa daya, ibarat untung dapat ditolak dan malang dapat diraih, dumadakan si pitik kaing-kaing dengan kenceng saat dibedhog. Temtu saja si Kiwik kaget. Lha biasanya dengan ilmu sirep pitiknya yang ampuh itu, si ayam dengan lulutnya manut dibedhog sampai ke rumahnya. Ha kok ayam yang ini malah berontak.

Walhasil seisi rumah tetangga itu pada bangun. Si Kiwik diuber dan dikejar-kejar orang sekampung. Karena dikepung, si Kiwik akhirnya babak bundhas dibandemi massa, sebelum akhirnya diserahkan kepada pihak berwajib. Itu adalah kejadian sekitar duapuluh tahun yang lalu.

Yang simbah herani adalah kesabaran si maling menunggu dan mengincar mangsanya di malam hari itu. Padahal hujan, dingin, ngantuk, dan tentu saja seram karena jam operasinya selalu di atas jam satu malem. Bahkan ada juga yang mengincar satu rumah dengan lebih sabar dari itu. 
Diperhatikannya rumah itu berbulan-bulan, diincer, dan diamati jadwal keluar masuknya si empunya rumah. Bahkan agar lebih mudah akses masupnya, dipacarinya si pembantu rumah tersebut. Padahal si babu rumah itu janda setengah tuwek yang mulai rajin nginang, berwajah ala Limbuk, yang kalo diajak ngobrol berulangkali ngludah dubang (idu abang = ludah merah hasil nginang). Tapi semua tekanan lahir batin itu dijalaninya dengan penuh kesabaran.

Begitu dirasa tepat waktunya, maka mulailah dilaksanakan aksinya ngrampok dan ngukut isi rumah tersebut. Semua diangkut, kecuali Babu STW hasil cinlok yang lantas ditinggalkannya dalam keadaan terikat dan disumpeli kinang sak kepel.

Rupanya untuk jadi penjahat sadis pun membutuhkan kesabaran. Semakin mau bersabar menjalani profesinya, maka semakin profesionallah si penjahat tersebut. Maka berkacalah pada bandit tengik berhati kejem itu. Mereka mau bersabar-sabar menanggung derita lahir batin untuk menghasilkan kejahatan yang rapi dan jali. Semua aksi kriminil yang sukses dan spektakuler membutuhkan kesabaran ekstra dan kecerdasan lebih untuk menjalaninya.

Maka yang simbah ulas tadi adalah jalan yang ditempuh oleh kalangan dunia hitam. Rupanya kunci sukses mereka pun ternyata satu : kesabaran. Lantas bagaimana pula bagi kalangan yang ingin meraih sukses dalam hal kebaikan?? Herannya kebanyakan orang pinginnya instan, ingin cepet-cepet melihat hasil, kemrungsung wal kesusu. Gimana bisa jadi sukses??

Di dalam meniti sukses mentaati aturan Sang Pencipta pun gak bisa instan. Tapi kebanyakan orang gak mau tahu. Pinginnya mereka itu paham agama secara karbitan. Ada yang gemar bokep, blayangan blusukan diskotik, istiqomah mlototin pilem holi maupun boliwud, gak pernah nyentuh Kitabullah dan kitab hadits, tapi kalo mbantah ulama mulutnya nyrocos lancar wal lanyah macem propesor lagi ngomelin mahasiswa hampir DO yang gak bisa njawab pertanyaan matematika kelas pipo londo.

So…. mau jadi bandit tengik saja butuh kesabaran, mengapa untuk menjadi orang yang tunduk manut Gusti Allah pada gak mau sabar??


Tidak ada komentar:

Posting Komentar