Kamis, 16 Januari 2020

Haram Yang Haramnya Tidak Sama Dengan Haram


Tentunya sampeyan sudah pada tahu, bahwa para Kyai MUI sudah mengharamkan 2 hal yang selama ini menjadi polemik. Yakni rokok dan Golput. Untuk rokok, salah seorang kyai MUI menerangkan bahwa keharamannya tidak sebagaimana babi. Jadi memiliki perbedaan. Rincian perbedaannya diterangkan dengan sangat njlimet sampai simbah gak mudeng babar blas. Tetapi keharamannya dilandasi bahwa kemadharatannya lebih besar dari manfaatnya.

Kyai NU dan beberapa ormas Islam lainnya gak sependapat kata “Haram” digunakan untuk memfatwai rokok. Haram yang bukan sebagaimana haramnya babi itu sudah ada kriteria tersendiri, yakni “makruh”. Jadi tak perlu menggunakan kata “Haram” jikalau ada kata lain yang lebih bisa mengakomodasi pengertian tidak diperbolehkannya merokok itu.

Alasan yang memakruhkan ini juga masuk akal, walaupun kang Jupri salah seorang teman simbah yang gak suka dengan kyai NU ini nyeletuk, “Halah, itu kan karena banyak kyai NU yang sudah nggathok ngudud kayak lokomotip sepur. Bilang aja gak mau ninggal klangenan.”



Bang Kamid yang lebih moderat menanggapi, “Bukan begitu kang Jupri. Mengharamkan sesuatu harus hati-hati. Karena mengharamkan yang halal itu hukumnya sama dengan menghalalkan yang haram. Lha kalau rokok diharamkan, akan timbul pertanyaan susulan. Misalnya, perokok pasip itu mau dihukumi pigimanah? Padahal perokok pasip itu lebih bahaya daripada perokok aktip. Trus bertani cengkeh dan tembakau itu hukumnya apa? Bekerja di pabrik rokok itu hukumnya haram apa tidak? Lalu jualan rokok itu duitnya haram apa tidak? Lantas event-event yang disponsori pabrikan rokok itu haram apa tidak untuk diikuti?”

Kang Jupri mulai mengerutkan kening. Rentetan pertanyaan susulan itu belum ada fatwa resminya. Namun tentu saja fatwa haram rokok mengandung konsekwensi bagi terjawabnya pertanyaan Bang Kamid di atas.

“Pengharaman rokok atas dasar madharat yang lebih besar dari manfaat juga mengandung konsekwensi lain kang. Misalnya, haram tidak pakai AC berfreon? Bukankah sudah diketahui bahwa barang itu bisa mbikin ozon tambah amoh. Lha kalo ozonnya tambah mbedah, milyaran manusia harus nanggung madharatnya. Padahal manfaatnya cuma sekedar ngilangi sumuk.  Tapi milyaran manusia lain yang juga sumuk karena gak gableg AC harus menanggung derita akibat ozonnya dibrakoti AC sampeyan. Pigimanah itu ya?” tanya bang Kamid.

“Wah… yo mbuh lah bang. Lama-lama kok tambah nggladrah.”

Hal kedua yang difatwai haram adalah Golput. Hal ini memang juga kontroversial. Seingat simbah ketika terjadi pertentangan antara dua kubu dalam tubuh mukminin, yakni Khalifah Ali r.a dan Muawiyah r.a, ada salah seorang sahabat yang sama sekali tak memilih dan berpihak pada salah satu dari 2 kubu itu. Kalau tidak salah beliau adalah Abdullah bin Umar r.a yang lebih terkenal dengan sebutan Ibnu Umar r.a.

Salah satu alasan beliau tidak ikut di antara 2 kubu yang ada adalah karena tidak ingin pedangnya menumpahkan darah muslimin. Maka beliau memilih memisahi dari 2 kubu itu. Simbah gak tahu apakah langkah ini bisa disebut sebagai golput atau tidak. Namun dengan alasan yang syar’i beliau memilih untuk tidak memilih.

Coba sekarang kita tarik ke Abad Plu Manuk ini. Adakah alasan syar’i yang bisa membolehkan seseorang untuk Golput?


“Kalau miturut saya gak ada alasan syar’i yang mewajibkan saya buat nyoblos bang,” kata Kang Jupri. “Ditambah lagi calegnya rata-rata sudah kita ketahui motipnya mengapa mereka nyaleg. Genah motip blodot wal cocakrowo tho? Kalau miturut saya itu cukup bahan buat memfatwai bahwa nyoblos itu haram.”

“Lho jangan terburu napsu kang, jangan su’udzhon”, kata Bang Kamid. “Lha kalo sampeyan dan juga jutaan muslimin lainnya gak milih, lalu justru yang kepilih orang-orang yang gak punya iman, sampeyan nanggung dosanya juga lho.”

“Gak usah kawatir bang, dulu orang beriman pernah dijajah sama Pir’on, itu lho orang kaPir yang juga O’on. Tapi nyatanya ketika orang berimannya sabar menjalani perintah demi perintah Allah, sang Pir’on akirnya keok juga. Yang kita perluken hanya mengikuti risalah kenabian dengan cara nurut sama syareat.  Lha sampeyan sekarang kawatir diplekoto sama Pir’on modern. Harusnya kita kawatir bahwa justru kita akan dikangkangi Pir’on-Pir’on modern ini manakala kita ikut-ikutan jejak mereka.” kata kang Jupri berapi-api.

Kang Jupri nambahi, “Kita ini kan sudah punya waham, bahwa muslimin gak bisa jaya kalo gak ikut pemilu. Sudah tertanam pada diri sampeyan semua, bahwa jalan satu-satunya untuk mencapai kejayaan adalah dengan ikut pemilu, gak ada alternatip lain. The only way, the one and only. Makanya ada patwa haram golput itu. Lha buat saya, alternatip buat mencapai kejayaan umat itu banyak, bahkan pemilu bukan salah satunya.”

Bang Kamid dengan tetep kalem (Kayak Lembu) menjawab pidato kang Jupri, “Yo wis… gak usah sewot kang. Prinsipnya kita beda, gitu aja.”


Simbah hanya bisa plonga-plongo. Mau milih Kang Jupri atau Bang Kamid… atau Golput ajah??


Yang Tegang Yang Asyik


Sebagaimana biasa Kang Paidul bersama wadyabalanya sesama penggemar pilem kungpu sedang berkumpul menyaksikan salah satu pilem kungpu yang disewanya dari pisidi rental. Adegan demi adegan dilewatinya. Hingga sampailah pada satu keadaan dimana sang lakon jagoan terdesak dan hampir koit diterjang musuh. Semua penonton tercekam tegang. Dumadakan muncullah Kang Pailul. Sambil prengas-prenges dia nyeletuk dengan koplonya :

“Halah gak usah tegang, itu entar lakonnya selamat, tapi nantinya dibunuh juga oleh boss penjahat…”
katanya sambil nyruput secangkir coklat tubruk.

“Woo, lha semprul… “ kata kang Paidul marah-marah yang juga diikuti gerutuan wadyabalanya. “Kamu kalo udah pernah nonton mbok diem tho. Mbikin gak asik aja. Awas kalo nyobrot lagi, jotos sisan…”

Begitulah adanya. Keasyikan nonton pilem akan sirna manakala jalannya pilem tiba-tiba di-spoiled oleh oknum yang sudah pernah nonton, apalagi spoilernya amat trocoh.

Sebagus apapun jalannya satu pilem, apabila pernah menonton sampai rampung, maka untuk kedua kalinya dia nonton gak akan sama rasanya dengan yang pertama kali. Ketegangan yang dirasa saat pertama kali nonton tak akan dirasa asyik lagi pada kedua kalinya. Karena jalan ceritanya sudah ketebak. Demikian juga apabila sampeyan mbaca satu nopel atau buku cerita.

Mengapa begitu? Karena tingkat keasyikan satu alur cerita justru makin terasa dikarenakan kita tidak tahu cerita itu akan mengalir kemana. Makin tegang dan kritis keadaan yang dimunculkan, makin mengasyikan manakala ketegangan itu berakhir. Makin kacau suasana yang dihadirkan sehingga seakan tanpa solusi, makin indah ending cerita itu manakala semuanya ditutup dengan ending yang tak disangka.

Maka sungguh amat mengherankan, jika sudah tahu bahwa menonton pilem yang sudah pernah itu ditonton itu tak lagi mengasyikkan, mengapa orang pingin tahu nasib peruntungannya di masa depan? Bagaimana sampeyan mau menikmati indahnya hidup ini, jika sampeyan sudah tahu alur cerita hidup sampeyan dari lair ceprot sampai nggeblak ke liang lahad? Apa enaknya jika ketika sampeyan dirudung kesusahan tapi sudah tahu bahwa ending dari kesusahan itu pasti nanti begini dan begitu? Sampeyan akan merasakan plong, lega dan sangat gembira manakala sampeyan terlepas dari sesuatu yang menimpa sampeyan, dan disaat tertimpa sesuatu itu sampeyan gak tahu kalau akan bisa terlepas dari bencana yang menimpa sampeyan itu. Bahkan kebahagiaan yang sejati itu adalah kebahagiaan yang didapat manakala kebahagiaan itu seakan tak mungkin diraih karena bertubi-tubinya kesusahan yang menimpanya.

Dimana letak kebanggaan sampeyan, manakala sampeyan bisa menang catur melawan anak TK yang saat main catur itu, langkahnya saja nanya pada sampeyan? Sampeyan tak merasakan kesenangan yang sesungguhnya karena sampeyan menyangka sudah pasti menang.

Klub AC Milan pun juga tak akan mongkog hatinya manakala bisa mengalahkan klub Persemaka (Persatuan Sepak Bola Main Kayu) binaan ketua RT sampeyan.
Tapi kalau AC Milan menang lawan Real Madrid padahal dua pemainnya dikartu merah sehingga main hanya dengan 9 pemain…. wah itu kemenangan yang spektakuler. Karena bahkan mereka gak nyangka akan menang. Para fans Milan yang nonton pun akan ikut njeblug atinya saking senengnya, karena GAK NYANGKA klub kesayangannya akan menang. Tapi coba sampeyan lihat siaran ulangnya… babar blas gak asyik.

Mangkanya, ngapain sampeyan repot-repot main SMS “ketik reg spasi masa depan”? Justru hidup ini akan lebih indah jika ending tiap fragmen kehidupan kita gak pernah kita sangka akan mengalir kemana. Bahkan khusus buat orang yang bertakwa, rejekinya pun selalu datang dari arah yang tak pernah dia sangka. Untuk itu Imam Ghazali pernah menyampaikan, jika rejeki sampeyan sudah bisa diduga darimana asalnya, maka itu bukan rejeki yang dikhususkan buat orang yang bertakwa…. Nah lho..

Maka jika Gusti Allah menginginkan hidup sampeyan indah, sampeyan akan diberi ketegangan-ketegangan yang sepertinya tanpa solusi. Sampeyan akan dibikin keple sehingga semua usaha dhohir yang ditempuh seakan tanpa hasil. Dan dengan begitu sampeyan diharap mau tawakal kepada Sang Maha Pencipta. Dengan tertib amal yang baik, maka Gusti Allah akan membalik keadaan. Dari Underdog menjadi pemenang kehidupan.

Itulah yang terjadi saat peristiwa Badar. Dan itu juga yang terjadi pada saat kemenangan Islam diraih. Pada awalnya digoncang, dihantam, dan dihempas dengan musibah bertubi-tubi sehingga bahkan para shahabat dan bahkan Kanjeng Nabi saw sendiri berkata, “Kapan pertolongan Allah datang?” Ketahuilah, justru pada saat itulah pertolongan Allah dekat, yang membuat ending perjuangan jadi hebat dan indah. Mungkinkah kondisi umat saat ini sedang mengalami tahapan ini?? Semoga..