Malam itu begitu dinginnya. Namun bagi Si Kiwik, spesialis
pencuri ayam kelas kamso tidaklah begitu dirasakan. Padahal bagi kulit
orang normal, dinginnya malam yang sedikit diselimuti gerimis itu lumayan bisa
bikin sering kepuyuh-puyuh beser wal anyang-anyangen. Dengan tenangnya
si Kiwik mengincar pitik babon yang sudah mambu wajan, tak lupa juga si
jago lurik yang kluruknya bisa mbangunin si empunya ayam.
Setelah berbasah-basah lumayan lama, akhirnya kira-kira
pukul dua malam, beraksilah si Kiwik mbedhog pitiknya tetangga simbah.
Namun apa daya, ibarat untung dapat ditolak dan malang dapat diraih,
dumadakan si pitik kaing-kaing dengan kenceng saat dibedhog. Temtu saja
si Kiwik kaget. Lha biasanya dengan ilmu sirep pitiknya yang ampuh itu,
si ayam dengan lulutnya manut dibedhog sampai ke rumahnya. Ha kok ayam yang ini
malah berontak.
Walhasil seisi rumah tetangga itu pada bangun. Si Kiwik
diuber dan dikejar-kejar orang sekampung. Karena dikepung, si Kiwik akhirnya
babak bundhas dibandemi massa, sebelum akhirnya diserahkan kepada pihak
berwajib. Itu adalah kejadian sekitar duapuluh tahun yang lalu.
Yang simbah herani adalah kesabaran si maling menunggu dan
mengincar mangsanya di malam hari itu. Padahal hujan, dingin, ngantuk, dan
tentu saja seram karena jam operasinya selalu di atas jam satu malem. Bahkan
ada juga yang mengincar satu rumah dengan lebih sabar dari itu.
Diperhatikannya
rumah itu berbulan-bulan, diincer, dan diamati jadwal keluar masuknya si
empunya rumah. Bahkan agar lebih mudah akses masupnya, dipacarinya si pembantu
rumah tersebut. Padahal si babu rumah itu janda setengah tuwek yang mulai rajin
nginang, berwajah ala Limbuk, yang kalo diajak ngobrol berulangkali ngludah
dubang (idu abang = ludah merah hasil nginang). Tapi semua tekanan lahir
batin itu dijalaninya dengan penuh kesabaran.
Begitu dirasa tepat waktunya, maka mulailah dilaksanakan
aksinya ngrampok dan ngukut isi rumah tersebut. Semua diangkut, kecuali Babu
STW hasil cinlok yang lantas ditinggalkannya dalam keadaan terikat dan disumpeli
kinang sak kepel.
Rupanya untuk jadi penjahat sadis pun membutuhkan
kesabaran. Semakin mau bersabar menjalani profesinya, maka semakin
profesionallah si penjahat tersebut. Maka berkacalah pada bandit tengik berhati
kejem itu. Mereka mau bersabar-sabar menanggung derita lahir batin untuk
menghasilkan kejahatan yang rapi dan jali. Semua aksi kriminil yang sukses dan
spektakuler membutuhkan kesabaran ekstra dan kecerdasan lebih untuk
menjalaninya.
Maka yang simbah ulas tadi adalah jalan yang ditempuh oleh
kalangan dunia hitam. Rupanya kunci sukses mereka pun ternyata satu :
kesabaran. Lantas bagaimana pula bagi kalangan yang ingin meraih sukses dalam
hal kebaikan?? Herannya kebanyakan orang pinginnya instan, ingin cepet-cepet
melihat hasil, kemrungsung wal kesusu. Gimana bisa jadi sukses??
Di dalam meniti sukses mentaati aturan Sang Pencipta pun
gak bisa instan. Tapi kebanyakan orang gak mau tahu. Pinginnya mereka itu paham
agama secara karbitan. Ada yang gemar bokep, blayangan blusukan diskotik,
istiqomah mlototin pilem holi maupun boliwud, gak pernah nyentuh Kitabullah dan
kitab hadits, tapi kalo mbantah ulama mulutnya nyrocos lancar wal lanyah macem
propesor lagi ngomelin mahasiswa hampir DO yang gak bisa njawab pertanyaan
matematika kelas pipo londo.
So…. mau jadi bandit tengik saja butuh kesabaran, mengapa
untuk menjadi orang yang tunduk manut Gusti Allah pada gak mau sabar??
Hari ini adalah hari yang melegakan buat simbah. Ada satu
kasus berat yang simbah tuntasken. Seminggu sebelumnya simbah cukup
dibikin pusing tujuh puluh keliling dengan kasus ini. Yakni adanya satu
sales yang mbalelo dan mbikin kaco proses dol tinuku yang simbah
jalanken.
Adalah tadinya simbah memiliki 3 sales yang menjalankan
tugas lapangan menjajakan dagangan simbah ke toko dan warung di blusukan
metropolitan ini. Ada seorang sales yang mengundurkan diri karena merasa tidak
mampu menjalankan tugas. Simbah ijinken, dan sesuai surat kontrak kerja, dia
wajib menyerahkan warung-warung yang selama ini dia kelola di lapangan kepada
sales penggantinya. Jumlahnya ada lebih dari dua ratus limapuluh warung dan
toko.
Setelah menyerahkan sekitar 200 warung, dia gak masup tanpa
keterangan. Bilangnya sakit boyok. Simbah kirim obat ke rumahnya. Ha kok
setelah ditunggu seminggu belum masup-masup juga. Herannya saat sales
penggantinya nagih di warung yang dia serahkan, ternyata sudah ada oknum Mr.
Rius yang duluan nagih. Sehingga sales baru tersebut ngaplo gak dapet
duit tagihan. Malah dipisuhi sama pemilik warung, karena merasa ditagih
2 kali.. wah .. sakne tenan.
Selidik punya selidik ternyata, oknum Mr. Rius itu si sales
simbah yang sudah undur diri tadi. Diem-diem njarah dan nagih ke warung-warung
yang seharusnya bukan haknya lagi. Simbah datangi rumahnya, simbah ultimatum
jika dalam 2 x 24 jam gak diberesi akan simbah bawa aparat polisi. Hwarakadah,
bapak simboknya ngewel ketakutan. Si oknum juga ketakutan dan sekaligus malu.
Akhirnya simbah tunggu di rumah kedatangan si oknum agar menyelesaikan masalah.
Hari pertama gak datang. Malamnya simbah kontak konco
pulisi agar siap-siap nggrupyuk rumahnya. Alhamdulillah paginya si oknum
datang. Wajahnya masih ketakutan, tapi sisi baiknya, dia minta maap dan
mengakui semua kesalahannya.
Tadinya, sebelum si oknum dateng, simbah sudah getem-getem
campur kemropok pingin ngamplengi gundhulnya si oknum ini. Namun
begitu keluar kata maap dan nada penyesalan, simbah gak tega. Di detik-detik
ini ada kesempatan niru sifat Allah. Mengampuni dan memaafkan.
Ada yang beda dari ucapan maap dan penyesalan si oknum.
Yakni dia sebut kesalahan dan juga detil kesalahannya dan juga mengakui
kesalahannya tersebut. Simbah berulangkali menerima ucapan permintaan maap
lahir batin dari banyak teman, terutama kemaren saat awal memasuki bulan puasa.
Namun ucapan maap dan penyesalan si oknum ini beda dengan ratusan ucapan maap
lahir batin yang dikirimkan konco-konco simbah baik melalui SMS maupun komen
yang ada disini. Yakni adanya detil kesalahan yang disesali dan dimintakan
maap.
Ucapan maap lahir batin yang biasa diucapkan menjelang
Romadhon maupun entar saat lebaran, tidak merinci apa yang menjadi kesalahan
yang pantas dimintakan maap dan yang disesali. Sangat terasa basa basinya.
Sehingga akan terasa sambil lalu. Maap, ini miturut hati simbah lho… mungkin
sampeyan beda. Padahal inti dari permintaan maap adalah penyesalan dan keniatan
tak mengulang apa yang menjadi kesalahannya tersebut.
Lha kalo yang dimintakan maapnya gak diperinci, lantas kita
yang dimintai maap mau ngampuni dan memaapkan kesalahan yang mana kan bingung.
Beda kasusnya dengan ucapan maap berikut ini :
“Mbah, mohon maap atas kesalahan saya kemaren. Saya
kemaren nyolong mbako semprulnya simbah sak genggem buat mbikin tingwe. Tolong
dimaapkan kesalahan saya ini ya mbah….”
Di ucapan maap ini jelas apa yang dimintakan maap, yakni kesalahan nyolong
mbako semprul. Bandingkan ucapan maap yang hanya meminta maap, tapi tak disebut
kesalahan yang mana yang ingin dimintakan maapnya itu. Padahal sisi paling
berat dari meminta maap adalah sisi KEMAUAN DAN KEBERANIAN MENGAKUI
KESALAHAN. Lha kalo tidak disebut kesalahan yang mana, maka ini belum ada
“Pengakuan Bersalah”nya.
Makanya sehabis salam-salaman pas lebaran, bermaap-maapan
trus saling memberi selamat, masih saja ada ganjelan di hati antara satu dengan
yang lain. Lha maapnya digebyah uyah gak jelas babar blas.
Bermaapan yang sekedar seremonial, mengejar kepantasan, agar enak dipandang
mata umum.
Tiap tahun pejabat ngadain open house di rumah dinesnya,
ngadain acara maap-maapan. Tapi gak jelas apa yang dimintakan maap pada rakyat.
Lha dibalik itu korupsinya jalan terus. Rakyat juga bingung, pejabat dan
pimpinannya ini minta maap dari kesalahan yang mana, wong bolak-balik masih mbejat
terus.
Selama minta maap masih merupakan acara seremonial untuk
mengejar kepantasan, maka tak ada penyesalan atas segala kesalahan yang
dilakukan manusia. Selama tak ada penyesalan, maka tak ada pertobatan disitu,
tak ada perbaikan dan stagnan dalam kebejatan yang lampau.
Dengan tulus, maapkan kata-kata simbah di atas kalo tak
pantas…