Yang namanya hidup bermasyarakat, maka kita akan sering
berinteraksi dengan orang-orang di sekitar kita dengan beragam pemahaman dan
pemikiran. Hal ini disebabkan oleh beragamnya latar belakang dan lingkungan
hidup si orang tersebut.
Adalah Lik Kartomarmo jebolan SD Inpres yang
kesehariannya bakulan Blanggreng dan Limpung. Ada juga yu
Suminten bakul jenang grendul yang bisa menamatkan sekolah
sampai SMP, serta kang Dimpil adiknya pakde Ciwir yang jadi
preman pasar merangkap jabatan penambang Cap Jie Kie. Dia sekolah saja tidak,
mbaca buku grothal-grathul tapi kalo mbaca kertu jembrek lanyah wal
lancar tanpa kendala. Tentu saja orang-orang semacam mereka sangat berbeda
dengan Om Citrakso yang bisa menamatkan gelar S1 nya. Walopun jauh dari kumlot
dan dekat dengan kemelut, namun yang jelas dia seorang sarjana.
Dari beragam model manusia ini seringkali muncul
kalimat-kalimat yang kelihatannya bener, pas dan masuk akal, tapi kalo ditelaah
lebih lanjut kadang terasa janggal. Misalnya seperti percakapannya Kang Dimpil
dengan pakde Ciwir ini :
“Mas,
kata yu Dungkel, pak kaji Sapangat ketahuan nilep duit kas desa. Apa betul itu
mas,” tanya kang Dimpil pada kakaknya.
“Iyo kuwi. Wah, semprul tenan kaji Sapangat ki. Ha wong sregep solat,
ngimami orang banyak kok malah nilep duit kas desa. Ra pantes tenan. Mending
awake dewe iki, memang sih bandar Cap Ji Kie… tapi kan gak solat. Gak munapik
macem kaji Sapangat itu….,” kata pakde Ciwir berapi-api.
Sekilas biasa saja kalimatnya pakde Ciwir itu, namun
sebenarnya ada kejanggalan di sana.
Dianggapnya pak Sapangat yang solat dan
korupsi itu lebih buruk daripada preman dan bandar judi yang gak solat. Padahal
preman bandar judi yang gak solat itu memiliki 2 kesalahan, yakni : pertama dia
meninggalkan solat, kedua dia preman tukang pungli dan bandar judi yang
diharamkan agama manapun. Sedangkan pak kaji Sapangat itu hanya memiliki
satu kesalahan, yakni nilep uang kas desa. Tapi kesannya, atau bahkan
dikesankan seakan orang yang solat dan mencuri itu lebih buruk daripada orang
yang gak solat sama sekali tapi mbajing dan judi. Padahal meninggalkan solat
itu hal yang besar. Ini bukan berarti simbah mendukung korupsi dan mencuri.
Beberapa kalimat janggal yang lain yang sempat simbah baca
dan rasakan maknanya adalah :
1. Buat apa njalani syareat
agama kalo gak bermanfaat bagi orang banyak.
Kadang dilontarkan dengan gaya yang lain : Buat
apa Islami kalo gak memberi manpangat. Orang yang mengucapkan ini
sama sekali tidak paham tentang agama. Bukan syareat agama kalo tak memberikan
manpangat. Lontaran itu mengesankan bahwa ada syareat agama yang tak
bermanfaat. Atau ingin menyampaikan ide, bahwa di luar syareat agama itu malah
lebih bermanfaat. Ini menyesatkan.
2. Wong sudah jilbaban kok
hamil di luar nikah, mending si pulanah itu, meskipun pelacur tapi kan gak
jilbaban.
Wanita berjilbab itu menjalankan satu syareat agama, sedangkan yang tak
berjilbab dia meninggalkan syareat…. setidaknya tak menjalankan syareat. Jadi
wanita berjilbab itu lebih utama. Lha urusan mencuri, zina, ngutil, dugem dlsb,
itu amalan dan bab lain. Tak ada sangkut pautnya dengan jilbabnya itu yang
sudah pasti lebih utama daripada yang tidak berjilbab. Ini sama dengan kasus
kaji Sapangat dan pakde Ciwir di atas.
3. Al Haq (Kebenaran) yang
tak diorganisir dengan baik, akan bisa dikalahkan oleh kebatilan yang
diorganisir dengan baik.
Ini aneh wal janggal. Al Haq itu adalah kebenaran dari A sampai Z. Jadi
pengorganisasian yang baik itu termasuk dalam Al Haq itu. Kalo tak ada
pengaturan yang baik, tentu saja bukan Al Haq.
4. Saya percaya pada Allah,
tapi tak percaya pada agama.
Ini aneh sekaligus ngawur. Agama adalah tuntunan agar manusia tahu caranya
percaya pada Allah. Allah itu diibadahi dan disembah sesuai kehendak Allah,
bukan sesuai kehendak manusia. Maka Allah kasih petunjuk pada manusia cara
menyembah-Nya. Kalo manusia ingin menyembah Allah dengan caranya sendiri, maka
berarti dia sedang menuhankan dirinya sendiri. Dia bikin syareat sendiri,
dipercaya dan diyakini sendiri trus dijalani sendiri. Maka kalo pingin pahala dan
ganjaran jangan minta pada Allah, minta saja pada dirinya sendiri.
5. Saya ngaji dan belajar
agama entar saja, soalnya saya masih kayak gini amalnya. Nanti kalo sudah
baikan, baru ngaji agama.
Ini kejanggalannya nyata. Ha wong belajar agama itu biar amalannya baik kok,
malah nunggu amalannya baik dulu baru ngaji dan belajar agama.
6. Daripada ketimbang luwih
becik aluwung..
Ini bukan kalimat janggal, tapi guyonannya lik Kartomarmo yang bermain-main
dengan sinonim. Ini senada dengan kalimat :
Dalam setiap tantangan, selalu ada challenge.
Karena kunci keberhasilan adalah key of succes. Jadi ingatlah... amal adalah perbuatan.
*malah ngomyang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar