Sabtu, 06 Mei 2017

Kalimat Janggal

Yang namanya hidup bermasyarakat, maka kita akan sering berinteraksi dengan orang-orang di sekitar kita dengan beragam pemahaman dan pemikiran. Hal ini disebabkan oleh beragamnya latar belakang dan lingkungan hidup si orang tersebut.

Adalah Lik Kartomarmo jebolan SD Inpres yang kesehariannya bakulan Blanggreng dan Limpung. Ada juga yu Suminten bakul jenang grendul  yang bisa menamatkan sekolah sampai SMP, serta kang Dimpil adiknya pakde Ciwir yang jadi preman pasar merangkap jabatan penambang Cap Jie Kie. Dia sekolah saja tidak, mbaca buku grothal-grathul tapi kalo mbaca kertu jembrek lanyah wal lancar tanpa kendala. Tentu saja orang-orang semacam mereka sangat berbeda dengan Om Citrakso yang bisa menamatkan gelar S1 nya. Walopun jauh dari kumlot dan dekat dengan kemelut, namun yang jelas dia seorang sarjana.

Dari beragam model manusia ini seringkali muncul kalimat-kalimat yang kelihatannya bener, pas dan masuk akal, tapi kalo ditelaah lebih lanjut kadang terasa janggal. Misalnya seperti percakapannya Kang Dimpil dengan pakde Ciwir ini :

Mas, kata yu Dungkel, pak kaji Sapangat ketahuan nilep duit kas desa. Apa betul itu mas,” tanya kang Dimpil pada kakaknya.

“Iyo kuwi. Wah, semprul tenan kaji Sapangat ki. Ha wong sregep solat, ngimami orang banyak kok malah nilep duit kas desa. Ra pantes tenan. Mending awake dewe iki, memang sih bandar Cap Ji Kie… tapi kan gak solat. Gak munapik macem kaji Sapangat itu….,” kata pakde Ciwir berapi-api.


Sekilas biasa saja kalimatnya pakde Ciwir itu, namun sebenarnya ada kejanggalan di sana. 

Dianggapnya pak Sapangat yang solat dan korupsi itu lebih buruk daripada preman dan bandar judi yang gak solat. Padahal preman bandar judi yang gak solat itu memiliki 2 kesalahan, yakni : pertama dia meninggalkan solat, kedua dia preman tukang pungli dan bandar judi yang diharamkan agama manapun.  Sedangkan pak kaji Sapangat itu hanya memiliki satu kesalahan, yakni nilep uang kas desa. Tapi kesannya, atau bahkan dikesankan seakan orang yang solat dan mencuri itu lebih buruk daripada orang yang gak solat sama sekali tapi mbajing dan judi. Padahal meninggalkan solat itu hal yang besar. Ini bukan berarti simbah mendukung korupsi dan mencuri.

Beberapa kalimat janggal yang lain yang sempat simbah baca dan rasakan maknanya adalah :

1. Buat apa njalani syareat agama kalo gak bermanfaat bagi orang banyak.

Kadang dilontarkan dengan gaya yang lain : Buat apa Islami kalo gak memberi manpangat. Orang yang mengucapkan ini sama sekali tidak paham tentang agama. Bukan syareat agama kalo tak memberikan manpangat. Lontaran itu mengesankan bahwa ada syareat agama yang tak bermanfaat. Atau ingin menyampaikan ide, bahwa di luar syareat agama itu malah lebih bermanfaat. Ini menyesatkan.


2. Wong sudah jilbaban kok hamil di luar nikah, mending si pulanah itu, meskipun pelacur tapi kan gak jilbaban.

Wanita berjilbab itu menjalankan satu syareat agama, sedangkan yang tak berjilbab dia meninggalkan syareat…. setidaknya tak menjalankan syareat. Jadi wanita berjilbab itu lebih utama. Lha urusan mencuri, zina, ngutil, dugem dlsb, itu amalan dan bab lain. Tak ada sangkut pautnya dengan jilbabnya itu yang sudah pasti lebih utama daripada yang tidak berjilbab. Ini sama dengan kasus kaji Sapangat dan pakde Ciwir di atas.


3. Al Haq (Kebenaran) yang tak diorganisir dengan baik, akan bisa dikalahkan oleh kebatilan yang diorganisir dengan baik.

Ini aneh wal janggal. Al Haq itu adalah kebenaran dari A sampai Z. Jadi pengorganisasian yang baik itu termasuk dalam Al Haq itu. Kalo tak ada pengaturan yang baik, tentu saja bukan Al Haq.


4. Saya percaya pada Allah, tapi tak percaya pada agama.

Ini aneh sekaligus ngawur. Agama adalah tuntunan agar manusia tahu caranya percaya pada Allah. Allah itu diibadahi dan disembah sesuai kehendak Allah, bukan sesuai kehendak manusia. Maka Allah kasih petunjuk pada manusia cara menyembah-Nya. Kalo manusia ingin menyembah Allah dengan caranya sendiri, maka berarti dia sedang menuhankan dirinya sendiri. Dia bikin syareat sendiri, dipercaya dan diyakini sendiri trus dijalani sendiri. Maka kalo pingin pahala dan ganjaran jangan minta pada Allah, minta saja pada dirinya sendiri.


5. Saya ngaji dan belajar agama entar saja, soalnya saya masih kayak gini amalnya. Nanti kalo sudah baikan, baru ngaji agama.

Ini kejanggalannya nyata. Ha wong belajar agama itu biar amalannya baik kok, malah nunggu amalannya baik dulu baru ngaji dan belajar agama.



6. Daripada ketimbang luwih becik aluwung..

Ini bukan kalimat janggal, tapi guyonannya lik Kartomarmo yang bermain-main dengan sinonim. Ini senada dengan kalimat : 

Dalam setiap tantangan, selalu ada challenge. 
Karena kunci keberhasilan adalah key of succes. Jadi ingatlah... amal adalah perbuatan.

*malah ngomyang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar