Sabtu, 06 Mei 2017

Yang Penting Gak Lihat

Akibat banjir kemarin, seekor lele kesayangan anak-anak simbah melanglang buana terseret banjir. Lele itu dipiara dari sejak segedhe jari sampai akhirnya mencapai segedhe tiga jari. Menu pokok makanan hariannya sederhana saja, yakni kecoa sama cicak. Tiap kali simbah habis mbantai kecoa, si lele langsung pesta pora.
Anak-anak jelas kecewa. Tapi ibunya anak-anak gak gitu. Dia bilang, kalopun lele itu digoreng dia gak akan tega makan lele itu. Soalnya mbah putri paling jijik sama yang namanya kecoa. Simbah nanya :

“Lha lele yang dijual di pasar itu makanannya juga njijiki semua, ada yang dipakani bangkai ayam, bangkai tikus, juga kelabang dan kecoa….Kok doyan juga makan..??”
Mbah Putri langsung njawab, “Lha iya, tapi kan gak lihat. Mau diemploki macem-macem yang jelas kiya kan gak lihat. Tapi kalo lele yang ini kan diemploki kecoa terus dan kitanya weruh mbendino.”


Oalaah... jadi gara-gara melihat yang njijiki tadi jadi gak tega makan lelenya. Kalo gak lihat ya ayo aja… Tapi memang kebanyakan manusia begitu kok. Secara umum barang yang njijiki, atau setidaknya dianggap nggilani itu gak enak dipandang mata. Mbikin neg, dan tidak nyaman di hati. Makanya hal-hal begituan paling gak enak buat dilihat dan dirasa.

Namun ternyata, hal-hal yang gak enak dipandang mata itu tak bisa dipungkiri bertebaran di sekitar kita, bahkan di seantero dunia. Kemiskinan, pembantaian, pemerkosaan, korban bencana alam, kelaparan, korban peperangan dan lain sebagainya.

Beberapa orang males lihat berita gara-gara gak kuat lihat hal-hal begituan. Yang lainnya lebih seneng liyat sinetron bertabur bintang yang kinyis-kinyis, denok deblong, dan nyakdhut. Dengan rumah yang tumpuk undhung, dan mobil mewah yang catnya bisa buat nginang sinambi ngilo.

Maka tatkala dikatakan ada pembantaian Suriah dan di Iraq, penyiksaan di penjara, pemerkosaan masal di Bosnia, pembantaian di Palestina, …. yang ada adalah gak mau tahu. Sekedar gak mau tahu karena gak nyaman sih gak papa. Tapi ada yang malah sampai menyalahkan si korban. Dianggapnya semuanya itu terjadi karena salahnya si korban sendiri.

Melihat pengemis di jalanan, memang gak nyaman. Melihat gubug-gubug di bantaran kali, anak-anak balita ngamen, sastrawan gothot berpuisi, pedagang kaki lima pathing kleler, semuanya gak nyaman dan mbikin miris. Kadang ada yang sangat nggilanik. Tapi menghilangkan ketidaknyamanan itu bukan dengan penggusuran tanpa solusi, atau mata merem saat melewati mereka, atau ngringkel dan methongkrong di apartemen mewah yang jauh dari kekumuhan itu. Itu ibarat jerapah dikejar macan lalu menyembunyikan kepalanya di semak. Dia kira sudah selesai masalahnya, padahal bokongnya sedang dibrakoti si macan.

Atau seperti orang di ruangan tertutup berdebu, yang suatu saat jendelanya terbuka trus sinar matahari masup. Lhadalah.. dia baru sadar kalo ruangannya berdebu parah. Solusinya mudah, jendelanya ditutup saja. Debunya masih, tapi yang jelas kan sudah gak terlihat. Masalah akhirnya modyar sisan di ruangan itu menghirup debu beracun gak masalah.

Di level kesehatan juga begitu. Banyak pasien yang gak mau diperiksa kondisi keseluruhan tubuhnya, dalam artian medical check up. Alasannya ntar malah ketahuan ada penyakit macem-macem. Mending gak usah tahu sekalian. Sebagian lebih suka langsung dikasih obat tanpa harus tahu penyakitnya. Dan ini ladang subur buat terapis alternatif abal-abal yang sukanya main kasih terapi tanpa harus mendiagnosa, ha wong memang gak pernah belajar tentang diagnosa.

Yah itulah manungso. Padahal salah satu kunci keberhasilan manusia adalah berani menghadapi kenyataan. Jangan malah bersembunyi dan menghibur diri lari dari kenyataan. Saat masih berkubang maksiat, menghibur diri : “Allah kan Maha Pengasih, Maha Pemaaf, dosa saya kan kecil, gampang diampuni…”. Dia lupa bahwa Allah Maha Dahsyat Siksanya, dan tak semua dosa dapat diampuninya. Itulah kenyataan. Mari belajar menghadapi kenyataan dengan amal nyata… 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar