Ndoweh : Welhadalah, sedang ngapain kang?
Mbleweh : Halah.. sini mampir. Ini sedang mbikin onde-onde ceplus.
Ndoweh : Waah.. kok sajak nyamleng. Mbikin kemecer saja ini.. Tak cicipi dulu ya kang.
Dengan tanpa ba-bi-bu kang Ndoweh tangannya nylonong menyambar sebutir adonan onde-onde ceplus tersebut. Lalu…
Ndoweh : Bluueeh.. weks.. kok rasanya gak nggenah babar blas gini kang. Bisa masak nggak sih kang sampeyan..? Onde-onde ceplus kok berantakan rasanya..
Mbleweh : Woooo..dapurmu.. lambemu ndoweh kuwi… Ha wong barang mentah kok diunthal. Yo genah pating klenyit rasanya. Ha mbok sabar, nunggu ini digoreng dulu. Kalo sudah mateng, silaken dinilai. Ha wong barang mentah sudah dikomentari.. cah gemblung..
Ndoweh : Wooo.. lha ayak. Ternyata mentah tho..
Mbleweh : Makanya sabar. Gak usah buru-buru nyacat. Mending kamu mbantu mbikin glindingannya. Biar cepet selesai.
Ndoweh : Yo
Sepenggal kisah di atas hanyalah ilustrasi. Bahwa untuk mencapai suatu hasil, memerlukan suatu proses. Adakalanya proses itu sebentar, tapi adakalanya lambat bahkan bertele-tele kalo perlu. Selama proses berlangsung, adakalanya orang yang tidak paham buru-buru menilai. Mending kalo menilainya sesuai tahapan. Yang terjadi, seringkali orang menilai tidak sesuai tahapannya, sebagaimana yang dilakukan oleh kang Ndoweh di atas.
Mbikin onde-onde ceplus hanyalah satu mitsal yang bisa dianalogikan ke banyak hal. Lha bisa dibayangkan kalo ada orang pekok setengah pinter, tiba-tiba pingin nyicipi
Dalam dunia amal perbuatan manusia, seringkali kita melihat adanya satu proses perubahan diri manusia yang tadinya mbejat wal mbromocorah, menuju kepada amal kebaikan. Proses itu adakalanya cepat, namun adakalanya lambat. Tapi yang jelas orang tersebut sedang berproses.
Satu hadits yang panjang menceritakan tentang seorang yang sudah mbunuh 99 nyawa dan pingin mertobat. Dia nanya pada orang yang disebutkan di hadits shahih itu sebagai Rahib. Intinya dia pingin tobat, padahal sudah melibas 99 nyawa. Si rahib bilang, gak ada jalan tobat. Soalnya dosanya sudah ngedab-edabi. Mbunuh satu nyawa semacem anak nabi Adam saja dosanya gede, apalagi ini 99 nyawa. Maka sang rahib pun dilibas juga, geneplah jadi cepek.
Si Rahib tidak melihat proses menuju perbaikan disini. Yang dia lihat hanyalah keburukan yang sudah dan masih menempel pada si pembunuh. Lain halnya saat si pembunuh ketemu orang yang disebut sebagai “alim” di hadits itu. Si ‘alim’ berkata bahwa si pembunuh bisa mertobat, asalkan dia mau hijrah dari desa yang maksiat menuju ke desa yang taat ibadat. Si "Alim" fokus pada proses dan melihat potensi proses perubahan pada si pembunuh. Syarat itu disanggupi si pembunuh. Dia berangkat, di tengah jalan wafat. Malaikat adzab dan malaikat rahmat berdebat. Namun akhirnya si pembunuh selamat. Sampe entar di akherat. Cerita tamat.
Di jaman ini, juri amatiran macem kang Ndoweh banyak berkeliaran dimana-mana. Mereka sibuk memvonis dan berfatwa. Memfatwai dan memvonis kelakuan dan amal ibadah manusia yang memang secara ndohir jauh dari taat, namun si juri lupa bahwa ada proses disitu. Namun proses tak digubris, maka meluncurlah kata-kata : ahli bid’ah, kopar kapir, kaum sesat, jahil, bodoh, ahlul hawa’, munapik, ahlu nar, anjing-anjing neraka serta puluhan kata-kata sopan dan pantas -setidaknya menurut mereka- yang lainnya.
Simbah punya temen mantan preman. Tadinya dia hidup dari malak orang. Singkat cerita dia mertobat. Mbuka warung kecil di samping mesjid. Niatnya pingin ngojek tapi gak gablek duik. Mau kridit takut dosa riba. Ha wong mau mertobat kok diawali pake riba, dia menolak. Namun akhirnya dapet juga dia motor buat ngojek, karena ada seorang sugeh yang baik hati kasih pinjeman tanpa bunga buat mbeli motor. Namun dia sedih, karena miturut beberapa ustadz yang mengaku ahlu sunnah wal jamangah, dia dilaknat Allah gara-gara masih bertatoo. Padahal dia sudah mati-matian menempuh jalan agar tatoonya hilang. Namun tatoo yang dia miliki tak kunjung ilang. Dan sampai saat ini cap laknat masih distempelkan pada dirinya, sementara proses penghilangan tatoonya masih berjalan.
Simbah sempat berpikir, kenapa ulama-ulama yang pinter-pinter itu seringkali menyibukkan dirinya dengan memvonis dan tidak mau sibuk untuk mengubah keadaan yang divonisnya. Seandainya mereka sibuk memperbaiki umat yang divonisnya ngalor ngidul itu, simbah yakin gak ada waktu lagi buat memvonis umat yang memang makin jauh dari taat ini. Gimana umat ini mau jadi baik, manakala keburukan hanya dijadikan bahan untuk divonis, dan proses perbaikan dianggap final… ?? Lha jika ulama model begini ketanggor pembunuh 100 orang yang diceritakan di hadits Nabi, lak sudah dilibas satu-satu sampe tumpes.
So, kita memang hidup di era banyak kegelapan. Tidak perlu sibuk mencela kegelapan dengan banyak jurus dan kosa kata. Cukup datangkan saja penerang, maka kegelapan hilang.
Qul jaa'al haqqu wa zahaqol baathil, innal baathila kaana zahuuqo.....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar