Rabu, 10 Mei 2017

Antara Wajar dan Normal

Pada suatu waktu, ada seorang pasien yang datang memeriksakan tekanan darahnya pada simbah. Pasien ini seorang ibu yang sudah agak lanjut usia. Maka setelah simbah periksa, ternyata tekanan darahnya 150/100 mm Hg. Pasien itu lantas bertanya :

"Normal apa gak mbah?" tanya si pasien.
"Wah, ini tinggi bu. Harus hati-hati," jawab simbah.
"Lho dok, bukankah saya sudah tua. Katanya kalau sudah tua, tekanan darah segitu itu dianggap normal." sanggahnya.

"Bukan begitu bu," simbah mulai menerangkan. "Buat kaum muda atau tua, patokan tekanan darah normal atau tinggi itu sama saja. Hanya saja kalau sampeyan yang sudah tua ini tekanan darahnya naik, itu dianggap wajar. Tapi wajar itu belum tentu normal."


Begitulah sedikit percakapan antara simbah dengan salah seorang pasien. Banyak diantara kita yang tidak bisa membedakan antara wajar dan normal. Wajar sering disinonimkan dengan normal. Padahal itu belum tentu sama. Seorang embah-embah yang sudah mambu lemah, seringkali mengalami apa yang disebut sebagai bolot bin budeg, atau setidaknya berkurang derajat pendengarannya. Hal ini wajar, mengingat usianya yang sudah udzur. Namun kekurangan pendengaran ini bukanlah sesuatu yang normal, dan bahkan harus dikoreksi. Jadi wajar tapi tidak normal.

Gara-gara ketidaktahuan penegertian antara wajar dan normal ini, banyak penderita hipertensi yang sudah tua tak mau dikasih obat karena beranggapan bahwa sudah sewajarnya tekanan darahnya tinggi. Padahal sebenarnya tidak normal. Dan sudah seharusnya tekanan darah yang tidak normal harus dinormalkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal-hal yang sebenarnya tidak normal tapi dianggap wajar. Seorang anak yang mbelingnya setengah mati, suka mbandemi teman mainnya, dan suka nyolongi barang tetangganya, seringkali dianggap wajar. Toh masih anak-anak, wajar kalau mbeling wal bandel. Tapi seharusnya orang tua memahami, walaupun itu wajar, tindakan suka mbandemi orang lain dan suka nyolong itu adalah tindakan yang tidak normal. Maka seharusnya ada tindakan penormalan, yakni dengan pendidikan yang baik, yang memahamkan pada si anak bahwa tindakannya salah. Sehingga si anak tidak membawa kebiasaan vandalisme primitifnya itu sampai dewasa.

Di negeri Republik Genthonesia ini, yang namanya nyolong bin korupsi adalah tindakan wajar. Mengapa wajar? Karena di semua lini kehidupan, hampir selalu dijumpai adanya oknum mayoritas yang melakukan tindakan nggentho atawa korupsi ini. Sayangnya banyak yang lupa, bahwa korupsi itu adalah tindakan yang tidak normal. Butuh terapi yang sangat keras agar penyakit ini terberantas sampai tuntas. Tapi karena wajar dianggap sama dengan normal, maka kebanyakan menanggapi dengan nada putus asa... "Ah, sudahlah..."

Pada sebagian komunitas bejad yang banyak terinspirasi dari kehidupan kaum bejad di njaban rangkah sana, yang namanya pamer puser adalah wajar. Itu adalah kebebasan berekspresi untuk menyatakan kemerdekaannya mempertontonkan jejak ari-arinya. Sang oknum seakan hendak mengatakan, bahwa dulu dia mendapat makan dan minum dari pusernya itu, maka sudah saatnya sekarang pun dia kembali mencari makan lewat jejak tali pusernya itu. Pengamat seni yang menuhankan seni menganggap itu wajar. "Lagi pula kalau pusernya tertutup, maka jalan rejekinya ikut tertutup juga. Mosok sih kita mau menghalangi orang mencari makan.." kata mereka.

Begitulah jika kita tinggal di negeri yang segalanya diukur dari ukuran wajar dan tidak wajar. Kewajaran bisa terwujud jika satu perbuatan dilakukan berulang-ulang yang akhirnya memasyarakat. Hamil di luar nikah, dulu dianggap memalukan. Ketika kejadiannya berulang dan memasyarakat, maka itu dianggap wajar. Kumpul kebo dulunya dianggap bejad bin mursal. Karena dipromosikan dengan gencar, maka derajatnya naik menjadi wajar. Pamer paha dan dada dulu hanya dilakukan pelacur yang mau menjual tubuhnya. Wanita terhormat dianggap tak wajar berperilaku seperti itu. Namun seiring dengan merebaknya fashion ala pelacur, maka berpakaian ala pelacur menjadi wajar. Berpakaian tertutup dianggap tidak wajar.

Wajar dan normal adalah dua hal yang berbeda. Kata normal dipakai untuk sesuatu yang memiliki standart ukuran yang baku. Sedangkan kata wajar ukurannya hanyalah kebiasaan dan besarnya jumlah. Yang tak biasa dan jarang disebut tak wajar, yang sudah terbiasa dan sering ditemui dianggap wajar. Normal tak memperhatikan frekuensi dan jumlah. Di Rumah Sakit Jiwa yang dipenuhi para pasien yang tak waras, walaupun mereka mayoritas dan berperilaku wajarnya orang tak waras, mereka dianggap tidak normal. Karena normal memiliki standar baku yang tak pandang bulu berapapun frekuensi maupun jumlahnya.

Dunia ini sebenarnya memiliki standar baku kenormalan. Tentu saja standar baku kenormalan ini disusun oleh Yang Menciptakan Dunia, yang biasa disebut sebagai syariat. Namun kelakuan manusia yang sudah disurupi oleh iblis menghendaki agar kelakuan tidak normalnya diijinkan. Maka standar kenormalan diubah menjadi standar kewajaran. Asalkan wajar, walaupun tak normal dipersilakan saja. Sedangkan yang normal, jikalau tak wajar, pantaslah untuk ditolak.

Mencuri, berzina, pamer aurat, berjudi, praktek riba, makan bangkai, minum khamer wal ciu dan segala perilaku bejad lainnya adalah perilaku yang tak normal. Ketidaknormalan ini oleh para pelakunya dialihkan menjadi kewajaran agar tampak normal. Namun selamanya yang tak normal akan tetap tak normal walaupun wajar. Dan segala keabnormalan membutuhkan obat agar nilainya menjadi normal, walaupun oleh pelaku dan penderitanya dianggap wajar.

Tak semua yang wajar adalah normal. Tak semua yang normal adalah wajar.  Perhatikanlah, manakala ada satu bangsa yang dengan teganya membantai satu bangsa lain, membunuh anak-anak dan wanitanya dengan keji, lalu merampas kekayaannya, kita pastilah akan bertanya bangsa apakah itu?! Manakala dijawab Israel dan Amerika Serikat, sebagian dari kita akan berkata, “Oo, pantes, wajarlah kalau 2 negeri gentho itu yang melakukan.” Celakalah satu bangsa yang melakukan satu ketidaknormalan lalu dianggap wajar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar