Jumat, 19 Mei 2017

Mengikuti Jejak

Sore itu Kang Petruk sedang asyik bercengkerama dengan Lik Bagong. Kang Gareng tampak asyik mendengarkan percakapan keduanya sambil sedikit agak ngowoh.

Petruk  :  Gong, kamu tahu apa yang ada di tanganku ini?
Bagong : Welhadalah, itu kan batangan emas kang. Dapet darimana itu? Jangan-jangan sampeyan nyolong..

Petruk  :  Woo, nyolong lambemu kuwi. Ini barang berharga Gong. Dapetnya susah. Untuk dapet batangan emas ini ceritanya panjang.
Bagong  :  Lha ceritanya gimana kang. Aku kok jadi penasaran. Mbok aku dicritani, tapi jangan sak critan thok lho. Sampeyan kemarin bilang sak critan trus aku sampeyan kasih satu kata thok… “crit”. Habis itu Bubar..!

Petruk  :  Enggak Gong. Begini ceritanya. Kamu tahu kan, Lik Togog itu punya dua ekor wedhus balap alias anjing yang galaknya ngudubilah setan. Lha kemarin aku liwat depan rumahnya. Padahal aku gak ngapa-ngapain lho, ha kok dijegogi dan langsung dikejar.
Bagong  :  Sampeyan lari kang?

Petruk  :  Jelas… lari sipat kuping, rindik asu digithik Gong. Pokoknya lintang pukang lah. Sampai aku kepepet di jurang.
Bagong  :  Sampeyan lompat kang?
Petruk  :  Terpaksa Gong. Aku lompat ke jurang… untungnya ada pohon rindang. Aku nyangkut disitu.
Bagong  :  Wah bejo bener sampeyan.

Petruk  :  Bejo piye? Ha wong baru sebentar dahannya patah, aku langsung jatuh lagi.
Bagong  :  Wah… bonyok kang?
Petruk  :  Enggak. Untungnya di bawah ada kalinya. Jadi njebur disitu. Baru sebentar slulup, ternyata ada ular sebesar dahan kelapa sedang ngejar aku.
Bagong  :  Wah, sampeyan gak diemplok? Daging sampeyan pahit kali kang.

Petruk  :  Bukan begitu. Untungnya ada kelapa tua jatuh menimpa pas di kepala ular itu. Ularnya langsung klenger. Tapi ternyata di belakang ular itu ada buaya Gong. Aku langsung ke darat dan lari sembunyi. EE… buayanya ngikut. Karena panik, apa saja yang aku temu, langsung tak pakai buat mbandemi buaya itu. Sampai akhirnya aku tak sengaja nemu peti besar. Langsung tak angkat dan buayanya tak timpuk pakai peti itu Gong.
Bagong  :  Mati kang?

Petruk  : Mati Gong. Petinya sampai pecah. Dan ternyata isi peti itu batangan emas.
Bagong  :  Wah, bejo kemayangan sampeyan kang. Mbok sekarang aku diantar ke rumah lik Togog.
Petruk  :  Ke rumah Lik Togog ngapain?
Bagong  : Biar aku dijegogi sama anjingnya Lik Togog. Ntar lompat jurang, biar nemu emas kayak kamu.
Petruk  :  Woo, dasar bocah slewah.


Begitulah, kadangkala satu keberuntungan menemui seseorang dengan jalan yang seringkali tak terduga. Namun tak semua jalan yang akhirnya menemui happy ending itu pantas diikuti, karena di tiap episode peristiwa yang terjadi bisa terdapat kemungkinan yang menyebabkan endingnya mengenaskan. Sebagaimana kang Petruk saat diuber ular besar. Untungnya si ular ketimpa kelapa jatuh. Seandainya Lik Bagong yang jatuh ke air itu dikejar ular dan ternyata tak ada kelapa jatuh, apa nggak remuk badannya lik Bagong diklamuti ular raksasa.

Demikian juga dengan turunnya hidayah yang dikaruniakan Allah pada seseorang. Berbagai macam jalan Allah bisa menurunkan hidayah dengan bermacam sebab. Ada yang mendapat hidayah setelah membunuh seratus orang, ada yang mendapat hidayah setelah berkubang maksiat, ada juga yang mendapat hidayah melalui mimpi. Salah seorang sahabat Nabi yang bernama Salman Al Farisi mendapat hidayah setelah berpindah-pindah keyakinan. Dari majusi, nasrani, yahudi sampai akhirnya hidayah Islam.

Namun dari semua peristiwa yang akhirnya mengantarkan seseorang mendapat hidayah itu, jika dialami oleh orang lain belum tentu akan menghasilkan akibat yang sama. Untuk mendapatkan hidayah, seseorang tidak lantas membunuh seratus orang hanya lantaran ada riwayat adanya orang yang bertaubat setelah membunuh seratus orang. Pada intinya, untuk mendapatkan kebaikan seseorang tidak harus merunut sebab buruk yang seakan mengantar kepada kebaikan itu. Karena yang pasti, sebab buruk tidak akan membawa kepada akibat yang baik. Jika satu keburukan seakan membawa kebaikan, itu hanyalah “seakan” saja. Karena sebenarnya yang mengakibatkan kebaikan atau dalam hal ini hidayah adalah kebaikan pula, yang seringkali tersembunyi karena ghaibnya.

Seorang yang tadinya bermaksiat kemudian bertaubat dan jadi baik, bukan perbuatan maksiatnya yang menjadikan dia taubat dan baik. Bisa jadi dia taubat lantaran manakala dia maksiat, dia besarkan kebencian dirinya pada kemaksiatan yang dia lakukan itu yang sampai pada akhirnya menyebabkan dia berani mengambil tindakan bertaubat dan jadi baik. Salman Al Farisi mendapatkan hidayah Islam bukan lantaran mengikuti ajaran Majusi, Nasrani dan Yahudi. Namun dia mendapatkan hidayah lantaran kejujuran dirinya terhadap Al Haq, walaupun keadaan sekitarnya saat itu belum sepenuhnya mendukungnya. Berkat kecintaan dan kejujurannya terhadap kebenaran, Allah sampaikan juga dia kepada kebenaran Islam, walaupun kebenaran itu berada jauh dari tempat tinggalnya.

Maka jejak kebenaran dan kebaikanlah yang seharusnya dicari dan diikuti. Bukannya jejak keburukan, walaupun kadangkala orang mendapat kebaikan dari jejak keburukan ini lantaran akhirnya bertaubat. Namun kebaikan yang berasal dari pintu keburukan pastilah memiliki efek samping, setidaknya gejala sisa dari akibat keburukan tersebut.

Saat ini, dengan majunya teknologi dan transportasi, gaya hidup ala Majusi, Nasrani dan Yahudi dengan gampang dapat disaksikan. Karena memang bersesuaian dengan hawa nafsu,maka mengikutinya tak membutuhkan perjuangan dan mujahadah. Kota-kota besar macam New York, Tokyo, Sidney, London, Singapura, ataupun Paris, dengan segala gemerlap dan gaya hidup bebasnya, menjadi kiblat bagi ibukota-ibukota negara di seluruh dunia. Termasuk Indonesia dengan Jakartanya. Sedangkan kota-kota propinsi macam Semarang, Medan, Bandung, Makasar ataupun Jayapura, berlomba-lomba memantaskan diri agar sepadan dan setara dengan Jakarta.

Demikian pula dengan kota-kota kecil di bawah ibukota propinsi, semuanya berkiblat kepada ibukotanya. Sehingga kalau dirunut, desa kecil macem Eromoko, Bonjot, Gempol ataupun Gayamsari, semuanya sedang merangkak pelan namun pasti menuju satu kehidupan dan gaya hidup ala New York atau Tokyo. Karena  kota-kota besar itulah yang saat ini dianggap sebagai kota masa depan,maju dan modern. Amat sedikit satu tempat yang dikelola dan diarahkan agar menjadi kota semisal Madinah Munawaroh di jaman Nabi, yang bersinar dengan hidayah dan kebaikan. Semua kota sedang digiring oleh kekuatan nafsu yang dimotori Yahudi,menuju gaya hidup yang menuhankan kebebasan hawa nafsu. Dan banyak dari kita yang tak menyadari sedang terlibat di dalamnya.
Simbah jadi ingat dimana pada satu malam ada serombongan Pramuka lewat di samping simbah. Secara iseng ada salah seorang kawan simbah bertanya,

“Sedang ngapain kalian?”
“Sedang mencari jejak pak,” jawab mereka.
“Oalah, malam-malam kok susah amat mencari jejak,” katanya. “Ha mbok suruh ke sini minta jejak berapapun tak kasih, nggak usah nyari. Tinggal njejaki gundhulnya satu-satu.”

Sampeyan juga sedang mencari jejak?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar