Sore itu Kang Petruk sedang
asyik bercengkerama dengan Lik Bagong. Kang Gareng tampak asyik mendengarkan
percakapan keduanya sambil sedikit agak ngowoh.
Petruk : Gong, kamu tahu apa yang
ada di tanganku ini?
Bagong : Welhadalah, itu kan batangan
emas kang. Dapet darimana itu? Jangan-jangan sampeyan nyolong..
Petruk : Woo,
nyolong lambemu kuwi. Ini barang berharga Gong. Dapetnya susah. Untuk dapet
batangan emas ini ceritanya panjang.
Bagong : Lha
ceritanya gimana kang. Aku kok jadi penasaran. Mbok aku dicritani, tapi jangan
sak critan thok lho. Sampeyan kemarin bilang sak critan trus aku sampeyan kasih
satu kata thok… “crit”. Habis itu Bubar..!
Petruk : Enggak
Gong. Begini ceritanya. Kamu tahu kan, Lik Togog itu punya dua ekor wedhus
balap alias anjing yang galaknya ngudubilah setan. Lha kemarin aku liwat depan
rumahnya. Padahal aku gak ngapa-ngapain lho, ha kok dijegogi dan langsung
dikejar.
Bagong :
Sampeyan lari kang?
Petruk :
Jelas… lari sipat kuping, rindik asu digithik Gong. Pokoknya lintang
pukang lah. Sampai aku kepepet di jurang.
Bagong :
Sampeyan lompat kang?
Petruk :
Terpaksa Gong. Aku lompat ke jurang… untungnya ada pohon rindang. Aku
nyangkut disitu.
Bagong : Wah
bejo bener sampeyan.
Petruk : Bejo
piye? Ha wong baru sebentar dahannya patah, aku langsung jatuh lagi.
Bagong : Wah…
bonyok kang?
Petruk :
Enggak. Untungnya di bawah ada kalinya. Jadi njebur disitu. Baru
sebentar slulup, ternyata ada ular sebesar dahan kelapa sedang ngejar aku.
Bagong : Wah,
sampeyan gak diemplok? Daging sampeyan pahit kali kang.
Petruk :
Bukan begitu. Untungnya ada kelapa tua jatuh menimpa pas di kepala ular
itu. Ularnya langsung klenger. Tapi ternyata di belakang ular itu ada buaya
Gong. Aku langsung ke darat dan lari sembunyi. EE… buayanya ngikut. Karena
panik, apa saja yang aku temu, langsung tak pakai buat mbandemi buaya itu.
Sampai akhirnya aku tak sengaja nemu peti besar. Langsung tak angkat dan buayanya
tak timpuk pakai peti itu Gong.
Bagong : Mati
kang?
Petruk : Mati Gong. Petinya sampai pecah. Dan
ternyata isi peti itu batangan emas.
Bagong : Wah,
bejo kemayangan sampeyan kang. Mbok sekarang aku diantar ke rumah lik Togog.
Petruk : Ke
rumah Lik Togog ngapain?
Bagong : Biar aku dijegogi sama anjingnya Lik Togog.
Ntar lompat jurang, biar nemu emas kayak kamu.
Petruk : Woo,
dasar bocah slewah.
Begitulah, kadangkala satu
keberuntungan menemui seseorang dengan jalan yang seringkali tak terduga. Namun
tak semua jalan yang akhirnya menemui happy ending itu pantas diikuti, karena
di tiap episode peristiwa yang terjadi bisa terdapat kemungkinan yang
menyebabkan endingnya mengenaskan. Sebagaimana kang Petruk saat diuber ular
besar. Untungnya si ular ketimpa kelapa jatuh. Seandainya Lik Bagong yang jatuh
ke air itu dikejar ular dan ternyata tak ada kelapa jatuh, apa nggak remuk
badannya lik Bagong diklamuti ular raksasa.
Demikian juga dengan
turunnya hidayah yang dikaruniakan Allah pada seseorang. Berbagai macam jalan
Allah bisa menurunkan hidayah dengan bermacam sebab. Ada yang mendapat hidayah
setelah membunuh seratus orang, ada yang mendapat hidayah setelah berkubang
maksiat, ada juga yang mendapat hidayah melalui mimpi. Salah seorang sahabat Nabi
yang bernama Salman Al Farisi mendapat hidayah setelah berpindah-pindah
keyakinan. Dari majusi, nasrani, yahudi sampai akhirnya hidayah Islam.
Namun dari semua peristiwa
yang akhirnya mengantarkan seseorang mendapat hidayah itu, jika dialami oleh
orang lain belum tentu akan menghasilkan akibat yang sama. Untuk mendapatkan
hidayah, seseorang tidak lantas membunuh seratus orang hanya lantaran ada riwayat
adanya orang yang bertaubat setelah membunuh seratus orang. Pada intinya, untuk
mendapatkan kebaikan seseorang tidak harus merunut sebab buruk yang seakan
mengantar kepada kebaikan itu. Karena yang pasti, sebab buruk tidak akan
membawa kepada akibat yang baik. Jika satu keburukan seakan membawa kebaikan,
itu hanyalah “seakan” saja. Karena sebenarnya yang mengakibatkan kebaikan atau
dalam hal ini hidayah adalah kebaikan pula, yang seringkali tersembunyi karena
ghaibnya.
Seorang yang tadinya
bermaksiat kemudian bertaubat dan jadi baik, bukan perbuatan maksiatnya yang
menjadikan dia taubat dan baik. Bisa jadi dia taubat lantaran manakala dia
maksiat, dia besarkan kebencian dirinya pada kemaksiatan yang dia lakukan itu
yang sampai pada akhirnya menyebabkan dia berani mengambil tindakan bertaubat
dan jadi baik. Salman Al Farisi mendapatkan hidayah Islam bukan lantaran
mengikuti ajaran Majusi, Nasrani dan Yahudi. Namun dia mendapatkan hidayah
lantaran kejujuran dirinya terhadap Al Haq, walaupun keadaan sekitarnya saat
itu belum sepenuhnya mendukungnya. Berkat kecintaan dan kejujurannya terhadap
kebenaran, Allah sampaikan juga dia kepada kebenaran Islam, walaupun kebenaran
itu berada jauh dari tempat tinggalnya.
Maka jejak kebenaran dan
kebaikanlah yang seharusnya dicari dan diikuti. Bukannya jejak keburukan,
walaupun kadangkala orang mendapat kebaikan dari jejak keburukan ini lantaran
akhirnya bertaubat. Namun kebaikan yang berasal dari pintu keburukan pastilah
memiliki efek samping, setidaknya gejala sisa dari akibat keburukan tersebut.
Saat ini, dengan majunya
teknologi dan transportasi, gaya hidup ala Majusi, Nasrani dan Yahudi dengan
gampang dapat disaksikan. Karena memang bersesuaian dengan hawa nafsu,maka
mengikutinya tak membutuhkan perjuangan dan mujahadah. Kota-kota besar macam
New York, Tokyo, Sidney, London, Singapura, ataupun Paris, dengan segala
gemerlap dan gaya hidup bebasnya, menjadi kiblat bagi ibukota-ibukota negara di
seluruh dunia. Termasuk Indonesia dengan Jakartanya. Sedangkan kota-kota propinsi
macam Semarang, Medan, Bandung, Makasar ataupun Jayapura, berlomba-lomba
memantaskan diri agar sepadan dan setara dengan Jakarta.
Demikian pula dengan
kota-kota kecil di bawah ibukota propinsi, semuanya berkiblat kepada
ibukotanya. Sehingga kalau dirunut, desa kecil macem Eromoko, Bonjot, Gempol
ataupun Gayamsari, semuanya sedang merangkak pelan namun pasti menuju satu
kehidupan dan gaya hidup ala New York atau Tokyo. Karena kota-kota besar itulah yang saat ini dianggap
sebagai kota masa depan,maju dan modern. Amat sedikit satu tempat yang dikelola
dan diarahkan agar menjadi kota semisal Madinah Munawaroh di jaman Nabi, yang
bersinar dengan hidayah dan kebaikan. Semua kota sedang digiring oleh kekuatan
nafsu yang dimotori Yahudi,menuju gaya hidup yang menuhankan kebebasan hawa
nafsu. Dan banyak dari kita yang tak menyadari sedang terlibat di dalamnya.
Simbah jadi ingat dimana
pada satu malam ada serombongan Pramuka lewat di samping simbah. Secara iseng
ada salah seorang kawan simbah bertanya,
“Sedang ngapain kalian?”
“Sedang mencari jejak
pak,” jawab mereka.
“Oalah, malam-malam kok
susah amat mencari jejak,” katanya. “Ha mbok suruh ke sini minta jejak
berapapun tak kasih, nggak usah nyari. Tinggal njejaki gundhulnya satu-satu.”
Sampeyan juga sedang mencari
jejak?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar