“Duluan Ayam kang,” jawab Paidul.
“Lha kalo Telor sama ayam duluan mana?” tanya Paijo lagi.
“Yo genah duluan Telor…” jawab Paidul mantabh.
“Weh, ilmu ketoprakan mu sudah lulus tenan Dul… sip,” puji kang Paijo.
Itu adalah sepenggal dagelan lawas gaya Basiyo, yang masih sering dipakai oleh generasi dagelan berikutnya macam Srimulat atau Kirun. Di dunia nyata dagelan ala telor dan ayam itu juga banyak bertebaran. Kontroversi duluan mana yang muncul ala ayam dan telor, banyak mencuat. Semua teori diajukan, dari teori mbambung sampai teori mbuhraruh disodorkan demi mendukung pendapatnya.
Namanya juga dagelan, bisa diterima serius sambil mengerutkan kening, bisa juga diterima sambil ngantuk dan ngowoh. Beberapa dagelan ala ayam dan telor yang sempat simbah temui bisa dibaca berikut ini. Tentu saja sampeyan boleh gak setuju, baik dengan cara baper setengah menying, atau dengan ngomyang setengah munthuk.
1. Duluan mana antara Agama dan Animisme-Dinamisme?
Prof. Dr. Kumlot yang sudah kondang pinter wal mahir menjelaskan, bahwa cikal-bakal agama itu adalah berawal dari keyakinan lokal manusia yang berkembang menjadi agama. Dari animisme, yang percaya pada arwah gentayangan, memedi, wewe gombel dan semacamnya, juga Dinamisme yang percaya pada kekuatan keris, tombak sakti, kapak sakti 521, ataupun akik sakti, berkembang menjadi agama. Prof. Dr. Kumlot yang anggota Perbakin (Persatuan Batuk Kinclong) karena rambutnya dimakan kepinterannya, yakin bahwa teorinya baik dan benar sebagaimana penggunaan bahasa Indonesianya.
Lha Mbah Dipo tahu-tahu membantah. Tentu saja dengan teori yang dianggap mbambung. Lha yang bener itu agama ada duluan. Ha wong manusia pertama yang turun dan tinggal di bumi ini sudah beragama kok. Jika lantas ada aliran animisme ataupun dinamisme itu kan karena anak cucunya mbah Adam a.s keyakinannya keblinger. Dibelokkan sama Iblis yang dulu pernah menggelincirkan manusia pertama. Dari nyembah Allah yang Maha Esa, tahu-tahu nyleweng nyembah wit Randu Wingit, nyembah Kuburan, nyembah akik, nyembah tombak sakti sampai akhirnya nyembah Rudal sakti ataupun F-16 sakti.
Tentu saja teori ini gak populer. Yang populer adalah teori yang mengatakan polytheisme itu ada duluan, barulah akhirnya muncul monotheisme. Sedangkan kaum atheis gak peduli yang mana muncul duluan. Yang dia paham hanya lair ceprot, seneng-seneng, mati jadi tanah.
2. Duluan mana antara Cinta dan Pengorbanan?
Ini agak susah. Kebanyakan menganut paham cinta dulu baru mau berkorban. Tapi kalo mau sedikit berpikir dan merenung sebenarnya yang bener adalah sebaliknya.
Satu misal, sampeyan nabung duit susah payah buat beli sepatu baru. Tiap hari ngempet seneng, biar duit cepet kumpul. Kalo yang lain puasa senen kemis, sampeyan malah makannya yang senen kemis. Sampai akhirnya bisa beli sepatu kinclong bermerek. Ha kok pas mampir sholat, sepatu sampeyan bablas angine digondol maling, temtu bisa dibayang betapa kecewanya sampeyan. Karena sampeyan telah berkorban banyak buat sepatu itu.
Perasaan itu tak akan sama jika sepatu tersebut didapat dari hadiah karena beli HP. Hilang pun tak begitu kecewa, karena pengorbanan buat sepatu tersebut kurang.
Maka jika satu rumah tangga,dibangun dengan sama-sama berkorban baik suami maupun isteri, maka semakin tua usia pernikahannya, sang suami akan makin cinta pada isteri dan demikian juga sebaliknya. Meskipun sudah sama-sama peyot dan peyok. Tadinya ireng manis, begitu tuwek, ilang manisnya tinggal irengnya.
Nabi Ibrahim a.s digelari Khalilullah alias Kekasih Allah, setelah beliau banyak melakukan korban demi menjalani perintah Allah. Kasih dan Cinta datang seiring dengan banyaknya pengorbanan. Maka cinta pada pandangan pertama adalah tipuan. Lebih tepat adalah ketertarikan pada pandangan pertama. Kalo cinta belum.
Lha kalo baru ketemu gabrus lalu menyatakan cinta, genah gombal mukiyo. Tentu saja ngomong cinta, ha wong yang ditemui denok deblong kinyis-kinyis. Coba kalo yang ditemui model Limbuk Cangik. Rumah tangga yang dibangun hanya karena ketertarikan pada kecantikan, penampilan luar, paras molek, putih, maka tak akan berumur lama. Dia hanya akan berumur selama rasa bosan belum datang, atau selama belum ada yang lebih moleq yang lebih menarik hatinya.
3. Duluan mana manusia dengan munyuk?
Kalo miturut cobrotannya mbah Darwin dengan teorinya, genah munyuk duluan. Dari munyuk lalu jadi kera setengah manusia, lalu manusia setengah kera, lalu manusia. Maka mbah darwin dan wadyabalanya kipu nggali lobang bareng gali-gali lainnya mencari posil makhluk ala Hanoman wal Sun Go Kong yang dianggap missing link. Yakni manusia yang wajahnya masih ala Tuan Sinyo alias Untune Kedawan Gusine Menyonyo alias mrongos. Teori yang gak bisa menjelaskan asal muasal kecoa ini banyak pengikutnya. Meskipun sampai sekarang gak pernah ditemukan posil missing link yang dimaksud.
Lha kalo teorinya mbah Dipo lain lagi. Dari wujud manusia dulu, barulah kalo akhlaknya ra mbejaji derajatnya turun jadi munyuk. Munyuk yang doyan sapi vietnam, dana reboisasi, Dana kelautan, bahkan juga doyan aspal, traktor, lumpur lapindo dan kalo perlu segala sesuatu di jagat abuh ini diemplok semua.
Sekali lagi, sampeyan boleh mbantah ataupun boleh setuju postingan yang pantas masuk acara “Percaya Nggak Percaya” ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar