Di masa SMP, hari tatkala simbah disangoni buat uang jajan hanyalah di hari saat ada pelajaran olahraga. Tak banyak, tapi lumayan lah. Only 50 ripis. Uang sebesar itu hanya bisa dipakai menebus segelas es teh manis di kedai pak Senen di samping gedung sekolah. Jika kebetulan ada konco yang dermawan, simbah masih bisa menebus sebungkus sego kucing seharga 50 ripis juga.
Harga es teh manis ini masih simbah inget benar. Bahkan gambar uang 50 ripisan itu pun simbah juga masih inget. Sehingga, memory harga es teh manis ini membuyar di saat simbah berkesempatan mampir di salah satu café di bandara. Yang simbah pesan sama dengan minuman yang dijual Pak Senen. Tapi, harga yang harus dibayar ternyata melebihi harga obralan sempaknya Mbokdhe Goprot yang sepuluh ribu tiga itu. Bahkan 3 kali lipatnya, yakni 30 rebu ripis. Itu 60 kali lipat harga es teh manis Pak Senen.
Simbah tadinya tak memaklumi. Bayangkan saja, 30 rebu ripis hanya untuk segelas es teh manis. Sewaktu kegumunan simbah ini diutarakan ke beberapa konco, mereka malah justru menjuluki simbah ndeso wal katrok.
“Oalah, Mbah,Mbah… ya memang segitu. Gitu aja kok gumun. Biasa itu, Mbah. Mbok jangan terlalu ndesani tho, Mbah…,” begitu komentar mereka.
Di tahun dan bulan yang sama, simbah masih bisa merasakan es teh manis di tempat lain hanya dengan 1500 ripis. Simbah berpikir mungkin harga 30 rebu ripis itu karena harus bayar pajek ini itu, nggaji si ini dan si itu, nyogok si oknum ini dan si oknum itu, serta uang keamanan buat ormas ini dan ormas itu yang harus dikeluarkan oleh pihak café agar usahanya berdiri mantabh. Atau mungkin karena letaknya di bandara, maka es teh manis harus mahal. Karena, yang bisa naik mongtor mabur bin airplane itu hanya orang kaya. Jadi, kalo dijual murah malah gak bakalan dimasuki konsumen. Karena, orang kaya hanya doyan minuman mahal walau hanya es teh.
Rekan simbah yang ahli marketing beda lagi pendapatnya. Kemahalan harga es teh manis itu bukan karena pajak, atau segala tetek bengek lainnya. Namun, kemahalan harga itu karena lokasinya, yakni di bandara. Di bandara semuanya pantas untuk mahal. Yang murah malah dicurigai, jangan-jangan barang bermasalah. Jadi, di tempat tertentu, harga barang harus mahal karena menyesuaikan diri dengan tempatnya. Dan juga di tempat lain barang bisa jadi murah dan tak pantas mahal jika ingin laku.
Jadi, sesungguhnya semuanya itu hanyalah bahasa marketing, yang harga suatu barang tidak ditentukan oleh zat barangnya, tapi karena lokasinya. Sego pecel yang bener-bener pecel dengan lawuh tahu bacem, bisa berharga limapuluh rebu ripis jika dijual di resto yang lokasinya di Plaza Indonesia atau di resto bandara. Dan dengan segala kendesoan penampilan sego pecelnya, harga itu pantas dan tak diprotes pembeli. Bayangkan jika sego pecelnya Yu Ginem Mbleguk yang mangkal di pojokan pangkalan ojek itu dihargai 50 rebu ripis sepincuk. Opo ora njaluk dipisuhi, atau setidaknya gak bakalan ditengok. Kecuali, oleh Kang Tambi Gembrot yang memang naksir Yu Ginem Mbleguk, berapa pun harganya dia membuta.
Dari sini sebenarnya Sampeyan juga bisa menyimpulkan, bahwa bagi pembeli ada tempat yang tepat agar nominal uang yang Sampeyan keluarkan memiliki nilai pas. Dan perbedaan itu hanya semata-mata karena lokasi jual beli.
Dalam hal jual beli kayak beginian, Allah Swt di dalam Al-Qur`an menempatkan diri-Nya sebagai Pembeli, sedangkan kita diposisikan sebagai penjual. Allah menyatakan bahwa harta dan jiwa orang beriman telah dibeli oleh Allah dengan harga paling pantas, yakni dengan harga surga. Bunyi selengkapnya demikian:
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang beriman, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur`an. Dan siapakah yang lebih menepati janinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu. Dan itulah kemenangan yang besar.” (Q.s. at-Taubah [9]:111)
Persoalannya adalah dagangan Sampeyan digelar di mana? Kalo digelar di lapak yang benar, yakni lapak fi sabilillah, maka harga yang ditawarkan Allah sangatlah pantas. Dan, perlu dipahami, begitu lapaknya benar, maka transaksi sudah terjadi. Karena bentuk bahasa yang ditawarkan Allah menggunakan bentuk lampau, yang menunjukkan telah terjadi deal harga. Padahal, jika Sampeyan inget dan nyawang githok Sampeyan, harta dan jiwa yang ada pada Sampeyan itu milik Allah juga. Jadi, ibaratnya Sampeyan itu sudah dipinjemi, trus yang minjemi malah membeli barang yang Sampeyan pinjam dengan harga mahal pulak. Jian bejo kemayangan…!
Namun, jika dagangan Sampeyan diletakkan di lapak deket pangkalan ojek, harta, dan jiwa Sampeyan hanya akan dihargai senasib dengan harga sego pecelnya Yu Ginem Mbleguk. Itu pun kalo laku. Dan inget, dagangan Sampeyan itu hasil minjem. Jadi Sampeyan dipinjemi lalu dijual ke pihak lain. Ini namanya tidak amanah alias pengkhianat.
Jadi jika mau menjadi orang beriman yang senantiasa sibuk berada di jalan Allah, harga hidup Sampeyan ibarat harga makanan kelas resto bandara, bahkan lebih berkali lipat. Namun jika salah taruh, hidup Sampeyan sekadar bisa hidup. Dan, Sampeyan hidup dalam pengkhianatan karena menjual barang titipan pada pihak lain dengan harga yang tidak pantas. Hidup adalah jual beli, juallah ke pembeli yang memberi harga terbaik. Harga terbaik hidup kita adalah surga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar